Aku Bukan Pengantinnya

Aku Bukan Pengantinnya
Tamu tidak tahu malu


__ADS_3

.


.


.


💐💐 HAPPY READING 💐💐


Malam hari, Jeni sengaja mengajak Adrian kerumah orang tuanya. Tentunya dia akan memberitahu kedua orang tuanya jika Adrian sudah naik jabatan menjadi menejer keuangan. Bukan hanya kepada kedua orang tuanya, tentunya kepada Olivia juga.


" Bu, Olivia mana? Apa dia belum pulang?."Tanya Jeni clingukan mencari keberadaan Olivia.


" Dia belum pulang. Terserah dia mau pulang apa tidak itu bukan urusan ibu. Bila perlu dia m4mpus sekalian saja itu lebih baik. Ibu sangat tidak perduli dengannya, seandainya sertifikat rumah kita sudah ada di tangan Ibu. Sudah pasti ibu akan segera mengusirnya dari rumah ini, tapi tadi siang Ibu mencoba membuka pintu kamarnya, ternyata kunci yang Ibu pegang sudah tidak bisa lagi. Sepertinya dia sengaja mengganti kunci pintu kamarnya agar ibu tidak bisa leluasa masuk ke kamarnya lagi."Ucap Ibu Harti terlihat kesel.


Semakin susah untuk mencari keberadaan sertifikat rumah jika kamar Olivia tidak bisa di akses dengan mudah. Olivia bukan orang bodoh, meskipun sertifikat rumah tidak dia simpan di kamarnya, dia tetap tidak mau ibu Harti seenaknya masuk ke kamarnya. Bahkan dulu Jeni juga sering masuk dan mengambil barang-barang pribadi Olivia.


" Bapak tidak yakin sertifikat itu Olivia simpan dirumah ini bu. Dia sudah tahu betapa serakahnya kita, bisa saja dia menyimpan sertifikat itu di bank. Bu, sudahlah jangan usik lagi soal rumah ini. Kita bisa tinggal di rumah ini saja sudah bersyukur, jika Olivia marah bisa kapanpun dia mengusir kita dari rumah ini. Kalau sampai kita di usir dari rumah ini, kita mau tinggal dimana bu? Pikirkan hal itu bu."Ucap pak Anwar meminta istrinya untuk tidak mengungkit soal rumah lagi.


Rumah sepenuhnya hak Olivia, sudah cukup selama ini mereka memperlakukan Olivia dengan tidak baik. Sudah cukup juga mereka menggunakan harta peninggalan orang tua Olivia dengan semauanya. Harta peninggalan orang tua Olivia hanya tinggal rumah saja, dan itu hak mutlak nya Olivia.


" Tidak bisa begitu dong, Ayah. Jeni juga berhak atas rumah ini, bila perlu kita jual saja rumah ini dan hasilnya bagi rata antara Jeni dan Olivia. Enak sekali dia mau menguasai rumah ini sendiri , memangnya dia itu siapa?."Seru Jeni dengan cemberut.


Jeni tidak setuju dengan pendapat Ayahnya, bagaimanapun Jeni akan meminta haknya soal rumah. Dia sudah tinggal dirumah itu sedari dia kecil dan itu berarti dia merasa punya hak atas rumahnya.

__ADS_1


" Ayah tidak mau menanggung resiko sampai Olivia marah dan dia mengusir Ibu dan Ayah. Kami tidak mempunyai tempat tinggal lagi, dan pasti kita akan berurusan dengan paman Arman. Apa kamu mau di hajar paman mu itu. Lagian kamu itu tidak ada hak atas rumah ini, Jeni. Sudahlah jangan cari masalah lagi, meskipun ayah tidak suka dengan Olivia tapi bagaimanapun juga dia itu keluarga kita."Seru pak Anwar terus menasehati Jeni.


* Kenapa bapak seakan membela Olivia ya? Apa bapak sudah di guna-guna Olivia?.*Gumam ibu Harti dalam hatinya.


Saat mereka sedang membicarakan soal rumah dan Olivia, terdengar deru mobil memasuki halaman rumah. Dan sudah bisa dipastikan jika mobil itu adalah mobil Olivia, mengingat Olivia yang sudah membeli mobil baru membuat Jeni kembali meradang.


" Oh ada tamu ya? Pantas saja ada motornya di luar, bertamu si boleh saja asal jangan menginap. Aku tidak mau sampai kalian menginap dirumah ku ini. Jadi tamu jangan seenaknya, tahu malu dikit dong."Ucap Olivia dengan ketus.


