Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Bukan Urusanmu!


__ADS_3

'Tuhan, aku hanya berusaha mengubah nasib agar bisa memiliki kehidupan yang layak. Tapi mengapa orang-orang terus memandang miring tentang hidupku,' gumam Airin sembari merapikan warungnya.


Ini baru jam lima sore, tapi semua dagangan Airin sudah habis. Sebelum ini dia selalu membuka warung sampai jam 9 malam, itu pun tidak ada yang mampir. Kalaupun ada pastilah hanya satu dua orang saja.


Airin senang dagangannya terjual habis, dan ia mendapatkan pemasukan yang lumayan besar. Tapi rasanya ada yang aneh hari ini, karena Sarah tidak menampakkan batang hidungnya.


Satu lagi, Alexi. Biasanya pria itu selalu datang saat menjelang sore untuk minum kopi. Tapi hari ini, dia tidak datang lagi setelah pertengkaran mereka tadi siang.


"Apa dia marah padaku?" Airin bergumam sendiri, "Ah, sudahlah!" Daripada memikirkan Alexi, Airin memilih lanjut untuk menutup warung.


Saat hendak meninggalkan warung, Airin melihat Sarah datang dengan wajah yang agak murung.


"Sarah, kok tadi siang nggak makan di sini sih?" Airin langsung menanyakan apa yang sejak tadi mengganjal di pikirannya.


"Aku tadi ketemuan sama calon konsumen di luar," jawab Sarah lesu.


"Oh, gitu! Eh, aku punya kabar baik. Hari ini warung aku rame banget, jam segini semua dagangan aku sudah habis. Makasih ya, Sar ... semua ini karena dukungan dari kamu," ujar Airin seraya memeluk sahabatnya itu.


"Iya, Airin, sama-sama."


"Kok jawabnya lemes gitu sih, kamu nggak senang warung aku ramai pembeli?" Airin mengurai pelukannya.


"Aku senang, Airin ... cuma, hari ini tuh berat banget bagi aku." Sarah membuang napas berat.


"Cerita dong, cerita!" bujuk Airin.


"Iya, tapi di rumah kamu aja yuk."


"Ya udah, ayo!"


Mereka tiba di rumah, Airin menyeduhkan teh hijau untuk sahabat itu, lalu duduk di sampingnya.


"Gimana ceritanya? Kamu bisa cerita sekarang!" ujar Airin.


"Tadi siang itu, aku ada janji ketemu calon konsumen di restoran. Dia ini orang gila, bukannya niat mau beli apartemen, dia malah godain aku. Kamu tau nggak dia bilang apa?"


"Ya enggak lah, orang kamu belum cerita." Airin mengerucutkan bibir.


"Dia ngajakin aku nikah!"

__ADS_1


"Hah?"


"Serius, dia itu om-om yang kata aku sih umurnya sekitar 50-tahunan. Genit banget, dia minta aku buat istri keempatnya, dasar gila emang!" ujar Sarah dengan intonasi kesal.


"Terus kamu terima?" sela Airin.


"Ya nggak lah, amit-amit deh. Udah gitu aku dijebak, minuman aku dikasih obat tidur, and than aku dibawa ke hotel."


"Kamu dilecehin sama itu om-om?" tanya Airin dengan raut wajah khawatir.


Sarah menggelengkan kepala, lalu membuang napas panjang. "Untungnya aku selamat, aku nggak sempat ditidurin sama dia."


"Ehmm, bentar, bentar ... let me guess. Pas itu om-om mau tidurin kamu, tiba-tiba datang pangeran berkuda putih yang nolongin kamu, gitu kan?" tebak Airin sembari terkekeh kecil.


Sekali lagi Sarah membuang napas berat. "Hadeuh ... Airin! Kamu itu kebanyakan baca buku dongeng sih, jadi otaknya sengklek gini. Mana ada pangeran berkuda putih jaman sekarang!?" ujar Sarah dongkol.


"Kamu tuh nggak ngerti bahasa kiasan sih," kilah Airin, "Maksud aku itu, tiba-tiba datang pria baik hati yang nolongin kamu, gitu!"


"Nggak, yang adanya aku tuh sial banget hari ini. Udah, kamu dengar aja cerita aku, jangan dipotong lagi, tebakan kamu itu nggak ada yang benar."


