Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Hari Berkabung


__ADS_3

Pagi harinya, Alexi pun mendapat kabar baik dari Roby.


Viona kini telah ditahan di kantor polisi, meski sebelumnya harus melalui perdebatan panjang karena dia tidak mengakui bahwa yang disuntikkannya adalah racun.


Di saat Roby mengatakan ingin melakukan cek labor, di saat itu pula Viona tidak berani menyangkal lagi.


Terlebih beberapa saat setelahnya, polisi yang dihubungi pihak rumah sakit pun tiba di ruang rawat tersebut.


Akhirnya Viona digelandang ke kantor polisi tanpa bisa memberi perlawanan.


Alexi menghampiri Airin yang baru saja selesai mandi dan sedang mengganti pakaian.


"Sayang, orang suruhanku sudah berhasil mendapatkan informasi pelaku tabrak lari itu. Kamu pasti terkejut mendengarnya."


Airin menoleh ke arah suaminya. "Memangnya siapa, Mas?


"Frita."


Manik mata Airin membulat, lalu ia menggelengkan kepala karena tidak habis pikir.


"Mas, apa menurutmu kejadian kemarin memang ada unsur kesengajaan?" tanya Airin.


Alexi menggeleng. "Belum dapat dipastikan, saat ini polisi tengah menyelidikinya lebih lanjut, tapi menurut pangakuan mama Reni, mereka dibayar oleh Viona."

__ADS_1


"Viona mantan kamu itu?"


"Ya." Alexi mengangguk.


Airin hanya bisa membuang napas berat. Dia tidak tahu apa maksud Viona, tapi yang jelas Airin sangat kecewa pada ibu dan saudara tirinya.


Entah apa yang ada di pikiran kedua orang itu, sampai-sampai mereka tidak pernah berhenti mengusik kehidupan Airin.


Setelah Airin selesai berpakaian, sepasang suami istri ini segera keluar dari kamar.


Keduanya kompak mengenakan setelan serba hitam, sebab hari ini mereka akan menghadiri pemakaman Galang.


Proses pemakaman itu berjalan lancar, dan selesai menjelang tengah hari.


Keduanya berjongkok di samping pusara Galang.


"Semoga kamu mendapat tempat terbaik di alam sana ya, Mas. Apa pun yang terjadi antara kita di masa lalu, aku udah maafin kamu," lirih Airin.


"Dia pasti akan mendapat tempat terbaik di sisiNya." Alexi yang berada di samping Airin, merangkul bahu istrinya tersebut.


Alexi tahu Galang pernah membuat Airin hidup sengsara selama bertahun-tahun, meski begitu Alexi tetap memiliki rasa simpati yang besar terhadap almarhum Galang.


Semua itu dikarenakan Galang telah menyadari kesalahan, dan berubah menjadi sosok yang lebih baik.

__ADS_1


Alexi juga harus berterimakasih pada almarhum pria itu.


Tanpa kehadirannya pada saat insiden tabrakan, entah bagaimana nasib Airin dan Sarah. Kemungkinan terbesarnya kedua wanita itu akan berada di posisi seperti Galang sekarang.


Setelah menaburi bunga di atas makam yang masih baru itu, keduanya pun pamit meninggalkan pemakaman.


"Kita mau langsung ke kantor polisi, Mas?" tanya Airin sembari mereka berjalan menuju gerbang.


Alexi mengangguk. "Iya, aku sudah tidak sabar untuk mengintrogasi Viona."


"Ya sudah," sahut Airin.


"Kalau kamu lelah dan mau beristirahat, biar aku saja yang ke kantor polisi. Aku akan mengantarmu pulang," ujar Alexi.


Airin menggeleng. "Nggak, Mas. Aku ikut aja."


Alexi tersenyum geli melihat Airin. Dia mengira istrinya itu cemburu, takut terjadi yang aneh-aneh jika membiarkannya bertemu dengan Viona seorang diri.


Padahal kenyataannya bukan seperti itu, Airin ingin ikut karena berniat untuk memberi sedikit pelajaran pada Viona, karena telah membuat Sarah celaka dan Galang meninggal.


Pada saat tiba di gerbang pemakaman, mereka didatangi seorang bersetelan jas hitam. "Apa Anda yang bernama Airin?"


Airin merasa bingung, dia tidak mengenal pria tersebut. "Iya, Benar. Saya Airin, ada perlu apa ya?"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2