Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Hari-hari Menyebalkan


__ADS_3

"Jadi ini wanita yang kamu nikahi tanpa sepengetahuan keluarga kita?" tanya Dhivya saat Alexi dan Airin tiba di studio miliknya.


Alexi mengangguk.


Airin yang awalnya mengira Dhivya tidak menyukainya pun langsung tersenyum, saat wanita itu mendekat, lalu mengecup pipinya kiri dan kanannya.


"Kamu tuh kelewatan ya, Om. Bisa-bisanya nikah diam-diam gitu!" celutuk Dhivya sembari mengajak Airin dan Alexi ke dalam studio.


Mendengar sapaan tersebut membuat Airin menatap suaminya penuh tanya. Jika dilihat dari wajahnya, wanita itu pasti seumuran dengan Alexi, bahkan mungkin lebih tua.


"Hei, berhentilah memanggilku Om. Lihat saja istriku sampai bingung mendengarnya," protes Alexi.


"Memang sudah seharusnya begitu, mau gimana lagi?" balas Dhivya santai. Lalu sorot matanya beralih pada Airin.


"Umurku memang lebih tua dari Alexi, tapi mamaku itu adalah keponakannya oma Ana. Makanya aku memanggil suamimu, Om," jelasnya.


"Iya tapi daddyku juga temannya om Dino. Harusnya aku yang memanggilmu Kakak." Alexi masih protes, selama ini ia memang tidak terima dengan sapaan Dhivya terhadapnya.


"Dari hubungan pertemanan dan kekeluargaan, kita harus mendahulukan keluarga," balas Dhivya tak ingin kalah.


Sedangkan di samping mereka, Airin menjadi celingukan sendiri, menjadi pendengar yang baik dalam perdebatan tidak penting itu.


Saat tiba di dalam studio, Dhivya pun membawa Airin menuju ruang makeup. Di sana sudah menunggu seorang pria tampan, yang sayangnya tidak mensukuri anugrah Tuhan kepadanya.


"Euis!" panggil Dhivya.


"Iya, Nyonya ...." Pria gemulai itu pun melangkah mendekati, lalu sorot matanya memperhatikan Airin. "Ini mau diapain, Cyn?" tanyanya dengan suara yang terdengar mendayu-dayu.


"Ini istrinya om Lexi. Dandanin yang cantik ... mereka mau prewed!" perintah Dhivya.


"Beres, kalau eike yang dandanin, ini cantiknya bisa melebihi bidadari, percaya!" sahut pria setengah wanita yang diketahui memiliki nama sapaan Euis tersebut.


Airin hanya bisa menurut, saat Euis menarik lengannya, kemudian memaksanya duduk di depan meja Rias.


Lalu dengan prosfesional, tangan lentur itu mulai melakukan tugasnya. Hingga setelah beberapa waktu berlalu, suara gemulai Euis pun kembali terdengar. "Tuh, kan, Ciyn ... apa eike bilang. Ye cantiknya luar blesong!" pujinya.


Airin menatap bayangan dirinya di depan cermin. Ia bahkan terkesima melihat penampilannya sendiri, anggun dan glamour. Toh, nyatanya wajah itu memang sudah cantik, meski tanpa polesan makeup sekali pun.


Dhivya yang sedari tadi hanya diam, berdiri dari tempat duduknya. "Nih, gaunnya. Kamu ganti di sana ya!" Dia memberikan sebuah gaun merah dengan model V-neck.


Ala-ala sabrina itu sengaja dipilih Dhivya, karena cocok dengan tatanan rambut Airin yang dicatok bergelombang.


Airin meraih gaun tersebut, lantas melangkah menuju ruang ganti. Setelah sebelumnya mengucapkan terimakasih.

__ADS_1


Dalam balutan gaun pilihannya, Dhivya melihat Airin tampak semakin cantik. Mereka pun keluar dari ruang makeup, untuk menemui Alexi yang menunggu di luar.


"Eh, ada Om ganteng, mau eike dandanin juga?" tegur Euis terlebih dulu.


Mendengar suara kemayu itu, Alexi sontak bergidik jijik. "Tidak perlu, aku ganti pakaian saja, sudah cukup!" tolaknya mentah-mentah.


Melihat raut wajah takut suaminya, Airin pun menutup mulut agar tawanya tidak meledak.


Setelah alexi berganti pakaian, take photo pun dimulai.


Sungguh canggung bagi Airin berdiri di depan kamera. Apa lagi saat photographer meminta untuk melakukan berbagai pose mesra.


Banyak gambar yang diambil, keduanya beberapa kali berganti busana, untuk menyesuaikan tema yang diinginkan.


***


Di ranjang poliklinik kampus. Sarah perlahan mengerjap, memindai ruangan tempat ia berada. kepalanya masih terasa berat dan agak pusing.


Tak jauh dari tempatnya, tampak seorang pemuda yang sangat menyebalkan. Pemuda yang tidak pernah lelah mengusiknya.


Sarah menggeliat duduk, ia secepatnya pergi meninggal tempat ini.


