
.
.
.
💐💐 HAPPY READING 💐💐
Jeni terus kefikiran ucapan dari Firda tadi, jika diam-diam selama 2 tahun ini Olivia mempunyai usaha kedai boba. Dan kedai itu memang lumayan besar dan ramai, tak jarang Jeni dan teman-teman nya memesan minuman disana.
* Kenapa aku tidak sadar ya, padahal kedai boba itu memakai nama Olivia? Boba Olivia !! Hemm.. Ini harus aku laporkan sama ibu, jika ibu tahu pasti ibu juga akan meminta keuntungan dari penjualan. Lagipula, kedai itu ada sebelum Olivia menikah. Jadi ada hak kami juga dong disana.*Gumam Jeni dalam hatinya.
" Wahh hebat juga si Olivia ya? Coba dulu ibu tetap memilih Olivia untuk menjadi menantu ibu, pasti ibu bisa setiap hari minum boba. Tapi mau bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur, percuma saja menyesal."Seru ibu Juleha sambil melirik Jeni.
Makanan yang ada di tenggorokan Jeni terasa susah untuk dia telan. Mau dia muntahkan pun susah, mau tidak mau Jeni tetap menelannya meskipun sulit. Sepertinya Firda sengaja ingin menjatuhkan Jeni dengan cara membanding-bandingkan dia dengan Olivia. Jeni paling tidak suka jika dibanding-bandingkan apa lagi dibandingkan dengan Olivia. Wanita yang saat ini sangat-sangat dia benci.
" Bu, setelah makan malam ini nanti, Adrian dan Jeni akan pulang ke rumah kontrakan kami sendiri. Oh iya mbak, bisa tidak sih kalau tidak bahas masalalu Adrian lagi."Ucap Adrian sengaja bicara seperti itu agar Firda mengganti topik pembicaraannya.
Adrian sendiri kurang nyaman saat kakaknya terus membicarakan dan membanggakan Olivia. Adrian tahu jika kakaknya memang dekat dan akrab dengan Olivia, akan tetapi bukan berarti Kakak seenaknya berbicara seperti itu di depannya. Adrian juga merasa tersinggung dengan ucapan kakaknya tadi.
" Kenapa pulang? Jadi kamu tersinggung dengan ucapan ku tadi?."Seru Firda dengan senyum kecut memandang ke arah Adrian.
__ADS_1
" Apaan sih mbak? Tidak ada yang tersinggung, kami pulang karena memang ingin pulang kok. Lagian kisah ku dengan Olivia itu sudah menjadi masalalu, tidak perlu dibahas lagi."Jawab Adrian tidak kalah kesal dengan Firda.
" Lagian kamu memang pria bodoh !! Membuang berlian demi batu kerikil jalanan seperti itu. Beginilah kalau ot4k nya cuma mesum saja yang difikirin, samapai berselingkuh dan melepaskan wanita sebaik Olivia. Tapi aku bersyukur Olivia tidak jadi menikah dengan kamu, karena jika dia menikah dengan kamu belum tentu hidupnya akan bahagia sekarang."Ucap Firda tetap saja membela Olivia.
Brrraakkkk
Adrian memukul meja makan sampai air putih yang ada di hadapanya tumpah dan gelasnya pun jatuh. Pecahan gelas itu berserakan di lantai, melihat kedua anaknya yang ribut membuat ibu Juleha langsung pasang badan. Sudah pasti saat ini yang dia bela tetap si Adrian, anak laki-laki yang dia banggakan.
" Firda !! Lebih baik kamu pulang ke rumah mu sendiri dan bawa pulang anakmu itu. Pusing ibu, sekarang kalian itu ribut terus kerjaannya. Kamu juga Fir, sedari tadi terus menyudutkan adik kamu terus. Biarpun dia seperti itu, setiap bulan dia bisa memberikan ibu uang bulanan. Lah kamu apa? Kalau tidak menggarap sawah itu juga hidupmu susah, apa lagi mengandalkan gaji suami mu yang kecil itu."Seru Ibu Juleha dengan berkacak pinggang.
