Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Itu Pakaian Dinas!


__ADS_3

Melihat kedatangan Galang, Alexi beranjak keluar dari ayunan, untuk menghampirinya.


"Selamat sore, Pak Galang. Ada apa ya?"


"Bukan apa-apa, Tuan. Sebelumnya saya datang ke rumah sakit untuk menjenguk Airin, tapi kata pihak rumah sakit Airin sudah pulang tadi siang. Jadi saya langsung saja menyusul ke sini," jawab Galang.


Alexi menggangguk, lalu berkata dengan penuh penekanan, "Kalau untuk itu kamu tidak perlu mengkhawatirkan istri saya. Karena akan saya pastikan, jika saya bisa menjadi suaminya yang siaga. Terlebih saat ini Airin sedang hamil."


Raut wajah Alexi terlihat masam. Entah mengapa hatinya menjadi panas mendengar ada orang yang memperhatikan istrinya.


Apalagi perhatian itu datang dari mantan suami Airin.


Ah, memikirkan jika ada orang berani merebut istrinya, membuat Alexi serasa siap menghadapi perang dunia ketiga. Dia tidak takut, bahkan jika harus berhadapan Kim Jong Un sekali pun.


Namun, Galang tidak memedulikan raut kemarahan di wajah Alexi. Saat ini yang sedang dicerna oleh kepalanya adalah perkataan Alexi barusan.


Airin hamil? Bahkan mulut Galang sampai ternganga lebar mendengarnya.


Benarkah mantan istrinya itu tengah mengandung? Pertanyaan itu kini berpusat di kepala Galang.


Galang mengalihkan pandangannya pada Airin. "Airin, benarkah kamu tengah mengadung?"


Galang ingin memastikan, bila-bila tadi pendengarannya yang salah.


Airin menggangguk. Kemudian terdengar suara dari Alexi, "Iya, istriku tengah mengandung. Saat ini usia kehamilannya sudah tujuh minggu."


Alexi mengatakan itu dengan bangga. Bukan maksud untuk memanasi Galang, itu hanya wujud dari perasaan bahagia dari hatinya karena sebentar lagi akan menjadi orang tua.


Sekarang Galang terdiam, dia tidak bisa berucap. Sementara berbagai pemikiran mulai berkecamuk hebat di kepalanya.


Jika Airin bisa hamil? Berarti Airin tidak cacat? Lalu mengapa Airin tidak kunjung hamil selama mereka bersama?


Memikirkan hal ini membuat ada keraguan dalam hati Galang, tentang anak yang kini dikandung Frita.


'Sepertinya aku harus menyelidiki anak yang dikandung Frita. Jangan-jangan itu bukan anakku,' gumam Galang dalam hati.


Galang memaksakan senyumnya kepada Alexi. "Saya turut bahagia mendengarnya, Tuan. Selamat untuk Anda, selamat untuk kalian berdua."


"Terimakasih," sahut Alexi datar.


"Baiklah, kalau begitu saya pulang dulu," pamit Galang.


Airin hanya mengangguk, sedangkan Alexi menjawab seadanya, "Silakan, hati-hati di jalan."

__ADS_1


Galang pergi meninggalkan rumah keluarga Rahadi bersama perasaannya yang berkecamuk.


Ini adalah kabar bahagia untuk Airin, tapi di sisi lain benar-benar membuat hatinya tidak tenang.


'Sepertinya aku harus memeriksakan diriku ke dokter,' gumam Galang.


Airin dan Alexi kembali ke dalam rumah tak lama setelah Galang pergi.


Seusai mandi, Airin mulai membuka satu per satu kado penikahannya. Banyak barang-barang mewah yang ia dapatkan, karena rata-rata tamu undangan adalah orang-orang kelas atas.


Namun, Airin biasa saja dengan semua itu. Karena yang dicarinya adalah kado dari Sarah.


Akhirnya senyum Airin mengembang, setelah berhasil menemukan kado dari sahabatnya tersebut.


Dengan tidak sabar Airin pun membuka kotak kado tersebut, untuk mengetahui isinya. Tapi apa yang ia dapatkan malah membuat senyuman di wajah Airin langsung sirna, berganti dengan wajah masam.


"Sialan Sarah!" umpat Airin kesal, dan terus bersungut-sungut.


Alexi yang mendengar istrinya menggerutu, langsung beranjak mendekat, lalu bertanya, "Kenapa, Sayang?"


"Nih, Mas. Kamu lihat sendiri apa yang Sarah kasih buat aku!" suntuk Airin, lalu memperlihatkan lingerie dengan bahan yang sangat tipis, dan model yang super seksi di tangannya kepada Alexi.


Alexi tergelak mengetahui apa yang diberikan Sarah pada istrinya. "Bukankah itu adalah hadiah yang sangat bagus?"


