Aku Bukan Pengantinnya

Aku Bukan Pengantinnya
Pesan dari ibu


__ADS_3

.


.


.


💐💐 HAPPY READING 💐💐


Kabar kehamilan Olivia sudah sampai ke telinga Pak Anwar dan ibu Harti. Ibu Harti sama sekali tidak suka mendengar kabar kehamilan Olivia, dia merasa Olivia terlalu beruntung mendapatkan kebahagiaan yang beruntun. Sedangkan Jeni hidupnya tidak semujur Olivia, untuk jatah bulanan saja terbatas sekali.


Ibu Harti menghubungi Jeni, memberitahukan jika saat ini Olivia sedang hamil. Tentu saja Jeni juga tidak suka mendengar kabar kehamilan Olivia. Dengan Olivia hamil, Olivia pasti akan mendapatkan kemewahan yang lebih lagi dan akan di manja oleh mertuanya yang kaya raya.


Jeni sendiri saat ini sudah mulai bekerja di salah satu perusahaan. Jeni bekerja sudah ada 2 hari, dan tentunya perusahaan tempat Jeni bekerja tidak sebesar milik Miko. Gaji Jeni juga tidak sebesar saat masih di perusahaan Miko.


[ Sudahlah bu, sekarang Jeni lagi bekerja. Nanti kalau sudah pulang kita bahas lagi masalah Olivia.] Seru Jeni lalu mengakhiri panggilan telepon dari ibu Harti.


Jeni mengepalkan kedua tangannya dengan geram. Bisa-bisanya Olivia hidupnya seberuntung ini, ulang tahun dapat hadiah 1 set berlian dan mobil. Pasti dengan kehamilannya ini dia akan mendapatkan hadiah yang lebih besar lagi.


" Seberuntung itukah nasib si kutu kupret itu? Dulu aku kira saat aku berhasil merebut Adrian hidupnya akan terpuruk dan semakin hancur. Ternyata aku salah, justru semua itu malah menjadikan jalan kebahagiaannya. Awas kamu Olivia."Seru Jeni dengan kesal.


" Kerja yang bener, jangan cuma ngomel-ngomel sendiri. Kamu itu anak baru loh, harus bisa menunjukan kinerja yang bagus agar posisimu aman. Masih baru tuh jangan bikin kesalahan."Ucap Santi teman baru Jeni di tempat kerjanya.


" Iya mbak."Jawab Jeni dengan singkat.

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain, ibu Harti terus menggerutu. Besok lusa waktunya dia untuk arisan dan bayar cicilan tas yang dia ambil akan tetapi dia belum punya uang. Mau menjual perhiasannya pun dia tidak mau, jika dijual tentunya perhiasannya semakin berkurang dan itu akan membuat dia malu saat kumpul dengan teman-temannya.


" Sial4n !! Si anak tidak tahu diri itu saat ini sedang hamil, dan hidupnya semakin bahagia. Sedangkan hidupku juga begini-begini saja tidak ada perubahan. Justru keuangan ku semakin seret saja, besok lusa sudah waktunya arisan dan bayar cicilan. Huuhh dapat uang darimana aku?."Ucap ibu Harti pada dirinya sendiri.


Ibu Harti terus berfikir bagaimana dia bisa mendapatkan uang dengan cepat selain menjual perhiasannya. Cukup lama berfikir, akhirnya ibu Harti mendapatkan ide. Olivia? Iya Olivia yang akan dia mintain uang, dia akan berpura-pura baik dan menyesali perbuatannya selama ini terhadap Olivia.


" Olivia pasti bisa aku bodoh-bodohin, anak itu kan paling tidak tega kalau ada orang yang menangis. Aku akan pura-pura meminta maaf dan menyesali perbuatan ku selama ini, pasti dia akan terperdaya dengan permintaan maaf palsuku." Ucap ibu Harti terlalu percaya diri sekali.


Ibu Harti kembali meraih ponselnya yang tadi dia letakkan di atas meja. Dia membuka aplikasi berwarna hijau dan membuka status kontak Olivia, dimana tadi Olivia memposting foto USG di status WhatsApp nya.


