Aku Bukan Pengantinnya

Aku Bukan Pengantinnya
Adrian meminta maaf


__ADS_3

.


.


.


💐💐 HAPPY READING 💐💐


Setelah selesai urusannya di kedai boba, Olivia kembali ke perusahaan. Masalah di kedai tadi sudah dia lupakan, tidak mau terus difikirkan karena akan membuat dia tidak fokus bekerja. Pekerjaan di kantor masih banyak yang harus segera dia selesaikan.


Tring


Tring


[ Sayang sudah makan siang belum?] Pesan singkat dari Miko berhasil membuat Olivia senyum-senyum sendiri.


Olivia mengetik balasan dengan senyum-senyum.


[ Sudah mas. Mas, sendiri sudah makan siang?] Tanya balik Olivia.


[ Sudah juga sayang. Mas kangen.]


[ Gombal deh, baru juga setengah hari tidak bertemu sudah kangen.]


[ Serius deh. Sayang, mas mau lanjut ke lapangan dulu ya. Mas nanti sampai rumah malal ya, jadi nanti makan siang duluan saja.]


[ Iya mas.]


Pesan Olivia sudah tidak di balas lagi, sepertinya Miko memang sudah kembali ke lapangan lagi. Akhir-akhir ini Miko memang di sibukkan dengan proyek kerja samanya yang baru. Sebagai seorang istri Olivia tetap percaya dengan suaminya. Meskipun terkadang rasa takut suaminya macam-macam pun hingga dalam fikirannya.


Tok

__ADS_1


Tok


Tok


Pintu ruangan Olivia di ketuk dari luar, Olivia pun mempersilahkan orang yang ada di depan ruangannya untuk masuk.


" Maaf bu, di luar ada pak Adrian ingin bertemu dengan ibu."Seru Mila sekeretaris Olivia memberitahu.


" Adrian?."Seru Olivia dengan pelan.


Merasa tidak ada pekerjaan yang saling berhubungan dengan Adrian, membuat Olivia merasa aneh saja jika Adrian datang ke ruangannya.


" Mau apa pak Adrian menemui saya? Apa ada pekerjaan yang harus dibahas, Mil?."Tanya Olivia dengan serius.


" Saya kurang paham bu. Kalau pekerjaan sepertinya tidak ada, mungkin ada uusan yang lain. Apa ibu mau mengizinkannya masuk atau tidak?."Tanya Mila lagi.


" Suruh dia masuk."Jawab Olivia yakin.


Saat ini Adrian sudah duduk di depan meja kerja Olivia. Adrian nampak canggung, namun Olivia nampak biasa saja. Sebab dia sudah bisa melupakan Adrian, dan membuang perasaannya dengan Adrian.


" Ada apa?."Tanya Olivia mulai membuka suara lebih dulu.


" Emm... Sebelumnya maaf sudah mengganggu waktu kamu, Olivia. Apa benar tadi Jeni datang menemui kamu dan kalian ribut?."Tanya Adrian balik.


Hhuuufffttt...


Olivia membuang nafas dengan kasar, ternyata soal Jeni. Sebenarnya dia malas mau membahas soal keributan yang tadi terjadi di kedai boba miliknya. Namun karena Adrian yang sudah mulai membahasnya lebih dulu, mau tidak mau Olivia juga akan membahasnya.


" Ohh.. Ternyata istrimu yang manja itu sudah buat laporan sama kamu? Bukan aku yang cari ribut dengan istrimu, akan tetapi istrimu yang sudah memulai keributan lebih dulu. Istri kamu itu biang masalah dan sumber masalah, jadi kamu jangan menyalahkan saya."Seru Olivia tidak mau jika dirinya disalahkan oleh Adrian.


" Tidak, aku tidak menyalahkan kamu Olivia. Justru aku datang kesini itu untuk meminta maaf sama kamu. Tolong maafkan Jeni dan tolong jangan kamu beritahu suami kamu soal keributan tadi. Aku sudah berjanji sama pak Miko jika aku tidak akan mengganggu kebahagiaan kamu lagi, dan aku benar-benar tidak menyangka jika Jeni akan membuat masalah lagi. Aku tidak mau pak Miko memecat aku, Liv. Jika dipecat, aku mau bekerja apa?".Seru Adrian yang ternyata takut jika Miko akan memecatnya, karena ulah Jeni yang sudah buat masalah dengan Olivia.

__ADS_1


Olivia mendengarkan apa saja yang di ucapakan Adrian. Kasihan juga sampai Adrian di pecat gara-gara ulah istrinya. Apa lagi Olivia dan Adrian tidak ada masalah apa-apa , hanya Jeni saja yang memang belum bisa berdamai dengan Olivia.


