Aku Bukan Pengantinnya

Aku Bukan Pengantinnya
Souvenir mahal


__ADS_3

.


.


.


💐💐 HAPPY READING 💐💐


" Akhirnya dapat giliran foto juga. Hemm.. Antri sampai 2 jam cuma ingin foto sama kamu, Liv."Seru Maya sambil menggelengkan kepalanya.


Rita dan Maya memang menunggu antrian foto sampai 2 jam lebih. Jika bukan karena Olivia, mungkin Rita dan Maya sudah pulang sedari tadi tanpa berfoto dengan sang pengantin yang sudah tidak baru lagi.


Acara resepsi itu memang dibuat hanya samap sore saja, sehingga para tamu undangan membludak. Dan semua meminta ingin foto dengan pengantin, mau tidak mau Olivia dan Miko mengiyakan.


Miko memang meminta acara dibuat dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore saja. Malam ditiadakan, karena Miko tidak mau membuat Olivia kecapean dan akan jatuh sakit. Dan jika sampai malam, pastinya tamu akan semakin banyak lagi yang di undang.


" Kalian tahu sendirikan kalau memang tamunya sebanyak apa tadi. Aku senang kalian masih disini, aku kira tadi kalian sudah pulang duluan tanpa pamit. Sebab aku sedari tadi mencari-cari keberadaan kalian duduk tidak ketemu."Seru Olivia nampak senang karena kedua temannya masih standby disana.


" Halah.. Kayak tidak tahu si Maya saja kamu ini Liv. Dia itu kalau di pesta begini pasti tidak jauh dari meja makanan, lihat saja itu perutnya sudah sampai buncit karena apa saja dimakan. Coba kamu periksa tasnya, siapa tahu ada makanan juga dalam tasnya."Seru Rita sambil terkekeh.


" Husstt... Fitnah saja kamu ini. Malu tahu kalau sampai didengar orang, beruntung om dan tante sama orang tua pak Miko sudah turun. Tapi tadi itu bukannya kamu yang mau membungkus makanan untuk di bawa pulang."Seru Maya dengan mendengus kesal namun dia juga terkekeh bisa membalas ucapan Rita.


Hahaaa haaa haaa


Olivia dan Miko hanya tertawa melihat kelakuan Rani dan Maya yang malah berdebat di pelaminan. Para tamu undangan juga sudah banyak yang pulang, dan ada yang memang sedang menikmati makanan sembari berbincang soal pekerjaan. Sedangkan untuk keluarga memilih masuk ke kamar hotel karena mereka sudah sangat lelah dan ingin beristirahat.


Hari memang sudah mulai sore, sebentar lagi pesta resepsi akan usai. Untuk tamu dari desa tempat Olivia tinggal juga sudah pulang dengan kembali diantar bus yang Miko sediakan. Mereka pulang dengan masing-masing membawa souvenir berupa handuk, cangkir cantik dan mini gold yang memang sudah di siapkan untuk semua para tamu undangan. Souvenir itu atas permintaan Miko sendiri dan di setujui oleh mamanya. Sedangkan Olivia menyerahkan semuanya kepada mama mertuanya, karena memang dia tidak mau ribet apalagi semuanya dipersiapkan kurang dari seminggu.

__ADS_1


" Kalian tidak malu gitu sama saya?."Seru Miko ikut buka suara.


" Eh.. Emh.. Malu sih pak tapi sedikit. "Jawab Rita terbata-bata.


" Maaf ya pak kalau tadi kami sudar barbar."Ucap Maya juga ikut bicara dan merasa tidak enak. Sebenarnya mereka tadi memang melupakan keberadaan Miko.


Melihat kedua temannya yang merasa tidak enak dengan Miko, Olivia langsung mengalihkan pembicaraan. Dia mengajak suaminya untuk makan siang, meskipun saat ini sudah jam 3 menjelang sore. Mereka sampai melupakan makan siang mereka karena terlalu sibuk dengan para tamu yang meminta foto.


" Mas, kita belum makan siang loh. Emm.. Aku lapar."Seru Olivia sambil memegang perutnya.


" Sama sayang."Jawab Miko sambil tertawa kecil.


" Turun saja yuk. Kalian duduk di meja bundar sana, nanti biar kami berdua yang mengambilkan kalian makan."Seru Rita.


