Aku Bukan Pengantinnya

Aku Bukan Pengantinnya
Hari yang ditunggu


__ADS_3

.


.


.


💐💐 HAPPY READING 💐💐


Sudah 10 menit Jeni menunggu didepan kamar Olivia tapi Olivia tak kunjung keluar membawa kunci mobil dan surat-surat mobil yang tadi dia minta. Kaki Olivia pegal sehingga dia menyusul ibunya yang sudah duduk kembali di sofa ruang tengah. Pak Anwar dan Adrian kembali melanjutkan permainan caturnya yang sebentar lagi selesai.


Olivia semakin kesal saat sudah hampir setengah jam menunggu Olivia tidak kunjung keluar juga. Jeni pun kembali menghampiri kamar Olivia dan mengetuknya.


Tok


Tok


" Olivia, mana kunci mobil dan surat-surat mobilnya. Niat mau minjemin tidak sih, sudah setengah jam kamu tidak keluar kamar juga. Jangan main-main kamu, Olivia !!."Teriak Jeni lagi mulai marah lagi.


Jeni mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Olivia. Dilihatnya Olivia sedang Online, dengan cepat Jeni mengiriminya pesan.


[ Olivia kamu ngerjain aku, ya? Awas kamu Olivia, cepat bawa sini kunci mobil dan surat-suratnya. Ini sudah malam, aku mau pulang.] Tulis Jeni.


Pesan Jeni langsung centang dua , dan tidak lama centang dua itu sudah berganti warna biru. Terlihat Olivia sedang mengetik balasannya.


[ Jangan mimpi kamu bisa memakai mobil ku. Katanya menejer, katanya orang kaya masa iya mobil saja beli. Percuma kamu gedor-gedor pintu kamar ku, karena aku tidak akan meminjamkan mobil ku.] Balasan Olivia membuat Jeni semakin tersulut emosi.


Dduggh


Dduggh


Dduggh


Bukan lagi di ketuk, pintu kamar Olivia di gedor lagi oleh Jeni. Tetap saja tidak ada jawaban dari Olivia, sepertinya Olivia memang sudah menebalkan telinganya.


" Jeni, lebih baik kamu pulang saja. Jangan buat masalah malam-malam begini. Jika Olivia tidak mau meminjamkan mobilnya kepadamu. Kamu jangan marah ataupun memaksanya."Ucap Pak Anwar meminta Jeni untuk pulang.


Pak Anwar malas jika harus terjadi keributan lagi, yang ada akan mengganggu para tetangga yang sedang beristirahat. Wajah Jeni sudah seperti pakain kusut yang belum di setrika, dia sudah membayangkan pergi ke kantor dengan mobil Olivia dan bisa dia pamerkan kepada teman-temannya, tapi nyatanya Zonk.


" Tapi pak, Jeni itu hanya ingin meminjam mobilnya Olivia. Kenapa Olivia pelit banget, padahal mereka ini adik kakak loh."Ucap ibu Harti membela Jeni.

__ADS_1


" Aku tidak menyangka Olivia sepelit ini."Ucap Adrian ikut berkomentar.


Adrian dan Jeni sama-sama manusia tidak punya malu. Mau bergaya tapi hasil dari meminjam, bergaya yang tidak di sesuaikan dengan kemampuan dan isi dompetnya.


" Kita pulang saja, lihat saja sampai Olivia meminta bantuan kita, jangan harap aku mau membantunya."Seru Adrian terlihat kesal dengan Olivia yang bersikaap pelit dan seenaknya saja.


Tanpa menunggu lama, Adrian dan Jeni pun pamit pulang. Setelah anak dan menantunya pulang, ibu Harti juga masuk ke kamarnya. Tinggallah pak Anwar sendirian yang sedang duduk termenung memikirkan keluarganya yang tidak pernah akur.


*******


Tiga hari berlalu, hari ini adalah hari yang dinanti-nanti Olivia dan Miko. Seperti yang sudah di rencanakan Miko, jika hari ini adalah hari pernikahannya dan Olivia. Pihak keluarga Miko yang ikut hanya Papanya, Imelda sang kakak dan Annga suami dari Imelda, dua orang kerabat dan sekretarisnya.


Acara akad nikah akan dilaksanakan jam 10 pagi di rumah paman Arman. Ruang tengah rumah paman Arman sudah di sulap sedemikian rupa oleh Dina, selain bekerja kantoran ternyata Dina ada bakat mendekor juga.


Pak Anwar juga sudah bersiap untuk menghadiri pernikahan Olivia. Dia menunggu istrinya diteras depan sambil memanasi mesin motornya.


" Ibu cepat !!."Teriak pak Anwar dari teras.


