
.
.
.
💐💐 HAPPY READING 💐💐
Dreettt Dreeett Drreett
Ponsel Olivia berdering, dia mengabaikan sebentar karena masih mengerjakan pekerjaannya yang sebentar lagi selesai. Deringan ponsel pun Olivia pun berhenti, Olivia tetap melanjutkan pekerjaannya.
" Akhirnya selesai juga. Hemm... Siapa ya yang tadi menelpon."Ucap Olivia sembari menutup Laptopnya.
Olivia mengambil ponselnya yang ada didalam tasnya. Setelah dia memeriksa ponselnya ternyata Firda yang menghubunginya. Tidak biasanya Firda menghubungi Olivia, khawatir ada yang penting Olivia pun mencoba untuk balik menghubungi Firda.
[ Assalamualaikum, mbak Firda. Maaf tadi saat mbak telepon aku lagi mengerjakan pekerjaanku. Ada apa ya mbak? Tumben kok telepon?.] Tanya Olivia yang memang penasaran kenapa Firda menghubunginya.
[ Waalaikumsalam, Olivia. Iya tidak apa-apa, justru aku yang tidak enak karena sudah mengganggu kamu kerja. Jadi begini, maaf ya semalam mbak kelepasan bilang kalau kamu pemilik kedai Boba Olivia. Dan sepertinya Jeni kaget, emm.. Kalau misal Jeni nanti berulah itu salah mbak. Maaf banget ya Liv.] Ucap Firda yang ternyata meminta maaf karena dia sudah salah bicara.
Haha haha Haha
Bukannya marah, Olivia justru tertawa karena merasa aneh saja dengan Firda. Hal seperti itu membuat dia sampai meminta maaf dan khawatir. Olivia tidak akan marah, sebab tidak mungkin juga selamanya dia akan menyembunyikan semua itu dari Jeni ataupun ibunya. Cepat atau lambat mereka juga akan tahu dengan sendirinya, terus menerus kucing-kucingan juga tidak enak.
[ Ya Ampun mbak. Olivia kira ada apa, tidak tahunya cuma gara-gara itu tah. Aku tidak mungkin marah mbak, lagian mereka juga nantinya bakal tahu juga kok. Santai saja mbak.]
[ Alhamdulillah kalau kamu tidak marah. Mbak baru sadar semalam saat baru pulang dari rumah ibu, kok aku asal bicara. ]
__ADS_1
[ Sudah santai saja tidak apa-apa. ]
[ Iya Liv, ya sudah kamu lanjut saja kerjanya. Teleponnya mbak tutup. Assalamualaikum]
[ Iya mbak, Waalaikumsalam.]
Tuutttttt
Sambungan telepon sudah terputus, Olivia kembali memasukkan ponsel ke dalam tas nya. Olivia bangkit dan membawa tas serta laptopnya keluar dari ruangannya. Olivia akan meeting dengan klien di luar kantor, kali ini Olivia mengendarai mobilnya sendiri.
" Bu Olivia sudah siap?."Tanya Meli sekretaris Olivia.
" Iya Mel. Oh iya, nanti laporan yang aku minta tadi tolong letakkan saja di atas meja kerjaku. Sepulang meeting nanti akan saya pelajari untuk bahan meeting besok pagi."Ucap Olivia bicara dengan ramah dan sopan.
Meskipun dia istri dari pemilik perusahaan, Olivia tidak mau bersikap seenaknya ataupun bersikap sombong. Lagi pula, saat ini dia juga sama-sama bekerja di perusahaan yang sama. Hubungan baik antara sesama karyawan harus tetap dijaga tanpa memandang siapa dan apa jabatannya. Sikap Olivia yang ramah dan rendah hati inilah yang di sukai para karyawan, mereka sudah seperti teman sendiri.
Olivia meninggalkan perusahaan, Miko tidak ada di perusahaan sehingga Olivia tidak menemui Miko lebih dulu. Pagi tadi, Miko ada kunjungan kerja ke luar kota dan kemungkinan akan pulang malam nanti.
Sementara itu di tempat lain, ibu Harti yang memang bersama teman-temannya sedang bersenang-senang. Dia menghabiskan uang arisannya yang memang belum dia habiskan semua.
" Bu, Harti jangan lupa loh minggu depan arisan di rumahnya ibu Rokayah."Seru ibu Ani mengingatkan.
Haaahhhhh
Ibu Harti seakan dia melupakan jika minggu depan jadwal dia arisan. Uang di tangannya pun sudah habis untuknya foya-foya membeli barang-barang yang tidak terlalu penting. Barang-barang yang hanya untuk menunjang penampilannya saja. Seolah tidak sadar diri jika suaminya hanya seorang tukang ojek dan sudah tidak ada Olivia lagi yang dia andalkan untuk menutupi bulannya.
