Aku Bukan Pengantinnya

Aku Bukan Pengantinnya
Program kehamilan


__ADS_3

.


.


.


💐💐 HAPPY READING 💐💐


Olivia dan Miko sudah mulai merencanakan program kehamilan. Olivia tidak mau menunda kehamilannya, tadinya dia berencana ingin menunda kehamilannya namun saat dia tahu jika mama mertuanya sangat menginginkan cucu dari mereka. Olivia pun berubah fikiran, dia tidak jadi menunda kehamilannya.


Miko sepenuhnya ikut apa kata Olivia, mau menunda dulu atau mau program kehamilan dari sekarang pun Miko setuju-setuju saja. Miko tidak mau memberatkan istrinya, apa lagi mereka juga memang baru menikah bahkan hitungan mereka kenal sampai menikah saja hanya 1 bulanan. Dan sekarang mereka menikah sudah memasuki bulan ke 2.


" Bagaimana perasaan mu sayang?."Tanya Miko saat mereka pulang dari dokter kandungan.


" Biasanya saja mas. Kenapa memangnya mas?."Tanya Olivia belum paham dengan maksut suaminya.


" Subuh tadi kamu sudah sholat dan siang ini sudah ke dokter kandungan. Hemm... Berarti sudah pulang kan tamu bulanannya? Soalnya kemarin-kemarin kamu bilang kalau tamu bulanannya sudah pulang kamu mau ke dokter kandungan untuk kita sama-sama cek kesuburan."Seru Miko masih saja ingat dengan apa yang dikatakan Olivia beberapa hari yang lalu.


Hhuuuuffffff


Olivia hanya bisa menggelengkan kepalanya. Bisa-bisa nya sang suami berfikir sampai situ. Ternyata bukan soal hasil pemeriksaan yang dia tanyakan, tapi justru soal tamu bulanannya yang sudah pergi.


" Iya mas perasaan ku sudah lega karena tamu bulananku sudah pulang. Hemmm.. dan aku semakin lega karena kita sama-sama sehat."Seru Olivia.


" Nah berarti kita harus rajin buatnya agar di perutmu cepat terisi Miko junior atau Olivia juniornya. Bukannya tadi dokter juga sudah bilang jika kita harus rajin usaha."Seru Miko semakin lama semakin m3sum saja yang dia katakan.


Olivia hanya melengos, malas meladeni suaminya yang semakin hari semakin m3sum saja. Miko pun hanya tertawa geli melihat lirikan mata Olivia yang membuat dia semakin menggemaskan.


Mobil yang dikendarai Miko sudah sampai di parkiran perusahaan. Olivia dan Miko turun bersama-sama dan masuk ke perusahaan dengan bergandengan tangan. Banyak para karyawan yang ikut senang dengan kemesraan Miko dan Olivia.


Karyawan juga mengagumi kecantikan Olivia yang natural. Mereka juga mengagumi Olivia yang ramah dan murah senyum, sangat jauh berbeda dengan Jeni yang mereka ketahui sebagai kakak dari Olivia.

__ADS_1


" Selamat siang pak Miko, bu Olivia."Seru Adrian menyapa Miko dan Olivia saat mereka hendak sama-sama masuk lift.


" Hemmm.. Selamat siang juga."Jawab Miko sekenanya saja.


Olivia hanya diam saja tanpa mau menjawab sapaan dari Adrian. Biar cukup Miko saja yang menjawab sapaan dari Adrian. Kini mereka bertiga berada dalam 1 lift, Miko sepertinya sengaja ingin menunjukan keromantisan dan keharmonisan mereka di depan Adrian sehingga Miko memeluk Olivia dari belakang.


" Mas, kok seperti ini sih? Malu ah dilihatin sama yang lainnya."Seru Olivia merasa tidak enak dengan Adrian.


" Yang lain siapa? Cuma ada pak Adrian saja, kita inikan suami istri jadi tidak perlu sungkan. Cuma dipeluk gini doang kan tidak apa-apa? Kamu juga kalau sama istri kamu mesra begini kan pak Adrian?."Tanya Miko sambil melirik Adrian.


" Emm.. Iya pak."Jawab Adrian singkat.


Mana ada Adrian dan Jeni mesra dan romantis seperti itu. Yang ada sekarang ini hubungan mereka hambar, namun Adrian berusaha untuk menutupinya. Karena tidak mau orang-orang tahu apa yang saat ini terjadi dengan rumah tangganya.


Meskipun begitu, Adrian tetap berusaha untuk membuat Jeni menjadi istri yang baik dan penurut. Adrian tidak mau mempermainkan pernikahan, baginya cukup satu kali seumur hidup. Akan tetap jika Jeni memang sudah melakukan kesalahan yang fatal, suatu saat Adrian akan melepaskan Jeni.