" Jangan teriak-teriak juga pak, ibu ogah ikut. Bapak pergi sendiri saja sana."Seru ibu Harti yang ternyata tidak jadi ikut ke pernikahan Olivia.


" Loh bagaimana sih bu? Tadi kata iya mau ikut, kenapa sekarang jadi batal. Tahu begitu bapak berangkat dari tadi bu."Seru pak Anwar terlihat kecewa dan kesal.


Hhhuuuffffff


Pak Anwar membuang nafas dengan kasar, dia pun tidak mau memaksa ibu Harti dan dengan terpaksa pak Anwar berangkat sendirian untuk menghadiri pernikahan Olivia.


Sementara itu, di rumah paman Arman semua nya sudah siap. Olivia juga nampak cantik seperti bidadari, tangan sang sepupu memanglah ajaib. Siapalagi kalau bukan Dina, ya Dina lah yang merias Olivia.


" Kamu cantik sekali, Liv. Pasti suami kamu nanti tidak berkedip saat memandangmu."Ucap Dina sambil terkekeh.


" Mbak Dina ini bisa saja. Semua ini berkat tangan mbak Dina juga loh, mbak Dina yang memang pandai merias."Seru Olivia mengakui jika riasan Dina memang sangat bagus.


" Rombongan pengantin prianya sudah datang. Cepat siap-siap, Din nanti kalau akadnya sudah mau dimulai kamu temani Olivia keluar ya. "Seru tante Rumi yang sedari tadi memang sudah sibuk sendiri.


" Iya ma, siap."Jawab Dina sambil mengacungkan jempol tangan kanannya.


Saat ini jantung Olivia jedag jedug tidak menentu. Dia benar-benar grogi, Dina tahu jika saat ini Olivia sedang gugup dan grogi.


" Jangan grogi Olivia sayang, tarik nafas dan coba hembuskan secara perlahan."Ucap Dina.

__ADS_1


" Aku grogi mbak."Jawab jujur Olivia.


" Santai dan jangan tegang, dibuat rileks saja ya."Seru Dina lagi.


Tiba-tiba Sheren istri Doni masuk kamar menghampiri Olivia dan Dina. Sherin memberitahu jika akad akan segera dimulai dan Olivia diminta untuk keluar. Dengan di gandeng Sherin dan Dina, Olivia keluar dari kamar menuju tempat akad nikah.


Semua mata memandang kearah Olivia, dan mengagumi kecantikan Olivia. Miko sendiri hampir tidak percaya jika wanita itu adalah Olivia. Hari ini Olivia memang sangat berbeda dan sangat cantik.


" Mata kondisikan Miko."Tegur papa Miko sedikit berbisik di telinga Miko.


" Ini bidadari nya Miko, Pa."Seru Miko tanpa berkedip.


Pak Anwar tersenyum bahagia bisa ikut menghadiri pernikahan Olivia. Meskipun dia hanya datang seorang diri setidaknya bisa membuat Olivia bahagia.


" Apa akadnya bisa segera dimulai?."Tanya pak penghulu.


" Bisa pak."Jawab Miko dengan cepat. Dia sudah tidak sabar ingin segera menghalalkan Olivia agar tidak di ambil orang lain.


Tanpa menunggu lama, acara akad nikah pun dimulai. Dengan lancar dan tanpa mengulang Miko mengucapkan ikrar janji sucinya.


" Bagaimana para saksi, Sah?."'Tanya pak Penghulu.


Sahhh


Sahhh


Kata sah sudah menggema diruangan itu, kini Miko dan Olivia sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Tanpa disadari, air mata pak Anwar membasahi pipinya yang sudah tidak kencang lagi. Bayi kecil, merah yang dititipkan kepadanya kini sudah menjadi istri orang lain.


" Selamat atas pernikahan kalian, Ayah tidak bisa memberikan apa-apa dihari bahagiamu ini selain sebuah doa yang tulus dari seorang ayah. Semoga kebahagiaan selalu bersama kalian."Ucap Pak Anwar dengan suara serak saat Olivia sungkem dengannya.


Dia teringat bagaimana serakah dan jahatnya dia dulu kepada Olivia. Bahkan sampai detik ini dia belum mengucapkan kata maaf atas semua kesalahannya kepada Olivia.


" Terima kasih Yah. Apa Ibu dan kak Jeni tidak ikut?."Tanya Olivia.


" Mereka tidak ikut."Jawab pak Anwar jujur.


Olivia hanya menganggukkan kepalanya, kini giliran Olivia dan Miko sungkem kepada Paman dan Tantenya serta papa mertuanya. Sepasang pengantin terlihat bahagia, harapan semua orang semoga Olivia dan Miko hidup bahagia.


*********

__ADS_1


Happy weading Miko dan Olivia 😘😘😘


__ADS_2