Aku Bukan Pengantinnya

Aku Bukan Pengantinnya
Jeni mengadu


__ADS_3

.


.


.


💐💐 HAPPY READING 💐💐


Ibu Harti pulang dengan kesal dan bersungut-sungut. Bagaimana tidak kesal jika dia merasa tante Rumi mempermalukannya didepan umum. Hubungan Ibu Harti dan tante Rumi dari zaman dulu kala memang tidaklah akur. Ada kisah masa lalu yang membuat dia sangat membenci, tante Rumi.


Brakkkk


Dengan kasar ibu Harti membuka pintu rumah kontrakannya. Rumah dalam keadaan kosong, karena pak Anwar memang belum pulang dari mengojek.


Arrrggghhhh


Ibu Harti berteriak dengan kencang mengeluarkan kekesalannya.


" Awas saja kamu, Rumi !! Kamu sudah mempermalukan aku di depan umum. Aku tidak akan pernah lupa kejadian hari ini."Seru ibu Harti sambil mengepalkan kedua tangannya.


Ibu Harti adalah sepupu dari Yasmin, ibu kandung Olivia. Saat Yasmin pacaran dengan Zainal ayah kandung Olivia, dia beberapa kali ke rumah Yasmin dengan mengajak Pak Arman, yang berstatus adik kandung pak Zainal. Ibu Harti mengenal pak Arman saat mereka sudah sama-sama lulus sekolah SMA.


Ibu Harti menaruh hati dengan pak Arman, namun cinta ibu Harti bertepuk sebelah tangan. Cintanya tidak terbalas karena pak Arman ternyata lebih menjatuhkan hatinya kepada tante Rumi yang tak lain adalah teman dari ibu kandung Olivia.


Semenjak itulah, ibu Harti sangat membenci Tante Rumi dan tidak pernah mau berbaikan meskipun sudah beberapa kali tante Rumi mengajak berbaikan. Bahkan Almarhum Yasmin juga sudah pernah mendamaikan mereka tapi tetap sama saja tidak ada hasilnya.


" Rumi, dari dulu kamu selalu membuat aku kesal. Seandainya kamu tidak hadir dalam kehidupanku mungkin saat ini aku yang menjadi istrinya Arman dan aku akan bahagia dengan Arman."Ucap ibu Harti terus menggerutu dengan kesal.


Saat ibu Harti masih terus menggerutu, tiba-tiba Jeni datang dengan wajah yang ditekuk dan kusut seperti baju yang belum di setrika. Tanpa mengucap salam atau permisi dia langsung duduk di samping ibu Harti.

__ADS_1


" Kamu kenapa lagi, Jen? Datang-datang manyun seperti itu?."Tanya ibu Harti heran.


" Aku kesal bu. Masa sampai sekarang aku dan Adrian itu tinggal di rumah orang tua Adrian. Di sana aku di perlakukan seperti pembantu bu, disuruh bantuin masak. Aku juga harus menyapu dan mengepel, serta mencuci baju mertuaku. Aku tidak betah tinggal di rumah orang tua Adrian bu."Seru Jeni mengadu kepada ibu Harti.


Sudah pasti ibu Harti tidak terima anak semata wayangnya diperlakukan seperti itu. Dia menikahkan Jeni dengan Adrian agar hidupnya terjamin, bukan malah untuk dijadikan pembantu oleh mertuanya.


" Kurangajar !! Lantas bagaimana tanggapan Adrian saat tahu kamu di suruh - suruh sama ibu mertua kamu?."Seru ibu Harti ingin tahu tanggapan Adrian.


" Adrian ya diam saja bu, dia malah mendukung apa yang dilakukan ibunya. Katanya biar aku bisa menjadi istri yang bisa mengurus suami dengan baik dan tidak pemalas."Seru Jeni semakin menjadi-jadi.


Ibu Harti mengepalkan kedua tangannya, dia harus bicara dengan Adrian. Dia tidak mau anaknya dijadikan pembantu. Padahal pekerjaan seperti itu sudah biasa dilakukan oleh para menantu di luaran sana. Ibu Juleha juga tidak memperlakukan Jeni sebagai pembantu, dia hanya bersikap tegas agar Jeni bisa menjadi istri yang baik dan mengurus Adrian dengan baik. Mulut ibu Juleha memang tajam saat berbicara, sama persis dengan ibu Harti.


" Ibu akan hubungi Adrian dulu. Nanti biar sepulang kerja dia mampir kesini, mau ibu ceramahi dulu dia. Oh iya, apa kamu itu tidak mau cari kerja lagi?."Seru ibu Harti.


" Mau sih bu, tapi Jeni sudah beberapa kali memasukan surat lamaran kerja sampai sekarang belum juga ada kabarnya, bu. Apa lagi saat ibunya Adrian tahu aku sudah tidak bekerja, dia semakin semena-mena bu. Padahal dulu saat aku kerja, dia memanjakan aku dan selalu membanggakan aku. Semua ini gara-gara Olivia."Geram Jeni.