" Memangnya suamiku mengancam akan memecat kamu?."Tanya Olivia.


" Pak Miko akan memecatku jika aku masih mengusik ataupun mendekati kamu. Dia tidak bisa terima jika kebahagiaan mu di ganggu sama siapapun. Dia itu sayang banget dan cinta banget sama kamu, Olivia. Kamu beruntung sekali bisa menikah dengannya."Ucap Adrian lagi.


" Ohh.. Yang buat masalah tadi istrimu bukan kamu, jadi suamiku tidak akan memecatm. Suamiku pasti tahu bagaimana dia harus bertindak, bukannya profesional kerja itu sangat di butuhkan. Kamu ajari saja istri kamu bagaimana cara bersikap, jangan seenaknya meminta sesuatu yang tidak mungkin akan aku berikan. Aku kesal dan marah dengan istrimu karena dia tiba-tiba ingin mengambil alih usahaku. Apa kamu kira aku membangun usaha itu dengan uangnya? Sekarang keluarlah,dan lanjutkan pekerjaan mu karena ini masih jam kerja. Jangan lupa tolong tutup pintunya."Seru Olivia lalu tangannya mulai membuka map yang ada di hadapannya.


Adrian sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi jika Olivia sudah memintanya untuk keluar seperti itu. Merasa memang sudah tidak ada yang dibicarakan lagi, Adrian pun bangkit dan pamit undur diri.


" Permisi."Seru Adrian berusaha bersikap sopan.


" Heeemmmm."


Olivia hanya berdehem saja dengan matanya yang fokus pada berkas yang sedang dia baca. Selama pekerjaan Adrian bagus, tidak merugikan perusahaan dan tidak membuat masalah dia tidak akan di pecat. Kinerja Adrian di perusahaan cukup bagus dan masih sangat di butuhkan. Hanya saja istrinya yang selalu mencari-cari masalah dengan Olivia. Jeni dari zaman dahulu kala memang maunya menang sendiri, dia selalu iri dengan pencapaian Olivia.


Sementara itu, di tempat lain Jeni dan ibu Harti terus saja menggerutu atas apa yang tadi terjadi di kedai boba. Keinginannya untuk memiliki kedai boba Olivia gagal total, Olivia secara terang-terangan menolak dan menentang keinginannya itu.


" Ibu tidak tahu kalau Olivia punya usaha, kalau misal tahu dari dulu pasti itu akan kita kuasai dari dulu. Apalagi dulu Ayah kamu masih saja selalu membela kamu, jadi akan lebih mudah kita mengambil alihnya. Olivia dulu sama Ayahmu kan takut, dan dia selalu nurut jika Ayahmu sudah bicara. Kalau sekarang jangan diharapkan lagi, ayahmu itu sudah berpihak kepada Olivia."Seru ibu Harti terus menggerutu.


Memang benar adanya, dulu sebelum Olivia tahu jika kedua orang tuanya hanya orang tua angkat yang sudah menghabiskan hartanya. Olivia selalu menurut apa saja kata Pak Anwar, saat pak Anwar meminta Olivia untuk membiayai kuliah semester Jeni, Olivia langsung mengiyakan saja.


" Masa sih bu, Ayah itu sudah berubah 100 persen? Padahal dulu Ayah akan menjadi orang pertama yang memanjakan aku."Seru Jeni lagi.


" Mungki ot4k ayah kamu sudah geser, jadi dia lebih memilih membela Olivia ketimbang membela anak kandungnya sendiri. Sekarang ayah kamu itu dikit-dikit Olivia yang dia bela. Ini saja pasti dia marah jika dia tahu kalau tadi kita habis ribut dengan Olivia."Seru ibu Harti.


Ceeekkkhhh


Jeni berdercak dengan kesal, dia sangat kesal dengan Olivia yang sekarang. Hidupnya lebih terjamin, semua keinginan dan kebutuhannya juga terpenuhi dengan baik. Tidak seperti dirinya yang hanya mengandalkan uang jatah dari suaminya.


" Aku tadi sudah memberitahu Adrian, tapi justru aku yang dimarah-marah Adrian. Dia juga bilang jangan cari masalah, jangan mengganggu hidup Olivia lagi. Karena jika sampai mengganggu Olivia, suami Olivia akan memecat dia. Kurangajar bangetkan bu si Olivia kutu kupret itu?."Seru Jeni dengan bibir nya manyun lima centi meter.

__ADS_1


************


__ADS_2