Aku Bukan Pengantinnya

Aku Bukan Pengantinnya
Gadai rumah


__ADS_3

.


.


.


💐💐 HAPPY READING 💐💐


Hari ini ibu Juleha datang di kedai untuk menemui Olivia. Ibu Juleha sengaja datang lebih awal agar dia punya waktu lebih banyak untuk berbincang dengan Olivia. Sudah lama juga dia tidak berbincang dengan Olivia, pertemuan nya terakhir beberapa hari yang lalu juga hanya sebentar. Sudah sekitar 15 menit dia menunggu Olivia datang, dan akhirnya orang yang sedari tadi dia tunggu-tunggu datang juga.


" Bagaimana mau maju, jam segini saja baru datang? Jadi karyawan itu harus rajin dan berangkat pagi-pagi, masa iya sudah hampir jam 9 baru sampai. Kalau aku jadi bossnya sudah aku pecat kamu."Ucap Ibu Juleha terlihat kesal karena sudah cukup lama dia menunggu Olivia.


Olivia sendiri belum tahu apa maksud tujuan ibu Juleha datang menemuinya. Tapi yang pasti ada sesuatu hal yang ingin dia sampaikan.


" Ibu mau apa datang kesini? Mana langsung marah-marah sama Olivia? Oh iya, jadi ini ya sifat asli ibu? Beruntung sekali aku tidak jadi menjadi menantu ibu."Ucap Olivia sambil terkekeh.


Cihhhhh


Ibu Juleha berdecih kesal lalu dia mengikuti langkah kaki Olivia. Kini ibu Juleha sudah duduk di kursi dekat kasir, setelah meletakkan tasnya Olivia menemui ibu Juleha.


" Ada apa sampai ibu datang kesini?."Tanya Olivia lagi.


" Ehh begini Olivia, ibu itu mau ada perlu sama kamu. Bagaimana ya bilangnya?."Ucap ibu Juleha sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


* Pasti ada hal yang ingin dia sampaikan. Hemm... Apakah berhubungan soal uang?* Gumam Olivia sambil menelisik ibu Juleha.

__ADS_1


Ibu Juleha tampak gugup dan senyum-senyum sendiri. Tapi memang menurutnya saat ini hanya Olivia yang bisa menolongnya, setahunya Olivia anak yang tidak pelit dan royal. Dulu saat masih pacaran dengan Adrian setiap datang selalu membawa oleh-oleh dan setiap jalan bareng dibelikan baju.


" Ibu mau pinjam uang 20 juta, kamu pasti adakan? Kamu kan baik, jadi pasti bisa kasih hutang ke ibu." Ucap ibu Juleha tanpa malu.


Sepertinya urat malu ibu Juleha sudah benar-benar putus. Baru beberapa menit yang lalu dia memarahi Olivia, namun sekarang justru datang untuk meminjam uang. Mana tidak tanggung-tanggung juga pinjamnya, uang 20 juta bukanlah uang sedikit.


" Pinjam uang? 20 juta ? Apa tidak salah ibu pinjam uang sama saya? Anak dan menantu ibu itu katanyaorang kaya dan mempunyai gaji besar. Mereka orang kantoran loh, masa iya mau pinjam uang sama pelayan rendahan seperti saya?." Tanya Olivia sedikit menyindir mantan calon ibu mertuanya.


" Iya sih kamu memang hanya pelayan, tapi kamu pasti punya tabungankan? Bukannya kebutuhan makan minum kamu di rumah itu di tanggung Jeni? Jadi uang gaji kamu hanya untuk kamu sendiri dan sampai sekarangpun kamu masih menumpang makan sama Jeni. Kasihan Jeni kalau uangnya hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah saja, beruntung sekarang ada Adrian yang bantuin."Ucap ibu Juleha membuat Olivia syok sampai mulutnya melongo.


Jeni sudah mengarah cerita yang tidak benar, dan menceritakan kejelekan yang tidak dilakukan oleh Olivia. Olivia baru tahu betapa liciknya kakaknya itu, pasti dia mencari simpati dari Ibu Juleha dengan menjelek-jelekkan Olivia seperti ini.


Hahaaaa Haaahaaaa


Olivia pun tertawa lebar, dia tidak habis fikir dengan Jeni. Bisa sekali dia memutar balikkan fakta.


