Aku Bukan Pengantinnya

Aku Bukan Pengantinnya
Membagi gaji bulanan


__ADS_3

.


.


.


💐💐 HAPPY READING 💐💐


Adrian tidak bisa berbuat banyak untuk menolong Jeni agar tidak di pecat. Dia tidak mau jika jabatannya yang akan menjadi taruhannya jika dia mencoba memprotes keputusan Miko. Bagaimanapun saat ini pekerjaan lebih penting, tidak bekerja ya tidak makan. Mana harus bayar cicilan motor, bayar kontrakan ditambah lagi Jeni yang sudah di pecat. Akan semakin rumit saja keuangan Adrian.


Sore itu Adrian pulang sendirian karena Jeni sudah pulang lebih dulu. Sebenarnya malas sekali dia pulang ke kontrakan, yang ada Jeni pasti akan marah-marah tidak jelas. Dia mau nongkrong dengan teman-temannya pun itu sebuah pemborosan.


Dulu sebelum menikah setiap habis gajian pasti Adrian akan nongkrong dengan teman-temannya sampai dia mengabaikan pesan dan telepon dari Olivia. Tak jarang Adrian dulu juga meminjam uang Olivia, 100 sampai 300 ribu tapi tidak pernah dia kembalikan.


Motor Adrian berbelok ke Atm yang tidak jauh dari rumah kontrakannya. Hari ini dia gajian dan ini gaji pertamanya selama dia menjabat sebagai menejer. Meskipun belum ada sebulan menjadi menejer, Adrian tetap digaji utuh 1 bulan gaji menejer.


" Gajiku sekarang memang sudah 12 juta, aku takut gaji ini akan menjadi gaji terakhirku. Aku takut pak Miko memecatku, karena aku juga sudah pernah merendahkannya dan menghina dia pria miskin. Sampai aku dipecat bisa hancur semuanya, cari kerja pun pasti akan susah. Aku ambil 5 juta saja dulu, 2 juta untuk ibu dan 2 juta untuk kebutuhan rumah dan 1 juta untuk peganganku. Hemm.. Mana 3 hari lagi juga jatuh tempo bayar cicilan motor. "Ucap Adrian bicara pada dirinya sendiri.


Adrian mengambil uang 5 juta saja, sisanya dia biarkan dalam ATM. Jika dia tarik semua pasti akan habis tidak tersisa. Setelah uang sudah di tarik, Adrian kembali melanjutkan perjalanan pulangnya.


Tidak sampai 10 menit, motor Adrian sudah sampai di halaman rumah kontrakan berbarengan dengan ojek online yang di naiki ibu Juleha.


Hhhuuuffffft....


Melihat ibunya datang, Adrian hanya bisa membuang nafas dengan kasar. Ibunya datang pasti ingin meminta uang bulanannya, sebagai anak laki-laki Adrian selalu melakukan kewajibannya. Selama ini dia tidak mau membantah ibunya, apa yang diminta ibunya selalu dia turuti. Adrian memang anak yang berbakti, namun terkadang baktinya itu di manfaatkan ibunya untuk terus mengusai uangnya.


" Baru pulang kamu, Adrian? Loh Jeni mana?." Tanya ibu Juleha mencari keberadaan Jeni yang tidak pulang bareng Adrian.


" Jeni sudah pulang lebih dulu bu, mungkin dia sudah ada di dalam. Ibu ngapain kesini?." Tanya Adrian pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


" Biasa lah masa iya kamu lupa sih. Hari ini kamu kan gajian, ibu datang mau mengambil jatah bulanan ibu dong. Sudah ada kan?." Seru ibu Juleha dengan senyum merekah.


Heemmmm...


Adrian hanya mengangguk sambil berdehem saja lalu dia melangkah menuju rumah. Pintu kontrakan tidak terkunci, berarti Jeni memang ada dirumah.


" Jen, Jeni.. Ada ibu ini Jen."Seru Adrian berteriak memanggil Jeni yang ternyata Jeni sedang tidur.


* Ternyata dia sedang tidur, enak banget dia sekarang bisa tidur semaunya begini. Suami pulang bukannya di sambut atau dibuatkan minuman ini malah tidur. Padahal dia juga sudah pulang dari tadi, mana sekarang dia pengangguran lagi. Huuuhh nasib nasib, kenapa hidupku jadi serumit ini sih.*Gumam Adrian sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Adrian membangunkan Jeni dengan cara menggoyang-goyangkan tubuh Jeni. Jeni pun terbangun dan dia marah karena Adrian sudah mengganggu tidurnya.


" Apaan sih mas, aku ini mengantuk."Seru Jeni masih bermalas-malasan di kasur.


" Bangun, itu ada ibu. Buatkan minum sana , sudah tahu suami baru pulang bukannya dibuatkan minuman malah molor. Sana cepat bikin minum untuk ibu, jangan lupa buatkan aku kopi juga. Aku tunggu di ruang tamu sama ibu."Seru Adrian lalu dia keluar dari kamar.


