Aku Bukan Pengantinnya

Aku Bukan Pengantinnya
Aku milikmu


__ADS_3

.


.


.


💐💐 HAPPY READING 💐💐


Sepulang dari kota sebelah, Miko dan Olivia sampai rumah sekitar jam 9 malam. Sebelumnya mereka memang sudah mampir makan malam dulu di restoran bersama paman Anwar dan tante rumi saat perjalanan pulang tadi. Kini Olivia sedang berada dikamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Olivia tidak pantangan mandi malam, jam berapapun jika memang dia belum mandi dia akan mandi. Dia paling tidak bisa jika tidak mandi. Sementara itu, Miko juga sedang mandi dikamar mandi kamar sebelah. Jika harus menunggu Olivia pasti akan semakin lama, tubuhnya juga sudah sangat lengket.


Olivia keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk saja yang dia lilitkan ditubuhnya. Handuk itu hanya sebatas setengah pahanya saja, dia lupa membawa baju. Biasanya dia akan langsung membawa baju dan menggantinya dikamar mandi.


Sudah 2 minggu ini mereka menikah tetapi Olivia dan Miko belum pernah melakukannya. Olivia belum siap, padahal dia tahu jika kini dirinya adalah milik Miko. Miko sendiri tidak mau melakukannya jika Olivia memberikan secara terpaksa.


Terkadang Olivia merasa bersalah karena belum melakukan kewajibannya sebagai seorang istri dengan baik. Olivia tahu jika Miko menginginkannya , akan tetapi dirinya yang selalu menghindar.


Tanpa Olivia sadari, kini Miko juga sudah berada didalam kamar dengan hanya memakai handuk saja yang dia lilitkan dipinggangnya. Miko memandangi tubuh Olivia dengan seksama, dan tanpa dia sadari sesuatu miliknya sudah memberontak.


" Miko,kamu sudah selesai juga mandinya?."Tanya Olivia dengan gugup.


Miko berjalan mendekati Olivia, melihat Miko yang mendekatinya tiba-tiba jantung Olivia berdetak tidak menentu.


" Kenapa kamu ketakutan seperti itu? Apa aku terlihat menyeramkan?."Tanya Miko dengan tangan memegang bahu Olivia.


" Emm.. Tidak. Apa kamu mau memakai baju sekarang? Biar aku siapkan dulu?." Seru Olivia mengalihkan pembicaraan.


" Aku tidak mau memakai baju, lihatlah kita sama-sama hanya memakai handuk. Dan ini pertama kalinya kamu berpenampilan seperti ini semenjak menjadi istriku, biasanya kamu akan memakai bajumu dikamar mandi."Seru Miko sambil mencolek dagu Olivia.


* Ya Tuhan, apa malam ini akan menjadi malam penyerahan mahkota ku? Aku tidak mungkin membiarkan suamiku terus menahannya, aku tidak mau berdosa. Jika memang malam ini apa yang aku jaga harus aku lepaskan, aku ihlas. Karena ini sudah menjadi kewajibanku.*Gumam Olivia dalam hati.


Miko kini sudah memeluk Olivia, tanpa ragu dia mencium pipi Olivia dengam lembut.

__ADS_1


Seeerrrr...


Cium4n itu berhasil membuat jantung Olivia berdesir tidak menentu.


" Olivia, apakah malam ini aku boleh meminta hakku?." Tanya Miko berbisik ditelinga Olivia dengan pelan.


" Aku milikmu, Miko. Lakukanlah apa yang kamu inginkan, aku seutuhnya menjadi milikmu. Seharusnya dari kemarin-kemarin aku memberikan apa yang sudah menjadi milikmu."Olivia bicara dengan sungguh-sungguh dari hatinya.


" Kamu serius?." Tanya Miko dengan senyum sumringah sempurna.


Olivia membalasnya dengan senyuman sambil menganggukkan kepalanya dengan pelan. Tanpa menyia-nyiakan waktu lagi, Miko segera membimbing Olivia ke atas ranjang. Saat ini jantung Olivia sudah tidak menentu, apalagi saat Miko mulai membelai pipinya dengan lembut.


" Aku tidak akan melakukannya jika kamu masih belum siap."Seru Miko tidak mau menyakiti Olivia.


" Lakukanlah, aku milikmu."Seru Olivia kembali menyakinkan Miko.


Miko melepaskan handuk yang melilit ditubuh Olivia, pemandangan yang sangat indah dan sempurna sudah terpampang didepan matanya. Kulit Olivia putih mulus tanpa ada bekas luka sedikitpun.


" Kamu cantik, Sayang."Seru Miko berbisik di telinga Olivia.


" Jangan malu dong."Seru Miko lagi-lagi menggoda Olivia.