" Iya bu pasti ingat dong."Jawab ibu Harti dengan santainya.
__ADS_1
" Sekalian minggu depan itu mulai cicilan pertama untuk tas yang ibu Harti ambil ya. Jangan sampai lupa, soalnya itu uangnya juga untuk modal lagi bu jadi harus ontime."Ucap ibu Ani dengan tegas mengingatkan ibu Harti.
Ibu Harti semakin sakit kepala dibuatnya, bagaimana bisa arisan dan cicilan tas berbarengan juga. Arisan 300 ribu dan cicilan tas nya 500 ribu dalal 5 bulan, uang darimana dia bisa membayar secara bersamaan seperti itu.
* Aduh kenapa aku bisa lupa kalau minggu depan itu juga cicilan pertama tas yang kemarin lusa aku ambil. Kalau begini caranya, aku bakal malu dengan ibu-ibu yang lainnya. Mau di taruh mana muka ku nanti, lagian mau dapat uang dari mana aku dalam seminggu ini? Sedangkan suamiku saja hanya memberiku uang 75 ribu satu hari dan itu untuk biaya makan saja.*Gumam ibu Harti dalam hatinya.
Ibu Harti pusing tujuh keliling, gengsinya akan membuat hidupnya susah dan malu. Bergaya elite tapi ekonomi sulit, tapi tetap sombong selagit. Ungkapan itu sangat cocok untuk ibu Harti.
" Ehh... Bu, sepertinya saya permisi duluan ya. Ini ada Jeni mengirim pesan kalau dia minta di temani ke salon. Maaf ya ibu-ibu, saya duluan."Seru ibu Harti memilih segera menghindar dari perkumpulan teman-temannya karena dia tidak mau jika temannya tahu kalau saat ini dia sedang kesulitan uang.
" Wahh... Anak ibu si Jeni itu pasti mau traktir ibu juga kan? Enak banget sih jadi ibu ini, mana si Olivia juga suaminya orang kaya. Pasti ibu dapat jatah bulanan besar juga dong dari Olivia."Ucap ibu Ani yang sedari tadi banyak bicara.
" Kalau Jeni sudah pasti dia mentraktir saya, bu. Kalau Olivia? Heemm.. Sepeserpun dia itu tidak pernah keluar uang untuk ku bu. Waktu belum menikah saja semua kebutuhan rumah itu Jeni dan suami saya yang tanggung. Olivia meskipun sudah bekerja, mana mau dia keluar uang. Dia itu pelit banget, sampai sekarang pun dia pelit."Ucap ibu Harti menjelek-jelekkan Olivia.
Ibu-ibu sebagian sudah ada yang tahu soal Olivia, sehingga mereka tidak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh ibu Harti. Apalagi ibu Rt, dia sudah tahu betul dan paham bagaimana Olivia dulu sebelum dia menikah. Namun berbeda dengan ibu-ibu yang memang tinggal tidak satu desa dengan ibu Harti, mereka pasti akan percaya dengan apa yang dikatakan Ibu Harti tentang Olivia. Sudah bukan hal yang aneh bagi ibu-ibu jika ibu Harti sering menceritakan kedua anaknya, Jeni dan Olivia. Dan tentunya dengan versinya yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.
" Jangan memutar balikkan fakta dong bu, sama saja itu omong kosong. Kasihan loh si Olivia jika difitnah seperti itu."Ucap ibu Rt mengingatkan ibu Harti.
" Ehh... Maaf saya pulang duluan. Jeni sudah menunggu."Seru ibu Harti buru-buru pulang.
Sebenarnya ibu Rt tahu betul jika hubungan ibu Harti dengan Olivia itu tidak baik dan ibu Harti suka menjelek-jelekkan Olivia. Dan sekarang hidup ibu Harti yang serba susah pun ibu Rt tahu, tapi ibu Rt tidak mau banyak bicara. Cukup dia saja tahu dan tidak akan mengumbar dengan teman-temannya.
Ibu Harti langsung menaiki taksi online yang sudah dia pesan. Dia segera menuju rumah kontrakan Jeni, dia penasaran kenapa Jeni beberapa kali menghubunginya.
* Beruntung sekali aku ada alasan kalau Jeni mengajak pergi kesalon. Huhh.. Kalau aku masih saja tetap disana pasti ibu Rt yang lemes itu akan mempermalukan aku. Jadi ibu Rt kok mulutnya lemes sekali.*Gumam ibu Harti.
*************
__ADS_1