Aku Bukan Pengantinnya

Aku Bukan Pengantinnya
Berdamai lebih baik


__ADS_3

.


.


.


💐💐 HAPPY READING 💐💐


Hubungan Olivia dan ibu Harti semakin membaik, ibu Harti sering mendatangi Olivia di rumahnya meskipun hanya sekedar untuk mengobrol santai. Miko sendiri juga sudah tidak menaruh curiga lagi, dia percaya jika ibu Harti sekarang sudah berubah.


" Apa? Ibu sudah berdamai dengan Olivia kutu kupret itu?."Seru Jeni kaget saat ibu Harti memberitahu jika dia sudah berdamai dan menjalin hubungan baik dengan Olivia.


Ibu Harti baru memberitahu Jeni setelah 1 bulan ibu Harti berbaikan dengan Olivia. Dia sengaja merahasiakan hubungan baiknya dengan Olivia dari Jeni. Jika Jeni tahu pasti dia akan menentangnya dan Jeni akan mengamuk. Ibu Harti sendiri merasa hidupny lebih nyaman dan tenang saat sudah bisa berbaikan dengan Olivia. Bahkan hubungannya dengan Tante Rumi juga mulai membaik.


" Iya. Sudah 1 bulan ini ibu berdamai dengan Olivia. Maaf ya, ibu baru memberitahu kamu. Awalnya ibu hanya ingin pura-pura meminta maaf untuk bisa memanfaatkan uang Olivia. Akan tetapi akhirnya ibu merasa nyaman dengan perlakuan Olivia, sehingga ibu benar-benar memutuskan berdamai dengan Olivia."Ucap ibu Harti menjelaskan.


" Ibu jahat !! Tega ibu sama Jeni. Jeni ini anak ibu loh, Olivia hanya anak angkat ibu. Tapi kenapa Ibu membohongi Jeni, bahkan berbaikan dengan Olivia saja ibu tidak memberitahuku."Seru Jeni memarahi ibu Harti tanpa perduli jika ibu Harti adalah ibunya.


" Bukan begitu maksud ibu, Jen. Ibu ini sudah tua, ibu hanya ingin memperbaiki hubungan dengan Olivia. Olivia itu anak yang baik, dia tidak menaruh dendam sedikitpun sama ibu dan ayahmu. Ada baiknya kamu juga minta maaf sama Olivia agar hubungan kekeluargaan kita terjalin dengan baik."Ucap Ibu Harti mencoba menasehati Jeni.


Brraaakkkk


Jeni memukul meja yang ada di hadapannya menggunakan majalah yang ada di tangannya. Jeni tetap tidak suka ibunya berdamai dengan Olivia. Bukannya ikut apa kata ibunya, Jeni justru semakin benci dengan Olivia. Dia beranggapan Olivia sudah mempengaruhi pikiran ibunya, sampai ibunya membela Olivia begini.

__ADS_1


" P3rset4n dengan Olivia !! Sampai kapan pun Jeni tidak akan meminta maaf kepada Olivia. Jika Jeni meminta maaf, anak itu akan semakin besar kepala. Terserah ibu jika ibu sudah berbaikan dengan Olivia, tapi tidak dengan Jeni. Jangan salahkan Jeni, jika Jeni sekarang akan membenci ibu !!."Teriak Jeni dengan lantang.


Pllaakkkk


Nafas ibu Harti tersengal-sengal, baru kali ini dia menampar anak kesayangannya. Ibu Harti tidak pernah mempunyai keinginan untuk menampar Jeni, semua itu terjadi secara reflek. Dia tidak suka Jeni bicara keras dan kasar dengannya. Ibu Harti menyadari, Jeni seperti itu juga atas didikannya selama ini. Dia menyesal sudah mendidik Jeni menjadi karakter yang pembangkang dan licik.


Penyesalan sudah tidak ada gunanya lagi, semua sudah terlanjur. Sekarang ini bagaimana caranya bisa merubah sifat buruk Jeni, ibu Harti menginginkan Jeni dan Olivia hidup damai dan rukun.


" Demi anak si4l4n itu ibu sampai menamparku ! Ohh apa mungkin karena Olivia banyak uang dan ibu jadi berpihak kepada dia? Dasar ot4k licik juga kamu bu."Seru Jeni tersenyum sinis.


" Maaf Jen, ibu tidak bermaksud untuk menampar kamu, Ibu tadi reflek. Ibu tidak memanfaatkan uang Olivia, awalnya memang begitu tapi ibu sekarang sudah sadar jika itu semua tidak baik. Apa salah jika ibu hanya ingin memperbaiki hubungan dengan Olivia? Dan sampai kapanpun kamu itu tetap anak ibu dan Ayah, Jeni."Ucap ibu Harti tidak henti-hentinya menasehati Jeni.


