Aku Bukan Pengantinnya

Aku Bukan Pengantinnya
Permintaan resepsi


__ADS_3

.


.


.


💐💐 HAPPY READING 💐💐


Miko, Olivia dan kedua mertuanya sudah ada di meja makan. Di depan mereka sudah ada makanan yang semuanya di masak oleh Olivia. Mata Sarah melirik sekilas ke arah Olivia, tanpa sadar Sarah menarik sudut bibirnya. Senyum tipis Sarah itu tidak ada orang yang menyadarinya.


" Silahkan makan Ma, Pa."Seru Olivia membuka suara menawarkan mama dan papa mertuanya untuk memulai makan malamnya.


" Ini semua yakin kamu yang masak?."Tanya Sarah penuh selidik.


" Alhamdulillah semuanya Olivia yang memasaknya, Ma. Semoga mama dan papa suka dengan masakan Olivia ini. Maaf kalau Olivia cuma menghidangkan menu seperti ini, emm soalnya tadi dadakan juga mama kasih kabarnya."Ucap Olivia sedikit menundukkan kepalanya karena sungkan bicara dengan mertuanya.


" Ini juga sudah banyak kok, Liv. Sudah jangan hiraukan mama mertua kamu, sekarang kita makan saja. Papa sudah sangat lapar sekali ini, perdana mau mencoba masakan menantu papa. Kalau masakannya enak bakal sering-sering makan disini nanti Papa."Ucap Pak Wirya mencairkan suasana tegang dengan candaannya.


Olivia mengangguk dengan mengulas senyum ramahnya. Tangannya mulai mengambilkan makanan untuk suaminya lebih dulu baru dia akan mengambil untuk dirinya sendiri. Papa mertuanya sudah di ambilkan oleh istrinya sendiri. Suasana makan malam lebih tenang, tidak ada celotehan dari mulut Sarah lagi. Hanya dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring.


" Masakan kamu enak sekali, Liv."Seru pak Wirya memuji masakan Olivia.


" Olivia memang pandai memasak, Pa. Apa saja yang dia masak pasti akan terasa enak."Miko menyambar pertanyaan papanya.


" Alhamdulillah kalau papa suka sama masakan Olivia."Seru Olivia malu-malu.

__ADS_1


* Enak sih masakan istrinya si Miko ini. Cocok di lidahku dan rasanya juga pas, hampir sama dengan masakanku. Ini berarti apa aku harus mulai menerima dia ?.*Gumam Sarah dalam hatinya.


Sarah memperhatikan Olivia, dia mengakui jika Olivia itu cantik dan cerdas. Sedikitpun Olivia tidak ada kekurangan, hanya saja kenapa Olivia berasal dari kampung dan miskin. Sarah hanya khawatir jika para teman-teman arisannya akan membully nya jika tahu asal usul Olivia.


Setelah selesai makan malam, Miko mengajak mama dan papanya untuk duduk santai di ruang keluarga. Olivia membantu bik Surti membereskan meja makan dan membuatkan teh kopi untuk mertua dan suaminya. Tidak lupa Olivia juga menghidangkan kue yang tadi dia beli saat pulang dari rumah sakit.


" Silahkan diminum Ma, Pa."Seru Olivia dengan ramah dan sopan.


" Iya, terima kasih." Jawab pak Wirya singkat.


Setelah memulangkan nampan ke dapur, Olivia ikut bergabung dengan suami dan kedua mertuanya. Untuk sesaat Olivia hanya menyimak obrolan bisnis antara suaminya dan sang papa mertuanya. Hingga akhirnya mereka semua di kagetkan oleh pertanyaan Sarah yang secara tiba-tiba.


" Kapan kalian akan melaksanakan resepsi?."Tanya Sarah secara tiba-tiba.


" Resepsi?." Lirih Olivia pelan.


* Apa mama sudah bisa menerima Olivia? Semoga saja iya, untuk apa mama meminta resepsi kalau mama belum bisa menerima Olivia.*Gumam Miko dalam hatinya.


" Kami pasti akan mengadakan resepai Ma."Jawab Miko pasti.


