
.
.
.
💐💐 HAPPY READING 💐💐
Resepsi pernikahan Miko dan Olivia diadakan di salah satu hotel bintang lima milik keluarga Miko. Para tamu undangan sebagian sudah datang ke acara resepsi, mereka nampak takjub dengan dekorasi yang dipakai di acara resepsi itu.
Dokorasi nampah mewah dan elegant, benar-benar pestanya orang kaya raya. Para tetangga Olivia juga sudah datang, mereka datang dengan bus yang sengaja Miko kirimkan. Semua tetangga yang Miko beri undangan nampak datang semua, meskipun tidak semuanya Miko kenal.
Di acara resepsi pernikahannya ini, Miko dan keluarganya tidak membolehkan para tamu undangan memberikan amplop seperti pada umumnya orang-orang yang sedang pesta pernikahan. Di dalam undangan sudah tertulis jika tamu datang tanpa memberikan amplop.
Sementara itu, ibu Harti dan pak Anwar ada di kamar hotel sedang bersiap. Begitupun dengan paman Arman beserta istri dan anaknya. Miko memang sudah menyiapkan kamar untuk mertuanya dan keluarga paman Arman.
" Pak, Jeni sama Adrian kemana ya? Kok mereka belum datang juga."Tanya ibu Harti.
" Sudah jangan mikirin mereka, mereka sudah dewasa pasti tahu jalan menuju kesini. Bukannya tadi ibu sudah kasih tahu Jeni kamar tempat kita istirahat ini. Sekarang cepatlah selesaikan itu mek up ibu, kita harus segera keluar. Malu bu kalau besan dan Arman sudah disana duluan."Seru pak Anwar mulai kesal dengan istrinya yang sedari tadi mek up belum selesai juga.
Hhiisshhhh
Ibu Harti mendengus kesal, suaminya selalu membuatnya kesal. Terlebih Jeni dan Adrian juga sudah jam 7 belum datang juga, padahal sudah dari 1 jam yang lalu Jeni bilang otewe.
Tok Tok Tok
Pintu kamar di ketuk, dengan cepat ibu Harti membukakan pintu. Ternyata yang datang Olivia dan Adrian, wajah Jeni nampak kesal karena riasannya sudah rusak gara-gara mereka berangkat dengan naik motor.
" Kok kalian baru datang? Dan kok tidak pakai baju seragam seperti ibu ini? Apa Olivia tidak memberi kalian baju seragam keluarga?."Tanya Ibu Harti penuh selidik.
__ADS_1
" Masuk dulu lah bu, baru bertanya."Seru Jeni terlihat badmood.
Jeni dan Adrian masuk, Adrian duduk di sofa bersama pak Anwar. Jeni langsung ke meja rias membenarkan riasan di wajahnya yang sedikit berantakan. Jeni dan ibu Harti memang sama-sama panda merias wajah, tidak perlu ke salon mereka sudah pandai merias wajah.
" Aku dan Adrian tidak ada baju seragam bu. Karena kami ini cuma di anggap tamu bukan keluarga. Kami saja cuma dapat undangan lewat perusahaan tidak ada undangan langsung dari Olivianya. Menyebalkan sekali kan? Padahal aku juga mau pakai baju seragam, mana bahannya bagus dan tentunya harganya juga mahal itu bu."Seru Jeni dengan wajah cemberutnya.
" Olivi itu memang keterlaluan sekali, apa dia kira mentang-mentang sudah kaya lalu lupa dengan saudara. Lihat saja ibu nanti akan buat perhitungan dengan nya."Ucap ibu Harti kesal.
" Bu, jangan cari masalah di acara resepsi Olivia dan Miko. Disini banyak pihak keamanan, banyak bodyguard. Yang ada ibu nanti akan di seret keluar, siapa yang akan malu? Ibu sendirilah yang akan malu karena akan menjadi bahan tontonan para tamu undangan yang lain. Lagi pula di sini juga ada para tetangga kita yang ikut datang, tolong punya malu dikit dong bu."Ucap pak Anwar mengingatkan ibu Harti.
Hhhuuufffftttt
Ibu Harti membuang nafas dengan kasar, pesta resepsi Miko dan Olivia memang sangat megah. Baru lihat sekilas saja ibu Harti sudah takjub, bagaiman jika dia sudah berada di tengah-tengaj ruangan yang dijadikan tempat resepsi. Sudah pasti dia akan terkagum-kagum.
" Bu, pesta ini sangat mewah dan meriah. Pesta pernikanku kalah, bu."Seru Jeni bersungut-sungut.
