Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Korban Penghinaan


__ADS_3

Sehabis mandi, barulah Alexi merasa hawa panas di tubuhnya mulai menurun. Naluri kelaki-lakiannya yang tadi sempat menggila saat berada di dekat Airin, kini mulai bisa dikendalikan.


Dia nyaris saja khilaf, meminta sesuatu yang tidak pantas. Dan belum tentu juga Airin mau memberikannya, mengingat status pernikahan mereka yang entah seperti apa.


Alexi merebahkan diri di tempat tidur, mencoba mengusir bayang-bayang sang istri yang sudah berhasil membuatnya mabuk kepayang.


Tok ... tok!


Baru saja Alexi hendak memejamkan mata, tapi suara ketukan itu memaksanya untuk turun, dan membuka pintu.


Baru saja tenang, Alexi sudah kembali melihat sosok makhluk manis yang membuatnya nyaris gila itu, sedang bediri di balik pintu sambil tersenyum padanya.


"Mas, kok nglihatinnya seperti itu?" Airin agak risih karena Alexi menatapnya tanpa berkedip.


"Ehmm, ma-maaf ... ada apa?" tanya Alexi sambil berusaha mengendalikan pandangannya.


"Udah malam, yuk makan malam dulu. Tadi aku pikir habis mandi, kamu akan langsung ke ruang makan, tapi aku tungguin nggak muncul-muncul," sahut Airin.


"Oh, makan malam. Ya sudah, ayo!" Alexi berusaha setenang mungkin agar tidak kelihatan gugup.


Mereka pun pergi ke ruang makan, menikmati santap malam layaknya suami istri sungguhan.


Setelah makan malam selesai, mereka kembali ke kamar masing-masing. Tidur terpisah layaknya orang asing.


Pagi harinya mereka sarapan bersama. Alexi kembali meletakkan uang di atas meja setelah ia selesai sarapan.


"Ini untuk belanja hari ini," ujar Alexi persis seperti hari sebelumnya.


Airin melirik uang tersebut, dari ketebalannya Airin yakin jumlahnya pasti sama seperti kemarin.


"Mas, kamu nggak perlu kasih aku uang setiap hari, apalagi jumlahnya sebanyak it- ...."


Ucapan Airin terpotong karena Alexi langsung menyela. "Ini sudah menjadi tanggung jawab saya!" tegasnya.


"Mas, aku senang kamu ngerti tanggung jawab, dan aku juga nggak mungkin nolak uang pemberian kamu. Tapi, nggak harus setiap hari dengan jumlah yang sebanyak itu juga, sedangkan yang kemarin aja baru aku pake lima puluh ribu," ujar Airin.


Airin menghela napas sebelum melanjutkan. "Mas, aku nggak mau ya kamu maksain diri. Meski aku hanya pedagang warung, tapi aku tahu berapa kisaran gaji seorang mandor setiap bulan, paling hanya beberapa juta. Lalu, kalau kamu kasih aku uang satu juta setiap hari, kamu mau dapatin kekurangannya dari mana? Aku nggak mau ya, tiba-tiba kamu terlilit kasus penggelapan uang proyek."


Alexi tercekat, wajar Airin langsung berpikiran buruk. Karena rataan gaji seorang mandor, paling hanya berkisar lima sampai delapan juta perbulan.

__ADS_1


"kamu tenang saja, uang ini halal, bukan hasil menipu perusahaan. Saya memberi jatah belanja harianmu segini dari uang tabungan. Ya saya masih memiliki tabungan yang cukup menafkahi kamu," ujar Alexi memberi penjelasan yang masuk di akal.


"Ya, tapi tetap saja jumlahnya terlalu banyak, ini berlebihan namanya." Airin masih membantah.


Alexi menarik sudut bibir. Rasanya dia ingin tertawa mendengar Airin mengatakan uang satu juta terlalu banyak. Istrinya itu tidak tahu saja seperti apa keluarganya, daddy Almeer memberi jatah mommy Riana tiga ratus juta setiap bulan, itu belum termasuk black card, dan kartu kredit unlimited miliknya.


Adik-adiknya yang masih menjalani pendidikan juga sama, mendapatkan jatah ratusan juta setiap bulannya.


"Mas, kamu dengarin aku nggak sih?" ujar Airin membuyarkan lamunan Alexi. "Aku nggak suka sesuatu yang berlebihan, apalagi kamu harus menguras tabungan. Itu untuk masa depan kamu, jadi jangan kamu habiskan untuk wanita yang sepe- ...."


"Wanita seperti apa maksud kamu?" potong Alexi sambil menajamkan sorot matanya.


"Ya, yang seperti aku. Kamu pasti tahu lah maksud aku apa, pernikahan kita juga cuma ...."


