
.
.
.
💐💐 HAPPY READING 💐💐
" Jangan sentuh mobil itu!!."Seru Olivia kembali nengulangi ucapannya.
Jeni dan ibu Harti langsung memandang kearah Olivia berdiri. Kedua karyawan pun saat ini sudah berada di samping Olivia.
" Apa mobil kamu?."Seru Jeni dengan lantang.
Hahahahaa Hhaaahaaaaa
Jeni dan ibunya tertawa dengan cukup keras, sehingga Adrian dan pak Anwar pun ikut keluar rumah ingin tahu hal apa yang sedang di tertawakan Jeni dam ibunya. Ada beberapa tetangga juga yang melongok kearah rumah pak Santo.
" Kalau halu jangan ketinggian Olivia."Seru Jeni masih dengan tawa mengejek.
" Hahaha.. Kamu baru bangun tidur atau bagaimana Olivia?." Seru ibu Harti ikut mencibir Olivia.
Olivia hanya tersenyum tipis saja, sedangkan dua orang karyawan showroom hanya bengong melihat kelakuan Jeni dan ibu Harti. Mereka terlihat meremehkan dan merendahkan Olivia, padahal mobil itu memang dibeli oleh Olivia secara kas.
Melihat Adrian yang juga keluar rumah, Jeni langsung berlari dan memeluk Adrian dengan hangat. Adrian sendiri belum paham kenapa Jeni memeluknya seperti itu.
" Sayang terima kasih atas kejutannya "Ucap Jeni dengan lembut.
" Kejutan? Kejutan apa?." Tanya Adrian semakin tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Jeni.
" Idih mas Adrian pura-pura deh, itu lah kejutan mobil baru nya. Ternyata diam-diam mas membelikan mobil baru untuk aku, terima kasih ya mas. Aku jadi semakin sayang deh sama mas, I love you mas Adrian."Seru Jeni lalu mendaratkan ciumannya di kedua pipi Adrian secara bergantian.
__ADS_1
Hhoooeeekkk
Melihat Jeni bertingkah mesra seperti itu membuat Olivia mual dan ingin muntah saja. Bisa-bisanya bermesraan didepan orang ramai seperti itu, dan ada juga tetangga yang sudah berdatangan untuk melihat mobil baru yang datang.
" Wahh mobil baru bu Harti?."Tanya bu Lulu sambil mengusap body mobil.
" Iya dong, ini hadiah dari Adrian untuk Jeni. Bagus kan ibu-ibu, awas jangan pegang-pegang nanti lecet loh."Seru ibu Harti dengan sombong dan percaya diri penuh.
" Adrian ternyata banyak duit ya sampai bisa membelikan mobil sebagus ini. Bisa nih bu kapan-kapan pas arisan kita jalan-jalan kepantai pakai mobil baru Jeni."Seru ibu Pinah ikut berkomentar.
" Iya dong boleh."Jawab ibu Harti semakin menyombongkan dirinya.
Adrian bingung dan hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia sama sekali tidak membeli mobil, tapi kenapa ada mobil yang datang dan mobilnya pun mobil baru. Melihat kesalah pahaman yang semakin melebar, salah satu petugas showroom pun ikut angkat bicara agar urusannya mengantarkan mobil cepat selesai.
" Maff bu, mbak dan bapak. Sebelumnya perkenalkan saya Hamdan, pegawai showroom mobil yang bertugas untuk mengantarkan mobil ini kepada pembelinya. Tapi dalam keterangan surat-suratnya, mobil ini dibeli bukan atas nama pak Adrian atau ibu Jeni, tapi atas nama mbak Olivia putri. Dan mobil ini memang dibeli oleh mbak Olivia siang tadi, secara kas."Ucap Hamdan membuat Jeni dan ibu Harti seketika syok.
Deggghhh
Jeni langsung melepaskan pelukannya dari Adrian. Dia tidak percaya jika mobil baru yang ada di hadapannya benar mobil Olivia. Ibu Harti pun tidak percaya begitu saja, meskipun dia syok dan kaget dia tetap tidak percaya. Terlebih dia sudah menyombongkan diri didepan para tetangganya.
" Kenyataanya memang benar mbak Olivia yang membelinya."Ucap Hamdan sekali lagi.
