
.
.
.
💐💐 HAPPY READING 💐💐
" Sekarang begini saja, tidak perlu dipersulit. Jeni itu istri ku dan harus nurut apa kata suami. Aku akan mengajak Jeni pulang ke rumah kontrakan jika dia mau menerima syarat dariku."Seru Adrian harus bersikap tegas dengan Jeni.
Nampak Jeni dan ibu Harti membulatkan matanya. Mereka belum tahu syarat apa yang akan diajukan oleh Adrian. Jika melihat dari sikap Adrian mereka bisa memprediksi jika syarat itu akan memberatkan Jeni.
" Syarat? Syarat apa, Adrian? Kenapa harus ada syarat nya lebih dulu? Aku ini istrimu seharusnya kamu memperlakukan aku dengan baik."Seru Jeni mencoba untuk memprotes sikap Adrian.
" Syaratnya kamu harus bisa menghargai ku sebagai suami kamu. Kamu harus bisa mengurus rumah dan pekerjaan rumah, tidak usah khawatir saat aku libur kerja aku pasti akan membantu pekerjaan rumah. Apa lagi kalau kamu sudah dapat pekerjaan, kita secara bersama-sama mengurus rumah. Dan aku minta kamu untuk memasak, agar tidak boros."Seru Adrian.
Haahhh...
Jeni nampak syok dengan syarat yang diberikan oleh Adrian. Jeni harus menjadi ibu rumah tangga yang sesungguhnya yang selama ini Jeni hindari. Jeni merasa keberatan dengan syarat yang Adrian ajukan sehingga dia pun memprotes syarat dari Adrian.
" Enak saja, kamu kira aku ini pembantu kamu. Aku tidak mau, yang ada justru kuku-kuku ku akan rusak dan tubuhku bau dapur."Seru Jeni dengan tegas menolak.
" Kenapa kamu malah mau menjadikan Jeni pembantu mu, Adrian. Aku tidak rela anak ku satu-satunya kamu jadikan seperti pembantu seperti itu. Lebih baik Jeni tinggal saja sama ibu di rumah kontrakan ini."Seru ibu Harti juga menolak syarat yang diajukan Adrian.
Pak Anwar langsung menarik tangan ibu Harti menjauh. Pak Anwar tidak suka jika ibu Harti ikut campur dengan rumah tangga Jeni. Jika dia terus seperti itu, kapan Jeni akan bisa bersikap dewasa. Lagi pula apa yang diminta Adrian juga masih wajar, pekerjaan yang akan Jeni kerjakan juga pekerjaan rumah yang setiap istri pasti akan dengan ikhlas melakukannya tanpa disuruh pun akan dikerjakan.
__ADS_1
" Apaan sih pak. Sakit tahu tangan ibu."Seru ibu Harti dengan ketus.
" Ibu itu yang apa-apaan? Ibu terlalu ikut campur dengan rumah tangga mereka. Biarkan Jeni dan Adrian membina rumah tangganya sendiri tanpa ibu harus ikut campur."Ucap pak Anwar menasehati istrinya.
" Kamu tidak sayang sama anak kamu, pak? Kamu tega melihat Jeni mengerjakan pekerjaan kasar seperti itu? Dasar orang tua tidak berperikemanusiaan."Seru ibu Harti dengan ketus.
Ibu Harti kembali menghampiri Adrian dan Jeni yang masih terus saja berdebat. Jeni kekeh tidak mau menerima syarat yang Adrian berikan, dan Adrian pun tetap pada pendiriannya. Kedatangan ibu Harti bukannya memberikan solusi justru malah memperburuk suasana saja.
" Kalau Adrian tetap pada pendiriannya, kamu jangan mau Jen. Kamu tinggal saja sama ibu dan Ayah mu di sini."Seru ibu Harti lagi-lagi ikut campur.
" Iya, aku akan tinggal sama orang tuaku. Kamu terserah mau tinggal di rumah kontrakan atau di rumah orang tua kamu."Seru Jeni ikut apa kata ibu Harti.
" Oh begitu, hemm baiklah kalau begitu aku tidak akan memaksa kamu. Kamu sendiri yang mempersulit rumah tangga kita, Jen. Sepertinya sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, kalau begitu saya permisi."Ucap Adrian lalu mengambil tas kerja yang tadi dia letakkan di atas meja.
Saat Adrian hendak meninggalkan rumah kontrakan mertuanya. Tiba-tiba Jeni menghentikan langkah kaki Adrian.
" Ada apa?."Tanya Adrian singkat. Sebenarnya Adrian sudah tahu maksud Jeni namun dia pura-pura tidak tahu saja.
" Mana jatah bulananku. Bulan ini kamu sudah terima gaji full kan? Sesuai permintaanku, kamu harus memberikan 5 juta gajimu untukku."Seru Jeni sambil menengadahkan tangannya dihadapan Adrian.