" Pak Miko itu seorang CEO, sedangkan kita dulu hanya karyawan biasa. Sudah pasti kita kalah Serli, kita tidak akan pernah bisa bersaing dengan pak Miko. Lebih baik sekarang kita cepat ke ruang resepsi, sepertinya acara sudah akan di mulai."Seru Adrian.
" Kamu dapat seragam juga?." Tanya ibu Harti kepada Dina tanpa mau menyebutkan nama Dina
" Iya."Jawab Dina singkat padat dan cepat.
Mereka tetap melangkah menuju acara resepsi, ternyata kedatangan keluarga Olivia sudah di tunggu. Mereka langsung di arahkan untuk mebdekati raja dan ratu malam itu. Ibu Harti dan suaminya berdiri tepat di belakang besannya. Pak Arman, tante Rumi dan Dina juga berdiri di belakangnya, mereka akan masuk aula berbarengan dengan pengantin.
Jeni dan Adrian terpaksa tidak ikut dengan rombongan pengantin karena mereka berdua terhitung bukan sebagai keluarga.
"Dasar Olivia pelit."Seru Jeni dengan kesal terus menggerutu sendiri.
" Sudahlah Jen, jangan marah-marah seperti ini. Kita di undang memang sebagai tamu undangan saja, sebagai karyawan kantor. Ya sudah yuk kita gabung sama tamu-tamu yang lainnya, ini tenggorokan ku juga sudah kering. Aku mau ambil minum, kalau kamu mau tetap disini ya terserah kamu."Seru Adrian lalu dia berjalan lebih dulu meninggalkan Jeni.
__ADS_1
Jeni mengikuti Adrian dengan berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya. Sampai suara high heels nya bunyi pletak pletok.
Acara resepsi pun dimulai, pengantin dan keluarga besar berjalan memasuki aula tempat resepsi. Semua para tamu undangan berdiri menyambut sang raja dan ratu dalam acara malam itu.
" Wah Olivia cantik banget ya."Seru ibu-ibu tetangga Olivia.
" Iya benar dia cantik banget."Ucap ibu Rt juga mengakui jika Olivia memang terlihat sangat cantik.
* Duhhh... Pasti ibu-ibu rempong itu terpesona dengan kecantikan ku dan perhiasan yang aku kenakan.*Gumam ibu Harti terlalu percaya diri.
Setelah pengantin sudah sampai di singgasananya, para tamu undangan kembali duduk. Acara demi acara pun dimulai dengan di pandu oleh pembawa acara yang sudah terkenal dengan bayaran fantastis. Setelah acara demi acara selesai, kini para tamu undangan sudah bisa bebas menikmati semua makanan yang sudah di siapkan. Banyak macam makanan yang sudah disiapkan, dari jajanan sampai makanan berat ada semua.
Miko mengajak Olivia turun dari singgasana untuk menyapa para tamu undangan yang lainnya. Para keluarga juga ikut turun dan berbaur dengan tamu yang lainnya. Akan naik singgasana lagi nanti saat para tamu sudah akan pulang.
Mama Miko sedari tadi memperhatikan tante Rumi, dia merasa tidak asing dengan wajah tante Rumi. Seperti pernah mengenal dan pernah bertemu dengan tante Rumi, tapi dimana dan kapan.
" Bu besan kenapa diam saja?." Tanya ibu Harti menghampiri mamanya Miko.
" Oh tidak apa-apa."Jawab Sarah dengan singkat. Terlihat jika Sarah memang tidak menyukai ibu Harti, dari Miko dia sudah tahu jika ibu Harti dan pak Anwar hanya orang tua angkat Olivia saja.
Sarah berjalan menghampiri meja dimana tante Rumi sedang duduk bersama Dina dan ibu-ibu yang lainnya.
" Rumi."Seru Sarah dengan pelan.
Tante Rumi langsung mengalihkan pandangannya. Dia memperhatikan wanita paruh baya yang saat ini berdiri di sampingnya. Tante Rumi juga nampak tidak asing dengan Sarah.
" Kamu Rumi kan?."Tanya Sarah lagi.
" Iya benar. Dan kamu Sarah? Sarah Anjarwati?."Seru tante Rumi.
__ADS_1
Tante Rumi bangkit lalu memeluk mama Miko. Mereka saling berpelukan dengan erat, ada rindu yang sepertinya membebani mereka berdua. Cukup lama mereka berpelukan dan tanpa terasa mereka meneteskan air mata.
************