
.
.
.
💐💐 HAPPY READING 💐💐
Tok
Tok
Tok
Pintu rumah Olivia di ketuk dari luar, saat ini semua memang masih ada di rumah. Miko memang tidak ke kantor karena ingin menyaksikan sinteron secara live yang akan tayang dirumah Olivia. Pak Anwar dan ibu Harti yang sedang bersantai pun terlihat saling melempar pandangannya.
Brraakk
Braakk
" Hai Olivia !! Keluar kamu dari dalam ! Kami tahu saat ini kamu ada didalam. Keluar !!."Teriak seorang pria dari luar rumah.
Dengan cepat Ibu Harti mengintip dari jendela, dia melihat ada 2 orang pria berbadan kekar berdiri didepan rumah. Bibir ibu Harti tersenyum kecut, dia yakin jika orang diluar sana mencari Olivia dan Olivia pasti punya masalah dengan orang-orang berbadan kekar yang menyeramkan itu.
" Siapa bu?."Tanya pak Anwar.
" Dua pria berbadan kekar dan menyeramkan pak. Pasti Olivia punya masalah dengan mereka, kalau tidak mana mungkin dia datang kesini dan berteriak-teriak mencari Olivia."Ucap ibu Harti terlihat senang jika Olivia bermasalah.
Olivia dan Miko dengan tenang berjalan menuju pintu untuk membukakan pintu tamunya. Tiba-tiba ibu Harti menghentikan langkah kaki Olivia dan Miko.
" Kamu yakin mau membuka pintunya? Sepertinya kamu bermasalah dengan orang-orang diluar itu ? Hemm atau jangan-jangan suami kamu yang bermasalah? Hahaaa."Seru ibu Harti lalu tertawa puas.
" Iya, memang aku yang bermasalah bu. Karena aku tidak membayar cicilan bank, jadi kemungkinan rumah ini mau di sita. Aku biarkan saja rumah ini di sita karena memang ini rumah ku."Jawab Olivia dengan tenang.
Haahhh...
Mata ibu Harti langsung membola, jika rumah itu di sita dia dan suaminya mau tinggal dimana? Tinggal dengan Jeni dan Adrian juga tidak mungkin, apalagi kontrakan mereka kecil dan hanya ada 1 kamar. Malu juga dengan keluarga Adrian sampai mereka tahu kalau besannya menumpang dirumah kontrakan Adrian.
__ADS_1
Olivia tersenyum jahil begitupun dengan Miko. Pak Anwar tidak bisa berbuat apa-apa, jika memang rumah mau di sita dia tidak akan melarangnya.
Ceklekk...
Pintu terbuka dan dua pria yang berbadan kekar itu langsung berkacak pinggang.
* Duh... Ini orang sewaan paman Arman menyeramkan juga. Kalau seperti ini pasti rencana kami akan lebih menyakinkan.*Gumam Olivia dalam hatinya.
" Hehh.. Kamu Olivia kan? Kapan kamu bayar hutang kamu, ini sudah lewat dari tanggal jatuh tempo. Hari ini juga kalau kamu tidak bisa membayar hutang kamu, rumah ini akan kami sita!"Ucap salah satu pria itu dengan keras sehingga membuat sandiwara mereka seperti asli.
" Emm.. Saya belum ada uangnya. Apa tidak bisa berikan saya waktu 2 atau 3 hari lagi bang. Saya janji akan membayarnya."Ucap Olivia berpura-pura mempertahankan rumah peninggalan orang tuanya agar lebih menyakinkan.
" Tidak bisa !! Hari ini juga kamu harus membayarnya, jika tidak rumah ini akan kami sita !."Seru pria itu lagi.
Olivia pura-pura kebingungan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Miko ingin tertawa melihat istrinya yang terlalu menjiwai aktingnya.
" Saya memang tidak ada uang, saya dan suami saya belum gajian. Mencari uang 8 juta dalam sehari itu tidaklah mudah. Baiklah, kalian ambil saja rumah ini dan besok saya akan ke bank untuk menyelesaikan urusan ini."Ucap Olivia akhirnya menyerahkan rumahnya.
" Olivia !! Kamu tidak bisa dong sesuka hatimu membiarkan rumah ini di sita? Terus ibu dan ayah mau tinggal dimana?."Seru ibu Harti tidak setuju dengan tindakan yang diambil Olivia.
" Hari ini kalian silahkan berkemas, paling lambat besok siang rumah ini harus sudah kosong. Paham !!."Bentak pria tadi dengan tegas.
" Paham bang."Jawab Olivia dengan suara lemah seakan dia sedih karena rumah peninggalan orang tuanya disita.
Dua pria berbadan kekar itupun akhirnya pergi,Olivia bisa bernafas lega karena tidak terus-terusan bersandiwara. Ibu Harti masih tidak terima rumah itu di sita oleh bank, dalam hal ini dia menyalahkan Olivia dan Miko. Miko sebagai suami tidak bisa membantu apa-apa, justru membiarkan rumah di sita bank.
