Aku Bukan Pengantinnya

Aku Bukan Pengantinnya
Pacar Olivia datang


__ADS_3

.


.


.


💐💐 HAPPY READING 💐💐


Malam harinya saat makan malam, Jeni masih saja mengurung diri di kamar. Dia masih belum terima jika Olivia mempunyai mobil baru, Olivia marah pada suaminya karena tidak mau membelikan mobil untuknya.


" Mana Jeni, Adrian?."Tanya ibu Harti.


" Ada di kamar bu, dia masih ngambek karena meminta Adrian untuk membelikan mobil yang lebih bagus dari punyanya Olivia. Mana Adrian ada uang bu, motor saja cicilan belum selesai."Jawab Adrian lalu memasukan sendok ke mulutnya.


Hhhhuuuffff


Ibu Harti sedih dan kasihan melihat anak kesayangannya mengurung diri di kamar. Yang diminta Jeni mobil ? Darimana dia akan mendapatkan uang untuk beli mobil. Urusan sertifikat rumah sampai sekarang saja belum selesai dan belum jelas kemana sertifikat yang aslinya.


" Pak, coba bapak bicara sama Olivia untuk memberikan mobilnya kepada Jeni. Olivia itu tidak pantas membawa mobil sebagus itu, dia cuma pelayan saja pakai bergaya beli mobil. Beda sama Jeni yang seorang karyawan kantoran, dia lebih pantas mengendarai mobil. Kalau Olivia tidak mau, bapak tekan terus dia sampai dia mau melepaskan mobilnya."Ucap ibu Harti masih saja seperti dulu, sedikitpun tidak ada yang berubah.


" Bapak tidak mau, ibu sendiri sana yang bicara sama Olivia. Itupun kalau ibu berani, bapak perhatikan sekarang Olivia sudah tidak seperti dulu lagi yang apa-apa selalu mengalah. Ingat bu, semut yang hewan kecil saja jika dia terus di injak-injak akan marah dan menggigit. Apalagi Olivia, Bu? Sudahlah bu, sesekali jangan selalu nengikuti apa maunya Jeni. Dia itu sudah dewasa, sudah punya suami dan bahkan sudah mau menjadi orang tua. Jangan selalu kamu manja, ibu lihat sendirikan hasilnya?."Seru pak Anwar membantah istrinya.


Pak Anwar sudah tidak mau lagi mengganggu kehidupan Olivia, dia tidak mau membuat Olivia bersedih seperti dulu lagi. Olivia berhak bahagia, cukup sudah keserakahan yang mereka perbuat selama ini. Pak Anwar ingin hubungannya dengan Olivia membaik, layaknya anak dan ayah yang saling menyayangi.


Adrian yang sedang makan bersama mertuanya pun secara buru-buru menghabiskan makanannya. Dia tidak mau berlama-lama melihat kedua mertuanya yang sedang berdebat.


" Bapak sekarang sudah berubah, tidak sayang lagi dengan Jeni. Bapak lebih berpihak kepada Olivia."Seru ibu Harti.


" Bisa tidak bu tidak bikin bapak marah ? Kita sekarang ada di meja makan, bapak mau makan bu, bukan untuk berdebat."Ucap pak Anwar.


Ibu Harti langsung diam dan tidak membantah lagi. Dia melirik ke arah Adrian yang nampak fokus dengan makanannya. Tidak menunggu lama, Adrian pun selesai makan lalu dia mengambilkan makanan untuk Jeni dan membawanya ke dalam kamar. Bagaimanapun Jeni harus makan, ada nyawa dalam rahimnya yang membutuhkan nutrisi.


" Sayang makan dong."Ucap Adrian masuk dan meletakkan sepiring makanan di atas nakas.


Jeni melirik makanan yang dibawakan oleh Adrian, piring itu berisi nasi sayur sop tanpa ada dagingnya dan telor balado saja. Sama sekali tidak menggugah selera makan Jeni.

__ADS_1


" Cuma ini doang lauknya?." Tanya Jeni sambil menyipitkan matanya.


" Iya memang ibu cuma masak ini saja."Jawab Adrian jujur.


Huuuufffff


Jeni membuang nafas dengan kasar, semenjak Olivia tidak memberi jatah uang bulanan, dirumah nya jarang sekali ada ayam ataupun daging. Bahkan untuk ikan pun mungkin 3 hari sekali, setiap hari hanya telor bahkan terkadang juga tahu tempe.


" Olivia memang keterlaluan, padahal sudah menjadi kewajiban dia untuk memberikan uang bulanan untuk ibu. Kalau begini terus, darimana aku dapat makanan yang bergizi, mana aku sedang hamil."Seru Jeni dengan kesal.


" Sekarang makan dulu ya."Seru Adrian dengan sabar melayani istrinya yang sedang merajuk.


