
.
.
.
💐💐 HAPPY READING 💐💐
Seperti yang sudah dibicarakan tadi malam, hari ini Jeni bangun lebih siang karena dia izin tidak masuk kantor. Jeni dan ibu Harti akan ke penggadaian untuk menggadaikan sertifikat rumah. Olivia sama sekali tidak menghalangi tindakan Jeni, dia ingin segera tahu reaksi mereka semua saat tahu jika sertifikat itu palsu.
Olivia ada didapur untuk memasak nasi goreng, keadaan rumah pagi ini masih terlihat sepi. Jeni belum bangun, ibu Harti mungkin sedang berbelanja sayuran di warung. Pak Anwar sendiri tidak tahu ada dimana.
" Olivia, kamu masak apa?." Tanya Adrian mengagetkan Olivia.
Yang membuat Olivia kaget dan tidak suka dengan kelakuan Adrian, karena Adrian mengagetkan Olivia dengan cara merangkul pundak Olivia. Hal itu sama sekali tidak dibenarkan, mengingat Adrian adalah suami dari Jeni.
" Adrian !! Yang sopan kamu?."Seru Olivia seketika itu dia memarahi Adrian.
" Wah santai dong Olivia, jangan marah-marah begini dong. Dari dulu kamu tetap saja jual mahal ya, inilah yang membuat aku berpaling kepada Jeni."Seru Adrian dengan senyum yang sulit di artikan.
Buugghhh
Olivia memukul Adrian, namun bukannya kesakitan. Adrian justru tersenyum kecut kearah Olivia, tidak tahu kenapa akhir-akhir ini Adrian mulai mencuri-curi pandang lagi dengan Olivia. Sepertinya dia juga menginginkan Olivia kembali.
" Santai Olivia, kamu jangan galak-galak begini nanti tidak ada lelaki yang mau dengan mu."Seru Adrian sembari mencolek pipi Olivia.
" Jangan kurangajar kamu, Adrian !! Jika kamu kurangajar begini aku akan mengusirmu dari rumah ini. Lelaki b4jing4n !! Tidak tahu diri."Seru Olivia bicara dengan lantang.
Olivia sengaja bicara dengan lantang agar Jeni terbangun dan dia melihat kelakuan m3sum suaminya.
__ADS_1
" Olivia , Olivia... Lama-lama kamu ini semakin cantik dan menggemaskan. Aku senang melihat kamu yang marah-marah seperti ini. Olivia, aku masih mencintaimu. Apakah kamu masih mau melanjutkan pernikahan kita yang pernah gagal? Tenang saha, Jeni tidak akan aku ceraikan karena dia sedang mengandung anakku. Aku akan bersikap adil dengan kalian berdua."Ucap Adrian semakin menggila.
Pllaakk
Pllaakk
Dua tamparan berhasil Olivia hadiahkan dipipi Adrian. Olivia tidak habis fikir dengan jalan fikiran Adrian, bisa-bisanya dia mengajak menikah sedangkan dia sudah mempunyai istri. Menerima tawaran Adrian sama saja masuk kandang buaya darat.
Pipi Adrian memerah dan terasa panas, tamparan Olivia memang kuat. Pipi Adrian sampai membekas merah.
" Kamu berani menamparku, Olivia?." Seru Adrian dengan tatapan mata menyalang.
" Jelas aku berani !! Memangnya kamu itu siapa? Kamu hanya pria benalu yang tidak tahu diri, jangan mentang-mentang kamu suami Jeni lantas aku akan diam saja? Oh tidak bisa seperti itu Adrian bodoh."Seru Olivia dengan senyum sinis.
Adrian marah dan dia mengangkat tangannya hendak menampar seseorang. Namun tiba-tiba ada suara yang menghentikan pergerakan tangan Adrian.
" Ada apa ini?."Tanya Jeni yang masuk kedapur dengan muka bantalnya.
" Sayang, aku tadi mau menampar adikmu yang kurangajar ini. Masa dia tadi merayuku, dia menawarkan dirinya untuk menjadi istri kedua ku. Tentu saja aku marah dan ingin memukul mulut lancangnya itu."Seru Adrian memfitnah Olivia.
Olivia hanya menyunggingkan senyum kecut, ternyata Adrian licik dan mulutnya berbisa seperti ular yang mematikan. Dengan pintarnya dia memutar balikkan fakta, Olivia tidak takut dan gentar menghadapi amarah Jeni. Karena dia memang tidak salah dan tidak melakukan kesalahan apa-apa.
" Dasar j4l4n9 !! Berani-beraninya kamu menggoda dan merayu suamiku, apa kamu sudah tidak laku lagi sampai kamu mau dengan suami kakakmu sendiri."Ucap Jeni dengan kilat amarah dimatanya.
