Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Tidak Bisa Jauh


__ADS_3

Setelah menyerahkan proses hukum Viona kepada pihak berwajib, Airin dan Alexi segera meninggalkan kantor polisi.


Mereka ke rumah sakit terlebih dulu untuk menjenguk Sarah, sebelum akhirnya pulang ke rumah.


Seminggu kemudian.


Airin dan Alexi baru saja selesai mandi, seperti biasa pasangan suami suami istri ini tengah bermesra-mesraan di dalam kamar.


"Mas, aku punya rencana buat jadiin rumahnya almarhum jadi panti asuhan. Menurut kamu gimana?" tanya Airin.


Alexi tersenyum, dalam hatinya langsung setuju dengan niat mulia sang istri.


"Bagus, selagi niatnya baik, aku pasti akan dukung kamu, tapi ingat, kamu jangan terlalu capek," jawab Alexi.


"Terus aku mau semua keuntungan dari perusahaan kontraktor yang dihibahin Galang, kita jadikan biaya untuk operasional panti."


"Iya, dan untuk persiapannya, aku akan minta Diba sama Dila buat bantuin kamu."


"Terima kasih, Mas."


"Besok aku akan ke proyek, mungkin aku akan seminggu di sana." Alexi memberi tahu Airin.


"Jadi aku di rumah aja, nggak diajak?" tanya Airin dengan nada merajuk.


"Mas maunya ajak kamu ke sana, tapi apa dibolehin sama mommy?"

__ADS_1


Airin menghela napas berat, sudah pasti mertuanya itu tidak akan mengizinkan dirinya untuk ikut. Riana sangat posesif menjaga Airin yang tengah mengandung cucu pertama keluarganya, terlebih setelah mengetahui menantunya itu hampir menjadi korban kecelakaan.


"Ya udah deh, Mas. Aku nggak ikut, tapi cuma seminggu kan?"


"Iya, Sayang. Cuma seminggu," jawab Alexi seraya mengusap perut Airin yang mulai membuncit.


Sekarang ini Alexi memang harus memberikan perhatian lebih pada proyek. Selain memegang kendali perusahaan sendiri sebagai investor, dia juga harus memimpin perusahaan kontraktor yang sebelumnya dimiliki oleh Galang.


Alexi ingin menhandle sendiri perusahaan Galang, setidaknya sampai ia menemukan seseorang di perusahaan tersebut yang bisa dipercaya.


Hari-hari yang dilalui Airin selama Alexi berada di proyek sangat membosankan. Dia merasa kesepian, terlebih harus tidur sendiri di kamarnya yang luas.


Memang, di sini Airin tidak kekurangan perhatian dari mertua dan para iparnya, tapi bukan itu yang Airin butuhkan, yang ia rindukan adalah pelukan hangat dari sang suami.


Airin juga tidak mengerti di masa kehamilannya ini dia seolah tidak bisa jauh dari Alexi. Ini baru hari kedua suami pergi ke proyek, dan Airin sudah merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya.


Mereka baru saja selesai makan malam, sejak tadi sorot mata wanita yang sudah berumur ini tidak pernah lepas memperhatikan menantunya. Dia khawatir melihat wajah Airin terlihat pucat, tidak seperti biasa.


"Aku baik-baik aja, Bun. Aku pamit ke kamar ya, mau istirahat," ujar Airin seraya berdiri dari tempat duduknya.


"Ya sudah, kalau kamu yakin nggak apa-apa," sahut Riana.


Baru saja Airin hendak melangkah, tiba-tiba pandangannya terasa berkunang-kunang. Dia hampir tersungkur ke lantai, jika tidak ada Diba dan Dila yang sigap menyambut tubuh kakak iparnya tersebut.


"Mom, badan kakak panas banget!" seru Diba.

__ADS_1


Riana juga bergegas mengecek kondisi menantunya. "Ya, Tuhan. Cepat telpon dokter!" serunya panik.


Sembari menunggu kedatangan dokter, Airin dibawa ke kamar di lantai bawah. Mulai hari ini Riana tidak akan mengizinkan lagi menantunya tinggal di lantai atas, demi menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.


"Telpon abang kamu!" perintah Riana.


***


Di rumah Airin, Alexi juga merasa sangat berat berjauhan dari istrinya. Begitu mendapat panggilan dari adiknya, ia langsung menjawab pada dering pertama.


"Kenapa, Diba?"


"Bang, kakak sakit, sekarang lagi dikompres sama mommy," jawab Diba.


"Sakit apa?" mendengar Airin sakit saja, sudah membuat Alexi seketika menjadi cemas.


Apalagi jika Diba mengatakan istrinya itu sedang tidak sadarkan diri?


"Nggak tau, Abang pulang aja sekarang!"


"Iya."


"Kata mommy jangan ngebut, jangan sampai Abang yang kenapa-kenapa di jalan."


"Iya."

__ADS_1


Alexi memutuskan sambungan, saat ini dia hanya ingin secepatnya sampai di rumah.


Bersambung.


__ADS_2