
.
.
.
💐💐 HAPPY READING 💐💐
Dengan Adrian yang saat ini sudah menjabat sebagai menejer keuangan, membuat Jeni semakin seenaknya saat ada di kantor. Contoh nya saat ini, setelah keluar dari ruangan Olivia tadi , Jeni langsung menuju ruangan suaminya yang ada di lantai berbeda dengannya.
Jeni memasang wajah cemberut agar Adrian semakin simpati dengannya. Bagaimanapun Adrian harus ada dipihaknya, dan menolak Olivia menjadi menejer.
" Mas Adrian."Seru Jeni masuk ruangan Adrian tanpa permisi lebih dulu.
" Jeni ! Mau apa kamu datang ke ruanganku? Tigs puluh menit lagi aku ada meeting dengan pak Miko, dan ini aku sedang menyelesaikan pekerjaan yang akan dibahas saat meeting nanti. Tolong jangan ganggu aku dulu ya, oh iya besok-besok kalau mau masuk ketuk pintu dulu ya."Seru Adrian dengan mata tetap fokus dengan layar laptop yang ada di hadapannya.
" Aku ini istrimu mas, masa iya sih harus ketuk pintu segala."Jawab Jeni dengan kesal.
" Kamu tahukan ini itu kantor? Mana tahu saat kamu masuk aku sedang ada tamu atau klien. Sudahlah Jen, jangan buat mood ku jadi tidak baik. Aku pusing nih, pekerjaan belum selesai juga padahal sebentar lagi mau meeting."Seru Adrian lagi.
Huuufffff
Jeni kesal dengan sikap Adrian yang cuek dan lebih mementingkan pekerjaannya. Jeni pun keluar dari ruangan Adrian dengan menutup pintu semaunya.
Brraaakkk..
Adrian terlonjak kaget dengan kelakuan istrinya.
__ADS_1
" Ada apa lagi dengan Jeni? Perasaan saat berangkat tadi dia baik-baik saja, aneh."Ucap Adrian bermonolog pada dirinya sendiri.
Meeting pun akan segera di mulai, beruntung pekerjaan Adrian sudah selesai namun dia tidak sempat untuk memeriksanya ulang. Meeting kali ini hanya melibatkan menejer dan kepala staff semua devisi yang ada di perusahaan.
Hari pertama Olivia masuk kerja harus ikut meeting padahal dia belum tahu banyak soal keadaan devisinya saat ini. Akan tetapi tadi dia sudah membaca laporan yang sudah dibuat oleh pak Saiful, sekitar 1jam Olivia mempelajari laporan demi laporan yang diberikan oleh pak Saiful sebelum dia pulang.
Para menejer dan kepala staff sudah berada di ruangan meeting, hanya tinggal Miko dan Adrian yang belum datang.
" Maaf saya sedikit terlambat."Seru Adrian masuk dengan buru-buru, dia bernafas dengan lega ternyata Miko belum ada di ruangan itu.
Adrian pun duduk di kursi yang biasa dia tempati saat dia meeting. Dia belum sadar jika di ruangan itu juga ada Olivia. Olivia sendiri tidak memperdulikan kedatangan Adrian, dia fokus dengan berkas yang ada di tangannya. Adrian merasa ada yang berbeda dengan jajaran para menejer, dan dia pun melihat ada Olivia yang duduk di kursi yang biasa di tempati oleh pak Saiful.
" Olivia."Seru Adrian dengan suara lumayan keras sehingga yang lain bisa mendengarnya.
Olivia hanya melihat Adrian sekilas dengan senyum tipisnya sambil menganggukan kepalanya.
" Kenapa kamu ada disini, Liv?." Tanya Adrian dengan penasaran.
Degghh
Adrian syok dengan jawaban yang diberikan oleh Olivia. Bagaimana bisa dengan mudahnya dia bekerja dan langsung bisa menjadi menejer, sedangkan dirinya saja butuh waktu 5 tahun lebih untuk bisa menjadi seorang menejer. Hal ini benar-benar membingungkan, Adrian pun tahu kenapa tadi Jeni terlihat kusut saat masuk ke ruangannya. Pastinya karena Olivia, apalagi Olivia menejer di devisi Jeni.
Pintu ruangan meeting pun terbuka, nampak Miko dan sang sekretaris memasuki ruangan meeting. Wajah Miko mode serius, cuek dan dingin. Olivia bisa memakluminya karena saat ini mereka sedang bekerja dan harus bersikap profesional.