"Airin, cukup! Berhenti membahas ikatan. Saya memang tidak tahu pernikahan seperti apa yang kita jalani. Tapi selagi saya masih berstatus sebagai suami kamu, izinkan saya menunaikan tanggung jawab saya!" tegas Alexi.


Airin menundukkan wajah. "Iya, Mas, maaf."


Habis perdebatan itu Airin buru-buru merapikan meja makan. Selanjutnya mereka keluar rumah bersama-sama.


Hari ini Airin akan kembali berjualan, dan Alexi tidak dapat mecegah keinginan istrinya tersebut.


"Waah ... ketemu pengantin mesum nih!" cerocos bu Santi saat melihat keberadaan Airin dan Alexi.


"Dasar janda murahan!" seru bu Endang sinis.


Napas Airin tercekat mendengarnya, seperti ada sebuah batu besar yang tiba-tiba menimpa dadanya. "Maksudnya apa ya, Tante? Kok ngomongin saya gitu?"


"Ciih ... pura-pura polos lagi, kamu lupa? Waktu itu kita pernah bilang, kalau kamu itu sengaja ngubah penampilan untuk mencari mangsa, sekarang udah terbukti kan omongan kita!" sinis bu Santi.


Nyinyiran itu sontak membuat Alexi kesal, hatinya memanas mendengar sang istri direndahkan oleh dua wanita paruh baya tersebut.


"Ibu, maksud kalian berkata seperti tadi apa ya?" tanya Alexi dengan suara tertahan.


"Lho, kok pura-pura nggak ngerti sih? Kita kan ngomongin fakta," sahut bu Endang dengan bibir atas terangkat.


"Anak-anak jaman sekarang emang gitu, Jeng. Mana tahu yang namanya adab, udah jelas-jelas ketangkap warga, masih aja berkilah. Dasar nggak tahu malu!" sinis bu Santi menimpali perkataan bu Endang.


Alexi menghela napas panjang, jika saja yang berbicara itu bukan ibu-ibu, sudah pasti dia akan meremas mulut keduanya.

__ADS_1


"Ibu-ibu, tolong jangan bicara sembarangan. Apa yang dilihat warga itu bukan kejadian yang sebenarnya, saat itu saya dan Airin bukan sedang berbuat mesum!" tegas Alexi menekan kata demi kata.


"Ck, terus kamu mau bilang semua warga, yang ikut menggrebek itu, sedang berhalusinasi?" Bu Santi menggelengkan kepala tidak habis pikir. "Kalau mau cari alasan kira-kira dong!" imbuhnya.


Bu Endang memandangi Alexi dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Kamu ini ganteng, masih muda, punya karir yang lumayan bagus, di umur segini udah jadi mandor, kok mau sih sama Airin? Nggak pantas tau, dia kan janda, kayak nggak ada yang masih gadis aja!"


"Kalau dijodohkan sama anak saya mau nggak? Lebih cantik dari Airin, pinter juga, masih kuliah. Pokoknya lebih segalanya deh, dibanding Airin yang janda nggak jelas ini," ujar bu Santi sambil mengalihkan sorot mata jijik pada Airin.


Mendengar lagi-lagi ada orang yang merendah istrinya, rahang Alexi pun mengetat. "Ibu salah, jika mengatakan Airin tidak pantas buat saya. Memang, saya menikahi seorang janda. Tapi yang saya nikahi adalah wanita hebat, dan istri yang sangat baik!!"


Setelah menegaskan kata-kata itu, Alexi segera merangkul Airin keluar dari pasar. Dia tidak ingin Airin menjadi terpuruk karena ocehan pedas kedua wanita tersebut.


Sementara itu bu Endang dan bu Santi memandangi kepergian keduanya dengan bibir manyun.


"Sok banget ya, Jeng ... anak itu, janda aja dibela-belain," kesal bu Endang.


"Kayaknya dipelet deh sama Airin. Kalau nggak, ya mana mungkin bujangan gitu mau sama janda. Sebenarnya kasihan juga sih, Jeng."


"Tapi ada sukurnya juga sih, si Airin udah nikah. Toh, tebakan kita benar, si Airin itu ngubah penampilan buat godain orang. Untungnya yang kecantol sama dia bukan suami kita."


"Ish, kalau dia berani godain suami kita, aku bejek-bejek tuh si Airin sampe mati!" Membayangkannya saja sudah membuat bu Santi naik darah.


"Udah ah, Jeng. Daripada mikirin Airin yang nggak jelas, mending kita lanjut belanja aja!" ajak bu Endang.


"Kamu benar, Jeng. Yuk, ah ...."


Bersambung.


.


.


.


.


.


Udah hari senin nih, jangan lupa votenya untuk Airin ya My Beloved Readers😊🤗

__ADS_1


__ADS_2