
Alexi menghela napas panjang. "Tapi kamu harus dengar penjelasan aku sampai selesai ya."
Airin mengangguk sedikit. "Iya, katakan saja."
"Airin, aku tahu kamu pasti akan marah. Sebelumnya aku ingin menyimpan rahasia ini sampai kamu melahirkan, tapi aku takut kamu terlebih dulu mengetahuinya dari orang lain, dan kamu pasti akan lebih sakit hati. Jadi aku memutuskan untuk memberitahumu lebih cepat."
"Langsung ke intinya saja, Mas," desak Airin yang sudah tidak sabar, dia merasa Alexi terlalu berbelit-belit.
"Ehhm, baiklah. Malam itu, Viona mencoba menjebakku dengan memasukkan obat ke minumanku. Tapi aku tidak tidur dengannya, aku berhasil kabur dan menenangkan diri ke hotel. Lalu tiba-tiba saja kamu masuk ke kamarku, dan kita ...." Rasanya Alexi tidak sanggup untuk meneruskan cerita itu.
"Maksudnya kamu adalah pria yang merusak malam pengantinku? Iya, Mas?" Saat ini manik mata Airin sudah berkaca-kaca.
Alexi mengangguk pelan, lalu mendekap Airin. "Aku minta maaf, Airin. Aku benar-benar tidak ada niatan untuk berbuat jahat padamu."
Airin terisak, "Kamu jahat, Mas ... kamu jahat! Apa kamu tahu seberapa menderitanya aku karena perbuatanmu itu? Bertahun-tahun aku hidup sengsara, Mas."
"Aku minta maaf, Airin. Kamu boleh marah, kamu boleh pukul aku. Kamu boleh apa saja asal itu bisa membuatmu lega, tapi tolong jangan pernah berpikir untuk pergi dari hidup aku." Alexi semakin mempererat pelukannya.
Sebenarnya bisa saja Alexi mengatakan itu bukan murni kesalahannya, karena pada kenyataannya Airin adalah penyebab utama insiden itu terjadi.
Namun, Alexi tidak ingin mencari pembenaran di sini, dia lebih berfokus untuk menenangkan istrinya tersebut.
"Ayo kita pulang, Mas. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri," isak Airin.
Alexi memapah istrinya keluar dari restoran, dia sedikit lega sekarang, dan ia yakin cepat atau lambat Airin pasti akan memaafkannya.
Dalam perjalanan pulang, Airin terus saja memalingkan wajah ke arah jendela. Sedangkan Alexi memilih fokus pada jalanan yang ditempuh. Sekalian ingin memberi waktu pada Airin untuk mendapatkan kembali ketenangannya.
Bahkan sampai malam, Airin tetap saja tidak ingin bicara dengan Alexi, sikapnya berubah dingin.
Mendapat perlakuan seperti itu, Alexi sama sekali tidak marah, dia mencoba bersabar menghadapi sikap istrinya. Saat tidur pun dia masih memeluk Airin, meski istrinya itu memunggungi dirinya.
"Mas berangkat kerja dulu ya, Sayang," pamit Alexi pagi harinya.
Airin hanya mengangguk, ia tidak tersenyum saat Alexi mengecup keningnya.
Sepeninggal Alexi, Airin merasa bosan sendiri di kamarnya, ia pun menghubungi Sarah.
"Iya, Rin. Kamu apa kabar? Eh, terimakasih lho oleh-olehnya." Terdengar suara Sarah yang sumringah di speaker ponsel Airin, meski sebenarnya ia agak kesal, karena yang mengantar oleh-oleh itu adalah pemuda yang tidak diharapkan.
"Sama-sama ... eh, Sar. Kamu hari ada acara nggak?"
"Nggak tuh, aku di rumah aja. Kuliah juga masih libur. Kenapa Rin?"
"Jalan-jalan yuk, ngemall, aku bosan nih di rumah," ajak Airin.
"Umm, boleh ... kita ketemu di mallnya aja ya."
__ADS_1
"Oke."
Airin memutus sambungan setelah menyebut mall yang akan dituju.
Meski sedang marahan, Airin masih ingat untuk meminta izin pada sang suami. Dia baru bersiap setelah mendapat balasan dari Alexi, lalu segera berangkat.
Sekitar satu jam kemudian, Airin pun tiba di mall tujuan. Ternyata Sarah sudah tiba lebih dulu, sahabat Airin itu merentangkan tangan, sembari tersenyum lebar menyambut kedatangannya.
"Airin, aku kangen banget!" seru Sarah sembari mereka berpelukan.
"Aku juga," balas Airin, "Bagaimana kabar Tante Sari? Sehat?"
Sarah mengangguk. "Iya, Mama sehat. Bagaimana bulan madu kamu?"
