
.
.
.
ππ HAPPY READING ππ
" Apa ? Suami Olivia bos pemilik perusahaan tempat kamu dan Adrian bekerja?."Seru ibu Harti seakan tidak percaya jika Miko sang menantu adalah pria tajir melintir.
Jeni dan Adrian datang ke rumah kontrakan orang tuanya. Jeni menceritakan apa yang dia tahu tentang Miko kepada ibu Harti. Pak Anwar dan ibu Harti benar-benar kaget mendapati sebuah fakta baru tentang menantunya alias suami Olivia.
Namun pak Anwar juga bersukur jika Olivia menikah dengan orang kaya, dengan begitu hidup Olivia akan bahagia. Miko pasti bisa memberikan kehidupan yang jauh lebih baik kepada Olivia. Pak Anwar sudah banyak berubah, dia tidak mau lagi mengganggu hidup Olivia ataupun mempermasalahkan rumah peninggalan orang tua Olivia.
Ibu Harti terlihat mengepalkan tangannya, merasa Olivia dan Miko sudah membohonginya. Seandainya dia tahu dari awal jika Miko orang kaya sudah pasti dia akan langsung menyetujui hubungan Miko tanpa harus merendahkan Miko. Dan dia bisa meminta uang mahar yang cukup banyak.
" Iya bu, ternyata rumah yang kita datangi waktu itu juga rumah pribadi Olivia bu. Rumah yang Miko hadiahkan untuk pernikahannya dengan Olivia. Ini tidak bisa di biarkan bu, aku tidak rela Olivia hidup lebih bahagia dariku. Aku juga tidak mau Olivia lebih segalanya dari ku."Seru Jeni mengadu kepada ibunya.
" Lah..terus mau bagaimana? Nyatanya Olivia saat ini memang ada di atas kamu? Suaminya saja orang kaya dan mana bisa kamu mau menyaingi Olivia, terkecuali suami kamu juga seorang sultan yang kaya raya."Seru Ibu Harti melirik Adrian yang nampak diam saja duduk di samping Jeni.
" Mana sekarang aku di pecat."Seru Jeni dengan wajah cemberut.
" Di pecat? Kamu di pecat? Ya ampun Jeni, kenapa kamu bisa di pecat sih? Kalau orang-orang tahu kamu itu pengangguran bisa malu ibu Jen. Apa lagi yang harus ibu banggakan dari kamu kalau kamu saja sudah menjadi pengangguran?."Seru ibu Harti sambil memijit pelipisnya yang mulai berdenyut.
__ADS_1
Ibu Harti sedang berfikir bagaimana cara dia bisa memanfaatkan Olivia ataupun Miko agar dia bisa ikut menikmati harta yang di miliki Miko. Dia juga kasihan dengan anak nya karena saat ini sudah menjadi pengangguran, pasti dia akan kesusahan untuk memenuhi gaya hidupnya itu.
Huuffffff
Helaan nafas berat ibu Harti keliarkan. Dia tidak habis fikir kenapa nasib Olivia lebih bagus dari nasibnya. Padahal selama ini dia sudah memperlakukan Olivia dengan tidak baik, bahkan untuk biaya sekolah pun Olivia harus mencarinya sendiri.
" Kalau memang sekarang Olivia hidup bahagia dan serba berkecukupan berarti dia menikah dengan orang yang tepat. Suami Olivia bisa menaikan derajat Olivia."Ucap pak Anwar buka suara.
" Ayah kenapa sih sekarang ini selalu membela Olivia? Padahal dulu Ayah itu membenci Olivia dan selalu memarahinya, apa lagi jika Olivia tidal menurut dengan ucapan Ayah atau Ibu. Pasti Ayah akan memukulnya dengan gagang sapu, sekarang kok terkesan selalu membela Olivia."Ucap Jeni memprotes sikap Ayahnya yang membela Olivia.
" Itu dulu karena ayah ingin kamu yang selalu menang dan di nomor satukan karena kamu anak kandung Ayah. Sekarang ayah sadar, jika apa yang Ayah lakukan itu hal yang salah, sebab Olivia juga tidak salah apa-apa. Justru karena Olivia lah hidup kita menjadi lebih baik, bahkan kamu bisa bersekolah di sekolah yang mahal juga berkat uang warisan Olivia."Ucap pak Anwar bicara apa adanya.
Cihhhhh....
Adrian yang sudah banyak tahu dengan cerita hidup Olivia memilih untuk diam dan menyimak apa saja yang dibahas oleh istri dan mertuanya.
