Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Win-Win Solution


__ADS_3

Tanpa memikirkan apa-apa lagi, Alexi langsung keluar rumah dengan tergesa-gesa. Dia tidak akan tenang sebelum melihat sendiri kondisi Airin, meskipun percaya keluarganya pasti akan menjaga Airin dengan baik.


"Tuan, Anda mau ke mana?" Adalah Sam, asisten Alexi yang bertanya, tepat ketika ia hendak memasuki mobil.


"Aku harus pulang, Sam. Besok, semua pekerjaan kamu handle dulu!" sahut Alexi cepat.


"Tuan, Anda sepertinya sangat panik, kalau begitu lebih baik biarkan saya yang menyetir, lebih baik menghindari penyakit daripada mengobati, bukan?"


Alexi memelototi Sam. "Sejak kapan kamu berani mengajariku Sam?" kesalnya.


Namun, dikarenakan apa yang dikatakan Sam memang benar, pada akhirnya Alexi tetap membiarkan asistennya itu untuk mengantar.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama tiga jam, akhirnya Alexi sampai di rumah dengan selamat.


Dia yang sejak tadi sudah mencemaskan Airin, langsung saja menghampiri sang istri yang tengah tertidur.


Di samping ranjang, ada Mommy Riana dan dua adik kembarnya yang berjaga.


"Mom, Airin sakit apa?" tanya Alexi tanpa mampu menyembunyikan kekhawatirannya.


"Kata dokter dia baik-baik saja, hanya sedikit tidak enak badan saja. Tadi dokter sudah meresepkan vitamin, kamu jangan khawatir, Airin akan segera pulih," jawab Riana dengan aura keibuan.


"Syukurlah!" Alexi menghela napas lega.


Tak lama setelah kepulangan Alexi, ibu dan adik kembarnya pun meninggalkan kamar tersebut.


Sedangkan Alexi, bergegas membersihkan diri kemudian naik ke atas ranjang, dan menemani istrinya tidur.


Pagi datang dengan cepat, Airin menggeliat perlahan dan sedikit tercekat menyadari ada lengan kekar yang mendekapnya dengan erat. Ketika membuka mata, Airin akhirnya menyadari itu adalah lengan suami tercinta.

__ADS_1


Mendapati dirinya membuka mata dalam pelukan pria yang dicintai, tentu saja Airin merasa sangat senang.


Airin bergeser menghadap samping, hanya untuk melihat wajah tampan Alexi dengan lebih dekat. Tanpa bisa dicegah, jemari lentik Airin terulur dan membelai wajah suaminya itu dengan penuh kasih sayang.


Namun, hingga beberapa menit berlalu, Alexi belum juga menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Airin merasa bosan, sampai akhirnya ide nakal muncul dan ia menutup hidung Alexi.


Tidak menunggu lama, Alexi yang tidak bisa bernapas itu pun terbangun. Ketika matanya terbuka, dia langsung disambut seringaian jahil dari Airin.


Alexi tidak marah, menunjukkan bahwa dia menyayangi Airin dengan begitu besar.


"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Alexi sambil memperat dekapannya di tubuh Airin.


"Udah dong, Mas. Kamu pikir aku lagi ngigau apa!?" Airin mengerucutkan bibirnya.


Melihat wajah Airin yang begitu menggemaskan, Alexi tidak tahan untuk tidak mencubit hidungnya. "Bagaimana kondisi kamu, apa sudah baikan?"


Airin mengangguk. "Iya, Mas ... semalam aku kurang enak badan aja. Kamu kenapa cepat pulang?"


Mendengar ini, apalagi yang bisa dilakukan Airin selain tersenyum bahagia. Di kehidupannya yang sekarang ini, dia merasa tidak memiliki kekurangan sama sekali.


Suami yang penyayang, keluarga mertua yang baik. Mereka tidak pernah memandang Airin dari status dan strata sosialnya.


"Mas, bangun yuk, aku lapar!" rengek Airin.


Alexi mengangguk setuju, keduanya bergegas mandi kemudian sarapan bersama keluarga besar.


Seusai sarapan, Alexi menemani bumil berjemur menikmati sinar mentari pagi di depan halaman rumah.


Pada saat ini, Leo dengan gayanya yang sok cool datang kemudian duduk di samping sang kakak.

__ADS_1


"Bang, mau tahu tidak kenapa semalam Kak Airin jatuh pingsan?"


Alexi mengeryit. "Istriku jatuh pingsan?"


Yang Alexi tahu, istrinya hanya sakit, tapi tentang Airin pingsan, dia tidak tahu sama sekali.


"Ya, semalam itu kakak sempat pingsan. Mommy sengaja tidak memberitahumu karena takut kamu panik, lalu jadi kenapa-kenapa di jalan," ujar Leo.


Tanpa menunggu Alexi bertanya, Leo langsung menjelaskan apa yang ia pikirkan.


"Bang, kondisi setiap ibu hamil itu berbeda-beda, ada yang biasa saja saat berjauhan dengan suami, ada juga yang sangat rentan kesehatannya bila berjauhan dengan suami."


"Sedangkan Kak Airin, dia adalah tipe ibu hamil yang tidak bisa jauh dari suami. Ditinggal sebentar saja, kondisi kesehatannya akan langsung drop."


Plaaak!


Alexi memukul kepala adiknya.


"Sok tahu kamu! Kamu itu bukan anak kesehatan, tahu apa tentang kehamilan!"


"Hehehe ...." Leo terkekeh penuh maksud, "Bang, sekolahku memang bukan di bidang kesehatan, tapi apa yang aku bilang barusan bukan omong kosong. Satu lagi, aku di sini ingin memberikan solusi untukmu."


"Solusi apa?" Dahi Alexi mengernyit berlapis-lapis.


"Gini, Bang. Kan sekarang ini kuliahku hampir selesai, dan aku belum punya pengalaman kerja. Aku ingin belajar, jadi bagaimana kalau kamu biarkan aku yang mengurus proyek didampingi Sam. Dengan begitu kamu bisa mencurahkan semua waktumu untuk menemani masa kehamilan Kak Airin!"


Bersambung ....


Halo Kakak-Kakak, aku kembali😁

__ADS_1


Masih ada yang mau lanjut baca cerita Airin gak, ya?


__ADS_2