Adrian hanya tersenyum dengan kecut. Tidak akan mau Adrian memberikan Jeni uang bulanan selama Jeni tidak mau mendengar ucapannya dan tidak menghargainya sebagai suami. Apa lagi sekarang Jeni lebih memilih tinggal dengan orang tuanya, padahal syarat yang dia berikan tidaklah berat akan tetapi Jeni tidak mau mengikutinya.
" Jangan harap aku akan memberi kamu uang, selama kamu belum bisa menjadi istri yang baik. Kamu kan yang memilih tinggal dengan orang tua kamu, jadi kamu terima saja apa yang aku putuskan."Seru Adrian membuat Jeni dan ibu Harti semakin meradang.
" Tidak bisa begitu, kamu harus menafkahiku seperti biasa !!."Seru Jeni dengan lantang.
__ADS_1
" Kamu jangan keterlaluan Adrian !."Seru ibu Harti.
Adrian tidak perduli, Jeni dan ibu Harti memprotes tindakannya. Adrian tidak mau terus-menerus mengalah dengan Jeni, Jeni semakin dikasih hati dia semakin seenaknya saja. Adrian melenggang meninggalkan rumah kontrakan mertuanya, dan membiarkan teriakan Jeni yang terus memanggilnya.
" Bu, bagaimana ini? Aku tidak mau kalau sampai Adrian itu meninggalkan aku bu. Apa lagi sekarang ini dia tinggal sama ibunya, bisa-bisa gaji Adrian di kuasai oleh ibu mertuaku yang julid dan mata duitan itu, Bu. Kalau begini bisa-bisa Adrian akan meninggalkan aku bu."Seru Jeni mulau ketakutan ditinggalkan Adrian.
" Kalau kamu takut Adrian meninggalkan kamu, kamu harus berubah. Kamu harus bisa menjadi seorang istri sesuai keinginan Adrian, Jeni. Lagi pula, pekerjaan yang kamu kerjakan itu bukan pekerjaan kasar, pekerjaan itu yang sudah selayaknya dikerjakan seorang istri. Lagi pula Adrian tadi juga sudah bilang, dia pasti akan membantu pekerjaan kamu. Jadi tidak akan lepas tangan begitu saja." Ucap pak Anwar mencoba menasehati Jeni.
Ibu Harti sendiri nampak kebingungan. Jika dia tetap meminta Jeni untuk tinggal dengannya, sudah pasti Jeni akan kehilangan uang bulanan dari Adrian. Dan Jeni tidak akan bisa melakukan perawatan di salon seperti bulan-bulan sebelumnya.
" Mungkin ada baiknya kamu ikuti saja kemauan suami kamu, Jen. Daripada uang bulanan kamu melayang begitu saja dan bisa jadi masuk kantong ibu mertua kamu. Kamu sekarang susul Adrian pulang ke rumah mertua kamu, dan kamu meminta maaf dan pura-pura menyesal. Setelah itu kamu ajak antrian pindah ke kontrakan kaliqn sendiri dan lakukan apa yang tadi diminta Adrian. Kamu tenang saja, lambat laun Adrian pasti akan melupakan syarat nya itu."Seru ibu Harti masih saja mengajarkan cara licik kepada Jeni.
" Ajarkan anakmu itu hal yang baik bu, bukan cara licik seperti itu."Seru pak Anwar.
" Kamu diamlah pak, tidak usah ikut campur. Malah semakin rumit kalau kamu sudah ikut campur. Lebih baik sekarang Bapak antar saja Jeni pulang ke rumah mertuanya, ini sudah mau magrib jadi lebih baik diantar bapak saja."Ucap ibu Harti.
Mau tidak mau Jeni mengikuti apa kata ibunya, dan dia pun di antar pulang oleh pak Anwar sesuai perintah dari ibu Harti. Dalam perjalanan pulang, Jeni mulai menyiapkan mentalnya dan mulai merangkai kata-kata yang pas untuk mendapatkan maaf Adrian dan meluluhkan hati seorang Adrian.
" Kamu itu harus menjadi istri yang baik, Jen. Agar suami kamu sayang sama kamu."Seru pak Anwar menasehati Jeni.
" Sejak kapan ayah jadi bijak begini? Sepertinya ot4k Ayah sudah korslet."Jawab Jeni sedikit berteriak karena jalanan saat ini sedang ramai sehingga suaranya kalah dengan kendaraan yang lalu lalang.
" Ayah hanya ingin menjadi ayah yang baik, Jen. Setiap manusia pasti ingin berubah lebih baik lagi."Seru pak Anwar lagi.
Jeni memilih diam saja, tidak mau banyak bicara lagi. Fikirannya sedang kalut, karena saat dia sampai rumah nanti pasti ibu mertuanya akan memarahinya, belum lagi menghadapi Adrian dan meminta maaf.
__ADS_1
***************