Aku Bukan Pengantinnya

Aku Bukan Pengantinnya
Mobil baru datang


__ADS_3

.


.


.


💐💐 HAPPY READING 💐💐


Mobil Miko sudah sampai di pertigaan tempat tinggal Olivia. Olivia meminta Miko untuk mengantarkan hanya sampai situ saja, sebab Olivia tidak mau Jeni dan Ibunya banyak pertanyaan. Apalagi Miko membawa mobil bagus dan mewah, bisa-bisa Jeni akan semakin kesal karena menganggap Olivia sengaja cari masalah dengannya.


" Kenapa turun disini?."Tanya Miko.


" Aku tidak mau orang rumah tahu siapa kamu. Apalagi kakakku, dia paling tidak suka melihat aku hidup tenang. Dia orangnya suka iri, bisa-bisa nanti kamu di rebut juga sama dia."Ucap Olivia memberitahu.


Eehem.. Ehheem...


Miko sengaja berdehem membuat Olivia langsung mengalihkan pandangannya kearahnya. Sambil mengernyitkan keningnya Olivia terus memperhatikan Miko. Dia bertanya-tanya kenapa Miko bertingkah aneh dan senyum-senyum sendiri seperti itu.


" Ada apa? Apa kamu sudah tidak waras lagi?."Tanya Olivia.


" Kamu tadi bilang kalau kamu takut kalau kakak kamu akan merebutku. Hemm.. Berarti kamu takut kehilangan aku kan?."Seru Miko dengan senyum-senyum sendiri.


" Jangan kepedean kamu, Miko. Sudahlah, aku mau turun dulu dan kamu buruan pulang."Ucap Olivia langsung membuka pintu mobil dan turun.


Olivia berjalan menjauhi mobil Miko, Miko terus memandang Olivia sampai Olivia benar-benar sudah tidak terlihat. Setelah itu Miko pun melajukan mobilnya meninggalkan tempat tinggal Olivia.


Sedangkan di halaman rumahnya, baru saja Olivia sampai halaman rumah. Tiba-tiba ponselnya bergetar, ada panggilan masuk dari nomor tidak dikenal. Olivia enggan mengangkatnya, namun nomor itu kembali menghubunginya sehingga Olivia pun menganggkatnya.


[ Hallo, Assalamualaikum. Ini siapa ya?] Tanya Olivia.


[ Waalaikumsalam mbak Olivia, maaf ini kami dari showroom mobil mau mengantarkan mobil.] Jawab seorang pria di seberang sana.


[ Oh dari showroom? Loh, bukannya besok baru di antar kan mas , kok ini sudah mau di antar?]


[ Iya mbak, ini surat-suratnya sudah selesai semua. Dan berhubung besok itu tanggal merah dan showroom juga tutup karena karyawan semua ikut acara jalan-jalan, jadi demi kenyamanan pelanggan mobil mau kami antarkan sekarang. Mbak Olivia ada dirumah kan? Ini kami sudah mau jalan?] Ucap karyawan showroom menjelaskan.

__ADS_1


[ Oh begitu, ada mas. Ya sudah saya tunggu di rumah.]


[ Baik mbak. Wassalamualaikum.]


[ Waalaikumsalam.]


Klik


Sambungan telepon pun dimatikan, Oivia menyimpan ponselnya dalam tas lagi. Dia cepat-cepat masuk rumah, dan bersiap menyambut kedatangan mobil barunya. Dia sudah tidak sabar melihat Jeni kejang-kejang karena Olivia beli mobil baru.


" Baru pulang, Liv?." Tanya Adrian yang memang sudah ada dirumah.


" Menurut mu?." Tanya Olivia balik dengan tatapan sinis.


" Padahal aku bertanya juga baik-baik loh , Liv. Tapi kenapa kamu jawabnya ketus seperti itu, bagaimanapun aku ini kakak ipar kamu. Bisa tidak kamu menghormatiku sebagai kakak ipar mu."Seru Adrian dengan wajah dibuat sedih.


" Tidak sudi !!."Seru Olivia dengan ketus.


Olivia meninggalkan Adrian begitu saja, rasa bencinya kepada Adrian semakin menumpuk. Setelah fitnah yang dituduhkan Adrian, sedikitpun tidak ada simpatik Olivia untuk Adrian. Kini Olivia melihat Adrian tak ubahnya seekor srigala berbulu domba.


" Itu si Olivia, aku tegur baik-baik tapi justru balas tidak sopan. Lama-lama anak itu semakin kurangajar, apa dia itu tidak bisa menghargai ku sebagai kakak iparnya."Seru Adrian mencari pembelaan dari Jeni.


" Jadi Olivia sudah pulang?." Tanya Jeni.


Jeni dan ibu Harti sedari tadi memang menunggu kepulangan Olivia. Mereka berdua akan menanyakan soal sertifikat rumah kepada Olivia, mereka yakin jika Olivia pasti tahu soal sertifikat rumah.


