
.
.
.
💐💐 HAPPY READING 💐💐
" Sayang, besok kita sudah mulai masuk kantor lagi ya. Dan mulai sekarang kalau kamu jadi sekretaris ku bagaimana? Agar kita bisa bersama-sama setiap saat."Seru Miko dengan memainkan alisnya naik turun.
Dengan cepat Olivia menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau menjadi sekretaris suaminya, dia lebih suka bekerja di bagian divisi keuangan sesuai dengan kemampuannya. Dab dia tidak tahu menahanmu soal pekerjaan sekretaris.
" Oh No !! Aku tidak ada kemampuan apapun di bidang sekretaris, Mas. Aku lebih suka dan lebih nyaman bekerja di devisi pemasaran. Lagi pula jika aku jadi sekretaris kamu, bagaimana dengan sekretaris yang lama ? Masa iya kamu mau memecatnya atau memutasinya?." Seru Olivia nampak keheranan.
" Ya kalau kamu mau menjadi sekretarisku, berarti sekretarisku yang lama ya menggantikan posisi kamu sebagai manajer pemasaran. Mudah kan?."Jawab Miko sebegitu mudahnya merubah dan mengganti posisi perkerjaan karyawannya.
Olivia sama sekali tidak setuju dengan jawaban suaminya. Jika dia tetap memaksakan untuk menjadikannya sekretaris, belum tentu Olivia bisa bekerja sebagua dan selancar sekretaris lamanya. Begitupun sebaliknya, Olivia lebih nyaman bekerja di devisi pemasaran saja.
" Ya sudah kalau tidak mau. Sayang yuk tidur, tapi ritual sebelum tidur dulu ya."Ucap Miko sambil memainkan matanya.
" Maaf Mas, sepertinya untuk satu minggu kedepan mas puasa dulu deh. Emm baru tadi sore aku kedatangan tamu bulannya, makanya tadi tidak ikut sholat berjamaah sama mas."Jawab Olivia dengan senyum sumringah karena selama seminggu kedepan tidurnya tidak ada yang mengganggu.
" Haahhh... Puasa lagi sayang."Seru Miko dengan lemas.
" Iya mas, ya sudah kita tidur saja yuk."Seru Olivia mengajak Miko tidur.
__ADS_1
Miko hanya mengangguk dengan pasrah, pupus sudah harapannya untuk lembur malam ini. Ternyata jalan menuju puncak sedang di portal untuk satu minggu kedepan. Mau tidak mau Miko ya harus menunggu sampai jalannya di buka kembali oleh sang pemiliknya.
" Yah terima nasib saja dulu."Seru Miko pasrah.
Olivia tertawa kecil melihat suaminya yang manyun. Kasihan sih, tapi mau bagaimana lagi memang jalannya masih portal dulu. Sabar ya Miko.
*******
" Pak nanti siang ibu tidak memasak, karena ibu mau pergi sama teman-teman ibu. Bapak makan saja di warteg atau di rumah makan padang yang ada di ujung jalan sana."Seru ibu Harti saat pak Anwar baru saja menghabiskan nasi gorengnya.
Pak Anwar hanya menganggukkan kepalanya saja. Dia tidak mau banyak komentar yang ujungnya akan membuat dirinya berdebat dengan istrinya. Selesai sarapan pak Anwar bersiap untuk berangkat mengojek.
" Pak, bagi duit dong."Seru ibu Harti.
Bukannya uang yang diterima ibu Harti akan tetapi ceramah dari pak Anwar. Mana mungkin dia berhenti ikut arisannya, bahkan niat dia setelah arisan ini habis dia akan ikut yang 2 juta per bulannya. Malu kalau cuma ikut yang kecil, padahal dia mengaku-ngaku orang berduit kepada teman-temannya.
" Heleh cuma ngasih 75 ribu sehari saja bangga. Ya sudah sana pergi kerja saja, jangan lupa pulang bawa duit yang banyak."Seru Ibu Harti sembari tangannya mendorong pak Anwar ke luar dari rumah.