Firda sudah sering bahkan sudah puas selalu di banding-bandingkan dengan Adrian. Memang dulu Firda setelah lulus SMA langsung memutuskan untuk menikah tanpa kerja lebih dulu. Sebenarnya dulu Firda ingin berkuliah tetapi ibu Juleha tidak mengizinkannya. Dia beralasan uang tabungannya hanya cukup untuj biaya menguliahkan Adrian. Padahal saat Firda lulus SMA Adrin masih kelas 3 SMP, masih ada waktu untuk mengumpulkan uang lagi untuk menguliahkan Adrian.
" Sayang yuk kita pulang."Seru Firda langsung mengajak anaknya pulang.
" Sudah lanjutkan makan kalian, ibu mau masuk kamar dulu. Jeni, sebelum pergi bereskan meja makan dan cuci peralatan makan yang kotor. Kamu juga tadikan tidak bantu memasak. Nanti kalau pulang, pulang saja tidak perlu pamit sama ibu. Jangan di kunci pintunya, karena Ayahmu tidak bawa kunci rumah."Seru Ibu Juleha lalu beranjak meninggalkan meja makan.
Huuufffttt...
Jeni menghela nafas dengan kasar, dia kesal kenapa juga harus dia sendiri yang membereskan semuanya. Adrian melirik Jeni yang nampak tidak suka dengan perintah ibunya tadi. Melihat Adrian yang memandangnya dengab aneh, Jeni pun merubah ekspresi wajahnya. Dia menyunggingkan senyum dan pura-pura tidak keberatan dengan perintah ibu mertuanya.
Adrian sendiri tahu jika Jeni hanya berpura-pura saja, tidak mudah bagi Jeni untuk merubah sikapnya dengan cepat. Adrian masih mentolerirnya selagi Jeni mau berusaha berubah. Jika bukan sebuah penghianatan, Adrian masih bisa memakluminya.
__ADS_1
Selesai makan malam, Jeni membereskan meja makan dan mencuci piring sendirian tanpa bantuan dari Adrian. Ternyata, di wastafel perkakas masuk masih menumpuk belum di cuci. Firda tadi sengaja tidak mencucinya, agar Jeni yang mencucinya.
Urusan Jeni mencuci piring dan perkakas yang lainnya selesai dalam 35 menit. Waktu yang lumayan lama, wajar Jeni memang belum bisa mengerjakan pekerjaan rumah dengan cepat.
" Bawa tas kamu keluar sendiri."Seru Adrian meminta Jeni membawa tas yang berisi pakaiannya sendirian.
" Tangan ku pegal-pegal Adrian, tolong kamu saja sih yang bawa."Seru Jeni mencoba bermanja-manja dengan Adrian.
" Tidak mau ya sudah. "Seru Adrian lalu keluar kamar menuju motor yang terparkir di teras rumah.
Mau tidak mau, Jeni pun tetap membawa tas pakaiannya itu sendirian dengan hati yang kesal dan dongkol. Tidak tahu kenapa hari ini dia dibut kesal oleh siapa saja orang yang ada di rumah mertuanya.
" Cepat naik, Jeni."Seru Adrian meminta Jeni untuk naik ke motor.
Adrian masih banyak pekerjaan, sehingga dia ingin segera cepat pulang dan mengerjakan pekerjaan kantor.
" Iya, iya bawel amat sih. Ini juga susah, tasnya besar begini. Kamu juga kenapa kemarin itu mengambil bajuku 1 tas begini. Kamu kira mau pindahan ke rumah orang tuamu."Seru Jeni kesal.
" Jangan banyak omong, Jeni !! Cepat naik !!."Bentak Adrian dengan mengeraskan suaranya.
Buru-buru Jeni naik ke motor dengan susah payah. Jika Adrian sudah mengeraskan suaranya begitu ternyata mengerikan juga. Daripada nanti tidak jadi pulang, Jeni pun akhirnya mengikuti apa kata Adrian.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan pulang Adrian dan Jeni tidak saling bicara. Adrian fokus dengan jalan sedangkan Jeni sedang memikirkan cara agar bisa merebut satu kedai boba milik Olivia. Dengan begitu dia bisa mengelolanya dan tidak perlu untuk susah-susah mencari pekerjaan lagi.
************