Aku Bukan Pengantinnya

Aku Bukan Pengantinnya
Restu Paman dan Ayah


__ADS_3

.


.


.


💐💐 HAPPY READING 💐💐


Siang itu sekitar jam dua, Miko mengajak Olivia untuk menemui pamannya. Miko sudah tidak sabar ingin menyampaikan niat baiknya dan dia berharap jika paman Olivia akan merestui hubungan mereka serta mengizinkan Miko menikahi Olivia dalam waktu dekat.


Tante Rumi dan Paman Arman menyambut baik kedatangan Olivia dan Miko. Secara kebetulan Doni dan istrinya juga ada di rumah, mereka baru datang kemarin sore.


" Paman hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Semua keputusan pun paman serahkan kepada Olivia, Olivia yang menjalaninya."Ucap paman Arman dengan bijak.


" Terima kasih paman. Tapi apa aku boleh bertanya, kenapa aku meminta restu hanya kepada paman bukan kepada orang tua Olivia lebih dulu?."Tanya Miko masih saja dia penasaran.


Paman Arman menepuk punggung Miko pelan, lalu dia mulai menceritakan soal orang tua Olivia. Dan akhirnya Miko baru tahu jika yang saat ini tinggal dengan Olivia bukanlah orang tua kandung Olivia, melainkan hanya orang tua angkat. Tanpa mengurangi dan melebih-lebihkan , paman Arman juga menceritakan bagaimana perlakuan keluarga angkat Olivia terhadap Olivia selama ini.


" Paman, akhir-akhir ini Ayah sudah mulai berubah. Dia tidak pernah marah-marah lagi kepada Olivia dan beberapa kali Olivia mendengar Ayah membela Olivia. Dan dia meminta Olivia untuk mengenalkan Miko kepada nya. Jadi saat pernikahan nanti Olivia akan tetap memberitahu mereka, mereka datang apa tidak itu urusan mereka."Ucap Olivia bicara dengan tenang.


" Memang nya kapan rencana kalian menikah?."Tanya tante Rumi.


" Minggu besok saya akan menikahi Olivia."Jawab Miko dengan cepat dan yakin.


Deegghhh


J4ntung Olivia langsung berdetak lebih cepat, dia syok dan kaget saat Miko mengatakan jika dia akan menikahinya hari minggu ini. Itu artinya hanya tersisa waktu 3 hari lagi untuk menyiapkan semuanya. Bagaimana bisa Miko memutuskan hari pernikahan secara sepihak seperti itu.


" Miko, hari minggu ? Itu tinggal 3 hari lagi Miko? Apa kamu yakin? Bagaimana dengan persiapannya?."Tanya Olivia dengan keheranan.


" Serius, bahkan mau besok pun aku bisa menyiapkan semuanya. Kamu mau pesta pernikahan yang seperti apa? Kamu tinggal bilang saja dan aku yang akan mewujudkan keinginan mu itu."Jawab Miko mulai muncul lagi sikap sombongnya.

__ADS_1


" Tidak, aku tidak mau pesta yang macam-macam. Cukup akad nikah yang di hadiri keluarga dan para saksi saja, itu sudah lebih dari cukup."Jawab Olivia.


" Baik, aku tidak keberatan. Dan apa perlu aku menemui Ayah dan Ibu mu juga?."Tanya Miko.


Olivia dengan cepat menggelengkan kepalanya. Dia sendiri yang akan memberitahu Ayah dan Ibunya soal kabar pernikahannya. Dan atas permintaan Olivia, pernikahan akan diadakan di rumah pamannya. Paman Arman dan tante Rumi setuju-setuju saja dengan Olivia, mungkin Olivia memang lebih nyaman di rumah pamannya.


Selesai membahas pernikahan, Miko dan Olivia pamit pulang. Miko mengantarkan Olivia ke kedai lagi, dan besok dia akan mengurus surat-surat untuk pernikahan mereka.


*****


" Ayah, hari minggu besok Olivia akan menikah. Paman Arman yang akan menjadi wali nikah Olivia, dan pernikahan akan diadakan dirumah paman Arman. "Ucap Olivia memberitahu secara lengkap.


Mrndengar Olivia akan menikah, pak Anwar langsung meletakkan sendoknya. Dia menghentikan sejenak makan malamnya. Ibu Harti hanya menjadi pendengar setia dengan mulut yang tetap mengunyah makanannya.


" Tetima kasih sudah memberitahu ayah. Arman memang lebih berhak menjadi wali nikahmu, tapi kenapa harus dirumah Arman? Ini rumah kamu dan apa kamu tidak mau menikah disini saja."Ucap pak Anwar serius.


" Biar dirumah Arman saja pak, biar ibu tidak pusing."Ucap ibu Harti menyela ucapan suaminya.


" Olivia mau di rumah paman saja, disini rusuh. Acaranya hari minggu, ayah sama ibu kalau bisa datang ya datang saja tapi kalau tidak mau datang aku tidak memaksa."Ucap Olivia lalu menyuapkan nasi terakhirnya dalam mulutnya.


