Aku Bukan Pengantinnya

Aku Bukan Pengantinnya
Berdebat dengan satpam


__ADS_3

.


.


.


💐💐 HAPPY READING 💐💐


Dua hari berlalu, kini pak Anwar dan ibu Harti sudah tinggal di rumah kontrakannya. Rumah kontrakan yang lumayan besar, dua kamar. Rumah kontrakan dengan biaya perbulan 800 ribu menjadi pilihan pak Anwar demi mengikuti kemauan dari istrinya.


Hari ini juga Jeni dan ibu Harti akan menyambangi tempat tinggal Olivia. Mereka ingin tahu tempat tinggal Olivia yang baru. Apakah memang sesuai dengan yang dikatakan oleh miko malam itu sebelum mereka memutuskan untuk keluar rumah lebih dulu.


Sekitar jam 9 pagi, Jeni sudah sampai di rumah kontrakan orang tuanya. Kontrakan mereka memang tidaklah jauh, hanya butuh 10 menit saja sudah sampai. Adrian tidak ikut, dia memilih ke rumah ibunya daripada ikut ke rumah Olivia yang dia yakini jika nanti Jeni pasti akan membuat keributan disana.


Jeni dan ibu Harti lebih memilih menaiki taksi online daripada ojek Online. Mereka tidak mau berpanas-panasan, terutama Jeni yang memang takut hitam.


" Bu, apa benar ya kalau Olivia dan suaminya tinggal di perumahan elite ini? Lihatlah bu, mau masuk perumahannya saja dijaga satpam begini?."Ucap Jeni sambil melihat kearah luar mobil dimana kini mereka memang sudah sampai di post satpam.


" Ibu juga tidak tahu. Nanti kita lihat sendiri saja, oh iya sana kamu turun dan bicara sama satpam."Seru ibu Harti meminta Jeni turun.


Tanpa membantah Jeni turun dari mobil dan menemui satpam penjaga pintu masuk komplek. Dia memberitahu jika dia mau berkunjung ke rumah adiknya Olivia dan Miko. Dan ternyata dua satpam yang berjaga itupun mengenal Miko dan Olivia, tanpa menunggu lama setelah Jeni memberikan kartu identitasnya satpam komplek itupun memberikan izin untuk memasuki kawasan komplek.


" Ribet banget sih, cuma mau tahu rumah Olivia saja melebihi mau ketemu pejabat pakai diminta identitas segala."Seru ibu Harti saat Jeni sudah kembali masuk mobil.


" Ini komplek orang-orang elite bu, ya beginilah peraturannya dan memang tidak bisa sembarangan orang masuk."Jawab Jeni menjelaskan agar ibunya tahu bedanya perumahan elite dengan perumahan di tempat tinggalnya.


Mobil taksi online yang dinaiki Jeni dan ibu Harti sudah sampai di depan rumah sesuai dengan alamat yang pernah di sebutkan oleh Miko malam itu.

__ADS_1


" Ini rumahnya pak?." Tanya Jeni kepada sopir taksi.


" Iya mbak, sesuai alamat disini kok."Jawab Pak sopir dengan ramah.


Setelah membayar tagihan taksi online nya, Jeni dan ibu Harti turun dari mobil. Taksi itu meninggalkan keduanya didepan pintu gerbang rumah Olivia. Keduanya nampak terpana dan kagum dengan rumah dua tingkat yang ada didepannya.


" Bu, mereka benarkah tinggal disini?." Tanya Jeni dengan mata masih memandang kagum rumah mewah didepannya.


" Kalau tinggal disini sih mungkin iya Jen, tapi yang pasti mereka cuma sebagai pembantu saja. Mana mungkin si Miko kere itu bisa membeli rumah semewah dan sebagus ini? Ini kalau di taksir harganya bisa sampai 2 atau 3 milyar."Seru ibu Harti masih saja tidak mempercayai jika Miko bisa membeli rumah semewah itu.


Saat mereka sedang berdiri di depan gerbang, ada satpam yang datang menghampiri mereka.


" Maaf cari siapa ya?."Tanya satpam itu dengan matanya yang awas.


" Kami ini mencari temanmu, Olivia dan Miko. Apakah mereka benar tinggal dan bekerja disini?."Tanya Jeni dengan percaya dirinya.


Satpam itu bingung , kenapa Jeni menyebut Olivia dan Miko bekerja dirumah itu. Padahal mereka pemilik rumah yang besar dan mewah itu. Satpam menaruh curiga dengan Olivia dan ibunya, jika mereka mengenal baik Olivia dan Miko pasti tahu jika rumah ini miliknya.


" Hehh... Sama teman sendiri pakai sebut pak dan bu. Panggil saja Miko dan Olivia, kami ini keluarga Olivia. Cepat buka pintunya kami ingin bertemu dengannya."Seru ibu Harti dengan ketus.


