Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Mengikuti Takdirnya


__ADS_3

Alexi tidak ingin menyerah, meski melihat Airin masih berusaha menolak. Dia ingin membuktikan bahwa semua itu hanyalah ketakutan Airin, sesuatu yang sebenarnya tidak akan terjadi sama sekali.


"Airin, dengar. Aku tahu banyak hal yang menjadi pertimbangan kamu. Tapi kamu juga harus ingat, waktu itu kamu bilang, takut berdosa karena tidak memberikan hak suami. Apa sekarang kamu tidak takut berdosa karena membantah suamimu," ucap Alexi dengan suara meratap.


"Aku tahu itu, Mas. Tapi kamu juga harus tahu batas-batasan kita! Aku janda, bahkan janda cacat. Kamu harus ingat itu, jangan memaksakan sesuatu yang nantinya akan menjadikan penyelasan untukmu," desah Airin.


Alexi membuang napas berat. "Aku sudah tahu semuanya, Airin. Aku tidak akan menyesali apa pun. Dan jika yang kamu khawatirkan adalah sambutan dari keluargaku, aku pastikan mereka akan menerima kamu dengan tangan terbuka. Percayalah ...."


"Kamu yakin, Mas?" tanya Airin dengan suara lirih.


Alexi mengangguk sungguh-sungguh. "Iya, aku bisa pastikan itu."


Melihat tidak keraguan yang tersirat di wajah Alexi, membuat perasaan Airin menghangat.


Jauh di dalam hatinya ia masih ingin mempertahankan pernikahan ini, hanya saja dia sedang melihat jurang yang begitu dalam di depannya, membuat nyalinya menciut.


"Kita siap-siap ya. Kita pulang sekarang, kamu harus bertemu mommy, agar kamu tahu kekhawatiran itu tidak terbukti," bujuk Alexi lagi.


Sampai akhirnya ada sebuah anggukan pelan dari Airin, membuat Alexi menarik napas lega.


Airin berdiri, dia pergi ke kamar untuk mengambil pakaian seperlunya. Memang, dia masih belum yakin akan diterima oleh keluarga Alexi, saat ini dia hanya mencoba menunjukkan bakti kepada suami. Mungkin nanti dia akan segera pergi, jika mendapat sambutan yang tidak baik.


Tak lama kemudian Alexi menyusul ke kamar, ia melihat Airin sedang memasukkan pakaian ke dalam tas.


"Kamu lagi apa?"


"Tadi kan kamu yang nyuruh siap-siap, Mas," sahut Airin.


"Iya, tapi yang aku maksud itu kamu mandi, dan ganti pakaian. Kamu tidak perlu membawa apa pun, nanti biar aku suruh orang untuk membelikan pakaian baru untukmu."


Airin menoleh dengan dahi berkerut. "Itu tidak perlu, Mas. Yang ini juga masih bagus, dan beberapa dari ini juga pemberianmu waktu itu."


"Tapi biarkan saja di sini, ada masanya nanti kamu rindu rumah ini, dan ingin menginap. Jadi kita bisa tinggal datang, tanpa membawa barang-barang lagi."


"Ehmm, ya sudah, kalau begitu aku mandi dulu." Airin mengalah, dipikir-pikir ucapan Alexi itu memang cukup masuk akal.

__ADS_1


Sementara Airin pergi, Alexi merebahkan dirinya di tempat tidur. Tak butuh lama ia pun terlelap. Mungkin karena hatinya yang lega, atau bisa jadi karena rasa kantuk yang sudah tidak lagi tertahan, sebab ia belum pernah tidur sejak semalam.


Senyum Airin mengembang saat melihat Alexi tertidur pulas, dia yang baru selesai mandi itu segera mengenakan pakaian, lalu menambahkan sedikit riasan tipis di wajahnya.


Setelah selesai berdandan, ia lantas menghampiri ranjang, mengguncang pelan tubuh Alexi agar terbangun.


"Mas, bangun!" seru Airin seraya menepuk pelan pipi suaminya.


Alexi menggeliat perlahan, wangi tubuh istrinya itu begitu menusuk indra penciumannya. Alih-alih bangkit, ia malah menarik Airin ke pelukannya hingga sorot mata mereka saling terkunci, untuk sepersekian detik mereka saling terpaku dalam tatapan masing-masing.


"Mas, lepas! Katanya mau berangkat," rutuk Airin.


"Sebentar, biarkan aku memelukmu seperti ini. Rasanya nyaman sekali, dan aku sudah lama sekali tidak merasakannya." Alexi menatap Airin penuh kerinduan.