Saat Olivia sudah masuk kamar, terdengar suara Jeni dan Adrian. Olivia tidak berniat untuk keluar dan menemui mereka, soal pernikahannya biarlah ayah dan ibunya yang memberitahu mereka.


" Jen, sini duduk dekat ibu. Ada berita yang menghebohkan."Ucap ibu Harti meminta Jeni untuk duduk di sampingnya.


" Ada apaan sih bu? Kok kayaknya heboh banget?."Tanya Jeni juga penasaran.


" Hari minggu besok, Olivia mau menikah sama pacarnya yang kampungan itu. Acaranya dirumah paman Arman, apa kamu mau datang kesana? Kalau ibu sih ogah banget."Ucap ibu Harti tersenyum tipis.


Apa?


Olivia akan menikah ? Timbul pertanyaan dalam benak Jeni, kenapa Olivia menikah secepat ini dan terkesan mendadak. Apakah ada sesuatu yang sengaja ditutupi oleh Olivia. Fikiran buruk tentang Olivia sudah bersarang di kepala Jeni.

__ADS_1


" Secepat ini bu? Mendadak juga, atau jangan-jangan Olivia sudah hamil bu ? Ternyata dia mur4h4n juga."Cibir Jeni merendahkan Olivia.


Padahal dirinya sendiri yang mur4h4n, belum tahu kebenarannya sudah menghakimi Olivia. Seharusnya dia bisa berkaca dengan dirinya sendiri sebelum menghina, dia saja saat menikah sudah hamil duluan. Ibu Harti tidak berkomentar, dia ingat Jeni saat menikah juga sudah berbadan dua. Jadi dia tidak mau menanggapi ucapan Jeni tadi.


" Sekarang mana Olivia bu? Jeni ada perlu sama dia, Jeni mau meminjam mobilnya untuk sementara waktu. Sekarang mas Adrian kan sudah menjadi menejer, malulah kalau harus naik motor terus. Mobil dari kantor baru bisa keluar 2 atau 3 bulan lagi, lagipula Olivia itu cuma bekerja sebagai pelayan cafe tidak perlulah memakai mobil."Ucap Jeni dengan songongnya.


" Kamu benar juga Jen. Lebih baik mobil itu kamu dan Adrian yang pakai, lagian mobil itu di beli dengan menggadaikan sertifikat rumah ini. Jadi ada hak kamu juga dong mobil itu."Ucap Ibu Harti semakin tidak tahu diri.


Merasa mendapat dukungan dari sang ibu, Jeni pun bangkit dan melangkah menuju kamar Olivia. Dengan tidak sopannya, Jeni menggedor-gedor pintu kamar Olivia sehingga Pak Anwar dan Adrian yang sedang bermain catur di ruang tamu pun ikut melihat apa yang sedang terjadi.


Duggg


Duggg


" Olivia !! Buka pintunya, aku ingin bicara dengan kamu."Teriak Jeni tidak tahu diri.


" Jeni, pelankan dikit suara kamu dan panggillah dengan sopan. Sudah seperti mau menagih hutang saja kamu ini, yang ada justru kamu juga yang berhutang sama Olivia. Ibumu pasti sudah memberitahu kamu kalau minggu Olivia menikah, secepatnya kalian pulangkan uang Olivia yang kalian pakai untuk pesta itu."Ucap Pak Anwar.


" Ayah ini apaan sih, kok malah ngomongin soal hutang. Sudah ayah diam saja, sana lanjut main caturnya."Ucap Jeni membantah pak Anwar.


Cekklekkkk


Pintu kamar Olivia terbuka, nampak Olivia keluar dengan masih mengenakan mukenanya. Rupanya Olivia baru saja selesai sholat isya.


" Ada apa?." Tanya Olivia tanpa mau berbasa-basi.


" Heh.. Yang sopan dong, biarpun cuma kakak angkat aku ini lebih tua dari kamu. Oh iya mana kunci mobil kamu, mulai besok mobil mau aku pakai. Sebab Adrian sekarangkan sudah menjadi menejer, ya kali menejer naik motor terus. Kamu itukan cuma pelayan cafe, tidak pantas pakai mobil."Ucap Jeni dengan tidak tahu malunya. Mau meminjam tapi dia yang menghina.


" Kamu ada hak apa mau memakai mobil ku?."Tanya Olivia dengan cepat.


" Aku berhak karena mobil itu dibeli dengan uang gadai rumah ini kan. Sudah jangan banyak b4cot !! Cepat ambil kunci dan surat-surat mobilnya."Seru Jeni lagi dengan memaksa.

__ADS_1


Tidak ada jawaban apapun dari Olivia, dia masuk kekamar dan menutup pintunya kembali. Tidak lupa Olivia juga mengunci pintu agar Jeni tidak masuk kamarnya. Wajah Jeni sumringah, dia mengira jika Olivia akan mengambil kunci dan surat-surat mobil.


*************


__ADS_2