" Jangan sombong kamu, aku juga ada hak di rumah ini."Seru Jeni tak kalah bicara dengan ketus.


" Yakin kamu ada hak dirumah ini? Belum pikun kan kalau rumah ini tuh milikku, rumah peninggalan orang tua kandungku. Jika kamu sudah pikun, berobat sana."Ucap Olivia sambil tersenyum kecut.


Braakkk


Jeni memukul meja dengan kuat sampai semua yang ada di ruangan itu terperanjat kaget. Adrian mengusap punggung Jeni agar Jeni bisa sedikit meredam emosinya. Menghadapai masalah tidak bisa di selesaikan dengan marah dan emosi.


Pllaakk


Suara tamparan terdengar cukup keras, sudah pasti rasanya sakit dan ngilu.


" Seharusnya dari dulu aku buang kamu jauh-jauh, dan bila perlu aku bikin kamu m4mpus agar tidak menjadi penghalang bagi anakku."Seru ibu Harti dengan sorot matanya yang tajam.


" Ibu !."Teriak pak Anwar.

__ADS_1


Sebencinya pak Anwar dan semarah-marahnya pak Anwar kepada Olivia dia tidak akan sanggup bicara seperti ibu Harti tadi. Bagaimana bisa seorang ibu tega bicara seperti itu kepada anaknya meskipun Olivia hanya anak angkat mereka.


" Jaga ucapan mu bu. Kalau tidak ada Olivia mungkin hidup kita akan terlantar di jalanan. Berkat kita mengurus Olivia kita bisa hidup enak bu. Dan mungkin kalau bukan harta peninggalan orang tua Olivia, Jeni sudah m4ti dari dulu bu."Seru pak Anwar memarahi istrinya.


" Kenapa justru bapak bicara seperti itu? Bapak sudah berpihak kepada Olivia, tidak perduli lagi dengan Jeni yang anak kandung kita?."Tanya ibu Harti nampak tersulut amarah.


" Bapak hanya tidak mau kalau kita terus berantem dan ribut satu sama lain bu. Kita ini sudah tua, hanya Olivia dan Jeni yang kita punya. Kalau bukan kita yang mendamaikan, mau siapa lagi bu ?."Ucap pak Anwar yang akhir-akhir ini sudah bisa bicara dengan bijak.


" Ayah jahat !! Ayah sudah tidak sayang lagi dengan Jeni, Ayah jahat !!."Teriak Jeni dengan lantang.


Keributan semakin tidak terkendali, bahkan Jeni ikut memarahi Ayahnya. Ibu Harti juga ikut menyerang suaminya dengan kata-kata yang pedas.


" Diaaaammmmm !!!."Teriak Olivia dengan lantang.


Semua langsung diam, Olivia memandang semua orang yang ada disitu satu persatu. Tatapan matanya terlihat tajam dan mengerikan.


" Kalau kalian mau ribut, keluar dari rumah ku !! Dan untuk kalian berdua, jika kalian datang hanya untuk cari masalah lebih baik kalian jangan pernah lagi datang kerumah ku. Pergi kalian !!."Seru Olivia.


" Ciihh.. Cuma rumah seperti ini saja sombong !! Kamu tidak tahukan kalau sekarang Adrian sudah menjadi menejer, dan kami pun pasti bisa membeli rumah dan mobil yang lebih bagus. Aku yakin, kamu beli mobil dari hasil gadai sertifikat rumah ini kan ? Lihat saja sampai kamu tidak bisa membayar cicilannya, mobil kamu pasti akan kejual. Dan rumah pun akan disita, jadi siap-siap kamu tinggal di kolong jembatan. Cuma pelayan saja belagu."Seru Jeni mencibir Olivia.


" Iya !! Aku beli mobil dari hasil gadai sertifikat rumah, jika aku tidak bisa membayar cicilannya aku biarkan rumah ini disita. Lagipula kedua orang tua mu juga yang bakal kehilangan tempat tinggal. Kalau mah soal mudah, karena sebentar lagi aku menikah dengan pacarku dan sudah pasti aku akan ikut dengan suamiku."Seru Olivia sengaja berbohong untuk membungkam mulut-mulut orang yang tidak tahu diri itu.


Ddeggghh

__ADS_1


Ada j4ntung yang akan copot saat tahu jika Olivia akan menikah. Sudah pasti orang itu adalah Adrian, ya Adrian masih mengharapkan Olivia mau meneeimanya lagi. Adrian egois, dia menginginkan Jeni dan juga menginginkan Olivia. Dia tidak rela dan tidak iklas jika Olivia menjalin hubungan dengan pria lain.


*************


__ADS_2