Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Hukuman untuk Viona


__ADS_3

Belum sempat Alexi menjauhkan Viona dari tubuhnya, Airin sudah langsung meraih tangan Viona dan mendorongnya dari Alexi.


Plaaak!


"Ini kerena kau sudah kegatalan pada suami orang!"


Plaaak!


"Yang ini untuk sahabatku Sarah yang telah kau buat celaka!" seru Airin berapi-api sambil memberikan tamparan di pipi kanan dan kiri Viona.


Alexi dibuat tercengang untuk sesaat, dia tidak menyangka Airin akan seagresif ini. Apalagi dia belum pernah melihat Airin yang seperti sekarang ini.


Terlihat seperti singa betina yang sedang mengamuk!


Alexi lantas memberi pelukan untuk menenangkan istrinya tersebut.


"Say@3ang, jangan terlalu bar-bar. Ingat, kamu ini sedang hamil," bujuk Alexi.


"Jadi kamu membelanya, Mas?" sungut Airin sembari melotot.


Alexi menggeleng seraya mengusap puncak kepala Airin dengan lembut. "Bukan, mana mungkin aku membelanya. Aku hanya tidak ingin tensi darahmu naik, dan berakibat buruk pada janin dalam dalam kandunganmu, Sayang."


Melihat adanya celah untuk memperkeruh keaadaan. Viona berusaha menampilkan raut wajah tertekan, seolah ingin menunjukkan pada semua orang bahwa dirinya adalah korban.


"Lihatlah, Lexi. Kamu sudah salah memilih wanita untuk dijadikan istri! Dia ini tidak tahu aturan, wanita kampung, miskin, tidak punya pendidikan! Wanita seperti ini mana pantas menjadi pendampingmu!" sinis Viona.


Bola mata Alexi melotot, mendengar istri yang sangat disayanginya direndahkan, membuat kemarahan Alexi memuncak.


"Tutup mulut busukmu itu Viona! Istriku seribu kali lebih baik darimu!" bentak Alexi.

__ADS_1


Viona menanggapi dengan senyuman jijik. "Lebih baik dari segi apa? Dia ini hanya janda gatal, kamu pasti sudah diguna-guna olehnya!"


"Aku bilang jaga ucapanmu Viona!"


Kali ini Alexi tidak dapat menahan diri. Tangannya terayun, tidak peduli jika yang ada di hadapannya adalah wanita. Sebagai kepala rumah tangga, dia harus membela kehormatan istrinya.


Plaak!


Viona terbelalak, satu tangannya memegangi pipi yang bengkak. Dia tidak menyangka Alexi yang dulunya begitu lembut, berani menamparnya di tempat umum.


"Kau berubah Lexi, sekarang kau menjadi pria yang kasar. Pasti wanita kampungan ini telah memberi pengaruh buruk padamu!" Viona langsung menangis tergugu.


Pada saat yang sama, ruangan tersebut kedatangan pasangan suami istri setengah baya. Mereka adalah Tuan Narendra dan Nyonya Vianli, orang tua Viona.


Sejak semalam saat dibawa ke kantor polisi, Viona sudah menghubungi orang tuanya untuk meminta bantuan.


Dengan kekuasaan dan koneksi yang dimiliki Tuan Narendra. Pasti tidak sulit untuk membebaskan putri semata wayangnya.


Hal ini membuat Viona sangat kesal, apa kedua orang tuanya sudah tidak menyayanginya lagi?


Viona langsung mendekati keduanya dengan wajah memelas. "Pi, Mi ... kalian tega sekali, aku sudah dikurung di sini sejak semalam. Mengapa kalian baru datang sekarang? Apa kesibukan Papi lebih penting daripada putri Papi ini?"


"Papi tidak sibuk!" jawab Tuan Narendra datar.


"Lalu kenapa? Apa kalian tidak peduli lagi padaku?" rajuk Viona.


"Mami dan Papi sudah mendengar semuanya, Viona. Kami sangat malu dengan kelakuan kamu! Kamu pantas dihukum!" tegas Nyonya Vianli.


Wanita ini ingin anaknya sadar akan kesalahan yang telah diperbuat, meski sebenarnya dia iba melihat putrinya harus menjadi seorang pesakitan di balik jeruji besi.

__ADS_1


"Karena kamu berani berbuat, berarti kamu sudah siap dengan konsekuensinya, Viona!" tambah Tuan Narendra.


"Jadi kedatangan Papi dan Mami bukan untuk membebaskanku?" tanya Viona dengan raut wajah tidak percaya.


Hanya gelengan tegas dari Tuan Narendra yang menjadi jawaban untuk pertanyaan Viona.


"Pi, Mi, kalian harus percaya padaku. Aku tidak bersalah, ini semua fitnah," ucap Viona memelas.


Alih-alih menanggapi perkataan Viona, keduanya malah mendekati Alexi.


"Lexi, om dan tante minta maaf. Kami berdua telah gagal mendidik Viona dengan baik," ujar Tuan Narendra.


Alexi mengangguk, meski sudah tidak lagi memiliki hubungan dengan Viona, dia masih sangat menghormati kedua orang ini.


"Tidak apa-apa, Om," sahut Alexi.


Mau bagaima lagi? Toh, semuanya telah terjadi, tapi walau bagaimanapun, Viona tetap harus menanggung hukuman dari perbuataannya.


"Kami tidak akan memberi Viona perlindungan, kami akan membiarkan dia diproses secara hukum yang berlaku," tambah Nyonya Vianli.


"Terima Kasih, Om, Tante," tutur Alexi.


Alexi merasa lega sekaligus tersanjung, dia tidak menyangka orang Viona akan bersikap legowo seperti ini.


Sementara Viona, dia seperti orang yang kehilangan semangat hidup, setelah mendengar keputusan orang tuanya.


Habislah sudah!


Sekarang dia tidak memiliki harapan lagi untuk lepas dari jerat hukum.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2