
.
.
.
💐💐 HAPPY READING 💐💐
Setelah kejadian tadi pagi, Olivia mulai memikirkan bagaimana jika dia segera menikah agar Adrian tidak bisa mengganggunya lagi. Olivia khawatir jika Adrian akan kembali mengganggunya, dan semakin menggila. Sebab dia tahu jika Adrian tipe pria yang tidak mudah menyerah.
" Mbak Oliv, didepan ada yang nyariin tuh."Ucap Sari memberitahu Olivia yang sedang melamun di ruangannya.
Merasa tidak punya janji dengan siapapun, Olivia seakan enggan untuk menemui orang itu. Namun demi nama baiknya, mau tidak mau Olivia menemuinya juga.
" Siapa Sar?."Tanya Olivia lalu bangkit dari tempat nya duduk.
" Tidak tahu mbak, yang pasti dia ganteng dan keren."Jawab Sari sambil mengacungkan jempol tangan kanannya.
Olivia mengangguk dan semakin penasaran dengan pria yang datang ke kedainya. Olivia menghampir pria yang dimaksud Sari, pria itu duduk di kursi yang ada di kedai dan punggungnya membelakangi Olivia. Tanpa melihat wajahnya, Olivia bisa mengenali pria itu.
" Pak Miko. "Seru Olivia pelan namun masih bisa didengar oleh Miko.
Miko membalikkan tubuhnya dan dia melihat sudah ada Olivia yang berdiri di belakangnya. Sudah hampir 1 minggu dia tidak melihat Olivia, tepatnya semenjak kejadian malam itu. Sekarang wanita yang dia rindukan sudah ada di hadapannya.
Miko segera bangkit dan berjalan mendekati Olivia lalu dengan spontan dia memeluk Olivia. Olivia hanya bisa diam membeo saat Miko tiba-tiba memeluknya.
" Aku sangat merindukanmu Olivia."Seru Miko berkata dengan jujur.
Si kulkas dua pintu itu ternyata sudah mulai mencair. Rasa cinta dan Rindunya kepada Olivia berhasil mencairkan pondasi bongkahan batu es yang sudah menggunung tinggi.
" Pak tolong lepaskan. Tidak enak dilihat oleh orang."Ucap Olivia meminta Miko melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Miko segera melepaskan pelukannya, setelah pelukan itu terlepas Olivia menatap tajam pak Miko. Sebenarnya dia tadi akan langsung menampar Miko, akan tetapi dia tidak mau mempermalukan Miko di tempat umum.
" Maaf."Ucap Miko salah tingkah sambil tetap berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.
" Duduklah."Seru Olivia sambil menunjuk kearah kursi.
" Apakah kita bisa bicara berdua? Aku ingin membicarakan hal serius dan tidak mungkin akan bicara di tempat ini."Ucap Miko sambil melihat kesekelilingnya yang memang sudah mulai rama para anak muda yang berdatangan.
Olivia mengangguk, dia lalu mengajak Miko masuk keruangan kerjanya. Miko mengikuti langkah kaki Olivia dari belakang dengan kembali memasang wajah dingin dan cuek. Setelah beberapa menit, Miko dan Olivia sudah berada di ruangan Olivia. Kini mereka sudah duduk di sofa kecil yang ada di ruangan itu.
" Silahkan bicara pak, saya sedang banyak pekerjaan."Seru Olivia langsung meminta Miko bicara pada intinya.
" Kenapa kamu tidak bekerja lagi di Resto?."Tanya Miko.
" Untuk masalah itu saya minta maaf pak, saya mengaku salah karena tidak bicara langsung sama anda. Saya sudah memutuskan untuk keluar dari Resto, saya ingin fokus dengan usaha saya ini."Jawab Olivia.
Olivia menyadari jika dia juga salah tidak bicara langsung kepada Miko selaku penanggung jawab Resto. Miko terlihat frustasi saat mengetahui jika Olivia memilik keluar dari Resto. Dia sangat menyayangkan keputusan Olivia, terlebih saat ini Orang tua Miko tahunya jika Olivia adalah pacarnya.
" Apa karena kejadian malam itu kamu memutuskan untuk keluar? Tapi bukannya kamu waktu itu tidak mau aku pecat, tapi kenapa sekarang kamu memutuskan keluar ?."Tanya Miko lagi.
" Tidak !! Saya tidak akan pergi dari sini sebelum urusan kita selesai. Kamu pasti keluar dari resto karena kamu mau menghindari aku aku kan? Kamu tidak perlu keluar dari Resto, aku tidak akan setiap hari juga datang kesana Olivia. Tapi satu hal yang kamu harus tahu, jika aku serius dengan perasaan ku ini."Ucap Miko mencoba tetap menyakinkan Olivia tentang ungkapan cintanya dimalam itu.
