Aku Bukan Pengantinnya

Aku Bukan Pengantinnya
Pura-pura sakit


__ADS_3

.


.


.


💐💐 HAPPY READING 💐💐


Arisan bulanan di rumah ibu Harti pun akhirnya tiba. Ibu Harti tidak menyiapkan apa-apa karena dia tidak punya uang untuk membeli makanan. Untuk mengelabui teman-temannya ibu Harti beralasan sakit sehingga tidak bisa menyiapkan semuanya. Dan tidak lupa mulut manisnya itu pandai bersilat lidah untuk mencari simpatik dari teman-temannya.


" Kasihan sekali ibu Harti, sekarang tinggal di rumah kontrakan dan sakitpun tidak ada yang mengurus."Ucap ibu Tumi berkomentar.


" Iya kasihan sekali ibu Harti, memangnya kenapa sampai ibu tinggal di kontrakan begini? Itu kata ibu-ibu yang lain juga si Jeni tinggal di rumah kontrakan. Bukannya rumah ibu besar?."Tanya ibu Lilis.


Ibu Harti memasang wajah sedih dan memelas, padahal dalam hatinya dia bersorak gembira. Menurutnya ini saat yang tepat untuk menjatuhkan nama baik Olivia. Dengan begitu ibu-ibu akan semakin simpatik dengannya dan menyalahkan Olivia.


* Hemmm... Lihat saja anak durh4k4, kali ini pasti akan semakin banyak orang yang membencimu dan akan banyak orang yang simpati denganku dan anak kandungku, Jeni.*Gumam Ibu Harti dalam hati.


Hikkss Hikkss Hikkss


Ibu Harti mulai mengeluarkan air mata palsunya. Dia mulai berakting, tangisannya mengundang rasa penasaran para ibu-ibu yang lainnya. Sehingga ibu-ibu itu mendekat semua.


" Ada apa bu? Ceritakan kepada kami, siapa tahu kami bisa membantu ibu."Ucap ibu Tumi mewakili teman-temannya.

__ADS_1


Teman arisan ibu Harti ada sekitar 30 orang, dan uang arisan 300 ribu. Biasanya dulu selalu Olivia yang menjadi sasaran utamanya saat dia mau arisan. Justru kali ini Olivia yang akan dia jelek-jelekkan namanya.


" Rumah kami itu di gadaikan Olivia untuk membeli mobil bu. Dan Olivia tidak bisa membayar cicilan di bank, dan akhirnya rumah ku di sita bank. Dengan terpaksa aku dan Jeni tinggal di kontrakan, Olivia itu anak yang serakah dan tidak pernah mau tahu dengan kesusahan orang tuanya bu. Saya sangat sedih sekali, ternyata anak yang aku besarkan justru membuat hidupku susah begini."Ucap ibu Harti dilengkapi dengan air mata palsunya.


" Terus sekarang Olivianya dimana? Bukannya dia itu sudah menikah? Kenapa suaminya tidak mau ikut membantu membayarkan cicilan banknya?."Tanya ibu-ibu yang lainnya yang memang sedikit tahu soal Olivia.


" Olivia ikut sama suaminya bu. Suami Olivia tidak mau membantu membayarkan cicilan Bank, karena dia beralasan jika Olivia meminjam uang di bank dengan jaminan sertifikat itu jauh sebelum Olivia menikah dengannya."Jawab ibu Harti berbohong.


ibu-ibu itu pun menggelengkan kepalanya. Mereka sudah termakan dengan kebohongan ibu Harti. Kini mereka ikutan menghujat Olivia, namun ada beberapa ibu-ibu yang tidak percaya jika Olivia seperti itu. Salah satunya ibu Rt, dia yakin Olivia anak yang baik dan tidak mungkin setega itu dengan orang tuanya.


" Yang sabar ya bu, semoga Olivia segera dibukakan hatinya dan tidak semena-mena lagi sama keluarganya. Oh iya ini uang arisan ibu, ini 9 juta kurang 300 ribu. Karena ibu yang narik jadi ibu tidak bayar, oh iya ini ada sedikit sumbangan dari kami. Semoga bisa meringankan kesusahan ibu."Ucap ibu Tumi selaku ketua arisan ibu-ibu.