Setelah mendengar penjelasan dari Olivia, ibu Juleha jadi bingung. Mana yang harus dia percaya, Olivia atau Jeni sang menantu kesayangannya. Dia pun teringat kedatangan Jeni dan Adrian beberapa hari yang lalu, dimana mereka datang tanpa membawa apa-apa dan Jeni seakan enggan untuk mencuci piring bekas Adrian makan.


" Soal itu ibu tidak tahu siapa yang benar, antara kamu atau Jeni. Soal pinjaman uang 20 juta tadi bagaimana? Kamu ada kan?."Tanya Ibu Juleha masih saja ingin meminjam uang kepada Olivia.


" Maaf bu aku tidak ada uang, kalau ibu mau tagih saja uang saya yang ada sama Adrian dan Jeni. Uang yang dipakai untuk pernikahan waktu itu, kalau memang uang itu keluar saya iklas uang itu untuk ibu semua. Lumayan kan 50 juta."Seru Olivia sambil mengulas senyum tipis.


" Kalau tidak mau meminjamkan itu bilang saja, tidak perlu meminta saya menagih hutang kepada anak dan menantu saya segala. Uang segitu saja diributin, dasar wanita kere !! Beruntung Adrian tidak jadi menikah dengan wanita sepertimu, bisa malu aku punya menantu seorang pelayan rendahan seperti kamu !!."Seru ibu Juleha dengan menunjuk tepat di wajah Olivia.


Suasana kedai beruntung masih sepi, karena memang masih baru jam 9 pagi. Hanya keempat karyawan Olivia saja yang mendengar suara ibu Juleha yang marah-marah dengan lantang. Olivia sengaja bicara seperti tadi karena dia yakin jika Adrian tidak akan pernah membayar hutangnya.

__ADS_1


" Lebih baik aku pergi dari sini daripada aku dibuat malu sama kamu."Seru ibu Juleha bangkit dan keluar dari kedai begitu saja tanpa pamit lebih dulu.


Olivia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah mantan calon ibu mertuanya. Bersyukur sekali dia gagal menikah dengan Adrian, ternyata ibunya toxic dan matrealiastis. Kebaikan yang selama ini ditunjukannya hanya sebuah topeng saja. Dan sekarang baru kelihatan busuknya.


******


Selesai makan malam, Jeni bicara dengan ibunya perihal dia yang ingin membeli mobil. Jeni beralasan jika dia punya mobil akan lebih mudah untuk dia pergi-pergi, mengingat saat ini Jeni sedang hamil.


" Jadi kamu mau beli mobil Jen? Baguslah, jadi ibu bisa pamerkan mobil baru kamu sama para tetangga. Agar para tetangga juga tahu jika kamu sekarang sudah jadi orang sukses, tidak seperti Olivia yang cuma bekerja jadi kasir cafe dan penjual boba."Seru Ibu Harti sangat setuju dengan rencana Jeni yang akan membeli mobil.


" Iya bu, tapi masalahnya uang Jeni kurang bu."Ucap Jeni dengan suara dibuat melemah.


Seketika senyum lebar dibibir ibu Harti menghilang. Jika uang Jeni kurang pasti Jeni akan meminta bantuannya, tapi dia dapat uang darimana? Untuk kebutuhan sehari-hari saja semua serba pas-pasan.


" Kurang? Memangnya kurang berapa?." Tanya ibu Harti ingin tahu.


" Kurang banyak bu, uang Jeni ditabungan itu untuk biaya persalinan nanti bu. Kalau itu dipakai untuk beli mobil, terus untuk persalinan nanti bagaimana? Tapi Jeni ingin sekali beli mobil bu, tolong Jeni ya bu."Seru Jeni dengan manja.


Ibu Harti dari dulu memang sangat memanjakan Jeni. Apapun yang Jeni minta akan dia turuti meskipun itu sangat menyusahkan dirinya sendiri. Sehingga sikap manja Jeni terbawa sampai saat ini.


" Tapi ibu bantu bagaimana? Kamu tahukan kalau ibu ini tidak ada uang."Seru ibu Harti.


" Ibukan punya rumah ini. Ibu gadaikan saja rumah ini, nanti setiap bulannya Jeni dan mas Adrian yang akan membayar cicilannya."Ucap Jeni dengan sengaja agar ibunya menggadaikan rumah.


" Apa ? Gadai sertifikat rumah?." Seru ibu Harti.

__ADS_1


************


__ADS_2