
.
.
.
💐💐 HAPPY READING 💐💐
Ceekhhhh....
Ibu Harti berdercak dengan kesal saat Olivia dan Miko datang memberitahukan jika mereka akan mengadakan resepsi di sebuah gedung mewah. Ibu Harti tahu jika Miko pasti akan membuat resepsi besar-besaran dan tentunya akan mengalahkan pesta pernikahan Jeni dan Adrian dulu.
Menurutnya pesta pernikahan Jeni dan Adrian waktu itu adalah pesta paling mewah yang pernah ada di kampungnya.
" Buat apa juga kalian pesta-pesta segala, menikah juga sudah mau 1 bulan. Ngabis-ngabisin uang saja, apa kalian itu mau pamer agar orang-orang tahu kalau kalian itu orang kaya."Seru Ibu Harti dengan wajah nampak sinis.
" Lagian kalau kami pesta pun tidak minta uang ibu kak? Kenapa repot-repot berkomentar sih bu? Kami hanya memberitahu saja, kalau ibu tidak mau datang juga terserah yang penting kami sudah kasih tahu."Ucap Olivia berani menjawab ocehan ibu Harti.
" Hehhh.. Kamu ini di kasih tahu malah ngelawan ya. Dasar sombong !!."Seru Ibu Harti memaki Olivia didepan Miko.
" Bu, jangan pernah memaki istriku !! Sekali lagi aku tahu ibu memarahi atau memaki istriku aku tidak akan tinggal diam. Aku akan usut semua harta istriku yang sudah kalian nikmati selama ini."Ucap Miko dengan tegas memarahi Ibu Harti.
Ibu Harti dan pak Anwar saling beradu pandang, ternyata Miko sudah tahu apa yang terjadi dengan Olivia. Meskipun Olivia tidak menceritakan secara detail, Miko tahu semua kebenarannya dari paman Arman dan tante Rumi.
Mendengar ancaman Miko, tentunya membuat pak Anwar ikut khawatir. Miko bukanlah orang sembarangan, dia bisa melakukan apa saja untuk melindungi dan membela Olivia.
__ADS_1
" Nak Miko, tolong jangan bicara seperti itu. Ini tidak perlu dipermasalahkan lagi, lagipula Olivia juga tidak mempermasalahkannya."Ucap pak Anwar.
" Istriku tidak mempermasalahkannya karena dia kasihan kepada kalian !! Kalau aku jadi Olivia sudah aku laporkan kalian atas kasus penggelapan harta warisan. Jika kalian memulainya lebih dulu sudah pasti aku akan meladeni kalian."Seru Miko tetap membela istrinya.
" Jangan asal bicara kamu , Miko. Kamu itu orang baru dan tidak tahu apa-apa soal kami. Wajar dong harta warisan itu kami jual dan kamu gunakan, karena kami 9yang merawat Olivia dari bayi sampai sebesar ini. Lagi pula Olivia juga sudah dapat rumah, salah siapa rumah dia jaminkan untuk hutang. Gaya-gayaan beli mobil tidak tahunya uang dari hasil menjaminkan sertifikat rumah."Seru ibu Harti tetap mencibir Olivia.
Olivia cukup mendengarkan cibiran ibu Harti, sudah ada sang suami yang berada di garda terdepan untuk membelanya. Ibu Harti semakin di lawan dia akan semakin marah dan emosi, tidak di lawan semakin menginjak-injak harga dirinya.
Miko bangkit dan langsung menarik tangan Olivia. Tanpa berpamitan, Miko membawa Olivia keluar dari rumah kontrakan itu dan bergegas masuk mobil. Miko sudah malas berdebat dengan ibu Harti, lama-lama bisa darah tinggi jika terus meladeni ibu Harti.
Hhhuuufffff
Pak Anwar menghela nafas dengan kasar. Sebenarnya dia tidak suka jika Miko ikut campur atau membahas harta warisan Olivia yang sudah tidak berwujud lagi. Tapi dia pun tidak mau menyangkal semuanya, karena apa yang dikatakan Miko itu semuanya benar. Merekalah yang serakah dengan menjual aset peninggalan orang tua Olivia.
" Sombong, baru juga kaya seperti itu sudah sombong tidak karuan. Pakai mau bikin pesta di gedung dan mengundang warga sini, memang dia itu sekaya apa sih? Baru punya perusahaan saja bangga, aku sumpahin biar bangkrut itu perusahaan dan jatuh miskin."Seru ibu Harti mendoakan buruk untuk Miko.