* Yess... Akhirnya aku berhasil mengelabuhi mereka. Uang arisanku utuh, tidak perlu aku mengeluarkan untuk konsumsinya juga. Hemm mana masih ada tambahan uang bantuan dari mereka. Kalau begini terus aku bisa untung dan aku bisa shopping.*Gumam ibu Harti dalam hatinya.


" Huhuuu... Terima kasih ibu-ibu."Ucap ibu Harti masih dengan pura-pura menangis.


" Yuhuuu... Akhirnya aku bisa menerima uang arisan juga tanpa repot-repot menyiapkan suguhan untuk mereka. Dan ini ada uang 2 juta bantuan dari ibu-ibu itu, hemm akhirnya setelah berbulan-bulan aku tidak shopping akhirnya bisa shopping juga."Ucap Ibu Harti dengan senang.


" Besok aku akan minta temani Jeni untuk beli kalung baru. Koleksi perhiasanku semakin menipis saja, mana gelang yang di pinjam Jeni 2 bulan yang lalu juga belum dikembalikan. Ini hanya tinggal cincin, kalung yang kadar nya rendah. Hemm tidak apa-apa, besok aku akan beli kalung yang kadar emasnya tinggi."Ucap ibu Harti terus bermonolog sendiri.


Ibu Harti menyimpan uangnya di bawah kasur, dia tidak mau menyimpan di lemari karena takut ketahuan suaminya dan suaminya tidak akan memberikan uang jatah belanja hariannya. Ot4k liciknya masih saja terus berputar.


********

__ADS_1


Di tempat lain, Olivia dan Miko sudah menyusun rincian tamu yang akan di undang. Hampir separuh tetangga tempat Olivia dulu tinggal di undang oleh Miko. Miko ingin membuktikan janjinya kepada para tetangga itu.


" Mas, yakin mengundang para tetangga sebanyak ini? Mas dapat list nama-nama mereka darimana? Ini ada sekitar 80 orang loh mas?."Tanya Olivia secara beruntun.


" Yakin dong, kamu ingatkan kalau aku pernah janji sama ibu-ibu tetangga kamu yang julit itu kalau aku akan mengundang mereka dan para tetangga yang lainnya. Sudah kamu tenang saja sayang, semua bisa kita atur. Aku dapat nama-nama dari pak Rt, sayang. Nanti undangannya mas serahkan sama pak Rt saja dan dia yang akan membaginya. Tadinya pak Rt bilang undangan 1 saja untuk semuanya, tapi aku tidak mau di anggap pelit sama para tetangga yang julit itu."Ucap Miko sedikit menyombongkan dirinya.


Huufffttt...


Olivia pun hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan. Jika suaminya sudah berkehendak dia pun tidak bisa berbuat apa-apa, lagipula itu semua memang janji suaminya kepada para tetangga.


Saat ini tinggal Olivia menemui orang tuanya dan paman Arman untuk memberitahukan pesta resepsi. Untuk Adrian akan di undang dari perusahaan ikut dengan para karyawan yang lain. Jeni tidak di undang juga pasti akan ikut datang bersama Adrian.


" Kapan kita kerumah Pak Anwar dan paman Arman, mas?."Tanya Olivia.


" Nanti sore sayang. Kita ke rumah orang tuamu lebih dulu, baru ke rumah paman. Jadi kita dirumah paman kan bisa berlama-lama, aku tahu kamu pasti kangenkan sama paman dan tente mu itu."Seru Miko sambil memainkan alisnya.


" Iya kangen banget sama Tante Rumi dan mbak Dina. Oh iya Maya dan Rita di undangkan mas?."Tanya Olivia ingat dengan teman seperjuangannya.


Semenjak pindah rumah, Olivia sudah jarang bertemu dengan Maya dan Rita. Mereka hanya berkomunikasi lewat telepon saja. Kedua temannya sibuk dengan pekerjaannya, begitupun Olivia sibuk dengam urusan rumah dan sibuk dengan pekerjaan di kantor.


" Jelas di undang dong, Sayang."Ucap Miko lagi-lagi membuat hati Olivia meleleh karena terus-terusan di panggil sayang.


" Terima kasih, Mas."Ucap Olivia langsung menghambur memeluk Miko.

__ADS_1


Nama-nama di undangan sudah selesai, sore nanti akan sekalian Miko bawa untuk dia titipkan ke pak Rt. Untuk undangan tamu yang lainnya sudah di urus langsung oleh mama dan teamnya. Miko hanya meminta undangan untuk para tetangga Olivia saja.


************


__ADS_2