[ Selamat ya Liv, ibu ikut senang dan bahagia dengan kabar kehamilan kamu. Jaga kesehatan dan jangan terlalu lelah, kamu masih hamil muda dan baru hamil pertama. Jaga kehamilan kamu dengan baik-baik ya. Maaf kan ibu, jika selama ini ibu sudah jahat dan mengabaikan kamu. ]


[ Apa ibu boleh berkunjung ke rumah kamu? Ibu ingin meminta maaf secara langsung dan memperbaiki hubungan kita,Liv. ]


Tiga pesan secara beruntun sudah ibu Harti kirimkan kepada Olivia. Ibu Harti senyum-senyum sendiri saat kembali membaca pesan yang baru saja dia kirim kepada Olivia. Pesan itu sudah centang 2 abu-abu yang artinya pesan sudah masuk namun belum dibaca oleh si penerima.


Ibu Marni menunggu pesan balasan dari Olivia. Lima menit, sepuluh menit sampai tiga puluh menit pesan itu belum juga dibalas Olivia. Jangankan dibalas, dibaca saja belum. Ibu Marni nampak kesal karena dia menunggu dengan sia-sia.


" Kemana sih anak itu? Sombong banget tidak mau membaca pesan dariku? Apa dia lupa jika aku ini yang sudah merawatnya dari dia masih bayi merah sampai dewasa dan menikah. Benar sih aku merawat dia juga ada yang bantuin, tapi saat yang bantuin sudah tidak ada kan aku yang mengurus keperluan dia. Meskipun saat itu aku lakukan dengan terpaksa dan ogah-ogahan. Tapu tetap saja aku ini orang yang sudah berjasa dalam hidupnya. Seharusnya dia bisa balas budi kepadaku."Ucap ibu Harti terus bicara sendiri seperti orang yang sudah tidak waras lagi.


Sedangkan di kantor, Olivia yang sudah menyelesaikan pekerjaannya memeriksa ponselnya. Dia membuka pesan beruntun dari ibu Harti tadi. Olivia pun membaca pesan itu, hatinya sedikit tersentuh dengan kalimat halus dan lembut ibu Harti. Akan tetapi, ada keraguan dalam diri Olivia, benarkah ibu Harti yang selama ini membencinya dan memusuhinya sudah berubah secepat ini.


" Apa ibu serius? Jika dia memang serius dan tulus meminta maaf , tentunya aku juga akan memafkannya. Tapi jika hanya pura-pura, aku tidak akan memaafkan dia. Lalu aku harus bagaimana?."Ucap Olivia bingung.

__ADS_1


Tangan Olivia mengetikkan balasan untuk pesan ibu Harti tadi.


[ Terima kasih atas ucapan nya dan nasehatnya bu. Jika ibu memang serius meminta maaf dengan senang hati Olivia akan memaafkan ibu. Tapi jika hanya untuk berpura-pura demi mendapatkan perhatian dan kebaikan dari Olivia, maaf Olivia tidak mengizinkan ibu untuk kerumahku.]


Olivia membalasnya dengan tegas, dia tidak mau dibodoh-bodohi oleh Ibu Harti. Sudah cukup selama ini ibu Harti memanfaatkan hasil dari keringatnya.


Tringg


Dengan cepat ibu Harti membalas pesan dari Olivia. Sepertinya ibu Harti memang standby dengan ponselnya.


[ Ibu tidak main-main Olivia, ibu serius ingin meminta maaf sama kamu. Apa kamu memaafkan ibu? Ibu juga ingin berkunjung kerumah kamu, kita perbaiki hubungan kita yang selama ini tidak baik. Ibu benar-benar menyesali perbuatan ibu.] Balas ibu Harti menyakinkan Olivia.


[ Jika memang ibu serius meminta maaf dan menyesali perbuatan ibu selama ini , Olivia menerima kedatangan ibu dengan baik. Pintu rumah Olivia terbuka lebar untuk ibu.]


[ Terima kasih nak. Sore ini ibu akan ke rumah mu.]


[ Iya Olivia tunggu bu.]


Olivia sendiri sebenarnya sudah memaafkan kesalahan ibu Harti dan keluarganya. Tidak baik menyimpan dendam dan kebencian, biar sang pencipta sendiri kelak yang membayar perbuatan ibu Harti berikut anak dan suaminya. Olivia juga sangat berharap, hubungannya dengan ibu Harti dan keluarganya membaik. Bagaimanapun ibu Harti dan pak Anwar orang yang sudah merawatnya, meskipun dirawat dengan keterpaksaan.


**********


Semoga saja dengan pura-pura meminta maaf, Hati ibu Harti bisa terbuka dengan tulus.

__ADS_1


__ADS_2