"Bagus dong, My Luvv. Itu sahabat yang pengertian namanya. Dia tahu, kamu pasti butuh pakaian dinas pangantin baru," kekeh Alexi.


Airin melotot kesal.


'Pakaian dinas kepalamu itu?' rutuk Airin dalam hati.


Sebuah decakan pun lolos dari mulut Airin. Naik ke atas ranjang untuk tidur dengan piyama tertutup saja suaminya terus meminta jatah hampir setiap malam.


Apa jadinya jika dia berada di kamar mengenakan lingerie itu? Ah, entahlah. Rasanya terlalu sulit untuk dibayangkan.


Airin beranjak ke ranjangnya dengan bibir yang masih bersungut-sungut. Sedangkan Alexi masih menatapnya dengan sorot mata jahil.


"Nanti malam hadiah dari Sarah dipakai ya, My Luvv." Alexi mengedipkan sebelah matanya.


Airin tidak menjawab, dia hanya membalas tatapan suaminya itu dengan sorot mata jengah.


Sementara itu Sarah yang baru saja membuat Airin kesal. Kini sedang menikamati makan malam bersama ibunya.


"Sarah, mama mau ngomong," ujar bu Sari.

__ADS_1


"Ya ngomong aja, Ma."


Ibu Sari membuang napas berat. "Sebenarnya apa yang membuat kamu itu kayak nggak suka sama Leo? Mama lihat dia itu anak yang baik."


Sarah memutar bola mata malas. "Baik apanya, Ma? Pacarnya aja banyak gitu!"


Ibu Sari terkekeh, "Kamu jangan lupa. Seorang playboy itu akan menjadi pria yang sangat setia jika sudah dihadapkan pada cinta sejatinya. Mungkin kamu nggak menyaksikan sendiri seperti apa almarhum papa kamu menyayangi mama, karena dia meninggal saat kamu masih sangat kecil. Tapi seperti yang selalu mama ceritakan, papa kamu punya cinta yang tak terbatas buat mama, dan papa kamu dulunya juga mantan seorang playboy."


Besarnya cinta yang ia didapatkan dari almarhum suaminya itulah yang membuat bu Sari tidak pernah ingin menikah sampai saat ini.


Dia berharap, akan kembali bersama di kehidupan yang akan datang. Karena kebahagiaan yang meraka dapatkan di dunia ini terlalu singkat.


Sarah membuang napas berat, dia memang tidak ingat seperti apa ayahnya menyayangi keluarga. Selain dari cerita yang sering didongengkan ibunya.


Bagaimana sang ayah menyayangi keluarga kecilnya dengan sepenuh hati. Bagaimana ayahnya rela terbuang dari keluarga besar, hanya untuk mempertahankan pernikahan dengan ibunya.


"Mama melupakan satu hal. Ayah dan Leo sama-sama berasal dari keluarga kaya," ujar Sarah.


"Tapi yang mama lihat keluarga Leo tidak seperti keluarga ayahmu, buktinya saja Airin bisa diterima dengan baik."


"Sudahlah, Ma. Sarah nggak mau ngomongin itu sekarang."


Sarah beranjak ke kamarnya setelah mencuci peralatan makan mereka.


Meski ia hanya mendengar cerita, tapi Sarah juga merasakan sakit yang teramat saat mendengar kisah hidup ayah dan ibunya.


Ayahnya adalah putra seorang konglomerat yang terbuang dari keluarga, karena nekat menikahi ibunya yang merupakan seorang gadis biasa.


Yang membuat segalanya terasa semakin menyakitkan, ayahnya tidak hanya diusir, tapi keluarga kaya itu benar-benar memutuskan hubungan dengan ayahnya.


Bahkan ibunya sempat mendatangi rumah keluarga sang ayah, untuk meminta bantuan saat ayahnya sakit parah dan butuh biaya pengobatan.


Sayangnya meski ibu Sari sudah mengemis, keluarga mertuanya tetap menutup mata dan telinga. Bahkan sampai ayahnya meninggal dan sampai sekarang, keluarga itu tidak sekali pun pernah menemui Sarah.


Sejak saat itulah Sarah benar-benar menjaga pergaulannya, dia menjadi anti dengan yang namanya orang kaya.


Sarah hanya ingin berteman dengan orang yang status sosialnya setara. Demi menjaga diri sendiri agar tidak menjadi bahan cemoohan.


Yang paling penting adalah, dia tidak ingin kisah pahit sang ayah dan ibunda, terulang pada dirinya.


Bersambung.


Dear readers, maaf cerita ini aku hiatusin selama bulan puasa. Alasannya karena aku mau fokus puasa, dan novel ini banyak anunya🙈🙈

__ADS_1


__ADS_2