
Alexi mengenakan pakaiannya dengan terburu-buru. Setelah itu dia kembali ke ruang TV untuk menemui Airin.
"Saya sudah siap, ayo kita ke dokter sekarang!" ajak Alexi seraya mengulurkan tangan untuk memapah istrinya.
Airin menggelengkan kepala. "Nggak perlu, Mas. Aku nggak apa-apa, ini cuma kecapekan biasa."
"Tidak apa-apa bagaimana? Tubuhmu sudah panas seperti bara," sela Alexi.
"Sebentar lagi juga turun kok, Mas. Kamu nggak usah cemas, aku juga nggak mau ke dokter, aku takut jarum suntik."
Alexi menunduk, dia melingkarkan tangan Airin di lehernya, lalu dalam sekejap istrinya itu sudah berada dalam gendongannya.
Airin menjerit tertahan, saat merasakan tubuhnya tiba-tiba melayang. Tatapannya terkunci pada wajah Alexi, yang membuat jantungnya berdebar-debar.
"Mas, kamu mau bawa aku ke mana?" tanya Airin gugup. Ini adalah kali pertama ia menatap mata Alexi dari jarak sangat dekat.
"Ke kamar," jawab Alexi singkat.
Setibanya di kamar Airin, Alexi merebahkan istrinya itu perlahan. Dia duduk di samping Airin, matanya menatap khawatir karena wajah Airin sudah sangat pucat.
Punggung tangan Alexi terulur menyentuh dahi Airin. "Tubuhmu masih panas, kamu tunggu di sini. Aku pergi sebentar untuk memanggilkan dokter," ujarnya kemudian berdiri hendak melangkah pergi.
Airin menahan tangan Alexi, sambil menggelengkan kepala. "Mas Alvin, jangan ... aku takut."
"Takut apa?"
"Aku takut disuntik," lirih Airin.
Alexi tersenyum geli. "Cukup diperiksa saja, kemudian diberi vitamin. Tidak perlu disuntik!"
Setelah mendapat persetujuan Airin, Alexi pun bergegas pergi memanggil dokter. Kurang dari setengah jam, dokter itu pun tiba di rumah Airin.
Dokter Tini, dia adalah satu-satunya dokter di kampung Airin. Dia pun langsung menuju kamar Airin, untuk melihat kondisi calon pasiennya.
Melihat dokter Tini datang sendirian, dahi Airin berkerut heran. "Mas Alvin ke mana dokter?" tanyanya.
"Baru juga ditinggal. Apa kau tidak bisa ditinggal suami tampanmu itu barang sebentar?" Dokter berusia sekitar 40-tahunan itu tersenyum menggoda.
Airin meringis menahan malu. "Bukan itu, Dok. Tapi kenapa Dokter ke sini sendiri? Aku pikir akan barengan sama mas Alvin."
"Tadi suamimu sempat bertanya makanan apa yang baik untuk dikosumsi orang sakit, lalu dia pergi membelinya," jelas dokter Tini.
"Oh," sahut Airin singkat, tapi di hatinya ada rasa bahagia yang membuncah, mengetahui Alexi begitu perhatian padanya.
__ADS_1
"Saya periksa dulu ya," ujar dokter Tini, Airin menggangguk.
Alexi baru saja tiba. Setelah melakukan pemeriksaan, dokter meresepkan vitamin untuk Airin. Dia menyatakan apa yang dialami Airin disebabkan kelelahan, dia menyarankan agar Airin tidak melakukan pekerjaan selama beberapa hari, sampai kondisi Airin benar-benar pulih.
Setelah dokter Tini pulang. Alexi segera menyiapkan sup ayam dan buah yang dibelinya ke atas nampan, lalu membawanya ke kamar Airin.
Alexi membantu Airin untuk duduk. "Kamu makan ya, aku suapin," ucapnya tidak ingin dibantah.
Melihat tatapan tegas suaminya, Airin pun mengangguk pelan. Dia menerima beberapa kali suapan dari Alexi, sebelum merasa perutnya benar-benar kenyang.
"Udah, Mas."
"Sudah kenyang?"
Airin mengangguk.
Setelah memberi Airin minum, Alexi pun membawa sisa makanan itu keluar. Airin memandangi punggung suaminya sambil tersenyum, bertambah lagi kebahagiaan di hatinya. Seumur hidup ini adalah kali pertama ia diperhatikan, diperlakukan dengan penuh kelembutan oleh pria selain ayahnya.
Saat Alexi kembali, Airin sudah rebahan di ranjang. Alexi duduk di pinggir ranjang, sambil menatap istrinya lembut.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" Alexi bertanya dengan suara pelan.
"Sudah lebih baik," sahut Airin lembut, "Terimakasih ya, Mas," tuturnya.
"Sudah merawatku."
Alexi tersenyum tipis, dia merapikan selimut Airin, lalu hendak pergi.