" Jen, nanti ibu akan bicara dengan Olivia dan Suaminya agar mereka tidak seenaknya saja. Ibu akan minta Miko untuk memperkerjakan kamu lagi, padahal kamu ini kakak iparnya tapi malah di pecat. Seharusnya dia bisa memberikan posisi kamu dengan jabatan yang tinggi di perusahaan."Seru ibu Harti dengan percaya dirinya ingin menemui Miko.
" Ini pasti ulahnya Olivia si kutu kupret itu bu. Dia yang sudah meminta suaminya untuk memrcat ku, benar-benar licik. Dia menggunakan kekuasaan suaminya untuk mendzolimi ku, tidak bisa bersaing secara sehat sehingga memilih cara yang licik."Ucap Jeni tetap menyalahkan Olivia.
" Jangan sampai apa yang akan kalian lakukan itu membahayakan diriku. Jika kamu berulah aku juga bisa di pecat." Seru Adrian berbisik di telinga Jeni.
Jeni melirik suaminya dengan malas, sepertinya dia tidak peduli dengan ucapan Adrian barusan. Jeni bukan tipe istri yang menurut apa kata suami, Jeni selalu menuntut lebih dan dia ingin Adrian memberikan apa yang dia mau.
__ADS_1
Pak Anwar tidak mau terlibat terlalu jauh dengan perbincangan antara Jeni dan ibunya. Sudah susah payah pak Anwar menasehati anak dan istrinya tapi hasilnya tetap saja tidak ada perubahan. Dia sangat-sangat menyesal dulu selalu memanjakan Jeni dan menomor satukan Jeni.
" Pulang yuk Jen, ini sudah malam. Besok aku harus bekerja."Seru Adrian mengajak Jeni pulang.
" Iya ."Jawab Jeni dengan singkat.
Jeni dan Adrian pulang juga, tidak memakan waktu lama mereka sudah sampai di rumah kontrakannya. Mereka sudah berada di dalam rumah, dan Jeni mengeluarkan unek-unek yang sedari sore dia tahan.
" Mas, mulai bulan depan kamu stop kasih ibumu uang bulanan. Ibumu itu pengeretan mas, seharusnya dia tidak lagi merecoki keuangan kamu karena kamu sudah menikah. Bapak juga masih kerja, ada Mbak Firda jadi kamu stop kasih uang ibumu. Kita harus menabung agar bisa beli rumah, apalagi sekarang aku sudah tidak bekerja."Seru Jeni dengan marah-marah.
" Maksud kamu apa bicara seperti itu? Kamu mau aku menjadi anak durhaka kepada ibuku sendiri? Hehh... Jeni, surgaku itu ada di ibuku lagian uang yang aku berikan itu uang ku sendiri, bukan uang kamu. Jangan pernah melarangku untuk memberikan ibuku uang. Lebih baik sekarang kamu fikirkan cari pekerjaan baru."Seru Adrian tidak mau Jeni mengatur-atur hidupnya.
" Kalau begini terus kapan kita punya rumah Adrian !! Mana ibu kamu bulan depan juga minta jatah bulanan 2 kali lipat. Seharusnya kamu itu mikir dong, dua kali lipat itu hampir setengah gajihmu loh. Selama 3 bulan menjadi istrimu baru bulan ini kamu memberiku uang 2 juta, ngasih 2 juta tapi itu untuk keperluan rumah juga. Nafkah pribadi untukku mana?."Seru Jeni tidak mau kalah dari Adrian.
Aaarrrggghhh....
Adrian berteriak dengan mengacak rambutnya dengan kasar. Selalu uang dan uang yang jadi masalah, selama 3 bulan menikah hari ini pertama mereka bertengkar soal uang nafkah yang dia berikan. Biasanya Jeni menerima berapa saja yang dia berikan, sekarang Jeni memprotesnya.
* Apa yang dikatakan Jeni memang benar, kalau ibu aku beri uang bulanan 2 kali lipat kapan aku bisa nabung untuk beli rumah. Tidak selamanya juga aku dan Jeni tinggal di rumah kontrakan, pasti nanti juga aku dan Jeni bakal punya anak. Tentunya butuh rumah yang lebih besar. Tapi bagaimana dengan ibu? Nanti aku jadi anak durhaka dan tidak mendapatkan surganya?.*Gumam Adrian dalam hatinya.
**************
Bab berikutnya kita up soal Miko dan Olivia ya. ππΌππ
__ADS_1