[ Adrian, sepulang kerja kamu ke kontrakan ibu dulu. Ada hal yang mau ibu bicarakan sama kamu, ini Jeni juga ada di rumah kontrakan ibu.]


" Ibu sudah kirim pesan sama Adrian, memintanya untuk datang kemari. Kamu di sini saja dulu sampai Adrian datang."Ucap ibu Harti sembari mengusap punggung Jeni dengan lembut.


" Iya bu. Jeni lelah sekali bu, ini tadi bisa keluar rumah karena Jeni bilang kalau mau cari pekerjaan. Oh iya bu, tadi Jeni lewat depan rumah kita yang di sita Bank itu, kok pintu nya kebuka ya dan ada mobil di depannya. Apa mungkin sudah ada orang yang menempatinya?."Tanya Jeni dan hanya dijawab gelengan kepala oleh Ibu Harti.


Dia memang tidak tahu menahu lagi urusan rumah itu. Sudah ada yang menempati atu belum. Semenjak rumah itu sudah di sita oleh pihak bank, bank bohongan ibu Harti sudah tidak pernah datang ke rumah itu lagi.


Rumah Olivia tidak akan dia kontrakan ataupun dia sewakan. Rumah itu setiap 3 hari sekali memang ada yang datang untuk membersihkannya. Dan saat Jeni lewat tadi sudah pasti orang suruhan Miko sedang membersihkan rumah itu.


*****


Sepulang dari kantor, Adrian benar datang ke rumah kontrakan mertuanya. Dia sudah bisa menebak jika Jeni pasti sudah cerita apa yang sudah terjadi di rumah orang tuanya.

__ADS_1


" Adrian, kamu kok sendirian? Mana Jeni?."Tanya pak Anwar saat dia melihat Adrian datang sendirian.


Pak Anwar juga baru saja pulang, saat dia turun dari motor Adrian juga baru sampai. Sehingga dia tidak tahu kalau Jeni sudah ada di rumah dari siang tadi.


" Baru pulang pak? Jeni sudah ada di dalam, tadi siang dia datang kesini dan ini Adrian datang untuk menjemputnya. Bapak apa kabar?."Seru Adrian dengan sopan menyalami bapak mertuanya.


" Alhamdulillah baik. Oh Jeni sudah ada didalam, ya sudah yuk kita masuk saja."Seru pak Anwar menyambut bahagia kedatangan menantunya.


Adrian dan pak Anwar sama-sama masuk ke rumah. Rumah nampak sepi, sepertinya para penghuni nya sedang berada di kamarnya masing-masing.


" Bu, itu ada Adrian. Tolong bilang sama Jeni suruh buatkan suaminya minuman. Kasihan itu Adrian baru pulang dari kantor, pasti dia capek."Seru pak Anwar saat sudah berada dalam kamar yang ternyata ibu Harti sedang berbaring sambil memainkan ponselnya.


" Ohh.. Rupanya sudah datang si menantu kurangajar itu. Bisa-bisanya dia diam saja saat anakku diperlakukan seperti pembantu oleh ibunya. Aku harus kasih pelajaran si Adrian itu."Seru ibu Harti langsung turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar tanpa memperdulikan pak Anwar.


Pak Anwar mengikuti istrinya dari belakang, sepertinya akan terjadi keributan di sore hari. Itulah prediksi dari pak Santo.


" Adrian !! Bisa-bisa nya ya kamu diam saja saat anakku di perlakukan seperti pembantu oleh ibumu. Hehh.. Jeni itu anak ku satu-satunya dan dia tidak terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah. Seenaknya saja ibu mu meminta Jeni untuk mengepel,mencuci dan memasak."Seru ibu Harti langsung memarahi Adrian.


Mendengar suara ibunya yang melengking dan menyebut nama Adrian. Jeni pun bergegas keluar dari kamar, terlihat ibu Harti berdiri di depan Adrian dengan berkacak pinggang. Jeni hanya melihatnya dari ambang pintu sambil menyandarkan tubuhnya di pintu.


" Bukannya itu memang pekerjaan seorang istri ya bu? Lantas untuk apa aku menikahi Jeni kalau dia tidak mau mengurus rumah dan mengurusku? Mau memperkerjakan pembantu? Darimana bayar gajinya? Kalau menurut ibu Ibuku sudah menjadikan Jeni sebagai pembantu, ibu bisa minta Jeni pulang ke rumah ibu dan tinggal sama ibu."Seru Adrian dengan berani dia menjawab ocehan ibu Harti.


" Ini sebenarnya ada apa sih, bu ?."Seru pak Anwar belum paham pokok permasalahannya.


" Diam kamu pak!! Tidak perlu ikut campur dengan urusan ku dengan Adrian !."Seru ibu Harti membentak pak Anwar.


* ibunya saja tidak bisa menghargai suaminya, lalu bagaimana anaknya bisa menghargai suaminya juga. Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya.*Gumam Adrian dalam hatinya.


***********

__ADS_1


__ADS_2