Aku Bukan Pengantinnya

Aku Bukan Pengantinnya
Mendatangi kedai boba


__ADS_3

.


.


.


💐💐 HAPPY READING 💐💐


Jeni menceritakan soal usaha kedai boba yang dimiliki oleh Olivia kepada Ibu Harti. Sudah pasti ibu Harti pun terkejut saat tahu Olivia mempunyai usaha itu jauh sebelum dia menikah. Mereka berdua merasa dibohongi oleh Olivia, sebab Olivia sama sekali tidak memberitahu mereka jika dia mempunyai usaha kedai Boba, bahkan saat ini sudah ada di dua tempat.


Ibu dan anak itu merencanakan sesuatu untuk meminta salah satu kedai Boba milik Olivia. Menurut mereka, mereka juga berhak atas apa yang dimiliki Olivia sebelum dia menikah. Olivia membangun usaha Boba itu, sepeserpun dia tidak meminta bantuan dari ayah dan ibu angkatnya maupun Jeni.


" Bu jangan-jangan Olivia waktu itu mencuri sertifikat rumah dan dijaminkan ke bank, bukan untuk membeli mobil. Akan tetapi untuk membuka usaha Boba ini bu, apalagi usaha nya ada di dua tempat. Dan yang Jebi tahu ruko pertama itu besar, tentunya sewanya juga mahal. Apa kita minta yang kedai di ruko itu saja ya Bu."Ucap Jeni seakan-akan dia berhak atas apa yang dimiliki oleh Olivia.


Ruko pertama tempat Olivia buka usaha boba itu awalnya memang hanya sewa selama 2 tahun saja. Tapi setelah dia mendapat uang dari paman Arman hasil dari kebun sawit, ruko itu sudah Olivia beli karena pemilik Ruko butuh uang cepat jadi di jual dengan harga yang sedikit miring. Ditambah uang tabungan Oliva juga cukup, sehingga dia juga memutuskan membeli mobil.


Untuk kedai kedua memang tidak terlalu besar, hanya bangunan petak berukuran 7×6 meter saja dan itu dari awal buka sudah Olivia beli. Jadi saat ini tempat usaha Olivia semua bangunan milik Olivia. Awal dia buka keda boba, dengan pinjaman uang 25 juta dari tante Rumi yang berujung sampai sekarang tidak mau di kembalikan. Dan setiap kali Olivia berniat mengembalikannya, tante Rumi marah dan mengancam tidak mau mengenal Olivia.


" Bisa jadi Jen. Ternyata selama ini kita di bohongi habis-habisan sama Olivia Jen. Pantas saja saat mau menikah dengan Adrian dia punya uang cukup banyak, berarti sertifikat itu sudah lama dia ambil. Hemm.. Ini tidak bisa di biarkan."Ucap ibu Harti yang ikut kesal seperti Jeni.


" Sekarang kita kesana saja yuk bu. Kedai yang di ruko itu tidak jauh dari sini kok, pokoknya kita harus minta bagian dari kedai itu. Enak saja dia buka usaha dengan hasil menangguhkan sertifikat rumah. Jeni berhak dong atas usaha itu, tapi kalau dia tidak mau ngasih bagaimana ya bu? Apa kita harus memaksanya, sekarang ada suami nya itu loh bu yang pasti akan membantunya."Ucap Jeni agak ragu dengan usahanya nanti.

__ADS_1


" Ibu tidak peduli, mau suaminya itu nanti menghalangi atau tidak. Pokoknya kita harus berusaha agar salah satu kedai boba itu menjadi milik kita."Seru ibu Harti bersemangat merebut yang bukan miliknya.


Jeni dan ibu Harti pun, bersiap-siap untuk pergi ke kedai boba yang ada di ruko. Mereka datang kesana dengan taksi online yang sudah Jeni pesan. Mereka berdua memang tidak ada malu nya sama sekali, sampai ingin merebut yang bukan miliknya. Seujung kukupun Olivia tidak mungkin akan membiarkan mereka menguasai apa yang sudah di miliki Olivia dengan usaha dan jerih payahnya sendiri.


