
Alexi tidak tertidur semalaman, dia benar-benar resah memikirkan keberadaan Airin. Dia terus terjaga sampai pagi, ditemani perasaan menyesal karena telah mengabaikan Airin selama seminggu ini.
Dan yang lebih membuatnya frustasi, ponsel milik istrinya itu sama sekali tidak bisa dihubungi. Entah Airin sengaja mematikan, atau sedang kehabisan baterai, Alexi tidak mengerti.
Saat ini dalam pikiran Alexi, sudah berkecamuk berbagai pertanyaan. Sedalam itukah ia menyakiti sampai Airin memutuskan untuk meninggalkan rumah? Benarkah wanita itu serius dengan kata-katanya yang ingin meminta pisah?
Memikirkan hal itu, membuat Alexi berkali-kali menghembuskan napas berat. Dia takut melihat penyesalan yang akan segera datang, jika Airin benar-benar pergi darinya.
Saat hari mulai terang, Alexi bergegas meninggalkan rumah. Dia harus menemukan keberadaan Airin. Tujuan pertamanya adalah rumah Sarah, ia yakin sekali Airin pasti berada di sana, menghabiskan satu malam penuh dengan bertukar cerita bersama sahabatnya itu.
Di pagi buta seperti itu, Alexi menyusur jalanan kampung, membawa wajah kusutnya yang terlihat frustasi. Bahkan ia belum sempat mencuci muka.
Jarak rumah Airin dan rumah Sarah sekitar setengah kilometer. Alexi harus berjalan kaki, karena semalam ia meninggalkan kendaraannya begitu saja di club.
Sekitar 5-menit kaki panjang itu mengayun dengan tergesa-gesa, ia pun tiba di depan rumah Sarah. Lalu tangannya terangkat mengetuk pintu, tidak peduli apakah pemilik rumah itu masih tidur.
Beberapa kali mengulang ketukannya, barulah terdengar suara sahutan seorang wanita dari dalam rumah. Yang tak lama kemudian disusul knop pintu ditarik. Memperlihatkan sosok gadis cantik alami, dengan pakaian tidurnya yang sedikit kusut.
Mulut sarah terbuka lebar melihat keberadaan Alexi. Dia tidak menyangka tamunya di pagi buta ini, adalah pria tampan yang pernah disukainya. Sarah menatap Alexi lekat-lekat, bukan karena masih mengagumi atau menyukai pria itu, tapi ia heran akan hal yang membawa Alexi datang pagi-pagi seperti ini.
"Apa Airin ada di sini?" tanya Alexi tergesa-gesa.
Belum hilang keterkejutan Sarah, kini sudah ditambah oleh pertanyaan itu, yang membuatnya semakin bingung.
Airin? Di sini? Sarah tidak mengerti. Kekonyolan macam apa yang sedang terjadi, sehingga seseorang mendatangi rumah orang pagi-pagi sekali, untuk menanyakan keberadaan istrinya.
"Apa semalam Airin datang, lalu menginap di sini?" Alexi memperjelas pertanyaannya.
Sarah menggelengkan kepala. "Tidak, Airin tidak datang ke sini, apa terjadi sesuatu padanya?"
Alexi menundukkan wajahnya yang sudah lesu sejak tadi, dan kini tampak semakin frustasi. "Kau tidak sedang mempermainkanku, kan?"
Sarah melotot kesal, tuduhan itu benar-benar tidak beralasan, selain hanya membuat telinganya terbakar.
"Mempermainkanmu? Apa gunanya aku mempermainkanmu? Dan kau belum menjawab pertanyaanku, apa terjadi sesuatu pada Airin?" tanya Sarah, wajahnya yang putih itu memperlihatkan urat-urat halus berwarna merah, menandakan suasana hatinya ikut tegang mendengar Airin menghilang.
__ADS_1
Alexi mendesahkan napas berat. Jika tidak ada di sini, lalu ke mana istrinya itu pergi?
"Jadi Airin benar-benar tidak ke sini? Maaf, aku tidak bermaksud menuduhmu berbohong, atau menyembunyikan Airin. Aku hanya terlalu kalut, saat ini Airin tidak ada di rumah, lebih tepatnya dia meninggalkan rumah sejak semalam," terang Alexi.
"Itu terjadi karena kau mengabaikannya, Alvin!" seru Sarah dengan nada geram.
Sama seperti Alexi, Sarah juga bingung ke mana Airin pergi. Sebelumnya, Airin memang selalu mendatangi rumahnya saat ada masalah. Tapi tadi malam, Airin sama sekali tidak mendatanginya.
"Kau teman dekatnya. Apa kau tahu ke mana dia biasa pergi?" tanya Alexi, dan Sarah menggelengkan kepala.
"Apa kau mengenal kerabat jauhnya di tempat lain, mungkin saja dia pergi ke sana!" ujar Alexi berpraduga.