" Kita mulai meetingnya."Seru Miko dengan suara yang berwibawa.
" Baik Pak."Jawab semuanya serentak.
__ADS_1
Satu persatu kepala staff dan menejer mempersentasikan hasil kerjanya selama sebulan ini. Karena Olivia masih baru, dia diberikan keringanan cukup mendengarkan apa yang dijelaskan oleh kepala staff pemasaran. Dan jika ada yang tidak pahami bisa langsung ditanyakan.
Para menejer menjelaskan dengan jelas dan mudah dipahami. Kini giliran Adrian, dia tidak seberapa fokus dengan pekerjaannya karena terus memikirkan keberadaan Olivia. Dia senang bisa satu perusahaan dengan Olivia, tapi dia heran kenapa Olivia bisa dengan mudah menjadi menejer.
" Anda itu fokus tidak saat menjelaskan? Kenapa bisa tidak sama dengan laporan yang anda buat ini. Jika memang anda sudah tidak mau bekerja di perusahaan ini lagi anda bisa buat surat pengunduran diri anda. Dari beberapa hari yang lalu pekerjaan anda itu tidak benar."Seru Miko memarahi Adrian.
" Maaf pak, emm.. Saya jangan dipecat. Mungkin saya tidak fokus karena memang saya yang kurang enak badan pak."Jawab Adrian berbohong. Tidak mungkin dia bicara jujur tidak fokus karena penasaran dengan Olivia.
* Sepertinya mas Miko sengaja membuat Adrian tidak betah, ada dendam tersendiri ternyata.*Gumam Olivia.
Setelah dua jam, akhirnya meeting itupun selesai. Semua yang terlibat dalam meeting itupun keluar dan kembali ke ruangannya masing-masing terkecuali Olivia dan Miko. Sepasang suami istri itu masih berada di ruangan merting, Miko memandangi Olivia seakan ada sesuatu di wajah Olivia.
" Kenapa memandangku begitu? Ada yang lucu?."Tanya Olivia dengan tangan memegang kedua pipinya.
" Tidak ada, istriku cantik."Jawab Miko.
" Heleh gombal. Aku kembali ke ruanganku dulu ya mas, tidak enak kalau berlama-lama disini. Aku harus profesional saat ada di kantor, mas nanti banyak yang ingin aku bicarakan sama kamu. Hari ini kamu berhasil membuat aku terkejut, Mas."Seru Olivia bangkit dan hendak keluar dari ruangan meeting.
Namun secara tiba-tiba Miko menarik Olivia sehingga tubuh Olivia jatuh dipelukannya. Dan momen itu dimanfaatkan oleh Miko, Miko mencium bibir ranum sang istri dengan lembut. Olivia terbuai dengan apa yang dilakukan oleh Miko, namun tiba-tiba akal sehatnya kembali lagi.
" Emm.. Mas, jangan seperti ini. Ini di lingkungan kantor, meskipun kita suami istri aku tidak mau seperti ini. Ini namanya tidak sopan, nanti kita lanjutkan di rumah ya."Ucap Olivia mulai berani nak4l dengan suaminya sendiri.
" Idih sudah mulai n4k4l ya. Ya sudah kembalilah ke ruanganmu, jangan lupa saat jam makan siang kamu harus ke ruanganku. Kita makan siang bersama di ruanganku. Ok sayang."Seru Miko mencubit pelan hidung mancung Olivia.
" Ok suamiku."Jawab Olivia dengan singkat.
Olivia dan Miko keluar secara bersamaan dari ruangan meeting. Di sudut lain, ada Jeni yang melihat keakraban antara Olivia dan Miko. Jeni tadi sengaja ke ruangan meeting untuk mencari keberadaan Olivia, sebab yang lainnya sudah kembali Olivia tak kunjung kembali ke ruangannya.
__ADS_1
" Ternyata dugaan ku benar. Olivia ada main dengan pak Ceo, hemm diam-diam kamu menghanyutkan juga Olivia. Lihat saja, setelah aku mendapatkan bukti-bukti perselingkuhanmu, aku akan tunjukan kepada suamimu. Dengan begitu kamu akan segera menjanda, dan kariermu di kantor akan aku hancurkan.*Gumam Jeni dalam hatinya.
************