Adrian mendengar ucapan Jeni tadi, dia hanya menggelengkan kepalanya saja. Jeni memang sangat jauh beda dengan Olivia, tapi begitu bodohnya dulu dia malah memilih berselingkuh dengan Jeni dan menikah dengan Jeni. Nasi sudah menjadi bubur dan Adrian harus bisa menerima semuanya.


" Mana Jeni?."Tanya ibu Juleha.


" Masih di kamar bu, tadi dia sedang istirahat sebab tadi di kantor dia pingsan makanya dia pulang lebih dulu terus istirahat. Tapi sudah Adrian bangunkan kok bu, dia Adrian suruh bikin minum."Jawab Adrian sedikit berbohong.


Adrian tidak mau mengatakan jika Jeni baru saja di pecat, Adrian tidak mau membuat ibunya kecewa. Terlebih Jeni adalah menantu kesayangannya, dan juga pilihannya. Gara-gara ibunya juga Adrian berselingkuh dengan Jeni, karena ibunya ingin mempunyai menantu yang pekerja kantoran dan pandai merawat diri.


" Silahkan diminum bu."Ucap Jeni meletakkan dua cangkir teh dan kopi di atas meja.


" Terima kasih Jen."Jawab ibu Juleha dengan lembut.


* Ciihhh... Pasti datang kesini hanya untuk meminta uang saja. Sepertinya mulai sekarang Adrian harus menghentikan jatah bulanan untuk ibunya. Karena aku juga sudah tidak bekerja, tentunya jatahku juga harus lebih. Ya kali masih 1 juta saja, lagian bapak mertua juga masih bekerja dan mbak Firda juga ada, minta saja sama anak perempuannya itu.*Gumam Jeni dalam hati.

__ADS_1


Semakin hari Jeni semakin kesal dengan ibu mertuanya yang mata duitan itu. Tapi karena dukungan ibu Juleha juga dulu Jeni bisa menggeser posisi Olivia dan bisa menikah dengan Adrian.


" Mana jatah bulanan ibu, Adrian? Tidak usah berlama-lama, karena sudah semakin sore juga."Ucap Ibu Juleha langsung pada intinya.


" Iya bu, ini Adrian juga sudah ambil uangnya kok. Tadi sebelum pulang Adrian mampir dulu ke ATM."Seru Adrian lalu dia mengeluarkan dompetnya yang terlihat lebih tebal dari hari-hari biasanya.


Mata ibu Juleha berbinar saat Adrian mengeluarkan lembaran-lembaran merah dari dalam dompetnya. Adrian menghitung sebanyak 20 lembar dan dia serahkan kepada ibunya. Akan tetapi, bukannya berterima kasih ibu Juleha justru memprotes uang yang diberikan Adrian.


" Kok cuma 2 juta? Ibu kan minta tambah Adrian, jadi 4 juta atau 5 juta gitu. Pasti saat ini gaji kamu juga sudah besar, masa iya menejer gajinya tetap saja seperti karyawan biasa."Seru ibu Juleha protes.


" Jatah ku mana mas?."Seru Jeni sambil menengadahkan tangannya di hadapan Adrian.


Belum juga Adrian menjawab perkataan ibunya tadi, Jeni sudah lebih dulu menyela. Adrian pun memberikan sejumlah uang yang sama kepada Jeni. Sama seperti ibu Juleha tadi, Jeni pun memprotes uang yang diberikan oleh Adrian. Setahu dia gaji Adrian itu 12 juta tapi kenapa cuma 2 juta yang dia berikan.


" Mas kok cuma 2 juta?."Tanya Jeni protes.


" Mau kamu berapa Jen? Itu juga sudah lebih 1 juta kan, apa kamu mau 1 juta saja seperti bulan-bulan kemarin?"Seru Adrian sambil menautkan kedua alisnya.


" Gaji kamu kan 12 juta."Seru Jeni masih saja protes.


" Ibu juga tidak mau kalau cuma 2 juta, ibu mau 4 juta. Lagian kenapa juga Jeni kamu tambah 1 juta, bukannya dia itu juga punya penghasilan sendiri. Jadi istri harus bisa bantu keuangan suami dong Jen."Ucap ibu Juleha.


Adrian pusing menghadapi istri dan ibunya yang meributkan soal uang bulanan yang diberikan olehnya.


" Bu, Jen.. Aku jadi menejer juga baru 2 minggu masa iya gaji sudah full. Untuk bulan ini aku di gaji sesuai gajiku sebelumnya, mungkin bulan depan baru aku terima gaji sebanyak 12 juta seperti yang kamu katakan tadi. Lihat ini di dompetku hanya tinggal uang 1 juta saja, belum untuk bayar cicilan motor , belum beli bensin dan lainnya."Seru Adrian sambil membuka lebar-lebar dompetnya.


Jeni tidak percaya dengan penjelasan Adrian, yang dia tahu gaji yang di terima Adrian itu tetap gaji sebagai menejer. Jeni pura-pura percaya saja, dan dia akan menanyakannya saat ibu mertuanya yang mata duitan itu sudah pulang.


**************

__ADS_1


__ADS_2