"Ya udah, lanjut lagi!" Airin terkekeh geli.


Airin melipat bibirnya ke dalam, dia ingin tertawa mendengar cerita Sarah. Tapi mengingat itu adalah tindakan yang tidak berempati, dia pun memeluk sahabatnya tersebut.


"Ya sial sih emang, tapi aku senang karena kamu nggak sempat dilecehin sama itu om-om," ujar Airin sambil mengusap punggung Sarah.


"Konyolnya, ternyata hotel itu milik istri pertama si om. Dan dia biasa aja, nggak peduli. Malah kedua madunya yang saling labrak, drama banget, kan!" Sarah bergidik ngeri.


"Maniak banget itu om-om, masa udah punya tiga istri masih kurang." Airin pun tidak habis pikir.


"Amit-amit pokoknya, semoga aja aku nggak ketemu lagi sama orang kayak gitu," pungkas Sarah mengakhiri cerita, "Eh bagaimana warung kamu hari ini?" Dia lanjut bertanya.


"Rame, rame banget! Tadi siang itu aku nunggu-nungguin kamu, besok siang kamu datang ya," pinta Airin.


Sarah menganguk sebelum akhirnya pamit pulang.


Pagi esoknya, Warung Airin langsung ramai oleh pekerja proyek yang ingin sarapan. Bukan hanya karena daya tarik dari penampilan Airin, tapi mereka yang kemarin sudah ke sini sangat menyukai cita rasa hidangan buatan Airin.


Setelah membuatkan pesanan pengunjung yang terlebih dulu datang. Airin menghampiri meja berikutnya, di sana ada Alexi yang duduk sendiri.

__ADS_1


"Mau pesan apa, Mas?" tanya Airin.


"Gado-gado sama kopi aja," jawab Alexi seperlunya.


Airin mengangguk, dia pergi untuk membuat pesanan Alexi. Beberapa menit setelah itu dia kembali untuk mengantar pesanan tersebut.


"Silakan, Mas."


Alexi hanya memasang wajah datar, lalu mulai menyantap gado-gado buatan Airin.


"Mas Alvin, wajah kamu kenapa?" tanya Airin yang melihat ada biru lebam di wajah Alexi, ditambah ada sedikit robek di sudut bibirnya.


Ternyata empat orang pekerja proyek yang kemarin berselisih dengan Alexi merasa tidak terima. Semalam mereka mendatangi Alexi, sehingga terjadilah pengeroyokan. Untungnya Alexi bisa mengalahkan keempat orang itu, meskipun dia harus terkena beberapa pukulan dari pengeroyoknya tersebut.


Dan setelah kejadian, Alexi langsung meminta Sam untuk memecat keempat pria itu, mereka berangkat meninggalkan proyek saat itu juga.


"Mas, aku tanya wajah kamu kenapa?" Airin mengulang pertanyaan, karena Alexi tidak menjawab.


"Bukan urusan kamu!" jawab Alexi datar.


"Apa karena masalah kemarin?" tanya Airin tidak menyerah.


"Saya bilang bukan urusan kamu! Sana lanjutkan pekerjaan kamu!" usir Alexi.


"Mas, aku nggak enak kalau kamu bonyok gini karena belain aku. Nanti aku obatin ya," ujar Airin tulus.


Alexi meletakkan sendok beserta garpunya, lalu wajah tampan itu terangkat diiringi dengan tatapannya pada Airin yang sulit diartikan.


"Saya bilang bukan urusan kamu, dan ini tidak ada sangkut-pautnya sama kamu. Kamu lupa? Di sini saya hanya pembeli, dan kamu pemilik warung. Jadi kamu tidak perlu berlagak peduli sama saya!" tegas Alexi.


"Ya sudah!" Airin memberengutkan wajah, lalu kembali ke dalam warung.


"Nyebelin ... kemarin sok-sokan peduli, sekarang datar banget. Mana ngomongnya pake bahasa formal lagi, awas aja nanti!" Airin menggerutu sendiri sambil menatap kesal pada Alexi dari dalam warungnya.


Bersambung.


Jangan lupa like dan komentarnya ya.


Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2