
Seperti yang telah ia rencanakan, tengah malamnya Viona kembali ke rumah sakit.
Dia mengendap-endap mendekati ruang rawat Frita, dan akhirnya berhasil masuk.
Viona tersenyum licik melihat mama Reni yang sudah tertidur lelap di sofa.
Dia lantas memperhatikan seisi ruang rawat tersebut terlebih dulu, untuk memastikan tidak adanya camera pengawas.
Setelah memastikan keadaan benar-benar aman. Tanpa membuang waktu lagi Viona mengambil botol air mineral milik mama Reni yang ada di atas meja, lalu memasukkan serbuk racun yang sebelumnya telah ia sediakan.
"Ternyata tidak terlalu sulit menghabisi kalian," Viona bermonolog, sambil memperlihatkan senyuman culas.
Setelah itu Viona berjalan beberapa langkah mendekati brankar, dia memandangi Frita seraya tersenyum mengejek.
Sejak kecelakaan fatal yang dialaminya, Frita masih belum sadarkan diri.
Keadaannya juga terlihat sangat menyedihkan, selain kedua kakinya yang telah diamputasi, seluruh tubuhnya juga harus dibalut oleh perban.
"Dasar bodoh, membunuh satu orang wanita saja kau tidak becus. Orang sepertimu harusnya mati di tempat saat kecelakaan itu. Heh ... tapi sepertinya kau terlalu sulit untuk mati. Di sini aku berniat baik, aku tidak tega membiarkanmu hidup cacat, jadi biar aku bantu keberangkatanmu ke neraka!" sinis Viona.
"Selamat tinggal bodoh!"
Viona menyuntikkan racun cair ke botol infus Frita. Setelah racun itu bercampur ke dalam pembuluh darahnya, dapat dipastikan Frita akan meregang nyawa dalam hitungan menit.
Sementara mama Reni, dia akan tidur nyenyak untuk yang terakhir kali. Setelah bangun dan meneguk air mineralnya nanti, dia pun akan pergi menyusul Frita.
__ADS_1
Sekarang Viona tidak perlu khawatir lagi, posisinya akan aman dengan lenyapnya kedua orang ini.
Di masa depan, tidak akan ada yang menuntut dirinya atas rencana pembunuhan terhadap Airin.
Braaak!
Baru saja Viona selesai menyuntikkan racun ke botol infus Frita, tiba-tiba saja pintu ruang rawat yang sebelumnya ia kunci rapat-rapat didobrak dengan keras.
Tidak hanya Viona yang terlonjak kaget, mama Reni pun ikut terbangun.
Ruang rawat itu kedatangan beberapa orang security dan petugas medis.
Seorang perawat dengan cepat mengganti botol infus Frita dengan yang baru.
"Ibu tenang saja, kami hanya ingin menangkap wanita ini." Security berkulit gelap menunjuk Viona.
Bola mata Viona membulat. "Apa salahku? Kalian jangan sembarangan!" bentaknya.
"Nona, kau bisa menjelaskan semuanya di kantor polisi nanti," ujar pria berjaket kulit yang tidak dikenal Viona.
Pria bernama Roby ini beralih pada mama Reni, dan menunjuk botol air mineral di atas meja. "Ibu, air itu jangan diminum lagi, wanita ini telah memasukkan racun ke dalamnya!"
"Apa itu benar?" Mama Reni seolah tidak percaya.
"Iya," jawab Roby.
__ADS_1
Roby adalah orang suruhan Alexi yang ditugaskan untuk mencari tahu pelaku tabrak lari terhadap Airin.
Sebelum kedatangan Viona, Roby telah berhasil mendapatkan data pelaku tabrakan. Di saat dia ingin pulang karena tugasnya telah selesai, dia melihat seorang wanita yang tak lain adalah Viona mengendap masuk ke ruang rawat Frita.
Merasa penasaran, Roby pun mengintip dari kaca jendela, tak lupa ia juga merekam semua aksi Viona.
"Apa maksudmu, hah? Jangan asal menuduh!" teriak Viona.
Meski tubuhnya mulai gemetaran, tapi Viona masih berusaha mengeraskan suara.
Roby tersenyum tipis. "Aku telah merekam semua perbuatanmu, Nona. Apa kau mau melihatnya?"
Roby lantas memutar rekaman yang ia ambil melalui kamera ponsel.
Meski itu hanya video amatir, tapi semua yang dilakukan Viona terekam dengan sangat jelas, dan itu cukup untuk menjadi bukti kejahatan Viona di kantor polisi nanti.
Setelah memperlihat video tersebut, Roby bertanya dengan sarkas, " Apa yang kau masukkan ke dalam minuman ibu ini dan botol infus putrinya? Racun, bukan?"
Viona menggeleng keras, dia berusaha mengelak. "Kau jangan sembarangan menuduh. Aku dan pasien berteman dekat, yang aku suntikkan itu adalah vitamin agar pasien cepat sadar."
Roby mengangguk, sampai di sini dia mulai curiga.
'Jangan-jangan wanita ini juga terlibat dalam kasus kecelakaan itu!' pikirnya sambil menatap Viona dengan penuh telisik.
Bersambung.
__ADS_1