Pak Anwar hanya bisa menggeleng melihat kelakuan istrinya. Daripada terus mendengar ocehan istrinya, dia memilih segera berangkat mengojek saja. Semenjak tinggal di rumah kontrakan pak Anwar merasa lebib nyaman daripada tinggal di rumah peninggalan orang tua Olivia. Meskipun rumah itu lebih besar, tetapi hati pak Anwar tidak tenang seolah-olah ada seseuatu yang terus membebani fikirannya.
Setelah pak Anwar berangkat mengojek, ibu Harti mengambil ponselnya untuk menghubungi Jeni anak kesayangannya. Dia akan mengajak Jeni untuk ikut dengannya shopping dengan teman-temannya.
[ Maaf bu, Jeni tidak bisa. Ini masih di rumah orang tuanya Adrian, mungkin baru nanti sore kalau gak malam Jeni pulang. Adrian juga baru berangkat kerja, jadi mana mungkin aku pulang duluan.] Terpaksa Jeni menolak ajakan ibunya karena dia masih di rumah orang tua Adrian.
Adrian sengaja meminta Jeni untuk di rumah orang tuanya dulu sampai dia pulang kerja. Agar Jeni tahu bagaimans rasanya tinggal di rumah mertua dan mengerjakan pekerjaan rumah. Jika di rumah mertuanya sudah pasti Jeni akan di suruh mengerjakan pekerjaan rumah dan turun ke dapur untuk memasak.
__ADS_1
[ Jadi semalam kamu menginap di rumah mertua kamu? Apa kamu di suruh beberes rumah atau memasak sama ibu mertua kamu?] Tanya ibu Harti seakan tidak rela jika anaknya melakukan pekerjaan rumah.
[ Iya bu. Tadi Jeni di suruh membantu masak sarapan dan ini lagi mau ngepel. Ibu mertua lagi belanja sayuran untuk memasak nanti siang sama malam ]
[ Kenapa juga semalam kalian tidak langsung pulang saja. Ibu tidak rela kamu disuruh-suruh begitu.]
[ Tahu tuh Adrian, katanya masih mau menginap di rumah orang tuanya dulu. Dan kalau aku tidak mau menginap di suruh pulang sendiri, nah ibu sendiri yang bilang kalau aku harus terus bersama Adrian agar dia tidak di goda wanita lain.]
[ Iya juga sih. Ya, sudah ibu mau bersiap-siap dulu.]
Klik
Ibu Harti segera mematikan sambungan teleponnya. Dia bersiap-siap untuk pergi, sebentar lagi teman-temannya mau datang menjemputnya. Meskipun kehidupannya sekarang sudah tidak seperti dulu lagi, keuangannya sudah turun drastis, Ibu Harti tetap saja tidak sadar diri dan tidak kasihan suaminya yang bekerja hanya untuk memenuhi gaya hidup mewah.
Sementara itu, di perusahaan saat ini Adrian sedang berasa di ruangan Miko untuk melaporkan pekerjaan yang semalam dia kerjakan sampai lembur-lembur. Miko mengakui jika Adrian memang bertanggung jawab dengan pekerjaannya. Semua pekerjaannya hampir selesai secara sempurna.
" Bagus, jika pekerjaan kamu seperti ini terus aku bisa mempertahankan kamu di perusahaan ini dan asalkan kamu tetap bekerja secara profesional." Ucap Miko secara tidak langsung dia mengakui kinerja Adrian secara langsung.
" Terima kasih pak, saya akan bekerja secara profesional dan akan membuat bapak bangga. Terima kasih masih mempercayakan saya untuk bekerja di perusahaan ini."Ucap Adrian sangat berterima kasih kepada Miko karena Miko masih percaya dengannya untuk tetap bekerja di perusahaannya.
" Aku tidak akan mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan. Selagi kamu tidak seperti istri kamu itu."Seru Miko lagi.
Adrian mengangguk paham dengan apa yang dikatakan Miko. Dia tidak mau kehilangan pekerjaan nya yang cukup menjanjikan itu, sehingga dia akan bekerja dengan baik dan sepenuh hati.
**************
__ADS_1