Aku Bukan Pengantinnya

Aku Bukan Pengantinnya
Keputusan Olivia


__ADS_3

.


.


.


💐💐 HAPPY READING 💐💐


Sebelum pak Anwar berangkat mengojek, dia sengaja duduk di teras depan menunggu Olivia keluar. Ada sesuatu yang ingin pak Anwar tanyakan kepada Olivia. Dari semalam dia penasaran, apakah yang dikatakan Olivia itu benar jika dia akan menikah. Pak Anwar ingin memastikan kebenaran ucapan Olivia, jika memang dia ingin menikah, pak Anwar ingin tahu siap calon suami Olivia.


Sudah setengah jam pak Anwar menunggu Olivia tapi Olivia tidak kunjung keluar juga. Melihat suaminya yang masih saja di teras rumah membuat ibu Harti menghampiri Pak Anwar.


" Kenapa bapak tidak segera berangkat? Apa bapak tidak mau berangkat kerja?."Tanya Ibu Harti.


" Nanti bu, bapak masih ada perlu dengan Olivia. Ada yang ingin bapak tanyakan dengannya, ini soal pernikahan yang dia maksud semalam."Jawab pak Anwar dengan jujur.


" Untuk apa juga bapak masih peduli dengan dia, tah dia saja tidak peduli dengan kita. Anak itu jangan dikasih hati, yang ada dia akan semakin melunjak dan tidak menghargai kita. Sekarang saja dia sudah tidak menghargai kita pak, sekarang ini yang menjasi prioritas kita itu Jeni anak kandung kita pak."Ucap ibu Harti tetap tidak perduli dengan Olivia dan mengutamakan Jeni yang anak kandungnya.


Hhhhuuuufffff


Pak Anwar membuang nafas dengan kasar, memang susah bicara dengan orang yang iri dengki dan kebenciannya sudah mendarah daging. Pak Anwar hanya berusaha ingin memperbaiki hubungannya dengan Olivia, dia merasa bersalah sudah memperlakukan Olivia secara tidak adil. Tapi bayang-bayang Jeni dan istrinya masih terus meracuni fikirannya, sebagai seorang ayah tentunya dia juga mau yang terbaik untuk Jeni.


" Bapak hanya ingin tahu siapa pria yang akan menikahi Olivia, bu. Olivia itu dari bayi sudah sama kita, apa salahnya kalau kita ini sedikit tahu soal kehidupannya. Selama ini kita seakan tutup mata dengan kehidupan dan kebahagiaannya sampai Jeni merebut Adrian pun kita biarkan."Ucap pak Anwar seakan merasa bersalah atas apa yang dilakukan Jeni.


Tanpa mereka sadari, Olivia mendengarkan apa yang saat ini dibicarakan pak Anwar dari balik tembok ruang tamu. Hatinya mulai menghangat saat pak Anwar membelanya dan peduli dengannya. Olivia akan tetap berpura-pura tidak tahu apa yang dibicarakan pak Anwar dan bu Harti.


Ehemm Eheemm


Olivia keluar dan sengaja berdehem agar pak Anwar dan bu Harti menyadari kedatangannya. Dan benar saja, pak Anwar langsung menghentikan pembicaraannya.


" Olivia, ayah ingin bicara."Seru pak Anwar.

__ADS_1


" Apa yang ingin ayah bicarakan? Olivia sudah kesiangan ini."Ucap Olivia pura-pura tidak tahu.


" Apa benar kamu sudah mau menikah? Apa boleh Ayah mengenal pria yang ingin menikahimu itu."Ucap pak Anwar lagi.


" Ibu sudah tahu pria seperti apa yang akan menikah dengan Olivia. Waktu itu, dia kan pernah datang kesini. Laki-laki kere, kampungan itu mah memang cocok sama Olivia pak. Sudah biarkan saja dia menikah dengan pria itu pak, setelah itu dia ikut suaminya jadi rumah ini aman tanpa ada dia. Bisa Jeni dan Adrian kembali lagi kerumah ini ."Ucap ibu Harti penuh percaya diri seolah dialah pemilik rumahnya.


Olivia hanya menggelengkan kepalanya dengan mengulas senyum kecut. Begitu mudahnya ibu Harti akan mengusir Olivia dari rumahnya sendiri. Tidak akan semudah itu bu, anda mengusir Olivia. Yang ada justru anda sendiri yang akan terusir.