Jeni langsung menatap tajam suaminya, suaminya nampak biasa saja sebab memang dia tidak mengatakan jika dia yang membeli mobil itu. Semua anggapan itu dari Jeni dan ibu nya sendiri.
" Aku memang tidak membeli mobil itu Jeni, mungkin memang benar Olivia yang membelinya."Jawab Adrian dengan tenang.
" Mas, kamu serius?." Tanya Jeni memperjelas semuanya.
" Iya aku serius."Jawab Adrian singkat.
Brruuukkkk
__ADS_1
Tiba-tiba saja Jeni ambruk dan tertidur di lantai. Dia syok dan tidak terima jika Olivia bisa membeli mobil baru. Padahal dirinya yang sudah koar-koar jika akan membeli mobil, nyatanya justru Olivia lebih dulu yang membeli mobil.
" Jeni, Jen bangun."Seru Adrian dan ibu Harti yang langsung menghampiri Jeni yang pingsan.
Olivia tidak peduli dengan Jeni yang pingsan, dia tetap meneruskan urusannya dengan dua pegawai showroom tadi. Setelah urusan mobil selesai, dua karyawan tadi pun pulang dengan mobil yang satunya lagi.
" Huuuuuuuu... Katanya Adrian beli mobil untuk Jeni, nyatanya Olivia yang beli untuk dirinya sendiri."Seru ibu Pinah mencibir.
" Maaf ya ibu-ibu, berhubung sudah mau magrib lebih baik kalian pulang saja ya. Lanjutkan kegiatan ibu-ibu didapur yang pastinya belum selesai."Ucap Olivia mengusir para ibu-ibu secara halus.
Para perkumpulan ibu-ibu itupun akhirnya bubar dan pulang kerumahnya masing-masing. Setelah rombongan ibu-ibu pulang, Olivia membawa mobilnya ke garasi samping yang memang sudah ada dari dulu. Olivia masuk rumah lewat pintu samping, dan langsung tertuju di ruang keluarga.
" Senang kamu melihat kakakmu seperti ini? Awas saja kalau sampai terjadi sesuatu dengan kandungan Jeni, kamu orang pertama yang akan aku salahkan."Ucap Ibu Harti memarahi Olivia.
" Kenapa aku yang disalahkan? Bukannya dia pingsan karena ulahnya sendiri, lagian suruh siapa tadi tidak percaya kalau aku memang beli mobil. Justru kalian yang mengaku-ngaku kalau mobil itu Adrian yang beli."Jawab Olivia dengan berani.
" Mobil."
" Mobil."
" Tidak mungkin Olivia membeli mobil baru. Itu mobil ku, itu mobil ku."Racau Jeni dengan mata yang masih terpejam.
Urusan kali ini pak Anwar tidak mau ikut campur, sedari tadi dia diam saja dan tidak berkomentar. Meskipun dia kasihan dengan Jeni, tapi dia tidak mau jika Jeni tetap bertindak semaunya. Ada kalanya apa yang diminta dan diinginkan Jeni tidak harus mereka turuti.
" Harus terima kenyataan dong kalau nyatanya memang aku bisa beli mobil tanpa harus gadai sertifikat rumah."Seru Olivia semakin membuat ibu Harti meradang.
Ibu Harti mengangkat tangannya hendak menampar Olivia, namun dengan cepat pak Anwar menangkapnya. Ibu Harti kaget dengan tindakan suaminya yang semakin hari semakin berubah.
" Pak, kenapa kamu menahan ku? Seharusnya bapak membiarkan aku menampar mulutnya yang lancang ini. Jangan-jangan sertifikat rumah ini dia sendiri yang menggadaikan lalu dibelikan mobil dan dia menggantinya dengan sertifikat palsu."Ucap ibu Harti.
" Aku bukan ibu dan Jeni !! Yang mau sesuatu tidak mengukur kemampuan diri, aku beli dengan uangku sendiri dan tidak ada hubungannya dengan sertifikat rumah."Ucap Olivia bicara dengan sinis.
__ADS_1
Olivia tidak perduli dengan tatapan tajam Ibu Harti. Dia bukanlah Olivia yang dulu, yang mudah di tindas dan mudah untuk dimanfaatkan serta mengalah. Olivia yang sekarang tidak akan membiarkan orang-orang seperti Jeni dan ibu Harti meremehkannya, sebisa mungkin dia akan mempertahankan apa yang dia miliki.
****************