
"Ya Tuhan, ke mana lagi aku harus mencari orang-orang itu ... huh, tapi semoga saja tidak terjadi sesuatu yang buruk pada mereka." Alexi membuang napas berat.
Sudah beberapa jam ini Alexi silih berganti mendatangi tempat-tempat keramaian, dan menyusuri gang-gang kecil di kota Venesia.
Namun, keberadaan istri dan kedua adiknya belum juga ditemukan. Ditambah ponsel ketiganya yang tidak aktif, membuat perasaan Alexi semakin khawatir.
"Airin kau ada di mana, Sayang? Diba, Dila, ke mana kalian bawa kakak ipar kalian?" Alexi menjambak rambutnya sendiri karena frustasi.
Perasaan cemas yang saat ini mendera, membuatnya sulit untuk berpikir positif.
Kini bukan hanya pikiran Alexi yang kalut, tapi ia juga mulai kehabisan tenaga setelah berjalan ke sana-sini.
Kerongkongannya yang sudah terasa gersang, membawa Alexi memasuki salah satu kedai untuk membeli air mineral.
Dia butuh lebih banyak energi untuk mencari keberadaan Airin.
Setelah menghabiskan satu botol air mineral yang dibelinya, tiba-tiba Alexi merasa ponsel di saku celananya bergetar.
Buru-buru Alexi mengeluarkan benda canggih tersebut, dan tertera nama My Beloved Wife sebagai pemanggil.
Alexi pun menggeser tombol hijau dengan pikiran yang berharap-harap cemas.
"Mas, kamu lagi di mana?" tanya Airin saat panggilan itu terhubung.
"Airin, Sayang ... kau ada di mana? Apa kau baik-baik saja? Apa terjadi sesuatu pada kalian?" Alih-alih menjawab, Alexi malah mencecar Airin dengan berbagai pertanyaan.
"Aku baik-baik saja, Mas ... dan sekarang sudah kembali ke hotel," jawab Airin seakan tak memikiki dosa.
"Oh, sukurlah ... aku sangat mengkhawatirkan kalian." Akhirnya Alexi dapat bernapas lega. "Ya sudah, kalau begitu aku akan kembali ke hotel."
__ADS_1
Alexi memutuskan sambungannya, lalu balik kanan menuju penginapan.
Kurang dari setengah jam kemudian, Alexi pun tiba di kamar mereka dengan membawa wajah lelahnya.
Saat ini Airin tengah duduk di atas ranjang dengan kondisi yang sudah fresh, sepertinya istri Alexi itu baru saja selesai mandi.
"Mas, kamu kenapa? Kok mukanya lesu gitu? Trus kenapa bentuknya acak-acakkan gini?" Airin turun dari ranjang untuk menyambut kedatangan sang suami, dia keherahan melihat kondisi Alexi.
Alexi memandangi Airin dari ujung kepala sampai ujung kaki, takut-takut ada kurang dari istrinya tersebut.
Lalu ia berjongkok di depan Airin, mengusap perut istrinya yang masih datar. "Sayang, kamu benar tidak kenapa-kenapa, kan? Anak kita baik-baik saja, kan?"
Airin mengangguk. "Iya, Mas ... kami semua baik-baik aja, kenapa kamu begitu khawatir?"
"Bagaimana aku tidak khawatir, tidak ada satu pun ponsel kalian yang aktif. Aku cemas kalian bertemu preman, dijambret, atau apa pun. Aku takut terjadi hal buruk pada kalian."
"Tidak, Mas ... kami bisa menjaga diri kok." Airin mengusap lembut rambut suaminya.
Airin menggigit bibir bawahnya, raut wajahnya pun turut berubah tidak enak. "I-itu, Mas ... anu."
"Anu, anu ... apa?" Alexi berdiri lalu menatap Airin penuh telisik.
"Itu idenya Dila, dia sengaja mengatur ponsel kami semua ke mode pesawat, agar kamu tidak datang dan mengganggu kami jalan-jalan," lirih Airin tidak enak hati, dia yang tidak terbiasa berbohong mengatakan yang sebenarnya.
Alexi yang sejak tadi begitu cemas, kini menggelengkan kepala sambil berdecak kesal. "Ya Tuhan, yang jadi suamimu itu aku, atau Dila?"
"Tentu saja kamu, aku masih normal!" sungut Airin sambil mengerucutkan bibirnya.
"Lalu kenapa kamu menuruti ide konyolnya Dila?"
__ADS_1
"Kami hanya ingin jalan-jalan tanpa ada yang menganggu, Mas. Apa itu salah?"
"Sudah pasti salah, kau tahu? Aku hampir gila karena mencemaskan kalian, dan ulah konyol kalian ini membuatku nyaris berjalan kaki mengelilingi kota Venesia!" Alexi menggeram kesal.
Alih-alih peduli dengan kekhawatiran dan penderitaan yang dialami Alexi hari ini, Airin malah terkikik geli membayang semua itu.
Sikap Airin yang seperti ini membuat Alexi semakin kesal, dia pun melengos meninggalkan Airin, lalu mendudukkan diri di sofa.
Melihat gelagat tidak baik dari sang suami, Airin pun berinisiatif menyusul. Dia duduk di samping Alexi, sambil bergelayut manja di lengan suaminya tersebut.
"Mas, kamu beneran marah, ya? Aku minta maaf deh, jangan ngambek lagi ya, pliiss," bujuk Airin.
Alexi dia saja tanpa menyahut, tapi ekor matanya melirik kesal pada Airin.
Lagi pula siapa pun orangnya pasti akan kesal, bila mengalami kejadian seperti Alexi.
"Mas, udahan dong ngambeknya, udah tua lho, udah mau jadi daddy juga. Masa masih ambekkan gini."
Hanya beberapa kali Airin mau membujuk, setelah itu ia pun membuang napas kesal, lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Ya sudah, terusin aja ngambeknya sampai kamu tua! Nanti malam aku tidur pakai celana jeans, dua lapis!" suntuk Airin kesal.
Dia melipat tangan di depan dada, lalu melangkah meninggalkan Alexi.
Sedangkan Alexi hanya bisa menggaruk kepala sambil menatap punggung Airin yang berjalan menuju tempat tidur.
Alexi bingung, kenapa malah jadi istrinya yang marah? kanapa posisinya yang jadi terpojok?
Ah, entahlah ... mungkin Alexi melupakan pasal satu!
__ADS_1
Bersambung.