
"Sangat, aku sangat membecinya. Karena dirinyalah hidupku menderita selama bertahun-tahun!" Mata Airin yang tadinya berkaca-kaca, kini tampak berkilatan menyimpan dendam.
"Ta-tapi itu bukan sepenuhnya kesalahan dirinya, 'kan? Kamu sendiri yang salah masuk kamar."
Airin menoleh dengan tatapan kesal. "Mengapa kamu malah membelanya, Mas? Kamu sama sekali tidak peduli dengan penderitaanku!"
"Bukan maksudku ingin membelanya, My Luvv. Hanya saja ... ah, aku sampai bingung mau berkata apa." Alexi merendahkan suara, setelah melihat istrinya itu tersulut dengan perkataannya tadi.
Airin terlihat sesunggukan, lalu mulai menangis. "Aku ini memang wanita bodoh, Mas. Hiks ... aku bahkan tidak bisa menjaga diri sendiri. Jika kamu jijik padaku, kamu boleh meninggalkanku, Mas."
Alexi menggaruk kepala, dia bingung melihat emosi Airin yang tidak stabil. Tadi ia membentak dengan suara garang, lalu tiba-tiba saja menangis sesunggukan. Sungguh aneh!
"Airin, Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu kesal. Dan aku juga tidak mempermasalahkan masa lalumu itu. Ya sudah, jika kamu tidak mau resepsi kita diadakan di hotel ini, kita bisa cari tempat lain saja."
Rahadi Group memiliki beberapa hotel berbintang lima, yang tidak kalah mewah dengan unit yang mereka datangi sekarang, mereka bisa memilih salah satu hotel itu sebagai tempat resepsi.
Biarlah, pertemuan pertemuan dengan WO dibatalkan untuk malam ini. Yang penting Airin bisa tenang dulu, pikir Alexi.
Ia menyalakan mobil, lalu meluncur meninggalkan area parkir hotel tersebut.
Sepanjang perjalanan pulang, Airin terus memalingkan wajah cemberutnya ke jendela. Entahlah, ia juga tidak mengerti, apa yang membuatnya masih kesal pada Alexi.
Setibanya di kamar, Airin langsung naik ke atas tempat tidur.
Melihat istrinya masih betah diam, Alexi mendekat kemudian memeluknya.
"Airin, aku minta maaf jika kata-kataku tadi menyakitimu," tutur Alexi lembut.
Airin membuang napas, ia juga tidak berniat mendiamkan suaminya terlalu lama, karena ia sendiri tidak mengerti apa yang ia kesalkan.
"Aku nggak marah sama kamu, Mas. Aku hanya kesal mengingat pria itu. Karenanya aku terus mendapatkan penderitaan, Galang memperlakukanku sesuka hati, menindasku, menyakitiku, semuanya. Sementara dia sendiri tidak berani menceraikanku, karena orang-tuanya masih ada. Ia juga takut orang-tuanya mengetahui fakta, bahwa kejadian itu bermula karena dia meninggalkanku bersama teman-temannya."
"Dia semakin semena-semena setelah orang tuanya meninggal. Apalagi semenjak itu perusahaan peninggalan orang-tuanya mengalami kemunduran. Dia menjadikanku sebagai objek pelampiasan, mengasariku hampir setiap hari," kenang Airin sambil terisak.
"Maaf," lirih Alexi sambil membenamkan wajah diceruk leher istrinya.
"Kanapa kamu minta maaf, Mas?"
Alexi menggelengkan kepala. "Tidak ada. Lalu apa yang akan kamu lakukan jika berhasil menemukan pria itu?"
"Aku ingin membunuhnya! Ah tidak, aku menyiksanya terlebih dulu, sebelum membunuhnya perlahan-lahan!"
__ADS_1
Alexi mengurai pelukan, salivanya ditelan sulit. Ia lantas menatap Airin lekat-lekat, dengan sorot mata tidak berdaya.
"Mas, boleh aku meminta sesuatu padamu?" tanya Airin penuh harap.
"Apa? Katakan saja! Aku pasti akan melakukannya untukmu!"
"Kan, hotel itu milik keluargamu. Aku ingin kamu mencari pria yang telah menghancurkan hidupku itu. Meski sudah berlalu bertahun-tahun, tapi data tamunya pasti masih ada, kan? Aku ingin dia mendapat balasan atas penderitaanku!" sorot mata Airin menatap lurus, menyiratkan hati yang penuh dendam.
"Tapi itu sangat sulit, Airin. Apalagi sudah berlalu bertahun-tahun."
Airin memasang wajah merajuk. "Mas, kamu belum mencobanya tapi sudah menyerah. Kamu bilang sayang sama aku, apa kamu tidak ingin membalas sakit hatiku? Jangan-jangan semua kata manismu itu hanya bualan saja!"
