Aku Bukan Pengantinnya

Aku Bukan Pengantinnya
Naik jabatan


__ADS_3

.


.


.


💐💐 HAPPY READING 💐💐


Olivia sudah menguatkan serta menyakinkan dirinya sendiri untuk selalu tegas dan tidak akan memberikan celah Jeni untuk kembali kerumah peninggalan orang tuan kandungnya. Sementara waktu ini dia masih membiarkan ibu Harti dan pak Anwar tinggal bersamany, jika suatu saat nanti mereka berulah baru Olivia akan mengusir keduanya.


Pagi hari Jeni dan Adrian berangkat ke kantor dengan wajah yang kusut. Baju memang semalam kusut karena di acak-acak Olivia, mau distrika di kontrakan belum ada setrikaan. Sarapan pun tidak ada, mereka berangkat dengan buru-buru karena akan sarapan di kantin kantor saja.


Setelah sampai kantor, Adrian dan Jeni segera menuju kantin. Keduanya memesan soto dan minumannya teh hangat.


" Mulai sekarang kamu itu harus bangun lebih pagi, kamu siapkan sarapan jadi kita tidak harus beli begini. Kalau beli brgini boros Jen, kamu dengarkan Jen."Tanya Adrian.


" Sstt.. Brisik amat sih. Aku lagi makan, lagian siapa yang kamu suruh masak? Aku itu lagi hamil tidak boleh kecapean, dan aku juga tidak bisa memasak, beli saja biar cepat !."Seru Jeni bicara dengan tegas.


" Masa iya kita mau beli terus?." Seru Adrian dengan pasrah.


" Itu soal mudah, saat makan malam kita datang saja kerumah ibu. Kita numpang makan disana, pasti Ayah dan ibu tidak akan keberatan, gitu saja kok repot. Nah, pasti Olivia juga sudah mau keluar uang untuk kebutuhan rumah, nanti kita tinggal ambil saja apa yang kita butuhkan disana."Jawab Jeni dengan gampangnya.


Anak manja seperti Jeni mana bisa dia memasak, jangankan untuk memasak, beres-beres dan mencuci pakaiannya sendiri saja dia belum tentu bisa. Wajah memang cantik dan terawat, tapi hati Jeni buruk dan tidak dia rawat.


Setelah sarapan, mereka masuk ke ruangan devisi mereka masing-masing. Jeni ada di devisi marketing sebagai staff, dan Adrian di devisi keuangan juga sebagai staff. Adrian bekerja di perusahaan itu lebih lama daripada Jeni, Adrian sudah 5 tahun sedangkan Jeni baru sekitar 2 tahun.


Jeni bisa masuk perusahaan besar itupun berkat bantuan Adrian. Jika bukan Adrian yang membantunya kemungkinan Jeni tidak akan keterima di perusahaan itu. Meskipun Adrian menyebalkan dan kelakuannya tidak bisa dibenarkan, namun dengan pekerjaan dia sangat bertanggung jawab dan cekatan.


" Waoouw.. Adrian akhirnya kamu datang juga. Sudah dapat kabar belum?."Tanya Bayu teman satu devisinya.


" Memangnya ada apa?."Tanya Adrian yang memang belum tahu kabar terkini.

__ADS_1


" Masa sih kamu tidak tahu?."Tanya Bayu sambil menepuk punggung Adrian.


Adrian hanya menggelengkan kepalanya saja, dia memang tidak tahu apa-apa tentang kabar yang dimaksud oleh Bayu.


" Beberapa diantara kita ada yang direkomendasikan naik jabatan, sepertinya kamu masuk salah satunya. Apalagi kamu disini sudah bekerja lama."Ucap Bayu memberitahu kabar yang bereder.


* Benarkah aku termasuk salah satu kandidat staff yang akan naik jabatan? Hemm.. Jika memang benar, semoga saja aku bisa menjadi meneger nya.*Gumam Adrian penuh harap.


" Kalau soal naik jabatan aku tahu, tapi aku tidak tahu kalau aku juga termasuk. Tapi baguslah kalau aku juga menjadi salah satu kandidatnya, aku memang pantas naik jabatan."Ucap Adrian dengan sombongnya.


Waktupun semakin bergulir, Adrian dan yang lainnya sudah disibukkan dengan pekerjaannya masing-masing. Saat Adrian sedang fokus dengan layar laptopnya, ada staff yang memintanya datang ke ruangan meeting. Bayu, Romi dan Salma teman satu devisi Adrian juga ikut kesana.


" Sepertinya perusahaan mau mengadakan perombakan besar-besaran, lihat saja setiap devisi ada perwakilannya dan sudah pasti diantara kita berempat ini akan menggantikan meneger keuangan yang resign itu."Seru Bayu sedikit berbisik.


