
.
.
.
💐💐 HAPPY READING 💐💐
Tringg
Tringg
Ponsel Olivia ada notofikasi pesan masuk. Olivia yang memang sedang menunggu Miko yang bersiap-siap, sedang memainkan ponselnya. Dengan cepat dia membuka dan membaca pesan yang masuk.
[ Jangan senang dulu kamu Olivia, gara-gara kamu aku jadi seperti ini. Pernikahanmu itu pembawa si4l ! ]
[ Meskipun kamu sudah menikah dan ada suami yang katanya bisa melindungi kamu, aku tidak akan pernah takut !! Aku akan balas semuanya.]
Degghh
Dua pesan beruntun dari Jeni berhasil membuat Olivia syok. Pernikahan pembawa si4l ? Olivia tidak tahu apa maksud Jeni mengirim pesan seperti itu. Olivia sama sekali tidak melakukan apa-apa, kenapa bisa Jeni menyalahkannya atas apa yang menimpa Jeni.
Olivia berusaha untuk tenang dan tidak terpancing emosi. Diapun mengetik pesan balasan untuk Jeni.
[ Maksud kamu apa? Apa salahku sampai kamu menyalahkan aku atas musibah yang menimpa kamu? Apa karena kamu terkena musibah saat hari pernikahanku, jadi kamu beranggapan aku yang salah dan pernikahanku pembawa si4l? Picik sekali pemikiranmu, Jen.]
Tidak sampai lima menit Jeni pun sudah membalas pesan yang dikirimkan Olivia tadi.
[ Iya. Gara-gara kami mau datang kepernikahan kamu, aku sampai keguguran seperti ini. Kamu memang tidak melakukan apa-apa, tapi pernikahan kamu itu yang pembawa si4l.]
Olivia membaca pesan itu sambil menggelengkan kepalanya. Ot4k manusia seperti Jeni memang minta untuk di cuci lebih dulu agar bersih. Olivia sudah tidak mau membalas pesan Jeni, dan diapun memutuskan untuk tidak menjenguk Jeni untuk menghindari keributan dan tetap menjaga ke warasannya.
" Olivia sayang, aku sudah siap."Seru Miko menghampiri Olivia.
" Maaf sepertinya kita tidak usah menjenguk Jeni."Ucap Olivia membatalkan niatnya untuk menjenguk Jeni.
" Kenapa?."Tanya Miko heran sambil menautkan kedua alisnya.
__ADS_1
Olivia tidak menjawabnya, dia memberikan ponselnya kepada Miko agar Miko bisa membaca pesan yang dikirim Jeni. Miko segera membaca pesan-pesan yang dikirimkan Jeni.
" Kamu benar, kita tidak perlu kesana. Ya sudah sekarang kita keluar cari makan malam dulu, perutku sudah lapar."Ucap Miko sambil mengusap perutnya.
" Iya."Jawab Olivia singkat.
Olivia dan Miko keluar rumah untuk mencari makan malam. Malam ini Miko akan membuat istrinya bahagia agar dia melupakan pesan-pesan yang tadi dikirimkan oleh Jeni. Suatu saat nanti Miko akan memecat Jeni dari perusahaannya.
* Tunggu saja Jeni, meskipun kamu itu saudara istriku. Aku tidak akan membiarkan kamu mengganggu hidup istriku lagi. Dulu mungkin bisa kamu merebut apapun yang menjadi milik istriku, tapi tidak dengan sekarang. Ada aku yang akan melindungi istriku.*Gumam Miko dalam hatinya.
" Kalian jadi menjenguk Jeni?."Tanya pak Anwar.
" Tidak jadi."Jawab Miko dengan singkat.
" Loh kenapa tidak jadi? Bukannya tadi kalian bilang mau menjenguk Jeni?."Tanya pak Anwar dengan wajah keheranannya.
" Tidak jadi Yah. Olivia tidak mau kedatangan Olivia kesana justru akan membuat keributan. Olivia malu kalau harus ribut di rumah sakit."Jawab Olivia.
Pak Anwar tidak bisa memakasa Olivia untuk menjenguk Jeni. Mungkin saja apa yang dikatakan Olivia ada benarnya juga. Sebagai orang tua dan ayah, tentunya pak Anwar ingin Olivia dan Jeni hidup damai dan rukun. Saling tolong menolong satu sama lain. Akan tetapi sepertinya apa yang diharapkan pak Anwar itu tidak akan pernah terwujud, mengingat Jeni yang terlalu membenci Olivia dan merasa iri dengan pencapaian dan apapun yang dimiliki Olivia.
Miko sudah banyak tahu bagaimana selama ini pak Anwar dan anak istrinya memperlakukan Olivia. Tentunya bukan Olivia sendiri yang menceritakan, Olivia hanya menceritakan secara garis besarnya saja. Miko tahu semua dari tante Rumi, tante Rumi lah yang menceritakan.