" Apa yang dikatakan ibu kamu benar, Jen."Seru Pak Anwar yang tiba-tiba masuk rumah.


Pak Anwar sebenarnya sedari tadi ada di luar rumah, dia mendengar semua yang dikatakan Jeni dan ibu Harti.


" Jeni !! Jaga bicara kamu!."Teriak ibu Harti dengan lantang.


Jeni semakin dibiarkan semakin kurangajar, Ayahnya saja tidak dia hormati sama sekali. Jenu sudah menjadi anak yang susah diatur dan tidak punya sopan santun sama sekali dengan orang tuanya. Melihat ibu dan Ayahnya yang sudah tidak seperti dulu lagi, mereka sudah berpihak kepada Olivia. Membuat Jeni semakin kesal dan membenci Olivia, Jeni pun melangkah keluar rumah tanpa berpamitan dengan orang tuanya.


" Jeni !! Tunggu, kita belum selesai bicara."Panggil ibu Harti berteriak.


" Biarkan saja anak itu pergi bu. Bapak pusing lama-lama bicara sama Jeni, yang ada bapak juga akan terkena serangan j4ntung kalau begini terus. Itulah dapat dari kamu yang suka memanjakan dia, sekarang susah diatur dan melawan orang tua."Seru pak Anwar menyalahkan ibu Harti.

__ADS_1


" Kok bapak menyalahkan Ibu sih pak? Jeni itu anak kita berdua, jadi kita dua dong yang salah. Jangan cuma ibu saja, lagian bapak dulu memanjakan Jeni kan? Kita ini sama-sama salah jadi jangan cuma ibu saja yang disalahkan."Seru Ibu Harti memprotes ucapan pak Anwar.


Hhhaahhhh...


Pak Anwar membuang nafasnya dengan kasar. Dia membenarkan apa yang dikatakan ibu Harti, mereka berdua memang dulu sangat memanjakan Jeni hingga pada akhirnya Jeni sampai sekarang mempunyai kepribadian yang sangat buruk.


" Sudahlah bu, jangan saling menyalahkan lagi. Bapak mau mandi, ibu tolong buatkan kopi ya. Airnya harus merebus dulu, jangan pakai air termos. Kurang mant4p kalau untuk bikin kopi."Seru pak Anwar lalu berlalu dan masuk kamar mengambil handuk lalu keluar lagi menuju kamar mandi.


Ibu Harti merebus air untuk membuat kopi untuk suaminya. Ibu Harti sudah jarang kumpul dengan teman-teman sosialitanya. Untuk arisan dia masih tetap ikut, karena memang belum habis. Untuk cicilan kredit tas sudah lunas, dan itupun dilunasi oleh Olivia.


Sementara itu di tempat lain, Olivia dan Miko sepulang dari kantor langsung jalan-jalan ke salah satu mall yang ada di kota tempat tinggal mereka.


" Mas mengajakku kesini mau ngapain?."Tanya Olivia dengan polosnya.


" Lohh kalau ke mall sudah pasti kita belanja dong sayang, masa iya kita mau tidur di mall."Seru Miko sambil terkekeh.


" Belanja apa lagi mas? Baju, sepatu, tas dan lainnya aku sudah punya banyak. Bahkan banyak juga yang belum aku pakai, sampai label harga saja belum aku lepas juga. Mama kalau sudah belanjain aku tidak kira-kira sampai lemari tidak muat lagi."Seru Olivia.


" Ya sudah kita cari lemari saja, jadi bisa untuk menyimpan barang-barang pribadi kamu lagi. Bagaimana?."Seru Miko sambil memainkan alisnya.


Olivia dengan cepat menggelengkan kepalanya. Di rumah sudah banyak lemari, bahkan di kamar sudah ada dua juga full dengan barang-barang Olivia dan Miko. Di kamar ganti lemari berjejer ada 4 dan besar-besar.


" Jangan beli lemari, aku tidak mau. Lebih baik cari parfum untuk mas saja. Cari parfum yang wanginya cocok dengan penciumanku."Seru Olivia tegas.

__ADS_1


Miko mengangguk patuh, ibu hamil lagi sensitif. Jadi mengiyakan saja apa yang dikatakan oleh ibu hamil. Miko dan Olivia memasuki toko yang menjual berbagai macam parfum, dari produk dalam negeri sampai produk luar negeri juga ada dengan harga yang fantastis.


************


__ADS_2