" Seminggu. Iya seminggu lagi respsi itu harus sudah terlaksana, mama tidak mau tahu."Seru Sarah tegas dan memaksa.


Miko dan Olivia saling beradu pandang, Miko memang akan mengadakan resepsi tapi tidak untuk sekarang. Sebab pekerjaannya di kantor sedang menumpuk, dia tidak mau Olivia kecapean jika harus menyiapkan sendiri. Meskipun pakai jasa WO tetap saja konsepnya mereka yang memilih.


" Tapi ma, di kantor pekerjaan Miko sedang banyak."Ucap Miko.

__ADS_1


" Terus mau sampai kapan? Kalau menunggu kamu tidak sibuk ya jelas bakal tidak terlaksana, kalian diam saja. Biar mama yang urus, nanti mama bisa bsyar WO dan biar mama yang memilih konsepnya dan mengawasinya. Pokoknya resepsi itu minggu depan harus sudah terlaksana, kalian terima jadi saja. Menikah sudah sebulan lebih kok belum ada resepsi, bikin malu saja."Celetuk Sarah dengan kesal.


Miko hanya bisa senyum-senyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia senang sepertinya mamanya menunjukan jika dia sudah bisa menerima Olivia sebagai menantunya sampai ingin mengadakan resepsi secepat itu.


" Baik Ma, kami ikut apa kata mama saja. Nanti biar Olivia bantuin mama. Emm.. Ma, Miko undang tetangga-tetangga Olivia boleh kan?."Tanya Miko yang ingat jika dia pernah janji akan mengundang para tetangga Olivia saat acara resepsi mereka.


" Boleh, tunjukan sama tetangga istrimu itu jika kamu itu orang kaya dan baik hati."Jawab Sarah sedikit menyombongkan dirinya.


Hhhuuufffff


Pak Wirya yang sedari tadi diam menyimak pun ikut membuang nafasnya dengan berat. Dia mengakui jika istrinya itu memang sedikit sombong, tapi baik hati.


Olivia bingung harus bagaimana, resepsi yang di minta mama mertuanya itu pasti bukan sembarangan resepsi. Yang datang juga banyaj dari kalangan elite, Olivia khawatir jika para tamu dari tempat tinggalnya akan membuat mama mertuanya malu. Bukan maksud Olivia untuk berfikir buruk atau merendahkan para tetangganya, Olivia tahu bagaimana mulut-mulut para tetangganya. Apalagi mereka belum pernah datang di pesta mewah apalagi di gedung. Tapi Miko sendiri yang memintanya.


Apalagi hubungan dengan keluarganya yang tidak baik. Olivia semakin khawatir jika keluarganya akan bicara yang tidak-tidak dan mengacaukan acara resepsinya. Terlebih Ibu Harti dan Jeni, dua wanita itu paling tidak suka melihat Olivia bahagia. Namun Olivia tidak bisa menghalangi mereka untuk datang, bagaimanapun mereka keluarganya juga. Selain mereka, Olivia juga akan mengundang keluarga paman Arman.


" Ma, kita pulang yuk. Sudah malam ini, waktunya Miko sama Olivia untuk istirahat. Siapa tahu mereka mau mencetak cucu untuk kita."Seru pak Wirya sambil melirik Miko.


" Apaan sih pa, tidak begitu juga kali bicaranya."Seru Miko nampak malu-malu.


" Halah papa itu juga pernah muda Miko, apalagi pernikahan kalian ini masih terhitung baru. Pasti maunya begitu terus, iya kan? Sudahlah jangan malu begitu, sesama lelaki ini."Ucap pak Wirya.


" Yuk pulang."Seru Sarah bangkit menghentikan perbincangan Miko dan Papanya.


Mulai malam ini Sarah sudah mulai membuka hatinya untuk bisa menerima Olivia sebagai menantunya. Meskipun belum sepenuhnya, setidaknya dia sudah mau mencoba. Dia hanya ingin melihat anak laki-lakinya hidup bahagia dengan wanita pilihannya sendiri. Olivia juga bukan wanita yang buruk, meskipun belum tahu banyak tahu tentang Olivia. Sarah yakin Olivia wanita yang baik.

__ADS_1


************


__ADS_2