" Siapapun diantara kita yang terpelih menjadi menejer, jangan pernah lupa dengan perjuangan kita dan yang pasti jangan sombong."Seru Salma dan mendapat anggukan dari Adrian dan ke dua temannya.


Sang Ceo, pemilik perusahaan masuk ke ruangab meeting itu dengan ditemani sang sekretarisnya. Perusahaan tempat Adrian dan Jeni bekerja adalah milik Miko, namun Miko belum tahu jika Adrian dan Jeni adalah keluarga Olivia.


Prok


Prok


Prok


Tepuk tangan meriah dan bibir para karyawan itupun menyunggingkan senyum bahagianya. Tidak ada hal yang membuat mereka bahagia selain naik jabatan dan tentunya gaji yang akan mereka terimapun jauh lebih besar lagi.


" Perusahaan melakukan perombakan secara besar-besaran, dan kalian semua adalah para karyawan yang terpilih sesuai dengan kualifikasi kalian. Untuk surat kenaikan jabatan kalian nanti akan diserahkan oleh meneger HRD langsung dan nanti kalian bisa baca posisi kalian masing-masing. Oh iya, saya minta kepada kalian semua untuk bekerja dengan benar dan jangan sampai saya menemukan kecurangan. Jika itu sampai terjadi, tidak ada ampun lagi untuk kalian."Ucap Miko bicara dengan tegas dan sorot mata yang tajam.


" Baik Tauan."Seru semuanya.


Semua karyawan yang ada diruangan itu masih penasaran, kira-kira siapa yang akan diangkat menjadi menejer keuangan.

__ADS_1


" Selamat untuk saudara Adrian Pratama, anda naik jabatan menjadi menejer keuangan. Dan untuk semuanya, jabatan itu berlaku mulai besok. Hari ini kalian selesaikan semua tugas kalian lebih dulu."Seru Miko membuat Adrian kaget.


Akhirnya apa yang diharapkan Adrian dan Jeni tadi malam menjadi kenyataan. Meskipun Jeni tidak naik jabatan, itu tidak masalah. Ada Adrian yang mendapatkan jabatan yang lebih tinggi.


" Terima kasih pak."Seru Adrian penuh haru.


" Lakukan tugasmu dengan baik. Untuk sementara kamu belum mendapatkan fasilitas kantor, seperti mobil. Saya akan melihat kinerja kamu dalam 2 bulan ini lebih dulu."Seru Miko dengan bijak.


Haahhhh...


Adrian membuang nafas dengan berat, padahal dia sudah merencanakan meminta fasilitas mobil yang bagus dan tentunya lebih bagus dari punya Olivia. Tapi kenyataannya semua itu harus dia tunggu selama dua bulan lagi. Miko benar-benar tidak bisa diajak main-main, dia mau melihat kinerja Adrian lebih dulu baru fasilitas kantor akan dia berikan.


Heemmmm.... Lihat saja Adrian, saat ini kamu memang menjadi menejer. Apa kamu tahu siapa itu pacarnya Olivia? Jika kamu tahu pasti kamu kaget dan syok. ( Author Jahat ya Heheee... )


*****


Kabar Adrian naik jabatan sudah sampai di telinga Jeni. Jeni sudah tidak sabar untuk menemui Adrian, saat jam makan siang dia buru-buru menutup laptopnya dan bergegas menuju ruangan Adrian.


" Sayang, apa,benar sekarang kamu menjadi menejer?."Tanya Jeni dengan wajah senangnya.


" Iya sayang, akhirnya apa yang kita bicarakan semalam jadi kenyataan juga. Lihat saja, setelah ini aku akan membalas rasa sakit hati kita karena sudah diusir secara paksa oleh Olivia. Pelayan cafe itu akan aku buat menyesal sudah mengusir kita."Seru Adrian dengan senyumnl yang sinis.


" Betul sayang, Olivia sombong itu harus kita balas. Aku sudah tidak sabar ingin memamerkan jabatan barumu, bila perlu nanti kita beli rumah yang besar biar dia kejang-kejang. Apalagi kalau kita juga punya mobil, hahsa.. Semakin kejang-kejang dia sayang."Seru Jeni semakin membanggakan jabatan suaminya. Belum apa-apa, Adrian dan Jeni sudah membanggakan dirinya.


Haha Hahaa


Jeni dan Adrian tertawa bersama, tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka karena memang sudah jam istrirahat. Karyawan sudah keluar untuk makan siang.


*************


Sabar ya... Setelah Adrian dan Jeni siapa pacar baru Olivia pasti mereka berdua akan syok? Tunggu saja di bab-bab selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2