" Suami tidak berguna ! Percuma saja kamu jadi suaminya Olivia kalau tidak bisa bantu apa-apa. Kamu juga Olivia, cari suami kere bin miskin seperti dia. Kamu juga untuk apa beli mobil kalau ujungnya rumah disita seperti ini, aku menyesal sudah membesarkan kamu Olivia. Dasar pembawa si4l !."Seru ibu Harti.
" Tutup mulut ibu !! Jangan pernah menghakimi atau menyalahkan istriku lagi, bu. Anda seorang ibu apa pantas bicara seperti itu dengan anak ibu sendiri."Seru Miko membela Olivia.
" Dia bukan anakku !."Jawab ibu Harti dengan kesal.
" Meskipun dia bukan anak ibu, tidak sepantasnya ibu bicara seperti itu. Seandainya anak ibu yang dikatakan pembawa si4l apa ibu terima? Tentunya tidak terima kan?."Tanya Miko dengan tegas.
Olivia merasa terharu atas pembelaan dari Miko. Sekarang ini sudah ada orang yang membela dan melindunginya. Olivia merasa nyaman dan merasa dihargai sebagai seorang istri.
" Bu, sudah jangan tambah masalah lagi. Lebih baik ibu masuk kamar dan ibu bereskan barang-barang ibu, bapak mau keluar dulu cari rumah kontrakan."Ucap pak Anwar menghentikan perdebatan yang ada.
__ADS_1
" Cari kontrakan yang besar, ibu tidak mau kalau rumah kontrakannya kecil. Bulan depan ibu mau narik arisan jadi kalau rumah kontrakannya kecil ibu yang malu."Seru ibu Harti tetap saja egois.
Hhhuuffff
Pak Anwar belum tahu mau cari rumah kontrakan yang seperti apa. Uang ditangannya tidaklah banyak, mungkin hanya bisa untuk mencari rumah kontrakan petak dengan satu kamar saja.
Ibu Harti masuk kamar, dia tidak langsung membereskan barang-barangnya. Akan tetapi dia mencoba menghubungi Jeni untuk memberitahu jika rumah Olivia saat ini sudah di sita oleh pihak bank.
" Kamu mau tinggal dimana, Liv?." Tanya pak Anwar sebelum dia keluar rumah.
" Aku mau tinggal dirumah Miko, Yah. Maaf Olivia tidak bisa mempertahankan rumah ini sehingga ayah dan ibu harus tinggal di rumah kontrakan." Ucap Olivia.
Dalam hati Olivia terbesit rasa kasihan terhadap pak Anwar. Padahal seharusnya Olivia membencinya atas semua perbuatannya selama ini. Apa mungkin karena akhir-akhir ini pak Anwar bersikap baik dengan Olivia, sehingga dia timbul rasa iba.
Pak Anwar mengangguk pelan tanpa bersuara. Dia pun bangkit dan hendak keluar rumah untuk mencari rumah kontrakan. Hati Olivia tidak tega melihat pak Anwar yang nampak bersedih, pasti saat ini uanglah yang menjadi masalahnya.
" Ayah tunggu."Seru Olivia menghentikan langkah kaki pak Anwar.
" Ada apa, Liv?." Tanya pak Anwar yang sudah berdiri di ambang pintu.
Olivia berjalan mendekati pak Anwar, lalu dia merogoh sesuatu dari dalam kantong celananya. Olivia memberikan uang sekitar 2 juta untuk pak Anwar, uang itu bisa digunakan untuk mencari rumah kontrakan.
" Ini untuk Ayah mencari kontrakan baru. Maaf hanya ini yang bisa Olivia bantu untuk Ayah."Ucap Olivia dengan pelan.
" Ayah ada uang Olivia, jadi kamu simpan saja uang kamu ini. Kamu pasti membutuhkannya, kamu tidak perlu meminta maaf karena kamu memang tidak salah. Disini Ayah dan keluarga Ayah lah yang salah, selama ini sudah serakah dan memperlakukan kamu secara tidak adil."Seru pak Anwar sekuat tenaga dia menahan tangisnya.
Dia tidak mau menangis didepan Olivia, dia harua kuat menahan kesedihannya. Pak Anwar menolak uang pemberian Olivia, akan tetapi Olivia tetap memaksanya karena dia tahu ayahnya pasti tidak cukup uang untuk membayar kontrakan.
" Terima saja pak. Jika bapak tidak mau menerima secara cuma-cuma, bapak bisa anggap itu pinjaman dari kami."Seru Miko akhirnya ikut buka suara juga.
" Baiklah, uang ini Ayah terima. Tapi Ayah anggap ini sebagai hutang, suatu saat nanti pasti akan ayah kembalikan."Ucap pak Anwar akhirnya mau menerima uang pemberian Olivia.
" Tidak di kembalikan pun tidak apa-apa Yah. Olivia ikhlas Yah."Ucap Olivia dengan senyum tulus.
* Ya Allah... Anak yang dari dulu aku sia-siakan justru dia tetap peduli dengan ku. Aku menyesal dulu sudah memperlakukannya dengan tidak baik, bahkan harta warisan peninggalan orang tuanya aku dan istriku habiska .*Gumam pak Anwar dalam hati.
***********
__ADS_1