Ting..


" Saya duluan pak, bu."Seru Adrian.


" Iya silahkan."Jawab Miko singkat.


Adrian melangkahkan kakinya keluar dari lift, sedangkan Olivia dan Miko tetap lanjut menuju lantai paling atas tempat dimana ruangan Miko.


******


Saat berbelanja di salah satu toko pakaian yang ada di pasar, ibu Harti tidak sengaja melihat keberadaan tante Rumi. Namun ibu Harti pura-pura tidak melihat Rumi karena dia malas menegurnya. Begitulah, hubungan tante Rumi dan ibu Harti memang sedari dulu tidak akur.


" Ehhh.. Ada kamu juga disini, Harti? Kok tumben orang kaya belanja di pasar seperti ini?."Tanya tante Rumi dengan senyum mengejek.


" Cihhh... Aku cuma lihat-lihat saja kok. Aku sih tidak level beli baju di pasat tradisional begini."Seru ibu Harti tetap saja menyombongkan diri padahal ditangan saja sedang memegang satu baju yang sudah pasti akan dia beli.

__ADS_1


Heeemmmm...


Tante Rumi hanya berdehem saja, dia tidak mau banyak bicara. Tante Rumi meninggalkan ibu Harti, dia beralih ke barisan baju-baju yang lainnya. Melihat tante Rumi mengabaikannya, Ibu Harti nampak kesal. Dia merasa jika tante Rumi sombong dan tidak sopan sudah mengabaikannya.


" Hehh.. Rumi !! Kamu ini sombong banget sih."Seru ibu Harti sambil menarik tangan tante Rumi dengan kasar.


" Harti maksud kamu apa? Sombong bagaimana? Bukannya tadi aku sudah menyapa kamu lebih dulu, lalu sombong ku dimana? Oh iya bukannya kamu yang sombong ya? Memangnya aku tidak tahu saat aku masuk tadi kamu itu sudah melihatku tapi pura-pura tidak melihat kan?."Seru tante Rumi membuat ibu Harti salah tingkah.


Yang dikatakan oleh tante Rumi memang benar, jika tadi ibu Harti pura-pura tidak melihat tante Rumi. Karena memang dia malas menegurnya lebih dulu. Namun ibu Harti tetap saja merasa benar dan tidak mau dianggap salah. Sampai kapanpun sepertinya tante Rumi dan ibu Harti tidak akan bisa jika di suruh akur.


" Jangan mengada-ada kamu, Rumi. Lagian kamu itu yang lebih muda seharusnya menegur yang lebih tua duluan."Seru ibu Harti bisa saja dia beralasan.


" Kalau memang kamu merasa lebih tua, seharusnya kamu itu bisa memberikan contoh yang baik untuk yang lebih muda. Bukan malah pura-pura tidak melihat, jadi yang sombong itu kamu atau aku, Harti?."Seru tante Rumi tidak mau kalah dari ibu Harti.


" Kamu jangan mengajariku, aku tidak butuh ceramah dari mu."Jawab ibu Harti lagi-lagi dengan ketus.


" Terserah kamu Harti, aku tidak mau ribut di dalam pasar seperti ini. Kamu juga nanti yang akan malu. Sudah sana jangan ganggu aku yang lagi mau belanja, ganggu orang belanja saja."Seru tante Rumi sudah malas menanggapi ibu Harti.


Ibu Harti tidak terima, sehingga dia lebih dulu menarik rambut tante Rumi sampai ikatan rambut tante Rumi berantakan. Tante Rumi pun menjerit kesakitan, sehingga mengundang rasa ingin tahu orang-orang yang berada di luar toko.


" Harti lepaskan !! Jangan gila kamu Harti, ini didalam toko orang. Jangan buat kekacauan kamu, kalau sampai ada yang rusak kamu yang harus ganti rugi."Seru tante Rumi mengancam ibi Harti.


Ibu Harti sepertinya takut dengan ancaman tante Rumi tadi. Dia pun melepaskan rambut tante Rumi, setelah itu ibu Harti keluar dari toko dengan diiringi sorakan gemuruh dari pelanggan yang ada di dalam toko.


" Dasar orang gila !!."Seru pemilik toko terlihat kesal dengan ibu Harti.


" Maaf ya bu, sudah membuat kekacauan di toko ibu."Seru tante Rumi meminta maaf.


Tante Rumi mau tidak mau meminta maaf kepada pemilik toko. Beruntung tidak ada baju yang rusak atau yang berantakan karena keributan tadi.


**************

__ADS_1


__ADS_2