"Ya, begitulah. Lumayan menyenangkan," jawab Airin datar.
Padahal sebenarnya hari-hari yang ia lewati bersama Alexi di Venesia sangat menyenangkan, hanya saja saat ini Airin masih marah pada suaminya.
"Eh, Sar. Baju kamu!" Airin mengerutkan dahi saat memperhatikan outfit serba branded yang dikenakan Sarah.
Airin tahu Sarah adalah gadis yang pandai memilih pakaian, sehingga penampilannya selalu terlihat modis, tapi selama ini sahabatnya itu terkenal hemat.
Sarah adalah tipikal gadis yang tidak suka menghambur-hamburkan uang, untuk membeli barang mahal hanya demi alasan gengsi.
"Ini dibeliin orang gila," jawab Sarah asal.
"Ehmm, dibeliin orang gila tapi dipake juga," cibir Airin.
"Ya, Dong ... daripada sayang dimakan tikus! Udah, Ah. Jangan dibahas lagi, yuk kita jalan aja."
Airin mengangguk setuju, mereka pun berkeliling mall sembari mengobrol banyak hal.
Setelah puas berputar-putar, mereka memasuki salah satu restoran cepat saji untuk mengisi perut yang mulai keroncongan.
"Kamu kenapa, Rin? Kamu lagi ribut sama Alvin?" Sarah baru menyadari mata Airin terlihat bengkak, dan ia pun bertanya penyebabnya.
Airin mengangguk. "Iya, sebenarnya aku ngajak kamu jalan itu mau cerita."
"Ya udah, kamu bisa cerita sekarang."
Airin menarik napas panjang, lalu menceritakan penyebab ketegangan yang terjadi antara dirinya dan Alexi, dari awal sampai akhir.
Selama Airin bercerita, Sarah hanya mendengarkan tanpa menyela sama sekali.
Setelah Airin selesai, barulah Sarah mengeluarkan pendapat, "Airin, kamu jangan hanya mikirin sakitnya kamu sendiri. Sekarang coba kamu renungi baik-baik, di mana letak kesalahan Alvin? Yang masuk kamar dia itu kamu, dan dia juga nggak maksa, kan?"
Airin terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengangguk. "Iya juga sih, Mas Lexi sebenarnya nggak salah apa-apa. Akunya aja yang ingin menang sendiri."
__ADS_1
"Apalagi nih ya, sekarang orang itu sudah jadi suami kamu. Jadi ya anggap aja dia ngambil haknya dia, tapi sebelum waktunya." Sarah memainkan alis mata sembari terkekeh.
"Ngaco kamu!" suntuk Airin.
Meski raut wajah Airin masih terlihat sedikit kesal, tapi semua nasehat dari Sarah membuatnya tidak lagi ingin menyalah Alexi.
Tanpa terasa entah sudah berapa jam mereka di mall tersebut.
"Udah sore nih, pulang yuk," ajak Sarah.
Airin mengangguk setuju, mereka lantas menunggu jemputan di depan mall. Tadi Airin memang meminta supirnya untuk pulang, karena ia tidak mungkin sebentar jika sudah bersama Sarah.
"Sar, temenin beli kue yuk," ajak Airin.
Dia melihat ada sebuah toko kue yang menjual cup cake kesukaannya di seberang jalan.
"Ayo," sahut Sarah.
Kedua wanita itu lantas menyeberang jalan dengan hati-hati, sembari terus memperhatikan kondisi lalu lintas.
"Ternyata kalau sudah rejeki nggak bakal ke mana, nyawamu itu berharga sebuah apartemen untukku. Ayo Airin, ucapkan selamat tinggal pada kebahagiaanmu."
Bruumm!
Frita menyalakan mesin, kakinya menginjak pedal gas dalam-dalam setelah memasukkan perseneling. Mobil yang semula diam itu pun melesat dengan sangat cepat.
Airin dan Sarah terbelalak kaget, mereka tidak menyangka tiba-tiba ada mobil yang sudah sangat dekat, melaju dengan kecepatan tinggi.
Braakk!
"Aaahhkkk ...."
Frita melirik spion untuk mengetahui kondisi korban di belakang yang sudah bersimbah darah, sambil terus menginjak pedal gas sedalam mungkin untuk melarikan diri.
"Hah ...." Frita terkejut bukan kepalang saat kembali melihat ke depan.
Di depannya ada sebuah truck box yang jaraknya sudah sangat dekat, Frita membanting stir lalu menginjak rem hingga kandas.
Ciiittt ....
Mobilnya kehilangan kendali, beberapa kali membentur mobil di sekitar, sebelum akhirnya ....
Gedebum!
Dentuman keras itu terdengar bersamaan dengan mobilnya yang remuk menghantam pembatas jalan.
Bersambung.
__ADS_1