" Eh.. Em. Apa sajalah. Aku tidak pemilih makanan."Jawab Olivia sedikit terbata-bata.
" Melamun ya? Apa sih yang kamu lamunin? Bagaimana kala kita makan di restoran Citra rasa, mau tidak?."Seru Miko sambil melirik Olivia yang nampak salah tingkah.
Restoran Citra rasa adalah restoran orang-orang elit, yang 1 porsi makanannya saja harganya bisa untuk makan 2 hari. Meskipun belum pernah makan disana, Olivia sudah tahu betapa mahalnya restoran itu.
" Makan ayam bakar saja, itu di depan deretan ruko-ruko itu ada banyak penjual makanan kok. Kita tinggal pilih saja, tidak perlu jauh-jauh ke restoran citra rasa."Jawab Olivia memilih makan yang dekat saja.
" Ok, akan aku turuti permintaan istri tercintaku."Seru Miko sambil tersenyum manis.
Miko belum tahu tempat makan yang dimaksud Olivia, tempat makan yang hanya buka dimalam hari saja dengan bangunan seperti tenda dari terpal yang bagian dindingnya terbuat dari spanduk menu makanan yang dijual.
" Mana tempat makannya?."Tanya Miko mencari keberadaan tempat makan yang dimaksud Olivia.
" Itu yang ada di depan-depan ruko. Itukan sudah berderet dengan rapi."Jawab Olivia sambil menunjuk ke tenda-tenda para pedagang.
__ADS_1
* Maksud Olivia makan disini? Masa iya sih Olivia ngajakin makan di sini? Enak tidak? Bersih tidak?.*Gumam Miko dalam hatinya.
Meskipun begitu, Miko tetap menghentikan mobilnya dan memarkirkan mobilnya. Dia tidak langsung turun seolah ragu dengan tempat makan pilihan Olivia.
" Kenapa tidak turun? Tidak mau makan disini?."Tanya Olivia seakan tahu apa yang ada difikiran Miko.
" Ehh.. Mau dong. Ya sudah yuk kita turun."Jawab Miko sedikit berbohong.
Akhirnya sepasang pengantin baru itupun turun dari mobil dan langsung masuk ke salah satu tenda yang menyediakan menu ayam dan ikan.
" Kamu mau makan pakai apa?."Tanya Olivia.
" Menunya adanya apa saja?."Tanya Miko balik.
" Banyak, ada ikan, ayam, belut, udang, mau yang goreng atau bakarpun ada."Jawab Olivia memberitahu menu apa saja yang tersedia.
" Emm samakan saja sama kamu."Jawab Miko bingung mau memilih menu yang apa.
Olivia mengangguk, dia memesan dua menu yang sama dan ditambah tahu tempe serta cah kangkung favoritenya. Warung ini adalah langganannya , saat doa malas makan dirumah dia akan makan disini.
Setelah menunggu 20 menit, pesanan Olivia sudah terhidang di atas meja. Ayam bakar yang sangat menggugah selera ditambh dengan sambal terasi yang pedas nampol. Olivia mencuci tangannya di kobokan yang sudah disediakan.
" Ayok makan."Seru Olivia yang sedari tadi melihat Miko hanya diam sambil memperhatikannya.
" Tidak ada sendok?."Tanya Miko ragu-ragu.
Miko tidak bisa makan tanpa sendok, karena memang tidak terbiasa.
" Tidak ada, makan seperti ini enak pakai tangan begini. Tapi kalau mau sendok bentar aku minta dulu sama abang penjualnya."Ucap Olivia.
" Tidak usah, biar pakai tangan saja."Jawab Miko seakan malu. Dia melihat kesekelilingnya semua nya makan dengan tangan kosong.
Miko mulai mencoba makan tanpa sendok, dia melihat cara Olivia makan. Pertama kali mencoba dia kesulitan dan nasi hanya sedikit yang masuk mulut. Tidak putus asa, Miko mencoba lagi dan akhirnya dia sudah mulai bisa.
* Hemm.. Ayam bakar dan sambal ini enak sekali. Pantas saja Olivia mengajak makan disini, hemm bisa jadi langganan nih. Ternyata makanan di tempat seperti ini tidak seburuk yang aku kira. Tempatnya pun bersih, dan pelanggannya pun banyak.*Gumam Miko dalam hati.
Olivia menikmati makanannya dalam diam dengan sesekali melirik Miko yang sedikit kesusahan makan tanpa sendok.
__ADS_1
* Orang kaya diajak makan dipinggir jalan, ya begini. Miko harus terbiasa, karena aku tidak suka makan di restoran mewah. Hehee.. Sepertinya aku egois.*Gumam Olivia.
************