" Ibu tidak ada hak atas rumah ini. Jika aku sudah menikah tentunya rumah ini akan aku jual, atau bisa jadi di sita bank karena aku tidak mau bayar cicilan rumah. Sudah ya, aku mau berangkat kerja dulu. Kalau Ayah memang mau datang kepernikahanku, nanti pasti akan Olivia kabari kapan harinya."Seru Olivia lalu dia melangkah pergi memasuki mobilnya.


Pak Anwar menatap sendu kearah mobil Olivia. Dia tidak menyalahkan Olivia, Olivia bersikap seperti itu juga atas kesalahan dari mereka juga.


" Pak, kalau rumah ini di sita kita mau tinggal dimana?."Tanya ibu Harti.


" Kita pikirkan nanti. Bapak mau berangkat ngojek dulu."Ucap pak Anwar.


Hhhuuuffff


******


Sekitar jam setengah satu siang, Miko datang ke kedai boba milik Olivia. Dia datang dengan membawakan makan siang untuk dirinya dan sang kekasih.


" Kenapa bawa makanan juga? Mana banyak banget lagi? ."Tanya Olivia.


" Kamu pasti belum makan siang kan? Aku juga belum makan siang, kita makan sama-sama yuk. Yang lain dibagikan saja sama para karyawan."Ucap Miko bicara dengan lembut.


" Ya sudah, kamu langsung naik ke lantai atas duluan ya. Aku akan menyusul setelah membantu mereka menyelesaikan pesanan ini, ini pesanan sebentar lagi di ambil."Ucap Olivia.


Miko mengangguk paham dan dia pun naik ke lantai atas dimana tempat yang dijadikan ruangan pribadi Olivia. Dan di atas juga ada tempat yang biasa untuk sholat serta istirahat para karyawan.


" Ruko ini lumayan besar, kalau Olivia mau buka cafe sebenarnya bisa juga sih. Ehh tapi jangan juga sih, kalau dia buka cafe nanti bakalan tambah sibuk dan waktu untuk bersamaku akan berkurang."Ucap Miko bermonolog sendiri.

__ADS_1


Setelah menunggu 10 menit, Olivia pun sudah menyusul Miko ke lantai atas. Disana mereka duduk di atas karpet untuk menikmati makan siangnya.


" Bisa kan duduk di karpet begini?."Tanya Olivia takut jika Miko tidak bisa makan tanpa meja dan kursi.


" Bisa dong, justru enak makan lesehan seperti ini. Cepat makan, setelah itu ada yang ingin aku bicarakan. Ini hal yang sangat serius sekali."Ucap Miko sambil terkekeh pelan.


Olivia tidak menjawab, dia segera membuka makanan yang dibawakan Miko. Dengan tenang dan tanpa bersuara, Miko dan Olivia menikmati makanannya.


Setelah 20 menit, mereka selesai makan dan sudah cuci tangan serta membereskan bekas makanannya. Kini mereka berbincang dengan diteman 2 cup boba cokelat.


" Olivia, apa kamu mau menikah dengan ku?." Tanya Miko secara langsung.


" Apa kamu yakin? Kamu tahu kan aku ini hanya wanita miskin, bahkan ibumu saja tidak setuju dan dia datang menemui ku menawarkan sejumlah uang agar aku meninggalkan kamu."Ucap Olivia merasa ragu dengan ajakan Miko menikah.


" Aku tidak perduli dengan mama ku, papa setuju siapapun pilihanku. Mama saat ini mungkin memang tidak merestui kita, tapi aku yakin suatu saat dia akan menerima mu sebagai menantunya. Kita lalui bersama, kita berjuang bersama untuk kebahagiaan kita."Ucap Miko menyakinkan Olivia lagi.


" Will you marry me ."Seru Miko sambil memegang kedua tangan Olivia.


Olivia terharu dengan kesungguhan Miko yang ingin menikahinya. Sorot mata Miko menggambarkan keseriusan, Miko benar-benar serius ingin membina rumah tangga dengannya. Mungkin ini juga jawaban dari setiap doa-doa Olivia.


" Aku mau."Jawab Olivia dengan singkat.


Miko langsung memeluk Olivia dengan erat, betapa bahagianya dia saat tahu Olivia menerima ajakannya untuk menikah.


" Terima kasih."Seru Miko dengan mata berkaca-kaca.


" Tapi aku minta kamu temui paman ku dulu, mintalah restu darinya."Ucap Olivia.


" Paman? Kenapa bukan kedua orang tua kamu?."Tanya Miko heran.


" Nanti kamu pasti tahu jawabannya."Jawab Olivia.

__ADS_1


**************


__ADS_2