" Bu, jangan bicara seperti itu. Kalau sampai perusahaan Miko bangkrut, lantas Adrian mau bekerja dimana? Kalau bicara itu ya difikir dulu dong bu, ingat doa buruk itu bisa kembali pada diri sendiri bu. Sekarang ini ibu buka baju yang diberikan Olivia tadi, katanya ini seragam untuk bapak dan ibu kenakan saat pesta nanti."Ucap pak Anwar sambil meletakkan dua paper bag didepan ibu Harti.
Ibu Harti melirik jutek ke arah pak Anwar, tanfan nya pun meraih papper bag yang ada di hadapannya. Sebuah baju yang bagus dan indah sudah berada di tangannya, bahannya juga bagus lembut dan tentunya mewah.
" Bagus juga selera anak itu."Seru ibu Harti dengan sinis.
" punya bapak jas sama celana ya bu. Warnanya senada sama baju ibu, ini pasti mahal bu."Seru pak Anwar senang dengan baju seragam keluarga yang diberikan Olivia.
" Jangan kampungan deh pak, ini kok cuma punya bapak sama ibu saja. Punya Jeni dan Adrian mana ya pak? Apa sudah diantarkan ke kontrakannya atau dikasihkan ke Adrian saat di kantor? Heemmm kalau sampai Jeni dan Adrian tidak dikasih seragam keluarga, aku akan marahin itu si Olivia. Bener-bener dia ya."Seru ibu Harti dengan geram.
__ADS_1
" Katanya ibu tadi ogah datang ke pestanya, baju ibu itu tinggal kasihkan Jeni saja."Seru pak Anwar.
" Enak saja, ini bajuku."Tolak ibu Harti lalu memeluk baju yang ada di tangannya itu.
Mana mungkin ibu Harti memberikan baju itu kepada Jeni. Ibu Harti tahu jika baju itu harganya pasti mahal dan tentunya itu barang butik. Bahannya saja sangat lembut dan kelihatan sangat mewah. Dia bisa memamerkan baju itu saat dia arisan nanti.
Sementara itu Olivia dan Miko sudah berada di rumah paman Arman. Bahkan mereka datang saat keluarga pamannya akan makan malam. Sehingga mereka ikut makan malam sekalian, selesai makan malam baru mereka bersantai di ruang keluarga.
" Jadi kalian mau mengadakan resepsi?."Tanya pama Arman.
" Iya paman. Atas permintaan mama, resepsi akan di laksanakan hari mingggu besok. Semuanya di urus sama mama dan WO, kami berdua terima jadi saja."Jawab Miko dengan jujur.
" Wah kalau minggu besok, berarti tinggal 4 hari lagi dong. Kenapa kalian dadakan sih kasih tahunya, jadi tante belum siapin pakaian baru nya. Masa iya pesta di gedung mau pakai baju ala kadarnya, tante tidak mau membuat kamu malu Liv."Seru tante Rumi dengan heboh.
Hehehe Heheee
Olivia tertawa mendengar kehebohan tantenya yang meributkan soal baju baru. Tantenya itu memang orangnya suka cepat panikan.
" Mama tidak usah panik dong, masih ada waktu kali untuk cari baju baru."Ucap Dina sambil menepuk punggung mamanya.
" Tante dan mbak Dina tidak perlu beli baju baru, paman juga. Ini Olivia sudah bawa baju seragam untuk kalian, Maaf cuma untuk paman, tante sama mbak Dina saja. Untuk mas Doni dan istrinya Olivia lupa, nanti akan Olivia susulkan saja."Ucap Olivia sambil meletakkan papper bag yang sedari tadi ada di lantai ke atas meja.
" Alhamdulillah, terima kasih ya Liv. Untuk Doni dan Sheren tidak dibuatkan tidak apa-apa, mereka pasti akan datang. Sudah ini saja sudah cukup, mereka pasti tidak akan mempermasalahkan soal pakaian. Oh iya untuk Harti sama Anwar juga kamu kasih?."Tanya tante Rumi.
Olivia terlihat hanya menganggukkan kepalanya saja. Masalah mereka datang atau tidak itu urusan mereka, jika mereka tidak datang masih ada tante Rumi dan paman Arman yang akan menjadi wakil orang tuanya nanti.
__ADS_1
***********