" Bukannya kamu yang tidak laku? Kamu kan yang sudah merebut calon suamiku? Tapi aku justru berterima kasih karena kamu mau merebut lelaki sampah seperti dia. Mungkin sampah memang cocoknya sama sampah."Jawab Olivia sama sekali tidak takut menghadapi Jeni.
" Tutup mulutmu wanita mur4h4n !! Hanya j4l4n9 dan wanita mur4h4n yang mau sama suami saudaranya sendiri."Ucap Jeni semakin marah.
Adrian hanya menonton perdebatan antara Jeni dan Olivia. Dia seakan bangga diperebutkan oleh dua orang wanita. Namun tiba-tiba dari pintu belakang datang pak Anwar dengan tatapan mengarah kearah Adrian.
__ADS_1
" Apa kamu hanya diam saja melihat istri dan adik iparmu berdebat seperti ini? Dimana jiwa laki-lakimu, kamu tidak pantas disebut laki-laki karena cuma berani berlindung diketek istrimu saja."Ucap pak Anwar langsung memarahi Adrian.
" Ayah, kenapa justru suamiku yang bapak marah? Seharusnya bapak itu memarahi Olivia, karena dia sudah merayu dan menggoda suamiku Ayah."Ucap Jeni tidak terima karena Ayahnya justru memarahi Adrian dan seakan membenarkan tindakan Olivia.
Pak Anwar masih menatap tajam Adrian, Adrian menundukkan kepalanya. Dia tidak berani menatap wajah ayah mertuanya. Sedangkan dari arah pintu depan, ibu Harti datang dengan membawa sekantong plastik barang belanjaannya. Dia tidak tahu apa yang terjadi di dapur, dan kenapa wajah-wajah pada tegang.
" Olivia tidak salah, karena sedikitpun dia tidak merayu ataupun menggoda Adrian. Justru Adrian lah yang sudah menggoda dan merayu Olivia agar mau menjadi istri keduanya. Ayah mendengar semua apa yang diucapkan Adrian, sebab bapak sedari tadi ada diteras belakang."Ucap Pak Anwar mencoba menjelaskan.
Wajah Jeni langsung memanas setelah mendengar penjelasan dari Ayahnya. Namun dia tidak bisa percaya begitu saja, dia akan menanyakannya kembali kepada Adrian. Adrian sudah gugup dan tubuhnya sudah dibanjiri keringat dingin, padahal saat ini baru jam setengah tujuh pagi.
* Ayah membela ku? Benarkan Ayah membelaku , aku sedang tidak bermimpi kan? Ayah beginikah rasanya dibela oleh seorang orang tua?* Gumam Olivia dalam hatinya.
Dia sangat terharu karena pak Anwar mau membelanya dihadapan Jeni. Seumur hidup Olivia baru kali ini Pak Anwar membelanya saat dia dan Jeni bertengkar.
" Bapak, apa yang bapak katakan itu bisa dipercaya?." Tanya ibu Harti menolak mempercayai ucapan suaminya.
" Kapan bapak berbohong dengan kalian."Ucap pak Anwar lalu dia sekilas melirik Olivia yang nampak terdiam.
Setelah bicara seperti itu, pak Anwar meninggalkan dapur. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, sebenarnya dia bangga serta kasihan dengan Olivia. Namun selama ini dia mencoba menutupinya karena dia ingin anak kandungnyalah yang selalu nomor satu.
" Mas kita perlu bicara."Seru Jeni berlalu meninggalkan dapur dan melangkah menuju kamarnya. Adrian bagaikan kerbau yang dicucuk hidungnya, dia mengikuti langkah kaki Jeni dari belakang.
Olivia masih berdiri didepan kompor, niat untuk memasak nasi goreng sudah tidak ada lagi. Fikirannya masih terus memikirkan sikap ayah nya tadi yang berbeda dengan biasanya.
" Senang kamu karena Ayahmu sudah membelamu? Jangan senang dulu kamu, pasti itu hanya secara kebetulan dan sesaat saja. Oh iya, Jeni sebentar lagi akan beli mobil. Kamu pasti irikan dengan Jeni, kamu itu memang tidak ada apa-apanya dibanding dengan Jeni."Seru ibu Harti membanggakan anak kesayangannya.
" Silahkan saja kalau memang kak Jeni mau beli mobil. Tapi jangan pernah libatkan saya jika ada apa-apa? Oh iya, memang uangnya sudah ada? Beli mobil itu tidak murah loh, denger-denger mau gadai rumah kan? Silahkan saja, aku tidak akan menghalanginya."Seru Olivia lalu dia jufa meninggalkan dapur.
Ibu Harti mendengus kesal saat Olivia sama sekali tidak panas dengan kabar Jeni mau membeli mobil.
__ADS_1
*************