Dengan terpaksa Jeni pun makan dengan makanan yang sudah dibawakan Adrian. Sedari tadi mengurung diri dikamar ternyata membuat perutnya terasa lapar. Dalam sekejap makanan yang dibawakan oleh Adrian pun sudah berpindah ke dalam perut Jeni.


" Mas, bagaimana kalau motor kamu itu di jual dan kita beli mobil?."Tanya Jeni.


" Motor itu cicilannya belum lunas Jen, beli saja baru sekitar 6 atau 7 bulan yang lalu. Kalaupun di jual tetap uangnya untuk pelunasan dulu, iya kalau sisa kalau tombok bagaimana. Itu dulu DP 3 juta, dan cicilan sudah masuk 7 bulan ini."Ucap Adrian yang sebenarnya tidak setuju dengan permintaan Jeni.


Mobil pun pasti cicilan perbulannya semakin besar, bisa jadi uang gajinya hanya cukup untuk cicilan mobil saja. Lantas untuk ibu nya dan kebutuhan hidupnya sehari-hari bagaimana? Bisa-bisa Adrian jual kolornya.


" Kita lihat nanti saja Jen, kalaupun kita beli mobil pasti bisa nya dengan mencicil dan gajiku pasti akan habis untuk bayar cicilan mobil itu. Apa kamu mau kalau tidak aku kasih uang selama cicilan belum selesai? Paling tidak 3 sampai 5 tahun loh Jen."Ucap Adrian memberikan pengertian Jeni.


" Terserah kamu saja Adrian."Ucap Jeni marah lagi.


Haahhh


Adrian membuang nafas nya dengan berat. Jeni memang keras kepala, dan tidak mudah untuk di nasehati ataupun di ajak musyawarah. Jeni selalu ingin menang dengan pendapatnya yang selalu ingin di pakai ataupun didengarkan.


*******


Hari libur seperti ini Olivia harus tetap bekerja, tetapi bekerja di usaha yang dia miliki sendiri. Hari ini rencananya Olivia akan ke kedai keduanya, sudah lama dia tidak berkunjung kesana karena sibuk terus dengan kedai pertamanya.


Saat Olivia sedang menjemur pakaian yang baru saja dia cuci, tiba-tiba Ibu Harti menghampirinya dan langsung mengomel tidak jelas. Kalau saja Ibu Harti itu bukan orang tua mungkin sudah Olivia sumpal dengan pakainya yang masih basah.


" Kamu ini tidak pantas memakai mobil itu, kamu hanya pelayan saja belagu. Berikan mobil itu sama Jeni, karena dia yang lebih pantas mengendarai mobil itu daripada kamu !!."Seru ibu Harti sambil menunjuk wajah Olivia.

__ADS_1


" Boleh saja kalau Jeni mau mobil itu."Jawab Olivia dengan santai.


" Nah bagus, kamu tarok mana kuncinya? Jangan lupa STNK dan BPKB juga harus atas nama Jeni."Seru ibu Harti seenaknya.


" Ok, tapi bayar dulu 250 juta."Jawab Olivia lagi.


Senyum ibu Harti tiba-tiba hilang, dan kini wajahnya nampak Murka. Apalagi setelah tahu mobil itu seharga 250 jura? Dapat uang darimana Olivia beli mobil semahal itu.


" Kamu....."Seru ibu Harti menghentikan ucapannya karena tiba-tiba ada seseorang mengucapkan salam dari pintu depan.


Ibu Marni pun meninggalkan Olivia, dia segera melihat siapa yang bertamu pagi-pagi begini. Jam dinding saja baru menunjukan pukul setengah 8 pagi.


" Cari siapa?."Tanya ibu Harti ketus sambil memperhatikan penampilan pria yang berdiri didepannya.


" Saya Miko, bu. Olivia nya ada?."Tanya Miko dengan sopan.


" Kamu siapanya Olivia?." Tanya ibu Harti penub selidik.


" Saya pacarnya bu."Jawab Miko dengan percaya diri.


Peeffffhhhh


Ibu Harti menahan tawanya, dia menertawakan penampilan pria yang bernama Miko yang saat ini ada di hadapanya. Miko berpenampilan dengan rambut belah tengah klimis, kaca mata besar dan wajah dibuat sedikit kusam dengan pakain yang sangat sederhana.


" Modelan begini yang sekarang menjadi pacarnya Olivia? Hemm... Kalian memang cocok jadi pasangan. Sama-sama kampungan."Ucap ibu Harti mulai merendahkan tamunya.


" Olivia ada kan bu? Tolong panggilkan Olivia ya."Seru Miko lagi.


" Siapa yang datang bu?."Tanya Olivia juga ikut kepo dengan tamu yang datang.


" Pacar kamu."Jawab Ibu Harti.


Olivia langsung menatap pria aneh yang saat ini sudah berdiri di depan pintu. Setelah hampir 5 menit akhirnya dia tahu dan mengenali tamu nya itu, yang ternyata benar pacarnya. Ada-ada saja kelakuan Miko.


************

__ADS_1


__ADS_2