
"Kamu sudah pulang, Lex," sapa Riana menyambut anaknya yang memasuki rumah.
Alexi mengangguk lantas memeluk ibunya. "Bagaimana kabar, Mommy?"
"Tidak pernah sebaik ini. Kamu sendiri?" Riana balas memeluk anak itu, melepaskan kerinduan.
"Baik. Sehat. Tidak kurang satu apa pun," jawab Alexi dalam hangatnya pelukan sang ibunda.
Wanita pemilik rambut yang sudah memutih itu mengurai pelukan, "Ya sudah. Sepertinya kamu butuh mandi, mommy tunggu di ruang makan."
Alexi mengganguk lesu, lantas mengayunkan kaki panjangnya menuju kamar.
Ada kehampaan dari setiap kebohongan yang keluar dari mulutnya. Tidak, saat ini dia tidak sedang baik-baik saja. Bibirnya mampu berucap, memberitahu tidak ada sesuatu yang perlu ia risaukan, tapi jiwanya merasa kacau.
Meskipun dia sudah memutuskan untuk berhenti memikirkan Airin, tapi tetap saja perasaannya tidak tenang. Ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Hatinya seperti dihantui rasa bersalah, apalagi saat ini Airin tidak diketahui ada di mana keberadaannya.
Tiba di kamar, Alexi duduk di pinggir ranjang. Merenungkan kembali keputusan yang telah ia ambil. Perasaan dilema itu sulit untuk diusir, meski logikanya terus menekankan untuk melupakan segalanya. Melupakan Airin yang telah pergi entah ke mana.
Setelah selesai mandi. Alexi keluar dari kamarnya, ia menuruni tangga untuk menuju ruang makan. Di sana kedua orang tuanya telah menunggu, dan mereka pun segera melakukan santap siang bersama.
Riana meletakkan sendok berikut garpu setelah piringnya kosong. Lalu sorot mata keibuan miliknya menatap Alexi lekat-lekat. "Ada yang mau diceritain, Bang?"
Alexi menghela napas sebelum balas menatap ibunya. Dahinya berkerut mendengar pertanyaan bermakna ambigu tersebut. Dia mulai berpikir apakah ibunya itu telah mengetahui apa yang lakukan selama berada di proyek.
"Tentang apa, Mom?" tanya Alexi mencoba menutupi rasa gugup dengan kepura-puraannya.
"Apa saja, tentang proyek, tentang hidupmu salama di sana."
"Semuanya baik, Mom. Proyek juga lancar, dan nggak ada masalah lagi."
Riana menghela napas berat, dia kecewa dengan sikap Alexi yang masih berusaha menutupi kebenaran.
__ADS_1
"Bang, mommy tidak pernah mengajarkan kamu untuk menutupi apa pun dari keluarga. Kami mendengar berita bahwa kamu sudah menikah, apa maksud kamu menutupi itu dari kami?" kata Riana yang wajahnya menyiratkan keluhan.
"Lex, kami membebaskan kamu memilih jalan hidup, bukan berarti kamu boleh menyembunyikan hal sepenting itu dari kami." Almeer menimpali dengan nada bicaranya tegas.
Alexi memandangi orang-tuanya bergantian. "Dari mana mommy dan daddy mengetahuinya?"
"Tidak penting dari mana kami mengetahuinya, Lex. Sekarang jawab saja pertanyaannya. Apa maksud kamu menyembunyikannya dari kami? Apa kamu tidak lagi menganggap kami sebagai orang tua?" ujar Almeer dengan suara yang mulai meninggi. Meski ia masih berusaha menahan kekesalannya.
Tahu dirinya sudah terpojok, Alexi pun tidak ingin mengelak lagi. Dia menghela napas panjang, bersiap menceritakan semua kebenarannya.
"Mom, Dad. Aku minta maaf, aku sangat menyanyangi kalian, mana mungkin aku bermaksud sengaja merahasiakan hal sepenting ini. Hanya saja, pernikahan itu terjadi karena sebuah kesalahan-pahaman, dan sangat mendadak. Jadi aku tidak sempat memberi tahu kalian."
"Lalu?" Sorot mata Riana yang menatap putranya tanpa berkedip itu, seolah tidak sabar mendengar penjelasan lebih lanjut.
"Alasan lainnya, aku menikahi wanita belum aku kenal dengan baik. Awalnya aku pun bingung pernikahan macam apa yang kami jalani, jadi aku memutuskan untuk mengenali dirinya lebih dulu. Agar dapat memutuskan, sudah tepatkah aku membawanya ke sini sebagai menantu di rumah ini."
"Saat aku yakin dia adalah wanita yang baik, aku memutuskan untuk membawanya ke sini. Tapi di saat itu pula dia mengatakan bahwa ia memiliki kekurangan, dia tidak bisa hamil. Aku kecewa mendengarnya, lalu hubungan kami menjadi renggang. Kami saling diam selama seminggu."
Alexi menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu, Dad?"
"Maksudnya?" Riana semakin tidak mengerti.