Tangan Airin terulur menahan, istrinya itu tidak berucap. Hanya gelengan kepala, dan sorot matanya yang mengisyaratkan agar Alexi tidak pergi.
Alexi mengurungkan niatnya, dia kembali duduk, menemani istrinya sampai terlelap. Beberapa jam berlalu ia masih terjaga, sampai akhirnya kantuk mulai menyerang, dan ia pun ikut terlelap.
Pagi harinya Airin mengerjap perlahan, dia terkejut melihat keberadaan Alexi, pria itu tidur di kursi yang ada di samping ranjang, dengan posisi kepala bertumpu pada kasur.
Tangan Airin terulur, menyentuh wajah tampan pria berhati malaikat di sampingnya. Bukan hanya ketampanannya yang Airin kagumi, melainkan juga sikapnya dalam menghormati wanita, padahal wanita itu sudah resmi menjadi istrinya.
Tapi di tengah kekaguman atas sikap Alexi. Ada banyak tanya yang terlintas di pikiran Airin, mulai dari hal yang membuatnya rendah diri, sampai hal yang paling konyol.
Apakah dia memang tidak menarik bagi Alexi? Apa Alexinya memiliki kelainan? Jangan-jangan suaminya itu tidak menyukai wanita? Sehingga lebih memilih tidur di kursi daripada di ranjangnya!
Ah, entahlah. Daripada pusing sendiri, Airin memutuskan untuk turun dari ranjang. Dia melangkah perlahan, agar tidak mengganggu kenyamanan tidur Alexi.
Saat Alexi terbangun, dia mendapati Airin sudah tidak berada di atas ranjang. Dia bergegas bangkit untuk mencari keberadaan Airin. Saat tiba di pintu kamar, Alexi mencium aroma masakan dari arah dapur.
__ADS_1
Alexi segera melangkah ke dapur, di sana istrinya itu sedang membuatkan sarapan.
"Dokter bilang kamu itu harus istirahat," ujar Alexi dengan nada agak kesal.
"Aku sudah baikan kok, Mas. Kamu mandi gih, habis itu kita sarapan sama-sama," sahut Airin tanpa merasa bersalah.
Terdengar decakan dari bibir Alexi, tapi tak urung ia pergi meninggalkan dapur. Setelah selesai mandi, Alexi datang ke meja makan dengan pakaian yang sudah rapi.
"Selama beberapa hari ini kamu harus istirahat, jangan ke warung dulu," ucap Alexi tegas, sebelum mulai menyantap sarapannya.
"Iya, Mas," sahut Airin nurut.
Setelah selesai sarapan, Alexi pamit berangkat kerja. Airin mengantarnya sampai ke teras, kemudian kembali ke dalam, dia menghabiskan satu hari penuh untuk beristirahat.
Sejak hari itu, keadaan pun kembali seperti seperti semula. Mereka kembali tidur di kamar yang terpisah.
Tanpa terasa seminggu sudah berlalu sejak Airin sakit, dan kini ia sudah benar-benar pulih.
Malamnya setelah makan bersama, Airin menemani Alexi menikmati kopi di ruang TV.
"Mas aku ingin mengatakan sesuatu," ujar Airin membuka percakapan.
"Apa? Katakan!" sahut Alexi seraya menyeruput kopinya.
"Itu, a-anu ... ehmm, nggak jadi deh."
Alexi mengkerutkan dahinya. "Ada apa Airin? Ngomong yang benar!"
Airin menundukkan kepala, kedua tangannya meremas ujung baju. Dia menghirup napas dalam-dalam, berusaha mengumpulkan segenap keberanian yang ia miliki, untuk menyampaikan apa yang ingin ia katakan.
"Be-begini, Mas. Selama kita nikah, kamu udah jadi suami yang baik, kamu bertanggung jawab, kamu kasih aku nafkah, kamu perhatian, kamu rawat aku pas lagi sakit. Jadi, Aku merasa berdosa karena belum ngasih apa yang seharusnya jadi hak kamu. Ehmm ... kalau kamu mau minta haknya kamu, boleh kok, aku nggak keberatan," ucap Airin dengan kalimat yang terputus-putus.
"Maksudnya?" Alexi menaikkan sebelah Alis matanya.
"Nggak, nggak ada kok, Mas. Bukan apa-apa ...." Airin meringis menahan malu, dia menutup wajah dengan telapak tangan. Sebelum akhirnya lari meninggalkan Alexi.
Setibanya di kamar, Airin mengunci pintu rapat-rapat. Dia merebahkan diri di ranjang, sambil memegangi jantungnya yang berdebar-debar.
"Ya Tuhan ... apa yang kamu lakukan tadi itu bodoh Airin, bodoh banget. Kenapa harus kamu yang ngomong, harusnya laki yang ngomong duluan!" rutuknya pada diri sendiri, menyesali apa yang baru saja ia sampaikan pada Alexi.
Bersambung.
Nekat juga ya si Airin, hehe ....
__ADS_1