Sementara itu, sepulangnya meeting Olivia datang ke kedai ruko nya. Dia ingin beristirahat di sana sekalian menikmati boba cokelat dan burger sebagai menu makan siangnya. Jeni dan ibu Harti tidak tahu jika saat ini Olivia ada dikedai itu juga.


Setelah taksi yang mereka naiki berhenti di depan kedai boba. Dengan buru-buru, Jeni turun dari mobil dan langsung masuk ke kedai dengan diikuti ibu Marni.


" Buatkan kami dua cup boba milk tea dan burger, menu sosis bakaran sama kentang goreng."Seru Jeni dengan sombong langsung menghampiri penjaga kedai.


" Sosis , burger sama kentang gorengnya mau berapa porsi kak?."Tanya karyawan Olivia dengan ramah. Mereka tidak paham betul jika yang baru datang itu adalah keluarga Olivia.


Tentu saja karyawan Olivia kaget saat mendengar Jeni akan memecatnya. Apalagi dia merasa tidak mengenal wanita yang ada di depannya itu. Namun , karyawan Olivia tidak terlalu memusingkannya. Mungkin itu hanya orang iseng saja yang memang tidak sabaran saat memesan makanan.


" Baik kak, akan segera saya buatkan. Silahkan menunggu."Jawab karyawan tetap berusaha bersikap sopan dan ramah terhadap Jeni dan ibu Harti.


" Heemmm... Saya tunggu di kursi sebelah sana."Seru Jeni sambil menunjuk kursi yang berada di depan meja kasir.


" Iya kak."Jawab karyawan itu dengan menganggukkan kepalanya.


Jeni dan ibunya duduk di kursi dengan mata yang liar, melihat ke sana dan ke mari. Mereka memindai setiap sudut kedai boba itu, kedai memang saat ini dalam keadaan ramai karena memang sudah jam makan siang. Meskipun tidak menjual nasi, saat makan siang pasti akan selalu ramai. Burger dan kentang goreng serta menu bakaran sudah cukup mengenyangkan. Apalagi untuk burger hanya dimulai dari harga 15 ribu saja sudah mengenyangkan.

__ADS_1


" Bu, ramai juga ya kedai ini. Hemm kira-kira omset setiap harinya berapa ya bu."Ucap Jeni.


" Ehh.. Mana ibu tahu Jen. Coba saja kamu tanya sama kasirnya."Jawab ibu Harti.


Jeni segera menuju kasir yang ada di dekatnya untuk menanyakan omset setiap hariannya.


" Mbak, omset harian kedai seperti ini berapa sih? ."Tanya Jeni langsung pada intinya.


" Oh.. Kalau omset sih tidak menentu kak, namanya juga berdagang pasti pasang surut juga. Kalau minum nya sih sehari kita bisa menghasilkan omset 3 sampai 4 juta, tapi kalau sedang ramai dan banyak pesanan bisa di atas 5 juta, tapi itu kotor ya kak. Dalam 3 hari sekali kita juga harus belanja bahan-bahan yang habis."Jawab sang kasir dengan detail.


Jeni hanya menganggukkan kepalanya tanda dia paham dengan penjelasan kasir tadi. Jeni kembali lagi ke meja nya dan membahas omset harian kedai dengan ibunya.


" Omsetnya lumayan bu, bisa 3 juta lebih sehari. Kalau dikali 1 bulan bisa puluhan juta bu, cepat kaya nanti aku bu. Huhhh jadi tidak sabar ingin segera mengambil alih kedai ini bu."Seru Jeni sangat bersemangat.


" Nah apa ibu bilang, kalau begitu kita harus cepat bergerak untuk mengambil alih kedai ini."Seru ibu Harti.


" Kedai siapa yang mau kalian ambil alih?."Tanya Olivia yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat mereka dengan kedua tangannya bersedekap didepan.


Jeni dan ibu Harti langsung memandang Olivia dengan jengah. Sedikitpun mereka tidak kaget dengan kedatangan Olivia, justru itu yang mereka inginkan. Segera bertemu Olivia agar urusan kedai bisa cepat di selesaikan.


*************

__ADS_1


__ADS_2