"Dia pergi dari rumah, dan aku tidak tahu ke mana. Dengan kekurangan yang ia miliki, aku rasa dia tidak pantas bersikap seperti itu, harusnya dia paham bagaimana menempatkan diri. Jadi, aku memutuskan untuk melepaskannya. Toh, itu adalah keinginannya!"
Braakk!!
Almeer menggebrak meja dengan keras, hingga membuat beberapa peralatan makan berjatuhan ke lantai. Untung saja Riana yang sudah tua itu terus menjaga pola hidup sehat, dan tidak memiliki riwayat penyakit jantung.
Sorot mata Almeer berkilatan menatap putranya. Baginya perbuatan anaknya itu benar-benar memalukan, apalagi mendengar putranya itu memutuskan untuk tidak mencari istrinya. Itu adalah sikap yang tidak menggambarkan pria sejati yang bertanggung-jawab. Dan Almeer tidak merasa mewariskan sikap rendahan seperti itu pada putranya.
"Mudah sekali kau bicara seperti itu! Apa isi kepalamu itu, Lex. Membiarkan wanita yang tidak beruntung semakin menyesali hidupnya, kau membuang wanita yang memiliki kekurangan. Apa kau sama sekali memikirkan seperti apa kesedihannya? Apa kau pikir tidak bisa mengandung adalah keinginannya?" geram Almeer.
__ADS_1
Alexi menundukkan kepala. Seumur hidup ini adalah kali pertama ia melihat kemarahan Almeer yang seperti sekarang. Sebelumnya ia bahkan tidak pernah mendengar ayahnya itu membentak.
Riana mengusap lengan suaminya, mencoba meredakan amarahnya yang meledak-ledak tersebut. "Pergilah duluan ke kamar, Al. Tenangkan dirimu, biar aku yang bicara dengan putra kita."
Mendengar suara Lembut dari istrinya. Api amarah dalam diri Almeer seperti tersiram air, yang mengecil lalu mulai pada padam. Dia lantas meninggalkan ruang makan tersebut, mempercayakan masalah ini pada istrinya.
"Jadi kamu meninggalkan istrimu karena dia tidak bisa mengandung. Begitu, Bang?" tanya Riana pelan.
Alexi menggelengkan kepala. Semula dia pun ingin bertahan setelah mendapat nasehat dari Zico, tapi istrinya itu lebih dulu pergi.
"Aku sudah merenungkannya, Mom. Aku memutuskan untuk menerima kekurangannya dia. Tapi dia sudah pergi sebelum aku sempat meminta maaf. Aku rasa itu adalah sikap yang tidak sopan, dan bukan wanita baik yang pergi begitu saja meninggalkan suaminya. Jadi aku memutuskan untuk tidak mencarinya."
"Seseorang tidak akan pergi tanpa alasan, Bang!" sela Riana.
"Setelah mengetahui dia tidak bisa hamil, aku sering keluar malam. Aku mengabaikannya, dan terakhir tadi malam. Dia memintaku untuk memberi keputusan, tapi aku tidak mengatakan apa-apa, karena aku masih ingin memikirkan semuanya. Lalu saat aku kembali, dia sudah tidak ada." Alexi menjelaskan kronologinya.
"Saat seseorang dengan berani mengakui kekurangannya, itu berarti dia tulus, Bang. Dulu, mommy juga merasakan bagaimana sakitnya divonis tidak bisa hamil, mommy menjalani hari-hari yang tersiksa. Bahkan mommy sempat meminta pisah dari daddymu, memintanya menikahi wanita yang bisa memberinya keturunan," ujar Riana.
Alexi yang tidak tahu cerita itu, menatap ibunya lekat-lekat.
"Kamu tahu apa yang daddymu lakukan, saat mengetahui mommy tidak bisa hamil dan meminta pisah?" tanya mommy Riana. Alexi mengelengkan kepala.
"Dia menangis, dia merangkul mommy, dia memberi mommy kekutaan, dia membuat mommy nyaman, dia tidak pernah mendiamkan mommy, tidak sekali pun mengabaikan mommy. Malahan, rasa sayang yang dia miliki menjadi semakin besar, setelah mengetahui kekurangan mommy. Sampai akhirnya Tuhan menghadiahkan kamu di hidup kami, lalu disusul keempat adikmu. Itulah mengapa tadi daddymu terlihat sangat marah, saat mendengar kamu malah menyakiti wanita yang kurang beruntung, Lex!"
Alexi menjatuhkan kepalanya di meja makan. Kedua orang-tuanya belum tahu saja siapa Airin. Dia bukan sekedar wanita yang kurang beruntung, tapi pemilik nasib yang benar-benar malang. Mungkin jika orang-tuanya mengetahui kenyataan itu, kemarahan mereka akan jauh lebih besar daripada ini.
Bersambung.
Sambil menunggu kabar dari Airin yang menghilang, yuk mampir ke karyanya mama mertua akuπππ€π€ππ
Dijamin seru lho novelnya, judulnya "Ratu Ketiban Duren" Cari di kolom pencarian, covernya seperti di bawah ini, yaππΌππΌππΌ
__ADS_1