Namun, gerakannya menghadirkan deritan ranjang, membuat Adelio yang kini sedang duduk gelisah, dengan kepala tertunduk dan kedua tangan memegangi kepala belakang. Tiba-tiba mengangkat wajah.


Mengetahui Sarah sudah sadar, seulas senyum lega pun terbit di wajah Adelio. Tadinya dia hanya iseng, bukan bermaksud untuk menyakiti.


"Apa kau baik-baik saja? Apa kau bisa mengingatku? Kau tidak amnesia, 'kan?" cecar Adelio bertubi-bertubi.


Sarah memutar matanya, kesal sudah pasti, benci juga iya!


"Aku baik-baik saja! Dan jika menyangkut dirimu, aku tidak akan pernah lupa ingatan. Aku akan terus mengingat semua yang kau lakukan, agar aku memiliki motivasi untuk membunuhmu suatu saat nanti!" balas Sarah ketus.


Alih-alih takut, Adelio malah terkikik geli.


Sarah mendelik kesal, merasa diremehkan. Apa ancamannya sama sekali tidak membuat orang takut?


Sarah tidak habis pikir, pria ini selalu saja mengusik ketenangannya. Masih tidak puaskah setelah mengerjainya habis-habisan saat orientasi kampus?


Sambil mendengkus kesal, Sarah melompat turun dari ranjang. Dia tidak boleh berlama-lama bersama pria gila ini, atau dia akan ketularan gila.


"Hei, kau mau ke mana?" cegah Adelio sembari menahan lengan Sarah.


"Mau pulang! Lepaskan!" Sarah menepis tangan itu, lalu melangkah dengan cepat.

__ADS_1


Sepertinya melangkah cepat saja tidak cukup untuk membuatnya terbebas dari Adelio, karena pria itu kini sudah berjalan bersisian dengan dirinya.


"Pergilah, Leo! Jangan menngganguku lagi. Apa kamu nggak capek?" geram Sarah, padahal wajahnya sudah memerah padam sejak tadi, tapi Adelio masih tidak ingin berhenti.


"Tidak, sampai kau menerimaku!" balas Adelio santai.


Sarah berdecih, "Mimpimu terlalu sore, Leo!"


Siapa dirinya ingin memaksakan kehendak? Lagi pula Leo bukan tipe Sarah, dia tidak menyukai pria pemaksa. Apalagi Leo adalah seorang playboy, masih bau kercur pula!


"Aku akan membuat mimpi itu jadi kenyataan!" sahut Adelio dengan sangat percaya diri.


Sarah menghentikan langkahnya, lalu menghunus tatapan kesal. "Dengar baik-baik, aku tidak mau berhubungan dengan playboy cap biawak sepertimu, itu yang pertama. Yang kedua, aku tidak suka bocah yang masih bau kencur sepertimu!"


Alih-alih kesal karena Sarah mengatainya, Adelio terkekeh jahil. "Bau kencur katamu? Kau lupa? Aku seniormu di kampus ini!"


"Tetap saja, kenyataannya aku lebih tua darimu!"


Adelio kembali tertawa, memperlihatkan barisan giginya yang seakan mengejek. "Cinta tidak memandang usia!"


Sarah memutar matanya. "Lebih baik aku dicintai buaya sungguhan, daripada dicintai buaya jadi-jadian sepertimu!"


Aduh, siapa yang mau dicintai pria sinting ini, pikir Sarah. Ah, salah, pasti lebih tepatnya berbagi cinta. Siapa yang tidak tahu jika pria di sebelahnya ini bergelar pacar kampus, apakah namanya akan menjadi salah satu di daftar wanita itu? Tidak Sudi!


Ya Lord, Tunjukkanlah cara ia bisa bebas dari pria ini. Dia sudah lelah, berbagai cara sudah ia lakukan agar Adelio menjauh. Mulai dari bicara baik-baik, marah-marah, melawan. Ah, semuanya tidak ada yang mempan.


Mungkin satu-satu cara untuk menghindari Adelio adalah pindah kampus, tapi rasanya sayang sekali. Ini adalah kampus idaman, yang berhasil ia masuki setelah menabung selama bertahun-tahun.


'Sabar, Sarah, sabar ... nggak lama lagi kok. Iblis sialan ini sudah smester akhir, setelah itu kalian nggak akan ketemu lagi kok." Di dalam hatinya Sarah mencoba menyemangati diri sendiri.


Bersambung.


Perdebatan singkat.


Sarah: Thor, kenapa sih Leo nyebelin banget?


Author: Iya, emang gitu awalnya.


Sarah: Dia itu mau jadi jodoh aku apa bukan. sih?


Author: Masih proses.


Sarah: Buat dia cepat baik napa, Thor. Jangan nyebelin gitu!

__ADS_1


Author: Sabar napa, sabar! Kalau kamu mau yang baik, nggak nyebelin, sama author aja!


Sarah terbebelak, ia tidak dapat berkata-kata lagi, tubuhnya seketika kejang-kejang, hingga akhirnya jatuh pingsan!


__ADS_2