" Nah betul itu."Jawab Olivia sambil mengacungkan jempol tangannya.


******


Braakkk


Braakkk


Sesampainya di rumah Jeni membanting tas dan sepatunya begitu saja. Dia sangat muak dengan Olivia yang hidupnya selalu lebih baik dari dirinya. Pesta resepsi pernikahannya saja sangat mewah dan megah, dengan tamu undangan yang membludak dan souvenir pun sangat mewah.


" Kamu ini kenapa sih, Jen? Tidak tahu apa kalau aku ini capek, kamu pulang-pulang cari perkara saja."Seru Adrian kesal karena Jeni pulang-pulang marah.


Padahal Adrian sangat lelah karena jarak dari rumah kontrakannya ke hotel tempat pesta lumayan jauh. Sekitar 1 jam 15 menit dengan mengendarai motor dan panas-panasan.

__ADS_1


" Aku ini kesal karena Olivia selalu hidup lebih baik. Padahal dia itu hanya wanita miskin, pendidikan saja cuma sampai D3 tapi bisa dinikahi konglomerat. Sedangkan aku? Cuma dapat pria miskin, menejer sih tapi kasih uang bulanan kecil sekali. Seandainya aku punya suami kaya raya pasti hidupku tidak sesusah ini. Kemana-mana naik mobil, tidak perlu panas-panasan lagi."Seru Jeni tanpa dia sadari ucapannya itu sudah menyakiti hati Adrian dan membuat Adrian marah.


Dengan berkata seperti itu seolah-olah Jeni menyesal menikah dengan Adrian. Padahal dulunya, Jeni duluan yang sudah merayu dan menggoda Adrian. Hingga akhirnya Adrian tergoda dan sampai melakukan hubungan yang tidak pantas mereka lakukan.


" Kamu menyesal sudah menikah denganku?."Tanya Adrian dengan meninggikan suaranya.


" Tidak usah baper kenapa sih. Begitu saja marah."Jawab Jeni seenaknya.


" Keterlaluan kamu Jen. Dulu kamu duluan yang sudah menggodaku, hingga akhirnya aku tergoda dan lebih memilih menikah denganmu daripada menikah dengan Olivia. Jika dibilang menyesal, aku yang lebih menyesal sudah melepaskan Olivia demi wanita seperti kamu !!."Bentak Adrian dengan lantang.


" Terus saja kamu banggakan mantan pacarmu si kutu kupret itu dan jangan pedulikan perasaanku. Dasar suami tidak tahu diri, suami tidak berguna."Seru Jeni justru dia yang marah.


Plaakk


Plaakk


Adrian sudah hilang kesabaran sampai akhirnya dia menampar Jeni. Adrian benar-benar menyesal sudah meninggalkan Olivia demi wanita tidak bisa apa-apa seperti Olivia. Bahkan Jeni tidak menghargai dirinya sama sekali.


Mata Jeni memerah dengan tangan yang memegangi pipinya yang terasa sakit dan panas akibat tamparan dari Adrian.


" Bisa tidak kamu itu jadi istri yang baik dan penurut. Jangan jadi istri urakan yang tidak menghargai suaminya sama sekali. Sebenarnya aku tidak mau memukul kamu karena bagaimanapun kamu istriku dan kamu tanggung jawabku."Ucap Adrian memelankan suaranya.


" Kamu sudah membuat aku marah, Adrian. Aku benci kamu, Adrian ! Aku benci kamu !!."Seru Jeni berteriak dengan lantang.


Tanpa berkata-kata Adrian bangkit dan menyambar kunci motor yang tadi dia letakkan di atas meja. Tanpa pamit Adrian kembali keluar dengan mengendarai motornya. Saat ini yang menjadi tujuan Adrian adalah rumah orang tuanya, untuk sementara Adrian akan di rumah orang tuanya. Untuk pakaian nya juga ada beberapa yang dirumah orang tuanya.


Adrian hanya ingin memberi Jeni pelajaran sedikit agar Jeni bisa berubah dan bisa menghargai dirinya sebagai seorang suami. Setidaknya Jeni bisa menjadi istri pada umumnya yang mengurus suami dan rumah. Dan bisa menjaga lisannya agar tidak menyakitinya lagi.

__ADS_1


***********


__ADS_2