Alexi membuang napas, lagi-lagi istrinya itu merajuk berat. "Baiklah, kita akan berusaha mencarinya. Tapi setelah resepsi kita nanti, karena mommy ingin pesta kita diadakan secepatnya."
Airin mengangguk.
Alexi lantas membawa istrinya itu rebahan, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.
Dalam pelukannya, Airin mulai terlelap. Alexi memandangi wajah istrinya itu dengan perasaan kalut.
Sebesar itu kah dendam di hati Airin? Bisa kah ia mendapatkan maaf? Lagi pula dirinya tidak sepenuhnya bersalah, ya, kan?
Flash back: On.
Ia berbeda, hubungan suami istri baru boleh dilakukan setelah menikah, itu prinsip!
Malam itu Alexi mendatangi apartemen Viona, karena kekasih itu beralasan sedang tidak enak badan.
Alexi mengernyit saat Viona membukan pintu, Alih-alih mengenakan baju atau selimut tebal, seperti orang sakit pada umumnya, viona malah mengenakan lingerie.
"Kamu bilang sedang sakit! Mengapa berpakaian seperti ini?" tanya Alexi datar.
"Sayang, masuklah dulu!" bujuk Viona lantas menarik tangan Alexi.
Alexi menurut, Viona membawanya duduk di sofa. Lalu menawarkan Alexi minuman dingin yang telah ia sediakan.
Alexi meneguknya hingga setengah gelas. "Kita ke dokter, ya. Biar kamu diperiksa!"
Viona menggeleng. "Nanti saja, aku rindu kamu!" rayunya.
Alexi menepis jangan Viona yang mencoba mengodanya. "Jangan seperti ini, Viona! Kita belum menikah!"
__ADS_1
"Apa salahnya? Aku juga ingin seperti pasangan lainnya, yang bebas melakukan apa saja!"
"Tapi aku tidak mau. Aku bukan mereka!" tolak Alexi tegas.
Viona mendengkus, ia menjaga jarak. Membiarkan efek dari obat yang telah dicampurnya pada minuman Alexi bereaksi terlebih dulu.
Saat melihat Alexi mulai gelisah, ia pun tidak menundanya lagi. Beraksi dengan cepat untuk melancarkan niatnya, dengan memberikan sentuhan-sentuhan agresif.
Alexi nyaris kehilangan akal sehatnya, hanya bergesekan kulit dengan Viona saja sudah membuat gila, apalagi gadis terus menyentuhnya dengan liar.
Dengan sisa-sisa kesadaran yang ia miliki, Alexi mendorong tubuh Viona hingga hampir terjengkang, lalu cabut dari apartemen neraka itu.
Alexi melarikan diri ke salah satu hotel milik keluarganya, yang berlokasi paling dekat dengan apartemen Viona. Di sana ia merendam diri di dalam bathtub berisi air dinging, berharap efek obat perangsang itu dapat mereda.
Sayang, semua itu tidak membuatnya terlepas dari siksaan. Hingga tubuhnya menggigil kedinginan, Efek dari obat itu tetap tidak hilang.
Alexi pun menyerah, sepertinya prinsip yang selama ini pegang teguh itu harus ia langgar. Yang ia butuhkan adalah pelepasan.
Alexi berhenti berendam, ia menghubungi manager hotel. Memberi perintah untuk mecarikan wanita yang bisa membantunya terbebas dari obat sialan tersebut.
Setelah nyaris gila karena menunggu lebih dari dua jam. Wanita yang ia tunggu itu pun datang, hebatnya lagi wanita itu masih suci.
Entahlah, Alexi tidak tahu harus menyebut malam itu anugrah atau musibah!
Keesokan harinya saat Alexi ingin pulang, dia ditunggu oleh wanita bayarannya di lobi. Wanita itu tetap meminta uangnya, meski ia tidak jadi bekerja.
Kenyataan itu membuat Alexi bingung. Lalu siapa wanita yang bersamanya tadi malam?
Persetan dengan itu! Alexi membuang jauh-jauh pertanyaan yang melintas di kepalanya. Itu tidak penting, yang penting ia sudah terbebas dari gairah yang menyiksa.
Flash back: Off.
Alexi memandangi istrinya yang sudah terlelap nyaman, lalu dikecupnya kepala itu dengan lembut.
"Maaf, aku sudah membuatmu menderita selama itu, tapi aku berjanji kau akan terus bahagia dimulai dari sekarang. Aku akan mencari cara untuk jujur, dan semoga saja kau bisa memaafkanku!" lirihnya.
Bersambung.
Dear my beloved readers. Aku rekomendasiin karya teman aku lagi nih.
Covernya seperti gambar di bawah ini ya ππΌππΌππΌ
__ADS_1