Tidak mau berlama-lama, Miko pun melepaskan handuknya dan kini sudah terpampang seseuatu yang siap bertempur. Olivia secara spontan menutup matanya.


* Duhhh sebesar itu, kira-kira muat tidak? Sakit tidak ya?.*Gumam Olivia dalam hatinya.


" Kita lakukan pelan-pelan ya sayang, kata orang-orang sih kalau masih pertama memang sakit. Tapi nanti rasa sakit itu akan berganti rasa yang saling menagih ."Seru Miko masih saja menggoda Olivia.


" Iya."Jawab Olivia dengan singkat.


Malam itu akhirnya, Olivia dan Miko saling menyatukan raga mereka. Miko benar-benar melakukannya dengan pelan agar Olivia tidak kesakitan. Mereka melakukannya cukup lama, awalnya Olivia malu-malu namun setelah cukup lama bermain Olivia nampak sudah biasa.


" Terima kasih sayang."Seru Miko sambil mencium kening Olivia dengan lembut.

__ADS_1


" Sama-sama, Mas."Jawab Olivia memanggil Miko dengan sebutan mas.


" Kamu memanggilku Mas?."Seru Miko dengan senyum senang.


" Iya, karen kamu suamiku jadi aku tidak mau memanggilmu dengan nama saja. Mulai sekarang aku akan memanggilmu, mas Miko. Oh iya mas, besok aku sudah mulai bekerja di perusahaanmu."Jawab Olivia semakin membuat Miko senang.


Miko memeluk Olivia dengan erat, mereka berdua sama-sama masih dalam keadaan polos. Setelah urusan di atas ranjang selesai, Olivia turun dari ranjang hendak kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Namun rasa sakit dan nyeri di area itu membuatnya kesusahan saat berjalan, melihat istrinya yang kesusahan, Miko segera mengangkat tubuh Olivia dan membawanya ke dalam kamar mandi.


Setelah dikamar mandi, bukan hanya mandi yang mereka lakukan tetapi Miko meminta mengulangi olah raga malamnya.


***********


Adrian dan Jeni sudah sampai di perusahaan, Adrian langsung menuju ruangannya untuk menyiapkan berkas-berkas untuk meeting pagi ini. Sedangkan Jeni masih melangkahkan kakinya ke kantin lebih dulu untuk sarapan. Jeni memang tidak pernah memasak, setiap kali makan mereka akan selalu beli.


" Ehhh Vera, kamu sarapan juga?."Seru Jeni saat melihat teman satu devisinya juga sedang sarapan.


" Iya Jen, tadi dirumah tidak makanan karena ibuku sedang kerumah saudara. Aku malas untuk memasak , jadi sarapan dikantor saja. Kamu saja yang sudah menikah juga sarapan di kantor terus? Tidak pernah memasak kah?."Tanya Vera.


" Heleh buat apa memasak, bikin repot saja. Kura ada uang ini ya mendingan beli saja."Jawab Jeni dengan sombong.


Heemmm..


Vera hanya bedehem lalu kembali menikmati makanannya. Sementara itu Jeni sedang menunggu pesanannya yang belum jadi.


" Ehh.. Jen, katanya di devisi kita nanti ada karyawan baru loh? Infonya sih menggantikan pak Saiful yang sebentar lagi pensiun."Ucap Vera memberitahu Jeni.


" Memangnya pak Saiful kapan pensiun? Dia memang sudah tua sih, sudah sewajarnya dia pensiun. Sama ayah ku saja sepertinya masih tua pak Saiful, duh enak banget ya begitu masuk kerja langsung jadi menejer saja itu karyawan baru."Seru Jeni merasa tidak suka.


Jeni sudah mengincar jabatan menejer pemasaran dari dulu, dan dia juga menunggu-nunggu pak Saiful pensiun. Namun, saat sudah pensiun malah ada karyawan baru yang menggantikannya. Tentunya penantiannya selama ini sia-sia saja.


" Katanya masih bulan depan pak Saiful mengajukan pensiunnya. Tapi tidak tahu kenapa kok bisa tiba-tiba sekarang dia pensiun, mungkin saja pak Miko sudah meng Acc permintaan pensiun pak Saiful." Seru Vera lagi.


Jeni nampak cemberut, seandainya tidak ada karyawan baru . Besar kemungkinan dia bisa menggantikan posisi pak Saiful, apalagi saat ini suaminya juga seorang menejer tentunya bisa membantu dia. Setelah sarapan Jeni dan Vera menuju ruangan kerjanya, Jeni sudah tidak sabar ingin tahu karyawan baru yang menggantikan pak Saiful.

__ADS_1


************


__ADS_2