" Iya, baru saja dia pulang."Jawab Adrian.


Jeni segera menemui ibunya yang saat ini sedang memasak didapur. Setelah sampai dapur Jeni memberitahu ibunya jika Olivia sudah pulang dan saat ini ada didalam kamarnya. Mendengar Olivia sudah pulang, ibu Harti bergegas meninggalkan urusan masak memasaknya lalu dengan cepat berjalan menuju kamar Olivia.


Dduugh


Dduugh


Dduugh

__ADS_1


" Olivia !! Olivia !! Buka pintunya !!."Teriak Ibu Harti dengan keras sambil memukul-mukul pintu kamar Olivia dengan kencang.


Olivia yang baru selesai mandi pun kaget dengan gedoran dan teriakan ibu Harti. Cepat-cepat Olivia memakai baju agar bisa cepat membuka pintu. Jika dibiarkan lama-lama pasti pintu itu akan rusak. Sepertinya ibu Harti dan Jeni sedang marah, Olivia sudah tahu pokok permasalahannya. Apalagi kalau bukan soal sertifikat palsu.


" Ada apa sih bu teriak-teriak depan kamar ku? Seperti di hutan saja, tidak punya aturan."Tegur Olivia ketus.


" Heehh.. Anak kurangajar !! Berani-beraninya ya kamu bicara sepeeti itu kepadaku. Dasar bocah gendeng !! Kamu pasti orang yang sudah menukar sertifikat rumah yang asli dengan yang palsu? Ayo ngaku jangan bohong kamu !."Seru Ibu Harti dengan mata membola sempurna seakan akan melompat dari kelopaknya.


* Nah benar kan apa dugaan ku, hemm pasti karena sertifikat. Tapi tenang saja, belum saatnya kalian tahu jika memang aku yang menganti dan mengambil sertifikat itu.*Gumam Olivia dalam hatinya.


Olivia bersedekap sambil menyandarkan tubuhnya di pintu dengan pandangan lurus kearah ibu Harti.


" Atas dasar apa ibu menuduh aku yang memalsukan sertifikat rumah ini? Memang aku ada hak dengan rumah ini, Bu? Kalau memang aku ada hak dengan rumah ini, aku mau minta bagiannya sekarang juga dong. "Seru Olivia dengan gaya bicara santai.


" Ehh... Bagian? Bagian apa yang kamu maksud ?."Jawab ibu Harti terbata-bata merasa bingung mau bagaimana menindak lanjuti ucapan Olivia.


" Loh kan ibu yang menuduhku memalsukan sertifikat rumah. Secara logika saja bu, kalau surat rumah ini atas nama Ayah atau ibu mana mungkin aku palsukan terus yang asli aku pegang dan aku jual rumah ini tanpa sepengetahuan kalian. Nyatanya itu tidak mungkin bisa kalau surat rumah ini atas nama Ayah atau ibu. Memangnya surat rumah ini atas nama siapa sih bu, kok aku sampai ibu tuduh begitu? Atau jangan-jangan rumah ini bukan milik kalian?." Tanya Olivia secara beruntun.


Pertanyaan demi pertanyaan dan pernyataan Olivia membuat ibu Harti dan Jeni kebingungan. Ternyata Olivia sekarang sudah tidak sepolos dulu. Mana mungkin mereka mengatakan jika rumah ini bukan rumah mereka, yang ada akan jadi boomerang untuk mereka.


Tin Tin Tin


Saat mereka sedang bersit3g4ng, tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari luar. Olivia tersenyum tipis, akhirnya mobil yang dia tunggu-tunggupun sudah datang. Ibu Harti dan Jeni bergegas ke depan untuk melihat mobil siapa yang datang. Olivia juga ikut kedepan untuk menyambut kedatangan mobil barunya.


" Bu, mobil siapa itu bu? Itu mobil baru bu."Seru Jeni dengan wajah terlihat heran namun bahagia.


" Iya jen, itu mobil baru. Lihat warnanya masih konclong dan plat nomornya saja belum ada. Atau jangan-jangan itu mobil kamu ya Jen? Kejutan dari Adrian , mana Adrian tadi Jen?." Seru ibu Harti ikut senang.


Mereka mengura jika itu mobil Adrian yang beli sebagai hadiah kejutan untuk Jeni. Satu orang pria turun dari mobil, dan satu perempuan turun dari mobil belakangnya.


Jeni dan Ibu Harti mendekati mobil yang berada tepat didepan rumah. Mobil warna putih yang benar-benar masih kinclong dan bening, sudah dipastikan jika mobil itu baru keluar dari dealer mobilnya.


" Jangan pegang-pegang mobil ku !!."Seru Olivia.


************

__ADS_1


__ADS_2