
Airin membawa tubuh lemahnya turun dari ranjang, mengambil handuk untuk menutupi tubuh polosnya. Lalu melangkah terseok keluar dari kamar.
Airin mencari Alexi ke ruang tamu, tapi tidak ada. Bahkan pakaian mereka yang tadi berseleparan di sini, sudah tidak lagi ada. Hal ini membuat dahi Airin berkerut heran.
Airin melangkah ke dapur, di sana dia mendapati Alexi yang tengah sibuk dengan peralatan memasak.
"Mas kamu lagi apa?" tanya Airin sambil menatap tidak percaya.
"Membuat makan siang untuk kita, aku yakin kamu pasti sudah lapar."
"Kamu bisa masak?"
"Kalau hanya telur dadar, aku bisa."
"Maaf," lirih Airin.
"Maaf untuk apa?" tanya Alexi seraya menoleh ke belakang.
"Seharusnya aku yang menyiapkan makan siang untuk kita."
Alexi tersenyum santai. "Mandilah, setelah itu kita makan bersama."
Airin menggigit bibirnya, dia menyesal karena sempat berpikir buruk tentang Alexi. Ya, suami barunya ini memang sangat spesial.
Setelah selesai mandi, mereka pun menikmati makan siang bersama.
Menyantap hidangan buatan suami rasanya begitu nikmat, meskipun menunya hanya telur dadar saja.
"Mas terimakasih," ucap Airin di sela-sela menyantap makanannya.
"Terimakasih buat apa lagi?"
"Untuk makanannya," lirih Airin.
"Aku tidak keberatan, apalagi aku lihat tidurmu begitu lelap," sahut Alexi.
"Aku benar-benar kelelahan, Mas. Tubuhku seperti remuk."
"Makanya makan yang banyak. Agar kamu memiliki cukup energi. Tadi itu hanya permulaan, masih ada nanti malam, besok dan besoknya lagi!" Alexi terkekeh menggoda.
__ADS_1
Airin menelan makanan di mulutnya dengan susah payah, sambil menatap Alexi dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Alexi.
"Aku senang, Mas. Nggak ada lagi kata saya yang keluar dari mulutmu. Selama ini bahasa formalmu itu seolah menghadirkan jarak di antara kita," sahut Airin yang ditanggapi Alexi dengan senyuman.
Senyum itu, hangat. Membuat Airin merasa betah berlama-lama memandangnya. Kini Airin tidak ingin kehilangan Alexi, cukup satu kali saja dia gagal menjaga rumah-tangganya.
Seperti yang disarankan Sarah, Airin bertekad mempertahankan rumah-tangganya kali ini sampai akhir. Meskipun di sisi lain ia juga merasa rendah diri dengan status yang disandangnya.
***
"Kamu kerjanya hati-hati ya, Mas." Airin mencium punggung tangan Alexi saat mereka tiba di depan warung.
Alexi mengangguk. "Kamu juga jangan kelelahan, nanti sakit lagi."
Setelah berpesan seperti itu, Alexi pun menarik gas sepeda motornya. Meninggalkan Airin yang melepas keberangkatannya dengan senyuman.
Airin melangkah masuk ke warung, akhirnya dia bisa berjualan lagi, setelah beberapa kali niatnya harus diurungkan.
Bukan sekali Airin harus menunda membuka warung, melainkan tiga kali. Selama tiga hari ini dia dikurung oleh suaminya itu, tanpa pernah keluar rumah.
Warung Airin mulai ramai, dia bersukur karena tidak kehilangan pelanggan, meskipun sudah berhenti jualan sekitar sepuluh hari.
Menjelang tengah hari, tampak sebuah mobil sedan mewah berhenti di depan warung Airin. Dari dalamnya keluar seorang gadis muda, wajahnya cantik, bertubuh tinggi proposional. Betisnya yang ramping melenggang seolah sedang berjalan di atas catwalk, menuju warung Airin.
Dahi Airin berkerut heran, untuk apa gadis berpenampilan bak super model, dengan pakaian serba branded itu datang ke proyek. Apa tidak takut kulitnya alergi?
"Mbak!" panggilnya setelah duduk di salah satu kursi.
Bergegas Airin menghampiri. "Iya, mau pesan apa?"
"Saya pesan melon juice, tapi jangan pake gula ya," ucapnya dengan intonasi angkuh.
"Maaf, Mbak, saya nggak jual jus," sahut Airin sopan.
Gadis itu mengangkat wajah, bersamaan dengan matanya yang melotot kesal. "Mbak? Enak saja kamu panggil saya mbak! Saya tidak lebih tua dari kamu, panggil saya Nona!" kesalnya.
"Iya, Nona, maaf." Sebagai pedagang bercitra ramah, Airin pun mengalah. Meski dalam hatinya mulai mengumpat. "Tapi pesanan Nona tidak ada."
__ADS_1
"Ck, ya sudah. Saya pesan es teh manis aja, ada kan?"
"Ada, Nona. Tunggu sebentar saya buatkan." Airin hendak melangkah ke dalam warung.
"Sebentar," cegah wanita tersebut.
"Ada apa lagi, Nona?"
"Tapi minuman yang kamu buat higienis, kan? Awas kalau nanti saya sakit perut!"
Airin menghela napas panjang, berusaha menahan sabar. "Nona tenang saja, selama ini belum pernah ada yang sakit perut, setelah makan maupun minum di warung saya," balasnya dengan intonasi yang ditekankan.
Airin segera membuatkan pesanan tamu angkuhnya tersebut, lalu mengantarnya setelah jadi.
Kurang dari sepuluh menit, wanita itu pun menghabiskan es teh manisnya. Kemudian tangannya melambai memanggil Airin.
"Iya, Nona," ujar Airin setelah ia sampai di depan wanita tersebut.
"Ini uangnya!" Wanita itu mengeluarkan selembar uang bergambar bapak proklamator Indonesia.
Airin menerima uang tersebut. "Sebentar, Nona. Saya ambilkan dulu kembaliannya."
"Tidak perlu, kau ambil saja sisanya!" cegah wanita itu. "Uang yang kamu miliki itu berasal dari pekerja proyek. Tangan mereka pasti kotor, banyak kuman. Saya tidak ingin kuman-kuman itu bepindah ke tas saya!"
"Hah?" Mulut Airin ternganga.
"Saya ingin bertanya padamu, apa kau mengenal pria bernama Alexi di proyek ini? Dia memiliki wajah blasteran, tingginya sekitar 190-centimeter!"
Airin terdiam sejenak, ciri-ciri yang disebutkan wanita ini persis seperti suaminya. Tapi nama suaminya bukan Alexi.
Airin menggelengkan kepala. "Saya mengenalnya, Nona."
"Ya sudah, wajar jika wanita penjaga warung sepertimu tidak mengenalnya. Kalian itu beda level!" ujar wanita itu merendahkan.
Setelahnya, wanita angkuh itu beranjak tanpa permisi, dia melanjutkan niatnya untuk mencari Alexi. Meninggalkan Airin yang memandangi kepergiannya dengan tatapan kesal.
Airin mengumpat sikap angkuh wanita itu. "Dasar orang kaya nggak punya sopan santun! Mereka selalu saja merendahkan orang miskin!"
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, dan komentarnya ya.