Olivi masih diam, dia bimbang dengan perasaan yang diungkapkan Vito malam itu. Miko seakan menyakinkan Olivia untuk mempercayainya. Manik mata dua insan manusia itupun saling bertemu, Miko mengambil tangan Olivia dan menggenggamnya dengan erat.
Olivia mengakui dalam pancaran mata Miko, tidak ada pancaran kebohongan. Harus kah Olivia Egois ? Egois menerima Miko hanya untuk sebuah status saja, agar Adrian tidak mengganggunya. Untuk saat ini Olivia sama sekali tidak mempunyai perasaan apapun kepada Miko. Namun berbeda dengan Miko, secara terang-terangan dia sudah mengakui perasaannya.
" Olivia, tolong jangan ragukan perasaanku. Aku serius dengan perasaan ini, Olivia. Maukah kamu berjuang denganku, berjuang membangun mahligai cinta dan berjuang menghadapi badai restu dari orang tuaku. Olivia baru kali ini ada wanita yang begitu menggetarkan jantungku. I Love You Olivia."Ucap Miko kembali menyatakan cintanya lagi kepada Olivia.
Deegghhh
Hati Olivia tiba-tiba berdesir dengan hebat saat mendengar kata-kata romantis dan ungkapan cinta dari Miko. Tidak tahu kenapa , hatinya terasa senang dan bahagia mendengar ungkapan romantis Miko.
__ADS_1
* Sepertinya pak Miko serius dengan ucapannya. Tapi apa aku ini pantas untuk pak Miko? Dia orang kaya, sedangkan aku hanya gadis kampung. Nyonya Sarah pun sepertinya tidak setuju jika pak Miko bersamaku? Tapi pak Miko meminta ku untuk berjuang bersama dengannya.*Gumam Olivia bermonolog pada dirinya sendiri.
" Apa pak Miko serius? Bagaimana dengan Nyonya Sarah? Bukannya beliau tidak setuju jika Pak Miko menjalin hubungan denganku?." Tanya Olivia secara beruntun.
" Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, Olivia. Kita berjuang bersama untuk mendapatkan restu mamaku, aku yang menjalani kehidupanku."Jawab Miko menyakinkan Olivia.
Olivia terlihat sedang berfikir, dia menimbang-nimbang keputusan yang akan dia berikan untuk Miko.
" Emm... Kita coba saja."Jawaban Olivia tidak membuat Miko puas.
" Maksudnya?." Tanya Miko lagi.
" Kita coba jalani saja hubungan ini, tapi aku mohon jangan beritahu siapa anda yang sebenarnya kepada keluargaku."Jawab Olivia lagi.
Olivia hanya tidak mau jika keluarganya tahu siapa Miko, mereka akan memanfaatkan Miko. Dan juga akan menimbulkan rasa iri Jeni yang semakin menggila. Olivia sudah tahu bagaimana watak Jeni dan ibunya, mereka tipe wanita yang serakah.
" Berarti kamu menerima cintaku?." Tanya Miko meminta kepastian.
" Iya, kita jalani saja dulu ."Jawab Olivia lagi.
Binar bahagia nampak terlihat diwajah Miko. Akhirnya Olivia mau menerima ungkapan cintanya, meskipun Olivia belum 100 persen dengan perasaannya.
Sementara itu, saat ini Jeni dan ibunya sedang ke salah satu penggadaian untuk melakukan proses peminjaman uang dengan jaminan sertifikat rumah.
" Maaf bu, sertifikat ini palsu?." Ucap salah satu karyawan penggadaian dengan lembut.
" Hahh.. Palsu ? Mana mungkin sertifikat ini palsu. Saya sudah puluhan tahun menyimpannya dan mana mungkin ini palsu. Coba mbak cek lagi, siapa tahu mbak yang salah cek."Ucap ibu Harti tidak percaya dengan karyawan penggadaiannya.
" Cek yang benar dong mbak. Kalian itu pasti yang salah, kerja begitu saja tidak becus."Seru Jeni justru memarahi pegawainya.
" Mohon maaf bu, saya sudah mengeceknya dua kali. Dan memang ini sertifikatnya palsu, atau jangan-jangan anda dan ibu anda memang sengaja ? Sengaja mau menipu kami?." Tanya karyawan itu yang kini sudah berubah mode waspada.
__ADS_1
Ibu Harti dan Jeni tentunya syok dengan penjelasan pegawai penggadaian itu. Bahkan mereka juga menuduh jika Jeni dan ibunya sengaja ingin menipu. Tidak mau membuat keributan, apalagi saat ini kantor penggadaian sedang ramai. Jeni mengambil sertifikat rumah itu dengan kasar dan menarik ibunya keluar dari kantor penggadaian.
****************