"Airin itu asli pribumi daerah sini, dia tidak memiliki kerabat di tempat lain. Ya, Tuhan ... kelakuanmu pada Airin telah menempatkannya dalam bahaya, bagaimana kalau dia diculik." Sarah mendesah khawatir.
Alexi memijat pangkal hidungnya, perkataan Sarah membuatnya semakin cemas. Sadar berlama-lama di sini tidak akan membuatnya menemukan Airin. Alexi lantas berpamitan setelah meminta Sarah menghubunginya, jika mendapat kabar tentang Airin.
Dengan langkah cepatnya, Alexi kembali ke rumah. Dia mengambil ponsel yang semalam ia cas, lantas menghubungi nomor asistennya.
"Iya, Tuan." jawab Sam di seberang sana.
"Istri Anda, Tuan?" Terdengar nada bingung dari intonasi suara Sam.
"Iya, aku mau kau menemukannya sebelum sore ini!" tegas Alexi.
Terdengar hembusan napas berat dari seberang sana, meskipun tidak terlalu jelas. "Tuan, saya memerlukan informasi orang itu jika ingin mencarinya. Sementara saat ini saya tidak tahu apa pun."
"Namanya Airin ... Airin Khairani Putri. Sebentar, aku mengirimkan photonya padamu!" Alexi lantas memutuskan panggilannya sepihak.
Ia pun bergegas memasuki kamar, untuk mengambil photo Airin. Sayangnya, bingkai photo yang selama ini menghias di atas nakas. Sudah tidak ada lagi di sana.
Alexi semakin bingung, photo yang ia harapkan bisa menjadi petunjuk untuk mempermudah pencarian, pun sudah raib dari tempatnya. Padahal Alexi masih ingat jelas, kemarin photo itu masih ada di sana.
Apa Airin benar-benar ingin menghilang tanpa memberinya jejak untuk dicari? Sepertinya sakit yang ia torehkan sudah terlalu dalam.
Saking frustasinya Alexi membongkar lemari, berharap akan menemukan album photo, atau apa pun yang bisa membantunya mencari Airin.
__ADS_1
Sampai semua isi lemari itu berpindah ke lantai, Alexi tetap tidak menemukan yang dicarinya. Dia pun terduduk lemah, di antara barang-barang yang berserakan.
Alexi kembali menghubungi asistennya, kali ini dia memerintahkan Samuel untuk datang secara langsung.
Pukul sembilan pagi, Samuel tiba di tempat. Dia duduk di sofa yang berseberangan dengan sang boss. Dahi Sam berkerut heran karena Alexi memberinya selembar HVS kosong, dilengkapi dengan ballpoint.
"Ini untuk apa, Tuan?" tanya Sam bingung.
"Gambar sketsanya, aku akan mengatakan ciri-cirinya."
Sam meneguk saliva dengan susah. Ini adalah perintah terkonyol yang pernah ia terima. Bagaimana dia bisa membuat sketsa wajah orang, hanya dengan mendengar ciri-cirinya. Dan yang paling buruk, nilai kesenian menggambarnya saat masih sekolah dasar, sangatlah rendah.
Sam tidak habis pikir, kalau saja yang duduk di hadapannya ini bukan atasannya, pasti sudah ia maki-maki sejak tadi. Karena menyuruhnya melakukan hal yang benar-benar tidak masuk akal.
"Tuan, menggambar bukan spesifikasi saya." Sam tetap mengambil ballpoint itu, meski tangannya bergetar.
"Lakukan saja, Sam!" perintah Alexi yang akalnya sudah buntu itu tidak ingin dibantah.
Sam menghela napas berat, dia mulai menggoreskan tinta sesuai ciri yang disebutkan Alexi. Lalu ia menyerahkan HVS itu setelah sketsanya jadi.
"Astaga ...." Alexi menggeram bercampur syok. Alih-alih menyerupai Airin, sketsa itu terlihat lebih mirip dengan boneka Annabelle.
Alexi memijat pelipisnya, dia sudah pusing karena menghilangnya Airin, kini harus ditambah lagi dengan pekerjaan tidak becus asistennya.
Tiba-tiba sebuah pemikiran terlintas di kepala Alexi. Untuk apa dia susah-susah mencari Airin? Untuk apa dia harus peduli? Pernikahan mereka masih baru, dan tanpa didasari cinta.
Ya sudah, abaikan saja semuanya. Toh, ia juga belum sepenuhnya menyerahkan hati untuk Airin. Lagi pula dia tidak sepenuhnya bersalah, wanita itu sendiri yang menghilang, wanita itu juga yang meminta dijatuhkan talak.
Alexi berdiri dari tempat duduknya, dia tidak ingin lanjut mencari Airin. Dia hanya menikah siri, dan keluarganya belum ada yang tahu selain Zico.
"Buang semua itu, Sam. Antar aku pulang sekarang!" perintahnya.
Bersambung.
Jangan tinggalkan like, komentar, dan hadiahnya juga, ya.
__ADS_1
Terimakasih.