Saat satpam menyebu nama Miko dengan tambahan pak Miko, tiba-tiba Jeni teringat dengan Miko bos nya. Kenapa Olivia baru menyadari jika nama suami Olivia dengan bosnya itu sama-sama bernama Miko.


* Heleh cuma nama saja yang sama, tapi nasibnya 180 derajat sangatlah berbeda jauh. Nama keren-keren tapi cuma tukang kebun atau sopir sajakan percuma. Masih bagusan juga pekerjaan suami saya, menejer.*Gumam Jeni dalam hatinya.


" Pak Miko dan bu Olivia tidak ada di rumah, beliau sudah pergi dari tadi pagi. Lebih baik kalian pulang saja dan datang lagi nanti sore, atau sebelum datang kesini telepon dulu." Jawab Satpam dengan jujur.


Olivi dan Miko sudah pergi dari jam 8 tadi, mereka pergi ke rumah paman Arman. Olivia ingin meminta antar paman Arman dan tante Rumi ke makam kedua orang tuanya. Kedua orang tua Olivia dimakamkan di kampung halaman sang ibu, perlu jarak tempuh selama 2 jam perjalanan.

__ADS_1


" Heleh untuk aku telepon dulu, seperti orang sibuk saja."Jawab ibu Harti tetap dengan ketus.


" Ehh buk, dikasih tahu kok malah ketus begitu sih ? Pak Miko dan istrinya itu orang sibuk, kalau mau bertemu mereka harus buat janji dulu atau minimal kasih tahu mereka. Tidak dadakan sukur datang begini, yang ada kalian tidak bisa bertemukan? Sudah sana pulang saja !."Seru pak satpam mengusir Jeni dan ibu Harti.


" Memangnya apa sih kedudukan Olivia dan Miko di rumah ini? Seperti orang sibuk saja bertemu dengannya harus buat janji. Pembantu saja belagu banget sih, sok sibuk."Seru ibu Harti lagi-lagi membuat satpam geram dengan ucapannya yang pedas itu.


" Pak Miko dan Bu Olivia itu majikan saya, dengan begitu mereka itu pemilik rumah ini. Sekarang sudah paham kan? Lebih baik sekarang kalian pergi sebelum saya usir dari komplek ini. Aneh banget, kalau kalian keluarga masa tidak tahu apa-apa."Gerutu satpam.


Jeni dan ibunya tidak percaya begitu saja saat satpam itu mengatakan jika Olivia dan Miko pemilik rumah mewah itu. Mereka menuduh jika satpam itu sudah sekongkol dengan Olivia dan Miko untuk berbohong.


Tanpa mau berlama-lama dan malas berdebat dengan satpam rumah, Jeni dan ibunya meninggalkan rumah Olivia. Mereka berjalan menuju gerbang komplek sambil memesan taksi online.


" Kok cuma sebentar mbak?."Tanya satpam gerbang komplek menyapa Jeni.


" Orangnya tidak ada, hanya bertemu dengan satpam rumah yang bodoh itu."Jawab Jeni dengan ketus.


" Ohh... Iya juga sih, pak Miko dan Bu Olivia pagi tadi memang sudah keluar komplek. Saya juga baru ingat ini, tapi jangan mengatakan satpam disana bodoh dong mbak. Dia itu teman saya juga."Seru satpam protes.


" Dasar para satpam gila ! Memangnya kalian itu siapanya Miko sih? Kok kayaknya kalian itu hormat banget sama Miko sampai panggil nama pakai embel-embel Pak segala. Dasar para satpam bodoh !!."Seru Jeni terlihat kesal karena satpam-satpam semuanya menghormati Olivia dan Miko.


" Loh mbak ini kenapa kok nyolot begitu sih? Pakai ngatain satpam bodoh, jangan macem-macem kamu mbak. Sudah sana-sana pergi yang jauh dan jangan pernah datang lagi ke komplek sini. Heran saya, kenapa ibu Olivia dan pak Miko bisa mempunyai saudara yang gendeng seperti anda."Seru pak Satpam juga terpancing amarahnya karena ucapan Jeni tadi.


Ibu Harti tidak terima dikatakan gendeng oleh satpam komplek itu. Dia maju dan memasang badannya dan berdiri tepat didepan pak satpam. Melihat situasi yang mulai tidak baik, satpam yang sedari tadi duduk di pos nya ikut keluar dan bergabung dengan temannya yang sudah dikeroyok dua wanita.


" Mau apa? Berani kalian sama kami?."Seru satpam sambil memukul-mukul tongkat ketelapak tangannya.


" Bu, sudah jangan dilanjutkan. Mereka bukan tandingan kita, lihat tuh tongkatnya saja sebesar itu yang ada bisa benjol kepala kita kalau sampai itu dipukulkan kekita."Seru Jeni menarik ibunya menjauh.

__ADS_1


" Pergi sana !! Menjauh dari pos satpam, jangan menunggu taksi disini ! Mengganggu saja !."Seru satpam dengan sedikit berteriak sehingga Jeni dan ibunya ketakutan.


***************


__ADS_2