"Kamu sendiri yang mengabaikanku, kamu menganggapku patung!" Mengingat apa yang terjadi beberapa hari belakangan ini, membuat nada bicara Airin kembali ketus.


"Maaf, aku salah. Dan aku janji itu tidak akan terjadi lagi!" ucap Alexi, ia lantas menarik Airin semakin mendekat.


Bibir mereka bertemu, saling menebar sensasi hangat yang mengundang gairah, sesuatu yang membuat Alexi sangat kecanduan dengan rasa manisnya.


Yang Airin tahu dia sangat rapuh. Rapuh akan setiap sentuhan yang diberikan Alexi. Entahlah, mungkin karena suaminya itu memang pandai menerbangkan dirinya, dengan sentuhan-sentuhan nakalnya, atau ia mungkin juga mendambanya.


Alexi melepas ciuaman itu saat deru napas mereka semakin tidak beraturan. Dia menggeser Airin ke samping, lalu mengecup kepalanya dengan mesra.


"Kita lanjutkan di rumah ya, Sayang!" bisik Alexi.


Entah mengapa wajah Airin lansung cemberut mendengarnya. Suaminya itu sudah membuat hormon dalam dirinya naik sampai ke ubun-ubun, lalu menghentikannya seenak jidat, sunguh menyebalkan.


Airin membuang napas kesal, dalam hati ia merutuki pekerjaan suaminya yang serba tanggung.


Mereka lantas turun dari ranjang, lalu bergerak keluar rumah. Airin tidak membawa apa-apa, kecuali tas jinjingnya yang kecil.


Di depan rumah, sebuah mobil MPV super mewah sudah menanti. Melihat kedatangan mereka, sopir mobil itu bergegas turun, lantas membukan pintu kabin tengah untuk Tuan dan Nyonya Mudanya.


Sejurus kemudian mobil itu pun meluncur meninggalkan kampung. Airin terdiam, rasanya dia belum percaya dengan semua ini.

__ADS_1


Memang, ini bukan kali pertama ia naik mobil mewah, suami pertamanya pun orang kaya. Hanya saja dia tidak menyangka akan kembali menikah dengan pria yang bahkan jauh lebih kaya.


Dia tidak tahu entah harus menyebut ini sebagai keberuntungan, atau mungkin ada kesialan yang sudah menantinya di depan sana. Saat ini dia hanya mengikuti ke mana arah takdir akan membawanya.


"Airin!" panggil Alexi membuyarkan lamunan istrinya.


"Ya, Mas."


"Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi!"


Airin mengkerutkan dahi. "Pertanyaan yang mana, Mas?"


"Dari kamu tahu tentang Sam? Kamu juga tahu apa yang aku lakukan tadi pagi."


"Aku punya indra ke enam!" sahut Airin malas.


"Hah? Aku serius, Airin!"


"Aku juga serius, Mas. Sudah, aku nggak mau bahas itu lagi!" Airin bersungut-sungut sembari memalingkan wajahnya ke arah jendela.


Mana mungkin dia mengakui bahwa ia berpindah ke bawah tempat tidur, dan bersembunyi di sana. Karena saking malasnya bertemu Alexi yang terus mengabaikannya, dan selalu pulang saat dini hari dalam keadaan mabuk.


Lagi pula bisa-bisanya suaminya itu mengira ia kabur. Ke mana dia akan pergi? Dia sudah tidak memiliki apa-apa, dan siapa-siapa lagi, kecuali rumah itu satu-satunya.


Dua jam perjalanan, mobil yang mereka tumpangi pun berbelok memasuki sebuah gerbang sangat besar. Dua penjaga bertubuh kekar bergegas membuka gerbang tersebut, sembari membungkuk menujukkan sikap hormat pada tuan mudanya.


Melaju sekitar lebih dari seratus meter dari gerbang, supir itu menghentikan laju mobilnya tepat di depan pintu ganda berukiran indah. Saat menoleh ke jendela, mulut Airin ternganga saat melihat bangunan bergaya romawi, dengan banyak pilar-pilar besar yang menjulang angkuh di depannya.


"Ayo turun, kita sudah sampai!" ajak Alexi membuyarkan lamunan istrinya.


Napas Airin tercekat, jantungnya berdebar tidak menentu. Rasanya ia belum siap untuk melewati detik-detik menegangkan yang akan segera terjadi, saat nanti ia dikenalkan pada orang tua Alexi.


Bersambung.


Jangan lupa tinggalkan like, dan komentarnya ya.

__ADS_1


__ADS_2